Wednesday, October 18, 2017

Hobi yang Mendatangkan Rezeki



Hobi menurut KBBI adalah kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama. Melakukan hobi adalah sarana rekreasi bagi orang yang menggemarinya. Tak jarang, seseorang rela mengeluarkan sejumlah biaya dan waktu yang tidak sedikit demi menekuni hobi. Tak sedikit juga yang rela menempuh resiko dan bahaya, demi melakoni hobi.

Hobi yang Bikin Miris
Kisah lucu atau miris datang dari kakak ipar saya. Seorang kawannya yang hobi motor trail, sampai harus melihat motor trail kesayangannya “dibumihanguskan” oleh sang istri. Masalahna bukan karena uang puluhan juta yang “diinvestasikan” dalam wujud motor, helm, outfit, sepatu, yang semuanya khusus dan mahal, tapi karena sang istri tak tahan lagi dengan sang suami yang “bertaruh nyawa” demi hobinya ini.

Sang suami sudah pernah menjalani aneka operasi untuk menyambung tulang-tulang rusuk dan kaki yang patah. Belum lagi paru-parunya yang nyaris bocor karena kecelakaan ketika turun gunung. Alih-alih kapok, setelah melewati masa pemulihan, sang suami kembali menjejak gunung di atas si motor. Jadilah motor kesayangan dan uborampenya (yang mahal itu) “dilenyapkan” dari muka bumi oleh sang istri. Tapi sang suami tak hilang akal, kini motor trail (barunya) aman di garasi orang lain.

Kalau para istri suka geleng-geleng kepala dengan hobi suami yang ekstrem, in another level, suami bisa jadi geleng kepala karena hobi istrinya. Seperti sudah sewajarnya, kalau perempuan lebih senang berbelanja dibandingkan laki-laki. Sehari-hari saja kaum perempuan harus belanja untuk kebutuhan rumah tangga. Sudah biasa melihat lebih banyak perempuan di mal dibandingkan laki-laki (yang jika ada pun lebih banyak berperan sebagai juru bayar dan juru angkut serta sopir).

Banyak literatur mencatat bahwa hobi belanja ini benar-benar bisa melenyapkan stres. Apalagi kalau dilakukan dengan dukungan uang yang cukup. Karena menilik kisah di buku The Confession of a Shopaholic, karangan Sophie Kinsella, memenuhi hobi belanja gila-gilaan tanpa peduli utang sudah segunung bisa jadi penyebab stres sesungguhnya.

Saya baru-baru ini membaca buku Hermes Tempation: kisah Fitria Yusuf dan Alexandra Dewi yang hobi belanja tas Hermes. Buat mengulang info saja nih, tas Hermes itu sebijinya bisa buat beli sepeda motor, (ini yang paling murah) sampai bisa beli apartemen di Jakarta. Tapi untungnya buat mereka, hobi mahal tadi bisa mendatangkan rezeki juga. Fitria Yusuf dan rekannya akhirnya menjadikan hobi belanja tas super mahal itu jadi lahan bisnis jual beli tas dengan keuntungan yang “tak seberapa” buat mereka, meski nominalnya setara gaji direktur BUMN di Ibu kota.

Mari kesampingkan bisnis tas yang omsetnya ratusan juta perbulan. Tak sedikit diantara orang-orang yang saya kenal bisa menjadikan hobi mereka tak sekedar sarana rekreasi atau kesenangan di waktu senggang, tapi juga sarana menjemput rezeki. Banyak teman hobi merajut, kini punya bisnis rajutan, ada teman hobi memasak, kini punya bisnis catering. Adik saya punya hobi mengutak-atik mainan, sempat punya usaha jual beli dan reparasi mainan. Saudara yang satu lagi punya hobi berdandan, kini mulai berlatih jadi MUA (Make Up Artist) buat teman-temannya. Lumayan, bayarannya bisa untuk jajan.

Jadi, Mbak Ika Puspita http://www.bundafinaufara.com dan Mbak Arina http://www.arinamabruroh.com, (keduanya blogger perempuan yang bikin saya kagum dengan tulisan dan komitmennya di dunia “perbloggingan”), tema hobi untuk arisan blog Gandjel Rel kali ini membuat saya ingin bilang, kalau hobi bisa jadi bukan kesenangan belaka, tapi juga bisa jadi sarana menjemput rezeki.

Hobi Saya Apa?
Hobi sejak kecil: membaca
Sejak belasan tahun terakhir, kalau ditanya hobi saya apa, saya bilang: membaca dan menulis.

Hobi membaca seperti chip yang ditanamkan di kepala oleh Bapak saya. Ingatan masa kecil saya tak pernah lepas dari belanja buku di toko Sekawan Pusat, salah satu toko buku paling besar di Solo pada masanya, sebelum raja retail buku buka cabang di mana-mana. Buku-buku anak-anak seperti Trio Detektif, Lima Sekawan, Noddy, Donald Bebek, Nina, jadi suplemen buat saya. Setiap pulang dari Sekawan Pusat, saya selalu menenteng setidaknya empat judul buku baru. Belanja buku ini jadi ritual belanja yang lebih menyenangkan buat saya dibandingkan belanja baju atau mainan. Eh, malahan saya nggak ingat kapan ya, belanja mainan sama Bapak waktu kecil.

Membaca adalah hobi yang sangat rekreatif buat saya. Tapi sayangnya, sekarang waktu untuk benar-benar membaca buku jadi berkurang. Kebanyakan baca status sosmed, sih.

Sekarang cerita tentang hobi saya yang satunya, yaitu menulis. Sepanjang saya ingat, di kala teman-teman berkeluh kesah plus bersusah payah menulis karangan di lembar-lembar ulangan, saya menulis dengan senang hati. Benar-benar menulis, karena waktu itu dikerjakan dengan tulisan tangan. Sejak kelas tiga SD saya juga sudah punya buku harian. Hobi menulis ini selain untuk kesenangan, ternyata bisa untuk menyalurkan kegelisahan. Setelah saya baca lagi buku-buku harian saya, ternyata bagus juga kalau punya tempat curhat yang pandai menyimpan rahasia.

Siapapun pasti senang kalau hobinya bisa dinikmati dan diapresiasi orang lain, seperti perasaan saya ketika tulisan yang saya buat dapat wadah untuk dibaca tidak hanya oleh saya dan guru yang memberi nilai. Tulisan pertama saya yang dimuat di majalah adalah liputan tentang perjalanan singkat saya bareng teman-teman sekelas ke Museum Radya Pustaka waktu kelas tiga SD. Majalahnya adalah majalah sekolah saya, namanya Kuntum. Selepas itu masih ada beberapa tulisan lain berupa fiksi dan puisi. Kini meskipun masih punya ratusan file tulisan fiksi, sebagian selesai sebagian besarnya belum, sebagian berupa ketikan dari mesin ketik manual, “karir” menulis (fiksi) saya seperti mentok di majalah-majalah sekolah. Kadang-kadang saja muncul di forum-forum beneran.

Saya juga hobi menulis surat. Kegiatan tulis-menulis surat ini mencapai puncaknya sebelum masa pesan elektronik datang. Menulis juga menjadi hobi yang membantu saya menyelesaikan aneka pekerjaan, dari yang remeh membuat surat tagihan, proposal kegiatan, sampai menyelesaikan satu standar kompetensi untuk organisasi yang saya ikuti.

Selepas selesai kuliah, hobi menulis ini membuka kesempatan untuk jadi koresponden di tabloid arsitektur, dan punya buku tentang arsitektur. But then that was it. Sampai akhirnya hobi tercinta ini mempertemukan saya dengan salah satu rejeki terbesar sepanjang hidup, yaitu bertemu dengan teman-teman di komunitas menulis, sampai sekarang tumbuh menjadi komunitas blogger. Teman-teman yang menjadi mentor, pesaing, pengritik, atau pembaca, yang budiman.

