Pages

Thursday, November 10, 2022

Film Seri Favorit

 


Kemarin habis ngomongin film-film yang cocok buat healing. Eh, tema minggu ini soal film favorit. Kalau di post kemarin udah film Indonesia, sekarang saatnya ngomongin film berbahasa asing. Paling gampang ya, film berbahasa Inggris.

Oke, mari lihat akun Netflix, ada film apa aja di sana.

Kalau di kategori film/ drama seri, bertengger serial Friends dan Gilmore Girls. Masing-masing sudah tak terhitung berapa kali keduanya saya tonton berulang-ulang. Mulai dari musim pertama, sampai musim terakhirnya.

FRIENDS

Serial Friends merupakan serial komedi situasi, karya dari David Crane dan Marta Kauffman. Selama hampir 10 tahun, tayang di NBC mulai dari 22 September 1994 sampai 6 Mei 2004.

Bercerita tentang kisah hidup enam orang sahabat di Manhattan, serial ini menjadi favorit banyak orang di banyak negara. Di tahun 2021, dibuatlah Friends: The Reunion, yang dibintangi masih oleh keenam tokoh sentralnya.

Karena ceritanya berlatar belakang kehidupan anak muda di Amerika, tentu saja banyak nilai-nilai yang muncul tidak sesuai dengan prinsip hidup kita (orang Indonesia).

Tapi kenapa favorit? Ceritanya memang bergenre komedi, jadi serial ini bisa “ditonton” sambil kerja, bikin makan lebih lahap, dan bisa menaikkan mood meski cuma didengarkan saja bak dengerin radio. Saya punya episode-episode favorit. Kebanyakan kalau mereka sedang melakukan piknik keluar kota.  

GILMORE GIRLS

Yang kedua, serial Gilmore Girls. Saya nontonya waktu zaman kuliah, di kontrakan. Serial ini sempat tayang di televisi lokal. Gilmore Girls terdiri dari tujuh musim, sebanyak 153 episode, mulai tayang di tahun 2000, dan episode terakhirnya tayang di tahun 2007.

Tokoh sentralnya adalah seorang perempuan (single mom) bernama Lorelai Gilmore dan anak remaja perempuannya (namanya sama, tapi dipanggil Rory) yang berjuang ingin masuk kuliah di Harvard University. Mereka tinggal di kota (fiksi) kecil bernama Stars Hollow, di Connecticut.

Kotanya ini unik banget dipenuhi tokoh-tokoh yang agak absurd. Tokoh-tokohnya dibuat jauh dari sempurna. Walaupun si tokoh utama, tetep ada nyebelin-nyebelinnya. Kadang saya geregetan, ngapain sih dia kayak gitu, dan sebel sendiri, tapi memang jadinya terlihat nyata.

Banyak episode yang asyik untuk ditonton, meski tetap ada drama-drama terutama karena konflik antara Lorelai dan orang tuanya yang kaya raya.

Salah satu episode favorit saya waktu diadakan makan malam dengan tema abad pertengahan di hotel tempat Lorelai bekerja, dengan mengundang seluruh warga kota. Episode favorit lainnya adalah hari pertama Rory kuliah, waktu Lorelai mengadakan pesta makan untuk seluruh penghuni asrama perempuan.

Demi tetap bisa nonton meski sudah nggak tayang di televisi, saya sampai nitip dibelikan DVD Gilmore Girls ini sama teman saya di Jakarta. Nggak asli, tentu saja. Tapi saya punya satu musim yang asli. Musim ke enam, saya beli di Gramedia. Waktu itu buat beli satu paket DVD serial yang asli mesti merogoh kocek 400 ribuan. Udah gitu barangnya jarang ada.

Serial ini menjadi “teman sejati” saya semasa hidup di kos-kosan. Pulang kantor di Jumat sore, berbekal belanjaan untuk memenuhi jatah makan, saya nggak keluar-keluar kos sampai berangkat kerja lagi di hari Senin pagi, sambil nonton Gilmore Girls lewat DVD.

Seperti juga serial Friends, di tahun 2016, dibuatlah film “revival”nya. Gilmore Girls, A Year in the Life. Ceritanya seolah ingin menjawab pertanyaan penonton tentang nasib Rory selepas lulus kuliah di Yale (iya, dia nggak jadi masuk Harvard).  Saya cuma nonton sekilas di akun Netflix orang lain, karena di akun saya nggak bisa. Ternyata tidak menarik. Saya lebih suka nonton serialnya saja.

Sempat sedih karena salah penyimpanan, beberapa DVD Gilmore saya rusak. Akibatnya saya cuma bisa nonton beberapa episode aja. Berakhir super hepi karena Girlmore Girls tersedia di Netflix. Semoga serial ini tetap bisa saya tonton selamanya.

 

 


No comments:

Post a Comment