Sunday, March 25, 2018

Backpackeran ke Bali dengan 100 Ribu

Ada disclaimer dalam tulisan ini. Hehe.

Kemana kamu akan pergi kalau kamu mendapatkan kesempatan untuk pergi kemana saja di Indonesia? Mungkin itu pertanyaan yang bisa mewakili tema Arisan Blogger tentang Destinasi Impian di Indonesia dari Mara dan Erina, duo gadis yang ngehits di sosmed dan dunia perbloggeran kota Semarang.

Kalau pertanyaan itu ditanyakan ke saya, jawabannya: saya pengen pergi ke Bali. Yaah pembaca kecewa.. hihihi. Kok bukan ke Raja Ampat, Labuan Bajo atau Aceh gitu?
Destinasi Impianku: Bali
Kenapa Bali?

Di benak saya, ada beberapa tempat yang membangkitkan nostalgia. Kalau yang dekat, tuh: Yogya, tanah kelahiran saya. Tempat lainnya adalah Bukittinggi, tempat saya KKL bareng teman-teman kuliah. Tempat-tempat dengan kenangan istimewa seperti itu selalu bikin excited, karena ada nuansa dan suasana yang bikin kangen. Gitu. Jadi meskipun saya juga belum pernah ke tempat-tempat indah lainnya, karena kangen, saya tetep pengen ke Bali.

Pengalaman ke Bali waktu masih balita cuma bisa diingat lewat media foto-foto. Zaman itu sih perginya bareng keluarga besar. Selepas itu ke Bali waktu zaman SD, road trip sama ortu dari Solo. Masih terbayang suasana jalan sunyi menuju suatu kawasan Pura yang baru saya tahu sekarang itu Pura Gunung Kawi. Di ingatan saya juga masih lekat gambaran sebuah lukisan di salah satu museum yang kami datangi tentang neraka. Hiii. Saya nggak ngalamin ke Bali bareng teman-teman sekolah, karena waktu itu izin dari sekolahan buat Study Tour cuma mentok sampai ke Bandung.

Tapi selain itu semua, kenangan tentang Bali selanjutnya ini yang paling bikin saya kangen Bali: Perjalanan ke Bali 20 tahun yang lalu.

Road To Bali

Pada suatu masa, kala belum musim ada traveller dan nggak ada sosmed, saya sama tiga teman sekolah pernah backpackeran ke Bali dari Solo. Bermodal uang sekitar 100 ribuan rupiah di saku masing-masing, kami bisa sampai ke Bali dan menginap di sana dua malam. Saya cerita ini sekaligus sebagai catatan buat saya (dan tiga teman saya lainnya) barangkali kalau mau napak tilas.

Pantai Watu Ulo Jember dan fashion anak muda pada masanya. Sarung!
Kami berangkat dari Solo ke Jember naik mobil bapaknya salah satu teman saya yang memang sedang ada proyek di sana. Keesokan pagi sebelum jam enam pagi, tibalah kami di Jember. Hari pertama, kami diantar ke pantai Watu Ulo. Kenapa disebut pantai Watu Ulo, karena ada batu memanjang seperti ular yang menjorok ke laut. Setelah itu kami pindah ke sisi pantai yang lain, yang lebih banyak perahu-perahu dan bisa lihat pemandangan lebih bagus.

Malamnya, kami berembuk, kasak-kusuk tentang rencana perjalanan ke Bali yang sudah kami pikirkan sejak di Solo. Setelah memantapkan niat, waktu malam hari kami jalan-jalan, kami sempetin tuh beli peta Bali. Akhirnya dengan proposal yang tidak rumit, kami diizinkan ke Bali sama bapaknya sahabat saya itu. Tapi besok, jangan hari ini, kurang lebih begitu katanya. (Kalau Ibu saya sih udah tahu kalau saya mau lanjut ke Bali dari Jember.)

Hari kedua di Jember, kami diantar lagi ke Pantai, kali ini Pantai Pasir Putih di Utara. Di sana ada wisata naik perahu, dan pasirnya ternyata coklat. Demi pengiritan kami nggak ngapa-ngapain di sana selain makan bekal.