Hobi Jalan-jalan
Jalan-jalan santai bareng Sehati Project
Oiya, di masa kini, jalan-jalan sepertinya sudah menjadi hobi wajib nasional. Aneka majalah, blog, menuliskan kisah-kisah tentang perjalanan. Banyak teman blogger yang dapat rejeki dari hobinya ini juga. Memang jalan-jalan adalah hobi yang sangat menyenangkan. Untuk itu kita harus punya badan sehat, waktu, dan biaya. Bersyukurlah jika ketiganya ada. 
Outbound bareng Sehati Project
Buat saya  hobi jalan-jalan dikombinasikan dengan kemampuan menulis surat penawaran, dan membaca informasi tempat-tempat wisata, membuka rezeki juga untuk saya. Saya bisa piknik gratis dan dapat uang saku, dengan cara mengatur perjalanan rombongan  ke berbagai lokasi. 
Jangan ragu-ragu ya, yang mau piknik ngajak-ngajak saya.

Tuesday, October 3, 2017

Menyalurkan Zakat, Infaq, Sedekah lewat Lazizba

Rasanya hampir semua orang Semarang tahu keberadaan satu masjid besar di pusat kota, yaitu Masjid Baiturrahman. Masjid yang terletak di Barat lapangan Simpang Lima ini sudah lama menjadi jujugan masyarakat untuk melaksanakan solat, pengajian, juga beragam kegiatan keagamaan lainnya.

Tapi mungkin belum banyak yang tahu, kalau masjid Baiturrahman juga punya lembaga amil zakat yaitu LAZIZBA. LAZISBA adalah lembaga amil zakat yang berada di bawah pembinaan Yayasan Pusat dan Pengembangan Islam (YPKPI) Masjid Raya Baiturrahman. LAZIZBA ini dibentuk dalam rangka untuk mengelola potensi zakat, infaq dan sedekah (ZIS) dari jamaah masjid yang belum tergarap secara maksimal. Seiring perkembangan Lembaga dan tuntutan UU No 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat, kini LAZIZBA sudah terdaftar dalam SK Kemenkumham No AHU-10075.50.10.2014 pada Tanggal 3 Desember menjadi Yayasan Lazis Baiturrahman.

Membayar zakat memang sudah menjadi kewajiban setiap umat Islam. Selain itu infaq dan sedekah, juga diharapkan menjadi sesuatu yang rutin untuk dilakukan, agar harta yang diberikan oleh Allah SWT memperoleh keberkahan. Sekarang ini memang banyak lembaga amil zakat di Indonesia. Sebagai masyarakat, harus mengetahui apakah lembaga tempat kita menyalurkan ZIS kita sudah memiliki ijin resmi dari pemerintah. Hal ini penting agar niat kita tersampaikan kepada yang benar-benar berhak dan dikelola melalui program-program yang dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk LAZIZBA sendiri saat ini sudah memiliki aneka program. Sesuai dengan tujuan didirikanya yaitu:
  1. Membantu mengatasi kesenjangan sosial ekonomi masyarakat sehingga terwujud hubungan masyarakat serta sejahtera materiil dan spirituil.
  2. Menjaga harkat dan martabat mustahik.
  3. Mengentaskan kemiskinan
  4. Memberikan bantuan pada anak yatim piatu
Program-program LAZIZBA ada dalam empat bidang yaitu:

EKONOMI 
 
Pembinaan Usaha Lazizba

Dengan program pemberian bantuan modal pada Mustahik tanpa bunga atau disebut KUBAH (Kredit Usaha Barokah). Bantuan modal tanpa bunga tersebut sudah disalurkan ke Desa Tambak Mulya (2009), Mangkang (2009) , Tegowanu, Karangawen (2009), Cepoko (2010 – 2015) dan Tambak Rejo-Kali Gawe (2014 – 2019)

KESEHATAN 
Pengobatan gratis Lazizba
BERCERITA (Bersalin dan berbagi cinta ) yaitu pogram bersalin gratis untuk mustahik dengan investasi 600.000/ kelahiran. Ada lagi program IBU – KUS (Ibuku sehat – Anaku Cerdas ) berupa pemeriksaan, penguatan dan peningkatan gizi Ibu dan anakdi desa binaan/ yang telah terdata sebagai mustahik dengan investasi 50.000/ ibu. Baksos kesehatan di daerah binaan, dan SUNAH (Sunat Barokah) yaitu program sunat gratis bagi anak yatim piatu, yatim, duafa.

PENDIDIKAN 
Sekolahku Indah Lazizba
 BUS (Bea Siswa Untuk Surga) yaitu pemberian Bea Siswa untuk anak asuh dengan nominal: SD (Rp. 50.000), SMP (Rp. 75.000),SMA (Rp. 100.000). Ada program “Sekolahku Indah” berupa pemberian bantuan renovasi bagi sekolah – sekolah yang belum memenuhi standar dengan investasi program Rp. 2.500.000/ program. Ada juga program MAKSUM (Masjidku Tersenyum ) berupa bantuan untuk pemberdayaan Masjid agar lebih makmur dengan investasi Rp. 1.000.000

Program pendidikan yang lain adalah pembangunan ELC (Education Learning Centre) yaitu pusat pengembangan pendidikan bagi mustahik. Program ini menerima waqaf tunai dengan nominal RP. 1000.000 dan sudah ada tanah waqafnya.

LAZIZBA juga memiliki program pendirian TPQ di daerah rawan aqidah yang disebut ASYIK (Taman Syiar Qur’an) serta SANTRI (Sahabat Anak Berprestasi) yaitu program pengiriman assatid yang mendampingi anak asuh serta guru mengaji di TPQ yang telah didirikan.

KEPEMUDAAN (SABAB)
Pelatihan Pemuda Lazizba
 Program Kepemudaan LAZIZBA berupaya menciptakan pemuda muslim yang sempurna IMAN dan ILMU yang siap menegakkan Islam, berkarakter Islami, Mandiri dan berjiwa Sosial Tinggi. Selain berfungsi sebagai bank Sumber Daya Manusia untuk Lembaga, program kepemudaan juga sebagai sarana pengembangan semangat Entrepreneurship di kalangan pemuda.

Untuk melaksanakan program-program tersebut, LAZIZBA memiliki sumber-sumber dana berikut ini:
  1. Zakat, Infaq, dan Sedekah merupakan hak penuh Pengurus LAZISBA dalam kebijakan pengelolaan anggaran.
  2. Dana CSR (Corporate Sosial Responbility ) dana bantuan sosial dari perusahaan yang akan disesuaikan program LAZISBA dan program dari perusahaan.
  3. Dana Program berupa penawaran program – program khusus (bea SISwa, Maksum, waqaf dll ) kepada donatur dengan perjanjian jangka waktu tertentu. Memakai akad khusus.
Untuk itu LAZIZBA kini gencar menyosialisasikan program-programnya untuk memberikan informasi kepada masyarakat, bahwa LAZIZBA siap menerima, menampung dan menyalurkan Zakat, Infaq dan Shodaqoh kaum muslimin, kepada pihak-pihak yang membutuhkan dan melalui program-program yang berkesinambungan.

