Saturday, January 19, 2019

Mala: Chapter Zero


“Nih, paket buat lo!” 

“Buset!” Mala berusaha menangkap kardus yang dilempar Yori ke pangkuannya. “Handle with care, dong! Kalo rusak gimana,” gerutu Mala lalu memeriksa paketnya dengan penuh sayang. Diperiksanya setiap sudut kardus coklat berbalut plastik bertuliskan namanya itu. 

“Ngapain lo?” sergah Mala ketika menyadari Yori menatap penuh minat kepada paket di tangannya. 

“Gue penasaran aja apa lagi yang lo beli. Buku apa lagi, maksud gue.” 

Mala mengrenyit, hafal dengan nada suara Yori yang penuh sindiran. 

“Yaah mumpung diskon, Yor. Lagian buku ini udah susah dicari di toko, kemarin kebetulan ada yang jual yang edisi pertama, dikasih bonus lagi.” 

Yori menghela nafas. “Liat tuh, Mal, meja ruang tengah penuh sama buku lo. Bufet ibu kos juga isinya buku-buku lo. Kamar lo sendiri udah kayak gudang buku,” Yori mulai mengabsen. “Emangnya lo sempet baca semuanya? Apa lo mau bikin perpustakaan?” 

“Gue kan beli pake duit sendiri, kenapa lo yang repot?” gerutu Mala sambil melangkah menuju kamarnya dan menutup pintu. 

“Nggak ada gunanya beli buku banyak kalo nggak dibaca!” Teriakan Yori masih terdengar dari balik pintu. 

Di dalam kamar kosnya yang aman, Mala mulai membuka paket berisi buku pesanannya dengan hati-hati. Mala menimang-nimang buku itu dan mulai mencari tempat untuk menyimpannya. Dua kardus bekas air mineral di bawah tempat tidurnya sudah penuh buku. Rak buku kecil tiga tingkat itu apalagi. Mala memutar otak. Kamar kosnya hanya berukuran tiga kali tiga meter. Lemari pakaian, tempat tidur dan meja rias sudah membuat ruangan sesak. Tak mungkin Mala beli satu rak buku lagi untuk menampung koleksinya. 

Hobi Mala beli buku tidak sebanding dengan waktu luangnya untuk membaca. Apalagi semenjak Mala punya bos baru yang gila kerja dan hobi mengajak satu ruangan untuk lembur bareng. Akibatnya delapan puluh persen buku yang dibeli Mala masih berada dalam kemasan plastik. 

Mala meraih tas belanja kain dari supermarket dan menyimpan buku barunya di dalamnya. Pandangannya menyapu ruangan dan tertumbuk pada sedotan alumunium di dalam gelas es tehnya. Di sudut ruangan teronggok botol-botol plastik kemasan minuman yang sudah siap disetor untuk ibu kos yang menjadi koordinator kegiatan daur ulang di komplek. Brosur acara kantor minggu depan untuk kampanye “Zero Waste” tergeletak di atas meja. 

Beberapa saat Mala merenungi seisi kamarnya. 

Kemudian: 

“Yor! Sini cepet!” teriak Mala. “YORI!” 

Tak sampai lima detik pintu kamar Mala menjeblak terbuka. 

“Eh gila lo teriak-teriak gue kira ada apa!” omel Yori melihat Mala sedang bersila di lantai. Buku-buku bertumpuk di sekitarnya. 

“Lo pernah bilang ada rumah baca di tempat lo jadi relawan itu. Masih sering ke sana?” 

Yori mengangkat alis. 

Catatan Mala: 
Zero waste bukan cuma untuk barang lama yang tidak terpakai, tapi juga barang baru yang entah kapan bakalan dipakai. 

#roadto4thgandjelrel 
#blogchallengegandjelrel 

Gambar modifikasi dari: <a href="https://www.freepik.com/free-vector/doodles-ecology-set_1538752.htm">Designed by Macrovector</a> 

9 comments:

  1. Haha...ngacung ah. Salah satu penerima sedekah buku. Manfaat banget lo sedekah buku.

    ReplyDelete
  2. Mbakyuku ki nomer siji tenanan kok.

    ReplyDelete
  3. Waaah donasi buku..bisa dicoba nih tapi nyortirin buku kesayangan itu yang masih susah :)

    ReplyDelete
  4. Zero waste sekaligus menerapkan KonMari method ya ini hihi.. Sekalian bersih-bersih. Good move, Mala. Semoga banyak yang niru :D

    ReplyDelete
  5. Jadi inget ada beberapa buku yang belum terbaca. Mala bikin perpus ajaa, ntar aku sering2 main biar bisa baca di sana 😁😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Malanya masih ngekos, Kak. Nanti kalau ada kontrakan sendiri yaa

      Delete