Menjelang tengah malam, kami diantarkan ke terminal bus. Dan bersyukur dapat bus terakhir malam itu yang menuju Bali. Jangan dibayangkan busnya nyaman, dengan reclining seat dan berAC. Bus kami itu penuh sesak, dengan extra kursi plastik di tengah-tengah deretan kursi. Beruntung kami berempat bisa keangkut naik bus itu semua. Bawaan saya, satu buah travel bag. Bawaan teman-teman saya, ransel masing-masing, gitar, dan radio tape. Jangan ditanya kenapa kok bawa-bawa radio tape segala, saya juga nggak gitu mikirin karena seingat saya sih tiap kami pergi entah itu dekat-dekat ke Tawangmangu aja, radio itu dibawa-bawa terus.

Menurut catatan saya, ongkos bus adalah 7000 rupiah.

Waktu itu tidak ada ponsel. Saya dibekali satu kartu ATM sama ibu saya, dan uang sekitar 100ribu rupiah. Sebelum berangkat (waktu di Solo), kami sepakat “setor” masing-masing uang saku sebesar 80 ribu rupiah. Maksudnya begini, kalau ada pengeluaran bersama seperti makan, bayar tiket masuk, kami nggak ribet lagi ngeluarin dompet masing-masing. Langsung dibayar sama satu orang aja. Kalau pengeluaran pribadi seperti beli oleh-oleh ya tetap urusan masing-masing. Karena satu-satunya perempuan, saya yang jadi bendahara rombongan.

Di dalam bus yang super penuh itu, kami berempat duduknya terpencar. Saya kebagian duduk di sebelah turis Jepang, yang mirip sama James Iha, gitarisnya Smashing Pumpkins. Mungkin karena karakter muka yang mirip, saya merasa aman di sebelah turis tinggi besar itu. Berasa satu rombongan, dan dijagain. Untung dia keren, jadi nggak bete berjam-jam di sebelahnya. Hihi.

Tiba di Bali

Menjelang pagi kami sudah diatas kapal Ferry menuju Gilimanuk dari Ketapang. Kira-kira jam sembilan, kami sampai di Terminal Ubung. Baru turun dari bus, langsung disambut sama supir angkot, yang menawari untuk mengantar kami ke Kuta. Kami bener-bener buta arah, nggak tahu Bali, dan cuma berbekal peta Bali yang kami beli di Jember. Nggak tahu juga mau nginep di mana. Ya udah, ikut dia aja.
Catatan selama di Bali.
Nggak ada catatan berapa ongkos angkutan itu. Berasa nyarter aja karena begitu kami berempat naik, pak supir langsung tancap gas dan kami tiba di hotel Yulia Kuta. Kami menyewa satu kamar dengan satu tempat tidur tanpa kamar mandi untuk saya, seharga 12 ribu (Kamar AB 301). Untuk tiga teman saya, satu kamar dengan kamar mandi seharga 30 ribuan (Kamar B-507). Jadi saya bisa numpang mandi aja di sana, kan. Setiba di kamar, saya langsung tidur, sementara tiga teman saya jalan-jalan.

Hotel Yulia ini masih ada lho, sekarang, coba aja cari Yulia Beach Inn. Lokasinya strategis banget di belakang Kuta Square dan cuma lima menit jalan kaki ke Pantai Kuta. Di sekitarnya banyak banget aneka toko kerajinan dan toko-toko unik lainnya. Katanya jalanan di situ sekarang macetnya bukan main. Tapi tetep kalau ke Bali, saya mau nginep di Hotel Yulia.

Keliling Bali tahun 90-an

Hari pertama di Bali, kami cuma jalan-jalan di seputar hotel. Temen-temen saya sempat masuk Hard Rock Café waktu saya tidur itu, dan cerita kalau di sana cuma berani pesen air mineral. Hihi. Sore harinya kami jalan ke Pantai Kuta. Dan ajaib, di antara jutaan kemungkinan, kami bisa-bisanya ketemu Ibu Susini, guru Bahasa Indonesia kami.

Malamnya kami jalan agak jauh dengan niat cari outletnya kaos Joger. Setelah muter-muter sekitar satu jam, kami tanya sama orang lewat, dan diberitahu kalau Joger sudah tutup. Rupanya jam bukanya cuma sampai sore hari. Kalau sekarang sih, Joger Bali buka dari jam sepuluh pagi sampai jam delapan malam.
Murah ya, 6000an buat makan empat orang. Hihi.

Soal makan di Bali, kami mesti hati-hati, karena konon banyak menu yang tidak boleh kami makan. Jadi demi kehati-hatian, dan pengiritan, malam itu kami makan nasi goreng, bubur ayam dan minumnya teh botol. 6500 rupiah saja untuk berempat. Dari catatan saya, ongkos makan kami memang rata-rata segituan sekali makan untuk berempat! Malam itu kami sempatkan menelepon ke rumah masing-masing, dengan telepon koin, dan modal 100 rupiah untuk percakapan 3 menit!