LAZIZBA dapat dihubungi melalui:
Telepon : 085 100 999 774
EMAIL : lazis.baiturrahman01@gmail.com
ALAMAT : Jalan Mugas Dalam No 22 Semarang
FB : Lazis Baiturrahman
IG/twitter: @lazisba

Saturday, September 30, 2017

Jaladara, Bagian Masa Depan Kereta Api Indonesia

Sepur Kluthuk Jaladara
Pukul 07.30


Pagi hari yang cerah di kota Solo. Stasiun Purwosari tampak lengang. Kereta Prambanan Ekspres dengan jurusan akhir Stasiun Tugu Yogyakarta baru saja berlalu. Stasiun tertua di kota Solo itu menjadi hening sesaat. Deretan kursi besi bercat hijau tua yang biasa dijejali oleh calon penumpang tampak lowong, setia menanti kedatangan penumpang selanjutnya. 
Masinis Kereta Api Jaladara
Namun dalam sekilas pandangan mata, ada rangkaian kereta yang tak biasa terparkir di ujung Barat, di belakang dua lokomotif tua yang telah terparkir bertahun lamanya. Petugas tampak sedang mempersiapkan kereta untuk menempuh perjalanan hari itu. Tumpukan kayu jati memenuhi ruangan di lokomotif, siap menjadi bahan bakar rangkaian si Kereta Uap. Lokomotif bernomor C1218 buatan pabrik lokomotif Hartmann Chemnitz itu hitam legam. Asap keabuan mengepul dari cerobongnya.

Itu adalah rangkaian kereta api Jaladara. Di Solo dia punya nama baru: Sepur Kluthuk Jaladara

Bahan bakar kereta api, kayu jati afkiran.
Serombongan orang dengan syal batik tersampir di leher memasuki stasiun. Mereka adalah calon penumpang Jaladara pagi hari itu. Senyuman terkembang di wajah, dan ponsel pintar mereka tak henti mengambil gambar. Naik kereta barangkali bukan sesuatu yang baru. Tapi naik kereta Jaladara, adalah pengalaman yang jarang bisa diulang.  


Jaladara akan melaju di sepanjang rel di jalan Slamet Riyadi, urat nadi kota Solo,  mulai dari Stasiun Purwosari hingga stasiun Solo Kota di Sangkrah. Di sepanjang perjalanan sejauh 5,6 kilometer ini, Jaladara bisa berhenti di beberapa titik. Biasanya lokasi yang dipilih adalah tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah dan tradisi seperti Loji Gandrung (rumah dinas walikota Solo), Museum Radya Pustaka, dan Kampung Batik Kauman. 

Jaladara menjadi satu-satunya kereta uap di dunia yang melaju di tengah kota.
Suasana gerbong CR44. Ini adalah gerbong dengan model kursi saling berhadapan dengan kapasitas 36 kursi saling berhadap-hadapan.
Dua buah gerbong Jaladara terbuat dari kayu jati asli, buatan Belanda pada tahun 1906. Dua gerbong itu adalah gerbong CR16 dengan kapasitas 40 kursi, dan gerbong CR44 dengan kapasitas 36 kursi. Bahan bakar kereta Jaladara adalah 5 meter kubik kayu jati dan 4 meter kubik air. Kayu dan air akan menghasilkan uap yang menggerakan lokomotif di sepanjang perjalanan. Nanti di Stasiun Solo Kota, kereta akan langsir, dan mengisi "bahan bakar" yaitu air. Proses ini memakan waktu kurang lebih 15 menit.

Proses pengisian "bahan bakar" berupa air di lokomotif Jaladara 

Nama Jaladara diambil dari kisah Prabu Kresna yang mengendarai kereta Kyai Jaladara, kereta milik Bethara Wisnu yang ditarik empat ekor kuda putih dalam perang Bharatayudha. Setelah sekian tahun tidak digunakan, pada tahun 2009 akhirnya lokomotif seberat 45 ton beserta dua gerbongnya dipindahkan dari stasiun Ambarawa dengan truk trailer ke kota Solo, rumahnya yang baru. Pemerintah kota Solo, yang waktu itu dipimpin oleh bapak Joko Widodo, bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) untuk “menghidupkan kembali” Jaladara.

Seorang masinis Sepur Kluthuk Jaladara yang telah bekerja di KAI sejak tahun 1974 bercerita dulu pernah menjadi masinis kereta ini,  melayani tujuan Semarang – Solo – Yogyakarta. Namun kemudian jalur tersebut ditutup. Kini beliau ditugaskan untuk menangani Jaladara saat beroperasi sebagai kereta wisata.


Memang tak banyak orang yang mampu mengoperasikan kereta Jaladara. Seperti dalam hal perbaikan bagian-bagian mesin dan roda, yang sangat mungkin harus dilakukan selama perjalanan singkat selama kurang lebih 2,5 jam. Karena itu, saat sedang dioperasikan, Jaladara dikawal oleh beberapa petugas senior selain oleh petugas yang lebih muda. Dengan demikian transfer pengetahuan tentang Jaladara dapat terus berjalan. 

Kereta api, sebelum ada bis dan dibukannya jalan-jalan baru adalah alat transportasi rakyat yang sangat penting. Jalur-jalur kereta api Indonesia tidak hanya di pulau Jawa, tetapi juga di Sumatera telah ditempuh oleh puluhan rangkaian kereta untuk mengantarkan masyarakat ke berbagai tujuan. Sejak jaman Belanda hingga kini, kereta api memiliki peran besar dalam transportasi massal di Indonesia.

Tapi bukan cerita baru jika sesuatu yang telah tua akan terkalahkan dengan dengan yang lebih baru dan muda. Sesuatu yang muda biasanya hadir dengan fitur yang lebih canggih, lebih cepat, dan tampak lebih keren. Sementara yang tua akan menjadi begitu lambat, mahal perawatannya, dan tak lagi bisa mengikuti zaman. Zaman menghendaki sesuatu yang lebih canggih dan cepat.

Begitupun dengan kereta api. 
Lokomotif kereta api Jaladara, dirawat oleh generasi tua dan muda
Di Balai Yasa, yang berfungsi sebagai bengkel kereta api, terparkir lokomotif dan gerbong-gerbong tua. Bahkan akhirnya Balai Yasa juga menjadi pemberhentian akhir gerbong dan lokomotif yang tak lagi bisa diperbaiki. Tak jarang bagian-bagiannya “dikanibalisme” untuk memperbaiki kereta lain yang masih beroperasi. Begitulah sepertinya nasib kereta tua.

Lokomotif C1218, dibuat di Belanda
Tetapi beroperasinya kereta Jaladara di kota Solo membantah semua cap nasib kereta tua yang terpinggirkan. Semua orang terpesona dengan kehadiran kereta yang berumur lebih dari seabad itu. Orang-orang melirik, melambaikan tangan, dan berebut untuk berfoto dengan Jaladara.

Di negara-negara Eropa, lokomotif dan kereta tua justru sangat dihargai.  Perawatan lokomotif, juga rel-rel yang dilalui dilakukan secara serius. Pemeliharaan kereta tua memang tak mudah, dan seringkali jauh lebih mahal.

Tetapi segala upaya akan mendapatkan imbalan dari manfaat yang didapatkan. PT KAI dapat memberikan sumbangsih nyata untuk kelestarian sejarah dan kemajuan pariwisata, melalui kereta-kereta tua.

Diantara gencarnya kemunculan kereta api yang canggih dan berlomba-lomba menjadi yang tercepat, masih banyak pihak-pihak yang mau berjalan perlahan sambil menikmati hembusan angin dari jendela kereta yang terbuka. Di masa kini naik kereta api tidak sekedar mengantarkan, tetapi memberikan pengalaman.
Gerbong CR16 dengan kapasitas 40 kursi di sisi kanan dan kiri yang menghadap ke depan

Pepatah mengatakan: Old ways wont open new doors.

Tapi jika kita tahu kemana tujuan kita, yang lama akan membuka pintu-pintu masa depan baru yang tidak diduga. Adalah tugas PT KAI dan juga masyarakat untuk berupaya menjadikan aset bangsa bahkan benda cagar budaya seperti lokomotif-lokomotif tua untuk berperan dalam pembangunan di masa depan. Bukan hanya sekedar upaya pelestarian, tetapi juga menjadikannya penggerak masa depan yang mendampingi kebaruan. Kereta tua bisa menjadi penyeimbang kecepatan laju perkembangan zaman, dan menjadi tambatan kerinduan.

