Tuesday, October 9, 2018

Cara Mengurus Pindah KPP dan E-Faktur Pajak

 
Karena kantor pindah, dan kecamatan beda, maka untuk legalitas perusahaan dan juga pengurusan segala macam surat, harus mengurus juga pindah alamat ke Kantor Pelayanan Pajak. Repot nggak sih? Ya lumayan, karena sudah belasan tahun di KPP lama, rasanya agak “malas” aja pindah-pindah. Tapi kan ya harus tetap diurus juga. 

Mengurus Pindah KPP
Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencabut berkas dari KPP lama. Caranya? Saya membuat surat pindah dan membawanya ke KPP lama. Surat pindahnya ini saya minta filenya dari KPP lama. Soalnya surat yang saya download di internet ternyata bukan yang dimaksud. Jadi biar cepat urusannya minta surat dari KPP aja. Siapa tahu ada format surat yang terbaru. Sebelum ngurus pindahan ini sebisanya kewajiban dan laporan pajak sudah dilakukan ya. Misalnya laporan PPN masa dan PPh.

Setelah itu menunggu. Normalnya waktu tunggu ini tidak lebih dari 10 hari kerja. Ada yang bilang kurang dari 7 hari kerja malah. Tapi waktu saya mengurus pas banget sedang ada mutasi para AR (Account Representative) dan termasuk juga AR PT saya, jadinya waktu tunggu lebih dari normalnya. Tapi alhamdulillah, kira-kira tidak sampai tiga minggu, saya ditelpon dari KPP lama kalau berkas PT saya sudah selesai diurus, dan saya tinggal mengambil dokumen dari KPP lama untuk dibawa ke KPP baru.

Selepas dibawa ke KPP baru, saya mendapatkan kartu NPWP baru, dengan alamat baru, tapi nomornya tetap sama. Untuk dokumen lain-lain seperti PKPnya akan dikirim via pos ke alamat kantor yang baru.

Tips sebelum mengurus pindah KPP ini kalau dari saya sih, sebisanya nggak ada invoice yang harus segera terbit fakturnya. Soalnya kira-kira selama waktu tunggu pengurusan pindah KPP, kita tidak bisa menerbitkan faktur.

Mengurus E-Faktur


Waktu mengambil berkas di KPP baru, saya juga langsung mengajukan surat untuk minta nomor faktur baru. Dengan pemikiran semua berkas sudah dicabut di KPP lama, saya bisa langsung bikin faktur. Ternyata tidak sesederhana itu. Saya juga harus mencabut berkas e faktur di KPP lama dulu. Weleh-weleh, kenapa juga nggak dari awal waktu mau cabut berkas pindahan diberi tahu soal ini.

Jadilah saya balik lagi ke KPP lama. Mengurus pencabutan di sana langsung dibantu HelpDesk. Tapi di helpdesk, password e nofa saya sudah tidak bisa mengakses akun PT saya. Mungkin karena semua berkas sudah dicabut di KPP lama, jadi mereka tidak bisa akses atau gimana nggak gitu ngerti juga. Setelah para petugas KPP lama dan baru saling menelepon, akhirnya berkas e-faktur untuk sertifikat elektronik dkk selesai dicabut dari KPP lama.

Kemudian untuk mengurus sertifikat elektronik, sama seperti pertama kali dulu, alias si penandatangan faktur harus datang sendiri ke KPP baru dan membawa berkas-berkas pribadi kelengkapannya macam KTP, KK, semua dilengkapi fotokopian, dan softcopy foto (dalam flashdisk). Untuk berkas-berkas kantor ada fotokopi laporan pajak tahun terakhir, surat-surat permohonan (3 lembar), dan saya tambah sekalian permintaan nomor faktur baru. Biar aman bawa juga cap perusahaan.

Di KPP baru, prosesnya kira-kira 15 menit. Dibantu petugas, saya akhirnya punya password e-nofa baru, passphrase baru dan sertifikat elektronik baru.

Saya tanya, “Ini sudah bisa langsung dipakai untuk bikin faktur di aplikasi?”

Petugas menjawab, “Sudah, tinggal install saja sertifikatnya.”

Oke, pulanglah saya tanpa mampir dulu ke helpdesk. Karena kalau cuma install sertifikat elektronik kan gampang.

Tapi ternyata lagi, saya belum juga bisa bikin faktur. Kenapa? Karena setelah login ke aplikasi e-faktur, alamat kantor saya masih yang lama. Saya coba edit sendiri tentu saja nggak bisa. Saya coba syncronized dengan KPP tidak bisa, alias eror. Saya browsing-browsing caranya di internet, tidak ada yang berhasil. Mau install ulang nggak berani, takut datanya hilang meski saya sudah buat kopian database e faktur di flashdisk. Saya cek di e nofa online, ternyata registrasi e faktur di dekstop saya tertulis belum teregistrasi.

