Pages

Friday, June 9, 2017

Identifikasi Kangenmu



Definisi kangen menurut Kbbi adalah rindu atau ingin sekali bertemu.

Kalau dalam arisan Blogger Gandjel Rel kali ini temanya sesuatu yang paling kamu kangenin, berarti ya sesuatu yang paling ingin kau temui. Duo bersaudara Rizka Alyna yang bisa dicek tulisan-tulisannya di http://www.rizkaalyna.com/ dan Alley  di https://hanalle.com yang memberikan tema ini. 

Selama tiga putaran arisan blog, baru yang ini sampai di hari terakhir belum dapat bahan tulisan apa-apa. Bukan karena nggak ada yang dikangenin, tapi karena terlalu banyak “daftar kangen”-nya. Apalagi saya termasuk orang yang gampang kangen. Baru ninggal anak di rumah beberapa jam aja, saya sudah kangen. Baru pulang dari pantai, kangen main air. Baru nggak makan brownies beberapa menit, kangen pengen makan lagi. Hehe. 

Kangen itu ada yang bikin nyesek di hati, ada yang bikin hari-hari jadi optimis. Yang pertama susah terobati, yang kedua ada kemungkinan terobati. 

Coba diidentifikasi kangenmu tipe yang mana?

Kangen yang pertama, biasanya karena you have to accept the fact that that certain things will never go back to how they use to be. Udah nggak mungkin bisa balik lagi seperti dulu, tapi kangen. Baper kan endingnya? Misalnya kangen sama seseorang yang sudah dipanggilNya duluan, kangen sama masa kecil, kangen berat badan kembali seperti dulu.. (eh).  Kangen-kangen macam ini tuh bikin hati kita mellow. 

Misalnya, kalau saya kangen tipe pertama ini kangen sama Kempo. Kempo itu salah satu cabang olahraga beladiri yang asalnya dari Jepang. Di bawa ke Indonesia oleh mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang. Salah satu tokohnya adalah Ginandjar Kartasasmita. Hehe.. Masih adalah yang nyantol di ingatan tanpa perlu tanya Mbah Gugel. Sejarah Kempo ini termasuk bahan ujian kenaikan tingkat lho. 
 
Bersama pasangan Embu: Nenny. Sekarang kamu di mana ya? Btw jangan lihat tahun-nya terus bilang: Hah? Itu kan tahun aku lahir.

Saya stop latihan Kempo bisa dibilang tiba-tiba. Karena ada sesuatu hal yang bikin saya nggak (sampai hati) latihan lagi. Padahal selama tiga tahun sebelumnya, Subuh nongkrong di stadion demi Kempo juga dijalanin. Sekujur tubuh memar, kaki melepuh kepanasan kena aspal, plus lutut cedera juga nggak bikin kapok. Dan sampai bertahun-tahun kemudian, saya masih suka kangen. 

Apa yang bikin kangen? Suasananya, pertemanannya, bahkan sampai capek dan sakit-sakitnya aja bikin kangen. Kenapa nggak balik aja latihan lagi? Nah, ini, I can’t, though. Kangennya masih suka muncul sekarang ini. Terus caranya gimana supaya terobati? 

Dulu kalau kangen kadang mampir ke dojo, lihat teman-teman latihan. Di mana-mana jadi aware banget sama yang berbau Shorinji Kempo, dan rajin lihat foto-foto lama bareng teman-teman. Terobati dikit. Tapi tetap nggak akan sama lagi. 

Lalu kangen yang kedua, kangen yang bikin hari-hari optimis. Biasanya ini terjadi karena ada harapan untuk bertemu atau kembali lagi. Masih ada obatnya, gitu. 

Di Multazam, saya pernah berdoa, agar Allah mengijinkan saya kembali lagi ke Baitullah bersama Ibu dan laki-laki yang diridhoiNya untuk jadi suami saya. (Jadi ceritanya waktu itu saya belum nikah). Seperti diketahui, Multazam itu adalah bagian tembok atau dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah. Tempat ini dinyatakan Rasulullah sebagai tempat yang paling mustajab untuk berdoa. 

Kenapa sih kangen ke Baitullah lagi? Bukannya di sana itu panas? Bukannya capek ya mesti bolak-balik ke masjid saban dengar adzan? Bukannya jadi kurang tidur? Memang. Tapi ah tapi.. waktu memandang Ka’bah untuk pertama kalinya, merasakan hembusan semilir ketika thawaf, segarnya zam-zam membasahi kerongkongan,… Klise.. klise.. tapi itu sungguhan bikin kangen. 

Harus puas dengan foto-foto di luar Masjidil Harom. Jaman itu, kamera dan ponsel nggak boleh di bawa masuk. Di depan pintu akan diperiksa.

Semua orang juga tahu untuk bisa pergi ke Makkah dan Madinah, perlu upaya yang tidak mudah. Kadang niat sudah kenceng, sarana belum ada. Kadang sarana ada, niat belum datang. Seorang sahabat  rajin berdoa sambil melafalkan Surat Al Baqoroh ayat 128  dan berharap agar dapat “undangan” itu lagi. Undangan untuk umroh yang pertama didapat dari hadiah lomba menulis. Sungguh beragam memang cara Allah mengundang kita ke sana. 

Kini meski waktu berlalu, dan kangen saya untuk kembali ke sana belum terpenuhi, saya harus tetap optimis. Di bulan Ramadan ini, semoga terkabulkan bersama dengan doa-doa sahabat-sahabat saya yang lain yang selalu ingin kembali ke Baitullah. Biar kangen kita terobati, ya kan? 

Sometimes the best things happen, when you least expect it.

Eh, kalau sama itu,.. kangen nggak ya?




15 comments:

  1. Waah atlit kempo rupanya makwind. Aku langsung catet di ingatan Al-Baqoroh 128 itu makwind, pengen juga diundang ke tanah suci 😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Hartari yang mbisikin ke aku, Mak Mi.. semoga undangannya segera sampai..

      Delete
  2. Waww mantan atleet...kece! Aku juga,pengen banget bisa naik haji bareng pak bagus aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. aku juga mauu (eh sama pak 'B' ku sendirii tapi.. hihihi)

      Delete
  3. Makasih mb tips biar dipanggil k Baitullah, berdo'a dan baca Qur'an surat al baqoroh: 128, noted! :)

    ReplyDelete
  4. Ikut mengaminkan doanya mak winda..doain aku juga bisa balik umrah lagi bareng anak2 ya mak

    ReplyDelete
  5. penasaran. Kenapa tiba2 berhenti kempo dan gak ikut kempo lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anu.. itu.. hehe.. matur nuwun sudah mampir, Mbak Ade..

      Delete
  6. penasaran. Kenapa tiba2 berhenti kempo dan gak ikut kempo lagi.

    ReplyDelete
  7. aku juga pingiiinn banget bisa ke baitullah makwin. semoga bisa ya..

    ReplyDelete
  8. Subhanallah makwin sudah pernah ke Baitullah..semoga kami teman-temanmu ini bisa segera menyusul kesana amin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. makasih, mbak Dani sudah mampir.

      Delete