Sejak dulu kereta api adalah pembuka jalan. Dengan kreativitas dan cinta, cara lama justru akan menjadi cara baru yang menarik minat banyak orang. Bukan berarti yang tua menjadi tidak layak menjadi bagian dari masa depan. Memang untuk mengoperasikan kembali kereta-kereta tua membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan kereta baru yang canggih. Diperlukan usaha yang tak kenal lelah, dan dukungan dari perbagai pihak. 

Kereta tua tidak mungkin melaju lebih cepat, tapi bisa melajut dengan khidmat. Kereta tua tidak bisa berjalan jauh, tapi memberikan nuansa perjalanan yang teduh. PT KAI memiliki banyak punggawa sakti yang kini tertambat di museum kereta dan Balai Yasa. Sudah saatnya “membangunkan” yang tua untuk turut ambil bagian dalam masa depan Kereta Api Indonesia.


Yang tua, tidak hanya bagian dari sejarah, tetapi mampu turut andil menciptakan masa depan.  Seperti Jaladara, kereta tua yang siap menjadi bagian masa depan kereta api Indonesia. 

Stasiun Solo Kota, tempat Jaladara mengisi bahan bakar, dan langsir sebelum kembali ke stasiun Purwosari


Wednesday, September 20, 2017

Aplikasi Asyik Bikin Blog Apik


Aplikasi di PC, Laptop, dan gawai kita semakin hari semakin beragam. Tidak melulu yang berbayar, yang gratis saja juga dapat kita maksimalkan untuk menyelesaikan tugas-tugas harian kita. Bisa jadi itu tugas kuliah, pekerjaan kantor, mengerjakan PR anak sekolah, dan yang paling penting, memudahkan menulis blog. Dengan berbagi informasi tentang aplikasi yang biasa digunakan, teman-teman yang lain juga mendapatkan manfaat. Begitu kurang lebih yang diharapkan Rahma : http://www.rahma21.com dan Nyi Penengah Dewanti: http://www.nyipenengah.com dua blogger muda yang aktif dalam Arisan Blogger Gandjel Rel periode ini.

Disclaimer: karena saya awam, baru-baru aja belajar ngeblog agar lebih baik, bahasa teknis yang saya pakai mungkin saya kurang tepat.

H A R A P M A K L U M

Jaman dulu saya cukup akrab dengan aplikasi di PC seperti MS Office, kemudian AutoCAD, karena pekerjaan yang berhubungan dengan denah dan gambar. Selain itu aplikasi Photoshop dan Corel Draw juga cukup sering saya gunakan. Meski kalau sekarang sudah agak-agak lupa pakai Photoshop. Padahal dulu juga sempat les. Aplikasi di PC itu memang canggih, baik dipakai untuk pekerjaan profesional, khususnya yang berhubungan dengan grafis, tapi juga harganya lumayan mahal. Kalau buat saya cukup repot karena setiap kali pindah PC/ Laptop, berarti saya harus punya aplikasi itu di masing-masing tempat. Belum lagi proses menginstall aplikasi yang belum tentu sekali jadi. Berhubung saya lumayan “malas” belajar hal ini, jadi cukup merepotkan.

Untungnya, sekarang dengan gawai dan aplikasi gratisan yang bisa diunduh di Play Store, kita bisa menghasilkan karya yang tidak kalah baiknya, dibandingkan jika kita memakai aplikasi canggih di PC tadi.

Namanya ngeblog pasti berhubungan dengan tulisan. Pastinya kurang kalau blog tidak dilengkapi dengan tulisan. Untuk membuat tulisan, saya masih pakai cara aman. Sampai sekarang saya masih menggunakan Word untuk membuat kerangka tulisan yang akan saya unggah di blog sampai selesai. Setelahnya, barulah saya pindah ke dashboard, lalu mungkin saja ada beberapa perubahan di sana. Dengan punya tulisan aslinya di Word, saya tidak perlu khawatir jika sewaktu-waktu ada jaringan eror, yang bisa bikin postingan tiba-tiba hilang tak berbekas. Saya sih tidak mengalami, tapi beberapa teman pernah sharing jika tulisannya di draft blog tiba-tiba hilang. Huhu nggak kebayang kan menulis lagi untuk kedua kalinya, yang biasanya karena diawali dengan jengkel dan putus asa, jadi nggak semaksimal tulisan yang pertama.

Makanya untuk menulis, saya selalu menggunakan aplikasi untuk dokumen, jika di PC/ Laptop ya pakai word, jika di gawai, pakai Notepad, agar kita selalu punya backup tulisan kita.

Setelah menulis, blog akan lebih menarik jika dilengkapi dengan foto. Salah satu penunjang tulisan kita di blog memang foto-foto yang menarik. Misalnya kita menulis tentang perjalanan, jika tidak dilengkapi foto rasanya bagai makan pecel tanpa kerupuk.

Jaman resolusi kamera ponsel kurang memadai, saya selalu bawa kamera digital untuk mengambil gambar. Foto-foto di dalam kamera itu lalu saya pindahkan ke komputer, lalu saya edit di sana.

Di PC saya menggunakan aplikasi sederhana yaitu Microsoft Office Picture Manager untuk me re-zise foto. Kadang gelap-terang, juga cropping foto saya lakukan pakai Microsoft Office Picture Manager. Setelahnya untuk menggabungkan lebih dari satu foto, atau menambahkan keterangan tulisan di dalam foto, atau watermark, saya edit pakai Corel. Banyak langkah memang yang harus saya lakukan waktu mengedit foto ini. Waktu yang dihabiskan kadang sama atau lebih daripada ketika membuat tulisannya. Cukup repot dan melelahkan.

Tapi sekarang syukurlah, gawai sudah dilengkapi dengan kamera yang baik, jadi saya jarang bawa-bawa kamera digital jika ingin mengambil gambar pelengkap tulisan. Lalu foto-foto yang didapatkan itu tidak perlu saya pindah dulu ke PC/ Laptop dulu, tapi langsung saya atur di gawai. Biasanya kalau foto yang ingin saya tampilkan di blog cukup banyak/ lebih dari lima, saya gabung beberapa diantaranya menjadi satu. Nah untuk keperluan-keperluan itu di gawai saya antara lain ada aplikasi-aplikasi berikut: (Semua aplikasi ini bisa diunduh gratis melalui Play Store)

Photo Grid

Di aplikasi Photo Grid, cara menggabungkan fotonya sangat sederhana dan mudah. Tinggal ikuti langkah-langkah di sana yang ditunjukkan pakai gambar dan tulisan. Selain itu kita juga bisa membuat slide show sederhana. Anak-anak saya yang umurnya 7 dan 9 tahun juga sudah mulai bisa memakai aplikasi ini untuk mengedit video dan foto yang mereka inginkan. Aplikasi Photo Grid perlu tempat sebesar 59MB.

Pics Art

Selain itu ada juga Pics Art. Aplikasi Pics Art ini cukup gede sih, sekitar 134 MB untuk Versi 9.8.3nya. Iklan yang lewat juga lumayan banyak. Pics Art juga bisa mengolase foto-foto kita, selain itu bisa dipakai untuk mengedit foto dengan aneka filter atau efek yang menarik. Tapi kalau saya sering-seringnya pakai untuk mengecilkan ukuran resolusi foto.




Tulisan lucu itu dibuat pakai Snapseed
Snapseed

Untuk keperluan bikin watermark aplikasi ini praktis dan menghasilkan watermark dengan font dan bentuk yang menarik.

Gif Maker- Gif Editor

Aplikasi ini bisa digunakan untuk menggabungkan beberapa foto atau gambar lalu diubah formatnya menjadi .gif. Alias gambar yang bisa berganti-ganti sendiri. Aplikasi ini bisa juga dipakai untuk video.