Hari kedua di Bali, kami memutuskan untuk sewa mobil. Sewanya minta bantuan hotel. Ongkos sewa mobil waktu itu 40 ribu rupiah untuk seharian. (Lepas kunci) Kami isi BBM 15 ribu rupiah. Mobilnya Jimny. Kalau sekarang, rental mobil lepas kunci di Bali ada yang cuma 150 ribuan per-harinya. Tergantung mobilnya apa.

Diantara kami berempat, cuma satu orang yang sudah lancar nyetir. Jadi dia bertugas jadi sopir sepanjang hari itu. Tugas saya duduk di depan sambil njereng peta. Tujuan pertama kami adalah pasar Sukowati. Pasarnya seperti pasar Klewer gitu. Meski begitu ternyata muter-muter di pasar kerajinan bikin waktu tak terasa berlalu. Tiba-tiba sudah jam 12 siang, padahal kami belum sarapan. Bendahara pelit! Hehe. Di Pasar Sukawati ini saya beli bedcover warna pink. Yes bedcover, dan gimana saya bisa masukin bedcover ke dalam travel bag saya sampai ke Solo sungguh misteri.

Tujuan kedua adalah ke Tanah Lot. Dan di sana, -dunia memang selebar daun kelor-, kami ketemu lagi sama bu Susini! Dari catatan saya tiket masuk ke Pura Tanah Lot 1100 rupiah/ orang. Parkir mobil 500 rupiah. Waktu itu ada acara nonton ular di dalam gua dan kami “nyemplungin” uang 1000 rupiah. Saat ini harga tiket masuk Tanah Lot adalah 20 ribu rupiah/ orang dewasa.
Di tebing Tanah Lot. Ini bukan di Studio Foto, lho.
Habis dari tanah Lot kami buru-buru ke Joger. Di sana saya cuma beli selembar kaos. Dengan waktu yang tersisa sebelum petang, kami memburu sunset ke Pura Ulu Watu. Kawasan Ulu Watu waktu itu sungguh sunyi. Suasananya syahdu banget deh. Untuk masuk ke sana, kami membayar tiket masuk sebesar 1000 rupiah/ orang. Sebelum masuk kami harus memakai kain yang diikat ke pinggang. Menontoni sunset di tepian tebing cuma dengan segelintir orang menjadi kenangan indah yang menutup hari itu. Harga tiket Pura Ulu Watu sekarang adalah 20 ribu rupiah/ orang dewasa.


Tiap malam waktu saya sudah tidur, tiga teman saya selalu jalan-jalan keliling. Ada cerita serem ketika mereka sempat dicegat di jalan dan ditawari barang aneh-aneh. Hii.

Pulang

Hari terakhir di Bali adalah hari Jumat. Saya ingat betul karena kami menyusuri jalanan mencari masjid untuk dua teman saya. Pagi harinya masih kami sempatkan main ke Pantai Kuta. Kami sebelumnya berencana naik bus ke Surabaya lalu lanjut dengan kereta api ke Solo. Tapi teman saya usul agar kami cari tiket yang bisa langsung ke Solo saja, biar lebih cepat sampai. Betul juga karena kalau dihitung sejak ke Jember, sudah lima hari kami meninggalkan rumah. Kali-kali aja orang rumah pada kangen.

Sungguh beruntung kami dapat tiket bus, jurusan Bali-Yogyakarta, yang lewat Solo untuk sore hari itu juga. Harganya, nggak tercantum di catatan saya. Sekitar 20 ribuan kayaknya. Kalau sekarang tarif Bus jurusan Bali-Solo mulai 300 ribuan/ orang.

Kami kembali ke hotel untuk berkemas-kemas dan cari oleh-oleh. Fyi, semua perjalanan ini selain waktu sewa mobil, kami lakukan dengan berjalan kaki. Jadi kalau mau backpackeran di Bali, penting untuk tinggal di kawasan yang strategis alias dekat dari mana-mana. Saya dalam hati berterima kasih sama supir angkot yang mengantarkan kami ke Hotel Yulia waktu itu.

Oiya di akhir perjalanan, setelah beli tiket bus pulang, uang kas kami masih nyisa, lho. Ada gunannya kan ngirit makan dan jalan kaki kemana-mana, hoho.

