Tuesday, January 30, 2018

Menulis Resolusi dengan SMART

Resolusi Tahun Baru
Bingung tahun baru ditodong bikin resolusi? Boro-boro mikirin resolusi, lha wong mau ngapain aja besok ga jelas, apalagi disuruh mikir mau ngapain sepanjang tahun. Padahal konon, resolusi itu penting sebagai salah satu penunjuk arah hidup ke depannya. Resolusi bisa jadi sebuah tujuan yang bisa membuat langkah-langkah kita menjadi semakin terarah. Hehe. Tapinya saya juga bukan tipe yang suka bikin resolusi. Mungkin itu ya sebabnya hidup saya seolah tak terarah. Walah malah curcol.

Itulah sebabnya lama banget naikin tulisan ini karena tadinya saya nggak punya ide mau nulis apa dengan tema “Resolusi 2018”. Gagasan dari mbak blogger dan volunteer yang menyebut dirinya Embak Kantoran (yang sering jalan-jalan): Lestari alias Taro di tema Arisan Gandjel Rel kali ini. Saya nggak ingat kapan terakhir bikin resolusi buat diri saya sendiri. (Jangan-jangan nggak pernah.)

Arti resolusi menurut KBBI adalah: resolusi/re·so·lu·si/ /rĂ©solusi/ n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal: rapat akhirnya mengeluarkan suatu -- yang akan diajukan kepada pemerintah

Sedangkan arti yang lebih cocok dengan dengan tema tulisan ini bisa dibilang: tekad (afdolnya tertulis) dari seseorang untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dari pada sebelumnya.

Terus kenapa kok resolusi ditulis pada awal tahun? Kalau menurut saya sih karena momentum aja. Bagi sebagian besar orang, lazim kalau ada peristiwa khusus atau sesuatu perubahan dijadikan titik tolak perbaikan. Ada yang bikin resolusi di awal tahun, waktu ulang tahun, atau setelah mengalami peristiwa yang mengubah hidup.

Resolusi itu, meski terdengar seperti seuatu yang super penting, ternyata nggak mesti yang “wah” atau extravaganza. Misalnya resolusi keliling dunia dalam setahun atau resolusi berenang menyebrangi selat Sunda. Mark Zucherberg aja pernah punya resolusi: ingin pakai dasi setiap hari. Nah simpel kan!

Tapi sesederhana apapun resolusi yang kita bikin, mestinya kita harus buat resolusi yang baik. Resolusi kita meski belum bisa mewujudkan perdamaian dunia, setidaknya harus mengandung nilai ibadah, bermanfaat bagi diri kita sendiri, dan lebih baik lagi buat orang lain. Trus gimana caranya bikin resolusi?

Membuat Resolusi yang SMART
SMART untuk resolusimu



S.M.A.R.T ini adalah sebuah konsep yang dipakai untuk menetapkan target atau tujuan. Biasanya sama orang kantoran dipakai untuk manajemen proyek, atau pengembangan SDM. Konsep ini pertama kali digunakan oleh George T. Doran pada tahun 1981. SMART adalah akronim dari: Spesific Measurable, Achievable, Realistic, Timely. Kalau dihubungkan dengan resolusi kira-kira begini:

S: Spesific

Baiknya kita menuliskan definisi dari resolusi kita. Kalau kita nulis resolusi: Olahraga lebih sering. Itu artinya kurang spesifik. Olahraga apa? Apakah jalan kaki sudah disebut olah raga? Seberapa banyak itu “sering”? Apakah seminggu sekali atau seminggu tiga kali? Nah akan lebih jelas kalau kita menulisnya misalkan: Jogging 200 km dalam setahun.

M: Measurable, bisa dibilang terukur. Kalau tidak dapat diukur, bagaimana kita tahu kalau resolusi kita berhasil dilakukan atau belum?

Nah balik lagi ke resolusi jogging 200 km dalam setahun tadi, ada ukuran atau target yang jelas sebagai tolak ukur keberhasilan kita. Misalnya kelak di tanggal 31 Desember kita baru jogging 199 km, berarti kurang sedikit lagi, resolusi kita tercapai.

200 km memang hampir sama dengan jogging bolak balik Semarang-Solo. Tapi kalau itu target setahun, sementara dalam satu tahun ada 365 hari, jadi tinggal dibagi aja: 200:365 = 0,54 km alias 540 meter perhari. Tapi nggak mungkin setiap hari jogging, ya udah anggap dalam setahun ada 100 hari olah raga, alias sekitar 3 hari sekali, jadi tiap kali hanya perlu jogging 2 km untuk mencapai resolusi.