Latar belakang, tulisan, juga filter yang saya pakai ada di aplikasi Textgram
Textgram

Aplikasi Text gram saya pakai kalau mau bikin tulisan yang rada banyak dengan gambar atau foto sebagai latarnya. Kalau jaman di PC saya kudu bikin pakai Corel, sekarang cukup pakai Textgram. Bahkan saya sering bikin template undangan untuk keperluan RT di sini. Hehe. Textgram juga menyediakan beberapa gambar untuk background dan font yang cukup menarik.

Nah, aplikasi-aplikasi yang sudah saya sebut di atas selama ini setia ngendon mengisi kapasitas memori gawai saya. Selama ini membuat saya makin asyik ngeblog dan harapannya tampilan blog makin apik.

Semakin banyak aplikasi yang bagus dan gratis di Play Store memang memudahkan kita untuk membuat tampilan blog semakin baik. Tapi biar bagaimanapun canggihnya aplikasi-aplikasi itu, tidak (atau belum) ada aplikasi yang bisa membuat tulisan kita langsung jadi dan bagus. Hehe. Aplikasi itu cuma ada di dalam otak, terus disalurkan lewat jemari yang mengetuk keyboard atau tab gawai. Yuhu semangat!

Wednesday, September 6, 2017

Kunlaptik 2017 ke Puskesmas Sidorejo Kidul dan DUVER Salatiga


Hari kedua acara temu blogger Kesehatan, para Blogger Kesehatan jalan-jalan ke Salatiga
Blogger Kesehatan siap-siap (foto-foto) sebelum berangkat

Salatiga, kota yang berjarak sekitar 50km dari Semarang ini dikenal karena hawanya yang sejuk. Terletak di lereng Merbabu, Salatiga terkenal dengan hasil-hasil pertaniannya. Kalau oleh pecinta kuliner, salah satu kuliner Salatiga yang banyak dicari adalah wedang ronde. Salah satunya adalah Ronde Jago. Eits, tapi para blogger diajak ke Salatiga bukan untuk kuliner atau piknik. Kami akan mengunjungi sebuah Puskesmas, dan satu tempat bernama DUVER alias Dunia Vektor sebagai rangkaian kegiatan Kunlaptik 2017 alias Kunjungan Lapangan Tematik. 

Puskesmas Sidorejo Kidul yang Ramah dan Unggul 
Bu Camat beserta jajarannya menyambut rombongan Kemenkes dan Blogger di kantor Kecamatan.

Selepas satu jam perjalanan melewati jalan tol, kami tiba di Kantor Kecamatan Tingkir. Di sana kami disambut oleh Camat Tingkir beserta jajarannya. 

Ibu Camat Tingkir, Nunuk Dartini SpD Msi penuh semangat menjelaskan tentang program-program kesehatan yang telah berhasil beliau lakukan di wilayahnya. Beliau juga menyampaikan perasaan bangga karena Salatiga, dan khususnya wilayah Tingkir terpilih untuk dikunjungi rombongan kementrian bersama para blogger kesehatan. 

Kemudian kami juga disambut oleh Ibu Kepala Puskesmas yang ramah yaitu ibu dr. Deasy Vebriana. Beliau menyampaikan penjelasan tentang puskesmas yang dipimpinnya, yaitu Puskesmas Sidorejo Kidul. Terletak di dekat taman Tingkir yang asri dengan pemandangan keren gunung Merbabu, puskesmas Sidorejo Kidul punya visi untuk menjadi puskesmas terdepan untuk mewujudkan kecamatan Tingkir sehat dan mandiri. 
Puskesmas Sidorejo Kidul, Tingkir Salatiga

Sedangkan Misinya adalah: 

1. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
2. Meningkatkan kemandirian masyarakat di bidang kesehatan
3. Menjalin kerjasama lintas sektor yang harmonis dan dinamis

Sesuai dengan motto Puskesmas: Ramah petugasnya, unggul pelayanannya, ibu kepala puskesmas, dan ibu bidan yang sempat menemani saya jalan-jalan memang ramah dan sabar menemani rombongan blogger. Kalau petugas kesehatannya ramah begini, tentunya nggak akan malas memeriksakan diri ke puskesmas, ya. 

Puskesmas ini sudah memiliki pelayanan yang lengkap antara lain: Pelayanan Dalam Gedung yaitu Klinik Umum, Klinik Ibu-Anak dan KB, dengan waktu pelayanan hari Senin-Sabtu mulai pukul 8 pagi sampai selesai. Selain itu ada juga Klinik Konseling yang terdiri dari konseling gizi, TB/ Kusta, sanitasi dan konseling penyakit jiwa. Untuk pelayanan luar gedung meliputi Posyandu, Pusling, Pos UKK, Poskestren, VCT Mobile, dan kunjungan rumah. 

Untuk mewujudkan kecamatan Tingkir yang sehat, Puskesmas Sidorejo Kidul memiliki program: 

1. Pembinaan keluarga siaga
2. Pembinaan kesehatan dan PHBS di semua tatanan
3. Sosialisasi dan memasyarakatkan GERMAS.
Di taman yang asri ini ada program unggulan "Sabtu Sehat Tingkir" 
Ada lagi sebuah program unggulan Puskesmas Sidorejo Kidul yaitu “Sabtu Sehat Tingkir”. Program ini dilaksanakan setiap hari Sabtu minggu ke empat setiap bulannya, di Taman Tingkir. Di sana masyarakat bisa menikmati layanan kesehatan antara lain senam sehat bersama, diskusi interaktif, konsultasi kesehatan, donor darah, dan VCT Mobile (Tes HIV)

Selain itu ada juga Kelas menyusui Bunda Cantik Cakap Terampil ASI Eksklusif yang bertujuan memberikan informasi selengkap-lengkapnya bagi kesuksesan pemberian ASI eksklusif untuk bayi. Puskesmas juga memberikan layanan screening HIV-AIDS sebagai salah satu program inovatifnya. 

Puskesmas Sidorejo Kidul juga telah menjalani akreditasi pada tahun 2016 dan masih akan terus berbenah untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Semangat! 

Dunia Vektor, Melihat Nyamuk dari Dekat
Selamat datang di DUVER!
Waktu pertama dengar “Dunia Vektor” saya mengira kami akan jalan-jalan ke satu tempat pembuatan desain grafis atau animasi. Sebagai lulusan kampus arsitektur, saya membayangkan desain grafis dan tangki air waktu pertama kali mendengar istilah itu. Karena kalau sehari-hari saya sering mendengar kalimat vektor itu ada hubungannya dengan gambar. 
Ternyata bukan. Di Salatiga ada Dunia Vektor yang lebih amazing!

Rasanya sudah sangat lama tidak mendengar singkatan panjang seperti B2P2VRP. B2P2VRP itu singkatan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit. DUVER ini lokasinya di Jl. Hasanuddin 123 Salatiga. 

Menurut saya DUVER ini sangat menarik. Saya bisa belajar banyak hal tentang kesehatan, istilah-istilahnya dan lain-lain. Kalau selama ini dunia kesehatan yang saya kenal melulu tentang dokter, apotik, obat, kali ini saya mengenal dunia kesehatan yang lain lagi, yang berhubungan dengan penelitian tentang penyakit melibatkan vektor dan reservoir. 

Sebelum cerita lebih panjang, supaya nggak bingung seperti saya, baiknya kita tahu dulu, apa itu vektor? Apa itu reservoir?

Vektor adalah adalah organisme yang tidak menyebabkan penyakit tetapi menyebarkannya dengan membawa patogen dari satu inang ke yang lain. Contoh vektor yang diteliti di DUVER adalah nyamuk, yang seringkali berperan sebagai vektor penyakit demam berdarah dan malaria. selain itu ada juga kecoak. Gampangnya, vektor itu adalah serangga penular penyakit. 