Akhirnya telepon ke KPP baru, dan jawabannya, dibawa ke sini aja. Padahal itu aplikasi di PC bukannya di laptop. Katanya lagi, coba kopikan saja semua folder e faktur yang di dalam PC itu ke flashdisk. Nanti bisa dibantu di sini pake flashdisk saja, begitu katanya.

Tapi saya agak ragu bisa dibantu cuma pake flashdisk itu. Kalau gagal gimana? Jarak dari KPP sekitar 15 km, kalau harus bolak-balik lagi kok nggak praktis banget. Faktur juga sudah menunggu untuk segera diterbitkan.

Jadi saya install e faktur (64 bit) ke dalam laptop. Proses instalasi cepat dan gampang. Dari aplikasi 32 bit di PC, saya copy folder db dan sertifikat elektronik secara manual ke folder instalasi e faktur ke laptop. Data-data dari aplikasi faktur lama bisa terbaca meski beda sistem dari 32 ke 64, tapi tetap saja alamat kantornya belum berubah.

Yasud, mari berangkat lagi ke KPP.

Dan di KPP langkah yang dilakukan petugas adalah:

1. Install lagi aplikasi e faktur dengan db yang masih kosong. (Aplikasi lama juga masih ada, nggak diapa-apain)

2. Download sertifikat elektronik baru dari e nofa (internet). Meski kemarin sudah didownloadin dan saya simpan di flashdisk juga.

3. Eksport semua data dari aplikasi e faktur yang lama (bisa buka dua aplikasi secara bersamaan di laptop, pastikan aja nama foldernya beda biar nggak tertukar) simpan dengan nama yang cocok, misal fp keluaran, fp masukan, data lawan transaksi, dll. Bentuk filenya csv.

4. Login di aplikasi e faktur baru seperti dulu, masukin data-data seperti dulu. Sertifikat elektronik juga diminta waktu ini. Ikutin aja langkahnya. Di sini tadi passphrase, password e nofa, dan kode aktivasi diperlukan.

5. Taraa! Data alamat di aplikasi e-faktur yang baru sudah terupdate. (Alias alamatnya sudah yang baru)

6. Impor data-data tadi seperti faktur pajak keluaran, masukan, dll. Sebetulnya kalau nggak dibutuhkan ya nggak usah diimpor. Tapi kan pasti perlu data setidaknya di tahun berjalan. Di aplikasi saya setelah impor ini beberapa faktur pajak keluaran saya statusnya terlihat “belum approved” padahal tu faktur umurnya sudah setahun dan pastinya dulu sudah approved. Kata petugas dibiarin aja nggak apa. Atau kalau mau ya di upload ulang. Saya memilih membiarkan saja.

7. Demi keamanan dan ribet kalau harus balik lagi, saya nyoba langsung di depan petugas untuk buat faktur pajak keluaran, dan syukurlah bisa.

Untungnya tadi bela-belain bawa laptop plus database aplikasi  e-faktur yang lama. Kalau cuma bekel flashdisk dipastikan mesti balik lagi. Jogging dulu, aah. Jadi, demikianlah drama pindah KPP yang saya alami. Hehe. Semoga bisa membantu, meski ini tulisan agak nggak nyambung sama tulisan saya lainnya di blog ini. Habis geregetan sendiri waktu nyari-nyari informasi soal ini di internet.

Tips mengurus aplikasi e faktur ke KPP:

1. Pastikan kalau mau ke KPP harus bawa laptop dan koneksi internet, entah tethering dari Hp atau modem. Tidak semua KPP ada wifinya. Mungkin malah nggak ada wifi di KPP manapun hehe. Usul buat KPP karena koneksi internet hukumnya wajib untuk urusan ini, KPP menyediakan wifi. Nggak semua koneksi internet via hp itu cepat, atau bisa saja yang datang nggak punya hape dengan koneksi internet.

2. Bawa flashdisk.

3. Bawa catatan password e nofa dan passphrase (yang kita bikin sendiri itu), juga kode aktivasi (yang jumlahnya 16 huruf/angka).

4. Sabar antri, karena rata-rata di satu KPP cuma punya 1 petugas helpdesk. Padahal kalau urusan aplikasi e faktur bisa lebih dari 30 menit per-orang. Belum lagi kalau gaptek ya.

Semoga yang punya permasalahan sama, bisa terbantu yah. Oiya, saya bukan orang akuntansi, apalagi pegawai pajak. Saya cuma orang yang belajar ngurus-ngurus pajak sendiri hehe.



Gambar modifikasi dari: freepik

<a href="https://www.freepik.com/free-vector/moving-background-design_1087343.htm">Designed by Vectorarte</a>



4 comments:

  1. TFS mba..jadi ada gambaran kalau2 butuh hal yg sama..

    ReplyDelete
  2. Baca dulu aja, pahamnya belakangan karena blm perlu urus2 hehe

    ReplyDelete
  3. Dulu urus pajak sendiri, sekarang diurusin sama konsultan yg sekalian ngurusin pajak usaha bojo. Ga kuat aku kalo disuruh urus pajak usaha, laporane luwih njlimet 😁😁

    ReplyDelete