Jam setengah tiga kami sudah siap di kantor agen travel, diantar mobil ke Terminal Ubung. Di sana bus kami sudah menunggu, dan langsung cabut begitu kami naik. Nyaris ditinggal! Kali ini kami duduk bersebelahan, dan busnya ber-AC. Jam setengah delapan malam kami sudah di atas ferry menuju Ketapang. (Lama soalnya antri dua jam di pelabuhan).

Jam setengah sembilan malam, kami sudah melaju di tanah Jawa. Keesokan paginya, kami sudah hampir masuk kota Solo. Sudah nggak sabar ingin segera sampai, kok ya bus ini berhenti dulu di Palur untuk sarapan. Waduh tinggal dikit lagi padahal. Selanjutnya kami diturunkan di depan pintu terminal Tirtonadi, dan bus langsung tancap gas ke Yogya. Cuma kami berempat yang turun di Solo.

Karena pegelnya badan mulai terasa, saya langsung pulang ke rumah naik taxi. Sampai di rumah, sekitar jam delapan pagi dan langsung laporan kedatangan sama ibu saya yang lagi main tenis di lapangan depan rumah.

Ibu saya menyambut, “Lho, kok udah pulang?”

Foto Pura Bratan dari: 

<a href="https://www.freepik.com/free-photos-vectors/background">Background image created by Nikitabuida - Freepik.com</a>



18 comments:

  1. Sambutan Ibu bikin nyesel ya, napa kurang lama perginya ��
    Aku juga pengen ke Bali meski udh tiga kali. Nostalgia aja sih, hihii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya, Mbak. Anak baik maunya pulang nggak ngabis-ngabisin uang saku hohoho. Yuk, Mbak, road trip ke Bali

      Delete
  2. Wiiih masih disimpen catatannya, untung yaa bisa buat bahan nostalgia hihiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada bagusnya hidup di zaman "dear diary" hihi

      Delete
  3. Replies
    1. Lah samaan, yuk ah udah bertiga nih, tariiik

      Delete
  4. 100 jaman dulu,mungkin 1 juta x ya mba di jaman sekarang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. saya juga mikir begitu. Tapi bisa jadi lebih. Terima kasih sudah mampiirr :))

      Delete
  5. Ya ampun, bayanginnya aja udah kerasa serunya. kalo sekarang kira kira kudu bawa berapa ya kalo dulu 100rb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba dirata-rata kenaikan tarifnya, Ola. Hihi. Kalau tiket parkir sih cuma naik 4x lipat yak

      Delete
  6. Aku pengen ke Bali, karena belum pernah 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, paling bentar lagi Mbak Vita ada rezeki nyampe Bali, tuh. Amiin :)

      Delete
  7. Dulu pas jaman kuliahan juga pernah backpacker ke bali dari Jogja Pp naik kereta ekonomi Sri Tanjung ke Banyuwangi trus nyebrang pake ferry. Seru. Irit tapi aman dan nyampe. Kalo dulu mah intinya begitu.. hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengalaman seru buat kenangan selamanya ya, Mbak. Salaam terima kasih sudah mampir :)

      Delete
  8. Wkwkwkwk kenapa aku pengin ngakak guling2 ya? Baca judulnya udah nyiapin ceramah panjang ttg mana mungkin 100rb? Pas di bagian ke Jember numpang mobil bapaknya teman itu aku langsung ngakak. Ya iyalah. Belum lagi foto2 jadulnya, ya ampun ABG tahun berapaan nih? Biarpun nggak boleh tanya, aku tetep tanya, itu ngapain bawa radio tape & gitar segala naik bus umum? Btw sungkem buat ibunya ya. Your mom rocks! Wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Mbak Lusi, terima kasih sudah ikut ngakak membayangkan suasana travelling ABG zaman kuno. Masa tanpa ada alat pemutar musik digital, jadi harus mengusung perangkat demikian gede macam radio dan gitar. Hihi. Sorry for (very) late response too. Entah kenapa saya jadi nggak bisa komen dan membalas komen di blog untuk beberapa waktu lalu.

      Delete
  9. Pesona Bali dari dulu hingga kini memang selalu memikat hati ya mbak Win. Ah, mbak Win memang keren ya jalan-jalan terus sejak masih muda.

    ReplyDelete
  10. Mbak Siti Faridah, maafkan saya lama balesin komennya, dulu masih muda, sekarang udah.... *anu

    ReplyDelete