Sedangkan reservoir adalah hewan-hewan yang menyimpan kuman patogen, tetapi mereka sendiri tidak terkena penyakit tersebut. Atau lebih mudahnya reservoir adalah mamalia kecil yang bisa menyimpan kuman penyakit. Reservoir yang diteliti di DUVER adalah sebangsa tikus dan kelelawar. 

Mulanya DUVER berdiri tahun 1976 di Semarang. Waktu itu ada kejadian luar biasa di Jepara yang harus segera ditangani. Jadi seperti diceritakan oleh ibu Dra. Widarti, M.Kes, Ketua Panitia Pembina Ilmiah (PPİ) B2P2VRP Salatiga, awal mula kerjasama DUVER adalah dengan WHO untuk insektisida baru pengganti DDT untuk mengendalikan wabah malaria yang ada di Jepara. 

Mengapa sih perlu ada DUVER? Menurut Bu Widiarti, angka kesakitan penyakit yang bersumber dari binatang semakin tahun cenderung meningkat. Perilaku masyarakat seperti memelihara satwa liar, pertumbuhan populasi dan pemanasan global turut menjadi faktor penyebab meningkatnya penyakit akibat binatang ini. Karena itu keberadaan DUVER sangatlah penting untuk memberikan indormasi tentang penyakit zoonosis dan pencegahannya. 

Tujuan didirikannya DUVER:

1. Menjadi pusat informasi, dokumentasi, display/ peragaan ekologi dan biologi maupun pengendalian vektor dan reservoir penyakit.
2. Menjadi wahana wisata ilmiah guna memasyarakatkan cara pencegahan penyakit bersumber vektor dan reservoir.
3. Memacu kreativitas kalangan peneliti dan masyarakat untuk menciptakan dan mengembangkan metode inovatid pengendallian vektor dan reservoir penyakit. 

Setelah disambut dengan hangat oleh pejabat di DUVER, kami akhirnya dibagi dalam kelompok untuk berkeliling. Tidak semua lab di DUVER boleh dimasuki oleh rombongan. Hanya di beberapa anjungan saja yang dinyatakan aman karena virus dan penyakitnya sudah dimatikan. 

Tempat kelompok saya datangi pertama kali adalah bagian asrama atau penginapan. Ada 16 kamar di unit bangunan ini yang dapat dipakai untuk menginap para peneliti atau pihak-pihak yang berkegiatan di DUVER. Hm.. di tempat seadem Salatiga ini, menginap di DUVER sepertinya akan jadi pengalaman yang nggak biasa ya. 
Laboratorium tempat tikus-tikus dan kelelawar diawetkan.
Setelah melihat asrama yang luas dan bersih, kami masuk ke laboratorium tempat mayat-mayat tikus dan kelelawar diawetkan. Hii.. tempatnya tentu saja berbau alkohol dan formalin. Di sini sampel tikus dari berbagai daerah di Indonesia diawetkan dalam tabung-tabung kaca berisi alkohol 70%. Setelahnya pada sampel-sampel yang dipilih, tikus-tikus terpilih akan dikuliti, dibersihkan dari dagingnya, lalu dibersihkan tulangnya hingga bisa diteliti. Jadi ingat dengan film “Bones” yang meneliti tulang belulang manusia untuk memecahkan kasus kriminal. Hehe. Tulang tikus ini megandung informasi tentang penyakit yang dibutuhkan. Waktu saya tanya pada mas dan mbak yang bertugas di sini, rata-rata mereka adalah lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat. 
Laboratorium uji pestisida, dan tanaman lavender. 
Sesudah masuk ke lab yang penuh "mayat" hehe, kami masuk ke laboratorium uji pestisida. Di sini aneka pestisida dari industri baik yang berupa aerosol, obat nyamuk bakar, lotion anti nyamuk, minyak, dll diuji. DUVER adalah satu-satunya tempat yang berakreditasi KAN di Indonesia yang dapat melakukan uji ini. Karena DUVER punya “peternakan” nyamuk, yang benar-benar bebas insektisida. Nyamuk-nyamuk yang “sehat” ini yang layak untuk menjadi sampel uji dari aneka insektisida tadi. 

Di depan lab ini ada aneka tumbuhan yang mengandung insektisida. Judulnya: Etalase Tumbuhan Berinsektisida. Tadinya saya kira ini adalah kumpulan tanaman yang sakit dan tidak layak konsumsi karena mengandung pestisida. Hihi. Dasar awam banget sama istilah-istilah kesehatan. Tetapi ternyata maksudnya dalah tumbuhan yang memiliki kandungan insektisida, maupun tumbuhan pengusir nyamuk vektor. Beberapa di antara tanaman yang mampu “mengusir” nyamuk adalah Zodia, Geranium, Serai wangi, Lavender, dan Rosemary. Nah, kalau mau rumah kita tidak disukai nyamuk, boleh tuh, menanam tanaman-tanaman tadi, ya. 

Saya kepikiran pengen punya tanaman pengusir nyamuk di rumah. Pasti akan lebih menarik kalau di DUVER bisa membeli aneka bibit tanaman ini. Pasti menarik kalau DUVER juga menjual aneka bibit tanaman ini sebagai oleh-oleh. 
Melihat nyamuk dari dekat. Cantik lho!
Setelah melihat tempat nyamuk diuji coba, kami masuk ke lab tempat penelitian nyamuk, di sana ada tumpukan box berisi nyamuk-nyamuk dari seluruh Indonesia. Sempat melihat nyamuk melalui mikroskop. Despite off nyamuk sering menjengkelkan, ternyata tubuh nyamuk itu sangat indah lho. MasyaAllah. 

Ada juga satu lab yang berisi alat canggih tempat  menggandakan DNA nyamuk untuk diteliti. Ah, saya agak kurang paham sama istilah ilmiahnya. Tapi membayangkan menggandakan DNA, pasti pekerjaan canggih gitu. Saya jadi salut sama tenaga-tenaga kesehatan yang mengabdi di DUVER. Karena merekalah aneka penyakit yang bersumber dari vektor dan reservoir bisa dikendalikan. 

Wahana yang paling menarik buat pengunjung, mungkin anak-anak sekolah barangkali adalah Wahana Ilmiah yang berisi display (bangkai) vektor dan reservoir tadi. Hehe. 
Lihat baik-baik, nyamuk dan kecoak lho itu!
Di sini nyamuk-nyamuk dibuat menjadi instalasi seni berupa gambar-gambar pemimpin negara, peta indonesia, dan lain-lain. Lukisan-lukisan itu adalah mozaik yang dibuat dari serangga semacam nyamuk dan kecoak. Hehe. Setiap lukisan mozaiknya ternyata ada maknanya. Seperti ada mozaik berbentuk mikroskop sebagai simbol penelitian, lalu ada pula mozaik tokoh yang berpengaruh dalam bidang kesehatan, salah satunya mozaik Menteri Kesehatan. 

Sayangnya jatah waktu kelompok saya untuk masuk ke ruangan ini sudah habis, alias rombongan hampir pulang. Untung saya sempat mengintip ruangan ini sebelum acara dimulai. 

Tapi bisa kok kalau di lain waktu kita mau datang ke DUVER. Cukup bikin perjanjian dengan pihak pengelola, dan memberi kontribusi beberapa ribu rupiah saja.  

Meski rasanya belum puas, karena belum semua lab dan ruangan sempat saya masuki, ternyata kunjungan di DUVER ini memberikan pengalaman baru buat saya dan semua rombongan. 

Semoga dunia kesehatan Indonesia semakin maju, khususnya di DUVER ini, agar penyakit-penyakit berbahaya dapat dicegah perkembang biakannya di Indonesia. 

Terima kasih untuk Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, dengan program-program kunjungan lapangan seperti ini, kami, rakyat jelata ini jadi lebih tahu tentang langkah-langkah yang telah dilakukan pemerintah demi kesehatan dan juga kesejahteraan masyarakat Indonesia. 

