Pages

Wednesday, May 17, 2017

Sepeda



Kring kring kring ada speda
Spedaku roda tiga
Kudapat dari ayah
Karena rajin bekerja.

Petikan lagu anak-anak gubahan Bu Kasur membawa saya pada kenangan masa kecil, yang sangat dekat dengan sepeda. Tidak ingat betul sih, kapan persisnya mulai bisa naik sepeda roda dua. Tetapi waktu usia saya sekitar enam tahun, terjadi insiden pertama dalam sejarah saya bersepeda. Saya dan sepeda kecebur got di dekat rumah. Sepedanya kecil, barangkali jenis roda tiga yang kemudian dilepas roda tambahannya. Gotnya sempit, tapi berlapis semen kasar. Akibatnya darah mengucur deras dari bagian lengan. Entah persisnya di mana, karena sekarang tidak saya temukan bekas lukanya.

Pakai sepeda kecil itu juga -bersama adik laki-laki- saya menciptakan aneka gaya bersepeda. Ada gaya “F*nta”, “Spr*te”, dan “C*ca-cola”. Kenapa namanya itu? Ya soalnya kalau waktu itu kami diijinkan minum salah satu dari ketiga minuman bersoda itu, rasanya keren. Gaya “F*nta” berarti saya duduk di sadel dan kaki mengayuh pedal, sementara adik saya duduk di stang dan mengendalikan kemudi. Gaya yang lain, adalah kombinasi antara keinginan keren,  iseng, dan nekad lainnya. Akibat aneka gaya absurd itu berkali-kali kami nyusruk di jalanan. Walaupun hanya di jalanan depan rumah. Wilayah yang dianggap aman buat sepedaan. Oiya, meski  begitu kami berdua sempat dikejar anjing. 

Selepas melewati masa diantar jemput sekolah pakai becak, jangkauan wilayah bersepeda saya lebih luas lagi, dari rumah ke sekolah. Untunglah karena tinggal di Solo, jalanan rata, dan jaraknya relatif dekat kemana-mana. Tidak seperti di Semarang yang jalanannya mendaki bukit melewati lembah…

Masa bersepeda ke sekolah dimulai sekitar kelas empat SD. Sepeda saya sudah di-upgrade jadi sepeda ukuran dewasa. Masih ada lho sepedanya sekarang. Sepeda itu model cowok, yang gagangnya lurus, bukan model cewek, yang miring ke bawah. Pernah seorang guru berkomentar soal itu. Tapi toh saya tidak merasa kerepotan. 
 
gambar diambil dari: bowgank.wordpress.com
Masa-masa ini adalah masa keemasan saya dan sepeda. Selain ke sekolah, ke warung, main ke rumah teman, les, pramuka, semua naik sepeda. Teman-teman bersepeda saya ya teman-teman SD yang rumahnya cukup dekat, masih dalam radius 5 km. Kadang di hari Minggu kami ampir-ampiran (saling menjemput) lalu bersepeda keliling kota. 

Karena jam terbang bersepeda lumayan banyak, insiden juga mulai terjadi. Kalau sekedar lutut dan sikut baret sih sudah biasa. Pernah suatu kali paha saya sobek tergores stang. Lumayan yang ini bekas lukanya masih ada. Alhamdulillah tidak ada pengalaman yang lebih mengerikan dibandingkan itu. 

O iya, jaman itu ada istilah "pajak" sepeda. Semacam stiker yang kudu ditempel di sepeda dan kita kudu beli tiap tahun. Kadang suka ada "cegatan" petugas yang memeriksa apakah sepeda yang lewat sudah ditempel stiker ini atau belum. Pernah saya dan rombongan teman kabur dari "cegatan" macam ini juga. Hihi.

Di antara kisah menyenangkan dengan sepeda itu, ada beberapa yang sangat membekas buat saya. Salah satunya waktu saya, dan dua orang sahabat, H dan B, bersepeda ke rumah sakit untuk menjenguk Yanda. Yanda ini adalah pembina Pramuka di SD kami, yang sepanjang ingatan saya, sudah sepuh. Kami berangkat naik dua sepeda. Saya lupa siapa membonceng siapa, tapi yang jelas, waktu pulang hujan turun deras sekali. Sepertinya H sedang tak enak badan, dan B ini kan pakai kacamata minus. Jadi meskipun mereka berdua laki-laki, waktu pulang saya memboncengkan H, sambil menggiring B biar tetap jalan di jalur yang aman. (Ingat nggak ya mereka hehehe)

Bersama ibu dan adik, saya juga kadang bersepeda keliling kota. Dan end-up dengan jajan tongseng kambing terenak sepanjang ingatan saya. 

Pengalaman deg-degan dengan sepeda adalah waktu harus ngebut balik ke rumah dari sekolah mengambil kartu Ebta yang tertinggal. Lumayan jaraknya 3 km, bolak-balik jadi 6 km. Bikin saya keringetan parah waktu tesnya dimulai. 

Masa bersepeda berlanjut sampai SMP.  Daerah jajahan juga berkembang. Bersama geng SMP yang rumahnya satu komplek, kami kompak sepedaan kemana-mana. Waktu itu kami ke bioskop saja naik sepeda, lho.
Waktu SMP ini, selain pp ke sekolah, saya rutin seminggu tiga kali bolak-balik bersepeda 8 km jauhnya untuk latihan Kempo. Siang-siang panas jam dua berangkat, bawa ransel dan kadang jerigen berisi jatah air minum, dan baru pulang selepas Magrib. Kalau musim hujan? Ya terima nasib, laah. 

Ehm.. dengan bersepeda juga, seseorang.. ah, nggak jadi. Hahaha.

Ah, banyaknya kenangan masa kecil saya bersama sepeda. Semua mengingatkan saya pada masa kecil yang seakan tidak mengenal takut, rasa was-was, apalagi lelah. Sepeda memberikan perasaan dekat pada banyak sahabat saya, yang pernah sekayuh berdua -litteraly-, yang berombongan ke tiap sudut kota, yang saling membonceng, tanpa ada rasa lain selain pertemanan itu.  Hingga yang sekarang terkenang membuat saya tak lepas senyum ketika menuliskan ini. Terima kasih untuk Mbak NiaNurdiansyah, dan Mbak Anjar Sundari yang telah memilih tema ini untuk #ArisanBlogGandjelRel. 

Namun akhirnya, “setelah negara api menyerang” jaman bersepeda menemui akhirnya. Hehe. Tibalah masanya sebuah sepeda bermesin, bernama sepeda motor nangkring di teras rumah. Perubahan dari sepeda ke sepeda motor ini juga seperti menandai akhir masa kecil saya, menjadi awal menuju masa remaja. Masa di mana rasanya ingin bergerak lebih cepat, dan berjalan lebih jauh lagi. 

Meski begitu saya tidak pernah lupa pada tawa yang menyertai tiap kayuhan kaki. Ketika setiap keringat yang menetes memberikan kenangan yang kini tak pernah lepas indahnya. 

Kulit wajah kini tak lagi terbakar matahari, tapi masih terasa sejuknya angin yang berhembus di sela rambut dan jaket yang rapat membalut. 

Ketika menatap segores luka di kaki saya, yang mengingatkan bahwa pernah ada sebuah masa. Ketika waktu dan makna sama-sama berjalan lambat, hingga sempat membangun sebuah ruang yang selalu berbunga di hati saya. 

I have you in my mind, sahabat-sahabat bersepeda saya. *jadi mellow
Amigos para siempre.