A: Achievable: alias “mungkin” rasa-rasanya untuk kita lakukan. Jangan bikin resolusi yang ujung-ujungnya bikin males dan baper. Misalnya resolusi menikah tahun ini untuk para jo... ups, ga jadi, nanti baper. Makanya resolusi satu orang dengan yang lainnya nggak bisa dipukul rata. Kapasitas setiap orang jelas berbeda-beda. Dan juga jangan bikin resolusi yang “nggak mungkin”, misal resolusi, mau tambah tinggi 5cm dalam setahun, sementara umur kita sudah 25 tahun.

R: Realistic.

Bikin resolusi yang tidak realistis atau sangat berat akan membuat kita kesulitan, yang bisa bikin kita menyerah sebelum mulai. Selain itu resolusi dibikin agar kita realistis dalam memenuhinya. Start slowly but sure. Seperti jogging 200 km dalam setahun tadi, kalau dalam seminggu pertama kita maksain lari 100 km misalnya, jelas belum-belum kita akan sengsara, akibatnya jadi males buat menyelesaikannya.

T: Time Based

Inilah untungnya punya resolusi yang jelas. Kita jadi tahu bagaimana menyelesaikan resolusi yang kita buat. Dengan resolusi jogging 200km dalam setahun, dan sekarang sudah akhir Januari, berarti tinggal 235 hari lagi. Kalau ingin resolusi tercapai, harus buru-buru dilakukan.

Nah, Jadi, gimana dengan resolusimu? Sudah SMART belum? Kalau belum, coba bikin lagi. Nggak ada yang bilang kalau resolusi itu harus dibikin di awal tahun. Kapanpun merasa diri harus lebih baik lagi, sok atuh bikin resolusi yang baru.

Buat saya juga nih, jadinya kepengen menuliskan resolusi. Dengan panduan SMART, rasanya jadi lebih mudah. Ini bocoran resolusi saya di tahun ini. Dikiit aja.
Semangat mewujudkan resolusi!

Resolusi 2018
(angka tidak menunjukkan prioritas):

1. Mengurangi omelan (bukan meniadakan, karena kayaknya maksa banget hihi) yang tadinya bisa beberapa kali sehari menjadi maksimal tiga kali dalam seminggu. Hm, buat saya ini penting, karena saya mulai menyadari betapa bahayanya mengomel tidak hanya untuk yang diomeli tapi juga untuk si tukang ngomel.

2. Berenang sebulan dua kali. Buat saya yang jarang olah raga, resolusi ini sudah sesuatu. Kenapa berenang? Karena dengan kondisi gangguan fisik di lutut dan overweight, berenang adalah olah raga yang paling dianjurkan banyak pihak.

3. Membuat menu makanan berkonten sayuran setiap hari. Yang ini kudu banget dipaksa. Karena yang makan selain saya ada tiga tubuh lainnya. Apa jadinya kalau si koki super malas dan goreng nugget tiap kali. Selain menu sayuran itu murah, tapi juga padat gizi.

4. Update Blog minimal sebulan dua kali. Berkat arisan blog, saya bisa update blog minimal 3 kali dalam sebulan. Semoga setelah arisan periode ini masih ada periode lanjutannya, supaya resolusi yang nomer empat ini bisa tercapai juga.

5. Menyelesaikan 1 (satu... satuuu ajaa plisss) cerita novel untuk dikirimkan ke media apapun!

Bismillah. Doakan saya ya, semoga tercapai, supaya resolusinya nggak sekedar tulisan tak berfaedah sepanjang tahun dan cuma jadi secarik kertas tak berguna di akhir tahun. Resolusimu apa?


Sumber gambar:

<a href="https://www.freepik.com/free-vector/new-year-s-resolutions_1014138.htm">Designed by Freepik</a>
<a href='https://www.freepik.com/free-photo/gym-with-motivational-phrase_960393.htm'>Designed by Freepik</a>







7 comments:

  1. Resolusiku cuma pengen sehat, biar bisa jalan2, hihii

    Moga terwujud ya Winda, aamiin

    ReplyDelete
  2. Aamiin. Yuknmbak janjian kita kalau berenang. Biar otak males saya hilang. Hehe

    ReplyDelete
  3. Amin...semoga resolusinya bisa tercapai semua ya mbak..semangat berenang!! :)

    ReplyDelete
  4. resolusi no 5. Aku pun. Pengen banget, nget

    ReplyDelete
  5. Go go..resolusi bikin buku itulah kenapa kita membentuk kopdar ngetik hihi..semangat...

    ReplyDelete
  6. aq juga sering bingung kalau ditanya resolusi, perasaan ya gitu2 aja haha

    Semoga terwujud yang dicitakan ya mbak

    ReplyDelete
  7. Bener juga ya mbak win..kalo ga dibikin spesifik dan timely jadinya kek resolusiku deh garang di kertas tp nop eksekusi hiks

    ReplyDelete