Salam Indonesia Sehat! 

Monday, September 4, 2017

Hidup Sehat dengan GERMAS

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)

Pada jaman dahulu....

Hehe. Kalimat pembuka ribuan kisah ini rasanya cocok untuk menuliskan kondisi kesehatan saya saat ini. Kalau ada istilah “anak muda bicara masa depan, orang tua bicara masa lalu”. Dalam hal fisik, bagi saya usia tak bisa berbohong. Jaman dahulu semasa (lebih) muda rasanya hampir tidak ada permasalahan kesehatan serius yang saya rasakan. Paling pol batuk pilek, sedikit pusing-pusing dan badan demam karena kelelahan. 

Seiring waktu berjalan, rasanya badan mulai sering protes. Sedikit-sedikit merasakan pegal di kaki, atau tiba-tiba punggung dan pinggang kaku, dan lain sebagainya. Berbagai gejala yang jika dibilang ringan, tapi kok ya mengganggu aktivitas. Nah, kemarin, hari Senin tanggal 28 Agustus 2017 saya beruntung karena diberi kesempatan untuk ikut acara Temu Blogger Kesehatan dengan tema “Mari Hidup Sehat dengan GERMAS”. Berkat acara ini saya jadi lebih mengerti bahwa kesehatan diri itu sangat penting. Tidak hanya bagi diri saya sendiri, tapi juga bagi masyarakat. 

Pagi-pagi di ballroom Hotel Santika Premiere, bersama-sama dengan 30 orang blogger kesehatan dari Jabodetabek, 20 blogger kesehatan dari Semarang, saya melakukan tarian minta hujan, hehe. Bukan ding, tapi Hand Hygine Dance, yaitu tarian untuk mengingatkan pentingnya cuci tangan dengan benar. Tarian seperti pelajaran anak PAUD ini disambung juga dengan Senam Peregangan di Tempat Kerja. Seperti main-main, tapi sesungguhnya bermakna besar. Olah tubuh, bergerak, adalah hal penting untuk menunjang kesehatan tubuh kita. 

Sebelum nyambung ke masalah olah tubuh ini, baiknya saya cerita urutan acara kemarin. Selepas berolah raga ringan, saya bersama teman-teman mendapatkan paparan dari beberapa narasumber yang membuka wawasan tentang betapa pentingnya menjaga hidup sehat. 

Pentingnya Mencegah Penyakit Tidak Menular

Bapak Arvian Nevi, SKM, DEA adalah Kasie Pencegahan Penyakit Tidak Menular di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Beliau menyampaikan bahwa di masa kini kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) semakin meningkat. Bahkan Jawa Tengah adalah provinsi dengan jumlah penderita kanker yang tertinggi di Indonesia. Selain itu ancaman PTM seperti hipertensi juga sangat tinggi. 

Penyakit hipertensi yang dulu hanya menyerang orang berusia lanjut, kini juga menyerang kalangan muda. 51% Kematian akibat stroke, dan 45%nya akibat jantung koroner. Karena ancaman yang semakin nyata ini, maka diperlukan upaya pencegahan preventif. 

Bapak Arvian Nevi menekankan pentingnya menggemakan tren hidup sehat. Yaitu mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah PTM. 
Perilaku Cerdik untuk pencegahan Penyakit Tidak Menular

Lakukan langkah “CERDIK” yaitu: Cek Kesehatan, Enyahkan Asap Rokok, Rajin Olah Raga, Diet Sehat dengan Kalori Seimbang, Istirahat yang Cukup, Kelola Stres

Yuk galakkan GERMAS!

Selanjutnya adalah sambutan kepada Blogger dari Kementrian Kesehatan, -pihak yang mengundang kami semua- yang disampaikan oleh Kepala Bag Hubungan Media & Lembaga Biro Komunikasi Kemenkes, Bapak Indra Rizon, SKM, M.Kes. 

Semarang adalah kota ke-5 yang didatangi Kemenkes untuk program GERMAS itni. Para blogger ini memang khusus diundang untuk memviralkan kebijakan-kebijakan kementrian kesehatan. Semua ini adalah bagian dari rencana untuk menggulirkan GERMAS secara terencana dan sistematis oleh semua pihak. 

Mengapa Blogger? Karena data di Indonesia pengguna aktif sosial media mencapai 106 juta orang. Mencapai 40% dari total penduduk Indonesia. Blogger memiliki potensi besar sebagai medium untuk sosialisasi program kesehatan. 

Kenapa GERMAS? Disampaikan Bapak Indra Rizon, GERMAS diluncurkan karena antara lain sebab-sebab berikut ini: 

1. Penyakit itu sangat mahal untuk diatasi
2. Lingkungan hidup yang jelek membuat kerugian ekonomi 
3. Telah terjadi pergeseran penyakit, dimana penyakit seperti hipertensi saja bisa menyebabkan kematian. Umur penderitanya pun semakin muda. Maka di sini penting sekali untuk dilakukan cek kesehatan. 
4. (Dari data JKN) Penyakit tidak menular menyerap biaya terbesar menyebabkan pembengkakan biaya BPJS. Padahal sesungguhnya penyakit-penyakit tersebut dapat dicegah dari awal. 

Untuk menanggulangi semua itu, perlu penguatan upaya Promotif-Preventif, yaitu dengan GERMAS. 

Nah, apa itu GERMAS? Germas itu singkatan dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat

GERMAS merupakan gerakan nasional yang diprakarsai oleh Presiden RI yang mengedepankan upaya promotif dan preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif dengan melibatkan seluruh komponen bangsa dalam memasyarakatkan paradigma sehat.

Dalam acara temu blogger kesehatan kali ini para blogger diharapkan turut berperan aktif dalam menyebarkan konten-konten kesehatan yang benar. Karena menurut pengamatan Kemenkes, banyak berita hoax tentang kesehatan yang beredar di dunia maya. 

Kan untuk menyukseskan GERMAS ini, tidak hanya bisa mengandalkan peran dari sektor kesehatan saja. Peran seluruh lapisan masyarakat, termasuk blogger ini, sangat diperlukan untuk menyebarkan praktek pola hidup sehat. 


Gerakan Masyarakat Hidup Sehat

GERMAS itu apa saja sih? 

GERMAS meliputi kegiatan: Melakukan aktifitas fisik, Mengonsumsi sayur dan buah, Tidak merokok, Tidak mengonsumsi alkohol, Memeriksa kesehatan secara rutin, Membersihkan lingkungan, dan Menggunakan jamban. 

Pada tahun 2017, GERMAS secara nasional dimulai dengan berfokus pada tiga kegiatan, yaitu: 
1) Melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari 
2) Mengonsumsi buah dan sayur; dan 
3) Memeriksakan kesehatan secara rutin minimal 6 bulan sekali sebagai upaya deteksi dini penyakit.

PTM dan Check Up

Pembicara selanjutnya adalah Ketua Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam (PAPDİ) DKİ Jakarta, Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD, KGEH. Dokter Ari yang juga blogger dan aktif di sosial media ini menyampaikan pentingnya untuk cek kesehatan secara rutin. Alias Check Up. 

Apa itu Check Up? Check up adalah sarana mengevaluasi terutama adanya gangguan kesehatan kronis pada diri seseorang. Mengapa check up perlu? Karena banyak penyakit yang pada awalnya timbul tidak bergejala. Jadi kalau banyak kita dengar kabar: “Wah tiba-tiba dia drop karena jantung, padahal selama ini sehat-sehat saja.” Itu tidaklah benar. Semua penyakit pasti ada awal mulanya, tidak ada yang tiba-tiba. 

Contoh penyakit kronis yang tidak bergejala pada awal sakitnya adalah penyakit peningkatan kadar lemak darah (yang sering kita sebut: kolesterol). Jika kadar kolesterol dalam darah tinggi maka kolesterol akan menumpuk pada pembuluh darah baik jantung, otak, dan juga ditimbun di hati, ditimbun di kandung empedu menjadi batu empedu. Jika hal ini terjadi maka orang tersebut beresiko tinggi untuk terkena sakit jantung dan stroke. 

Penyakit lain yang kadang diabaikan adalah kadar gula darah yang tinggi. Padahal jika gula darah tinggi menumpuk di pembuluh darah besar dan kecil, jika di pembuluh darah koroner bisa menyebabkan penyakit jantung koroner, jika pembuluh darah otak, menyebabkan stroke, jika di pembuluh darah ginjal bisa menyebabkan kebocoran ginjal yang berujung gagal ginjal. 

Nah, karena itu jangan malas untuk melakukan cek kesehatan. Kalau dulu orang baru check up ketika usia mulai memasuki 40- tahun, sekarang sedari muda cek kesehatan harus dilakukan secara rutin, setidaknya setahun sekali. Namun jika kita memiliki faktor resiko, misalnya ada orang tua atau kerabat dekat yang menderita suatu penyakit berat, maka cek kesehatan tadi harus dilakukan lebih sering, misalnya enam bulan sekali. 

Setelah menyampaikan fakta-fakta horor jika kita mengabaikan gejala penyakit dan malas check up, dokter Ari menyampaikan tips kesehatan yang praktis untuk kita jalankan, yaitu: 

1. Minum air putih minimal 8 gelas sehari
2. Banyak makan sayur dan buah
3. Istirahat yang cukup
4. Tidak merokok
5. Olah raga yang teratur


Bagaimana jika sudah terkena penyakit?

1. Konsultasi pada dokter
2. Minum obat sesuai instruksi dokter
3. Kontrol teratur sampai keadaan kembali normal
4. Hindari makanan dan minuman yang memperburuk keadaan

Ayo bergerak dan cek kesehatan secara rutin, Guys!

Para blogger pada kesempatan ini juga mendapatkan check up kesehatan seperti pengecekan tinggi badan, berat badan, dan tekanan darah. Hasilnya? Hari itu tekanan darah agak tinggi padahal biasanya nggak pernah segitu. Kata petugas kesehatan yang memeriksa saya, mungkin karena kurang tidur. Hehe tahu aja, kalau semalam habis begadang. Dan yang jelas saya kudu lebih rajin olah raga karena udah OB1. Alias obesitas! *lalu ngilang*


Wong Semarang Dukung GERMAS!

Selanjutnya adalah pemaparan dari Kepala Dinkes Kota Semarang, dokter Widoyono, MPH. Beliau menekankan lagi pentingnya mencegah PTM dengan GERMAS. Selain itu Pak Widoyono juga menyampaikan program-program kota Semarang untuk mendukung GERMAS. Salah satunya adalah penetapan Kawasan Tanpa Rokok di kota Semarang. Di mana sajakah kawasan tanpa rokok itu? Ada tujuh tempat yaitu di sarana kesehatan, tempat proses belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah, angkutan umum, tempat umum, dan tempat kerja. Kebijakan ini sudah didukung dengan Perda no.3 2013 tentang kawasan tanpa rokok, dan Peraturan dan SK Walikota. 

Pemkot Semarang pada tanggal 12 Juli 2017 mendapatkan penghargaan tertinggi Paskita Parama dari Kementrian Kesehatan atas komitmennya menegakkan aturan terkait rokok. Sosialisasi Perda ini juga didukung lintas sektor salah satunya Satpol PP. 
Hayo, hati-hati ya, kalau merokok sembarangan nanti tercyduk! 

Sebagai pecinta sepakbola, Walikota Semarang juga sangat mendukung olahraga. Pemkot Semarang aktif mendata dan membina klub-klub olahraga yang ada di kota Semarang. Kebijakan GERMAS lainnya adalah menerbitkan nota dinas untuk memasukkan sayur dan buah dalam menu snack/ makanan yang disajikan pada setiap kegiatan Dinas Kesehatan. Selain itu ada juga kewajiban peregangan minimal 2 kali dalam sehari di sela-sela pekerjaan. 

Pada intinya, Kota Semarang mendukung penuh program GERMAS. Warganya juga harus, ya!

Nah, berikut ini adalah pesan penutup dari para pembicara untuk kita semua: 

1. Dukungan Blogger untuk menstimulasi, mengisnpirasi, atau sosialisasi GERMAS ke semua kalangan khususnya kalangan muda. Ukurannya program GERMAS ini berhasil adalah angka kesakitan yang menurun. (Dokter Widiyono)

2. Dapatkan sumber informasi kesehatan yang tepat dan terpercaya. Di tangan andalah, harapan itu ada. (Dokter Ari)

3. Kemenkes: generasi sekarang sudah berbeda. Blogger menjadi duta anti hoax terutama untuk kesehatan agar masyarakat Indonesia bisa sehat semua secara fisik dan non fisik. Dan tidak dikacaukan dengan hoax sehingga kebijakan pemerintah bisa diterima tidak hanya sampai di hari ini saja. Kementrian berharap sampai ke depannya kerja sama dapat terbangun. (Bapak Indra Rizon)

Siang harinya, ada Bapak Kepada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Dr. Yulianto Prabowo, M.Kes yang menyempatkan diri hadir untuk menyampaikan program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5NG) Selamatkan Ibu dan Anak.

Program 5Ng adalah program untuk mendukung kesehatan Ibu Hamil pada 4 fase yaitu Fase Pra Hamil, Fase Kehamilan, Fase Persalinan dan Fase Nifas.

Setelah itu, menutup sesi pada hari pertama ini ada tambahan ilmu tentang kepenulisan dari mas Anwari Natari dari KOMPAS, yang mengajak para blogger untuk mengasah keterampilan berbahasa dan menulis. Dengan kemampuan berbahasa yang baik, diharapkan pesan yang dituliskan lewat blog bisa sampai ke pembacanya. 

Wah, komplit banget kami para blogger kesehatan dapat materi hari ini. Dan pengaruhnya langsung nyata karena selepas paparan yang menginspirasi, pada makan siang banyak lho yang berupaya beneran memperbanyak sayur dan buah untuk dikonsumsi. Hehe. Terinspirasi dari dokter Ari, kita harus banyak mengonsumsi serat untuk mengimbangi pola makan yang kadang tidak melulu sehat. Pokoknya meski usia terus bertambah, badan kudu dijaga selalu sehat supaya tetap produktif. Umur panjang tidak cukup, karena hidup harus berkualitas. 

Salam GERMAS! Sehat! Bugar! Produktif! Yes yes yes!

Blogger Kesehatan Dukung GERMAS



Sumber info grafis: http://www.depkes.go.id/



Wednesday, August 30, 2017

Nh. Dini: Belajar Darinya

Akibat ada banyak buku yang saya sukai, otomatis saya jadi punya banyak penulis favorit. Tapi waktu ditanya oleh Mbak Irfa Hudaya dan Mbak Dani Purwono tentang siapa penulis favoritmu, saya cuma punya dua kandidat utama. Dan akhirnya saya memilih Nh. Dini karena saya ingin bercerita tentang penulis yang orangnya sungguhan saya kenal, bukan cuma lewat karyanya.
Nh. Dini, di kediamannya
Nh. Dini lahir di Semarang, tepatnya di Sekayu, pada tanggal 29 Februari 1936. Ayahnya bernama Raden Mas Salyowijoyo dan Ibu bernama Raden Ayu Kusaminah.

Nh. Dini menerbitkan karyanya pertama kali pada tahun 1956 yaitu sebuah kumpulan cerita pendek berjudul “Dua Dunia”, diterbitkan oleh NV Nusantara, Bukittinggi. Lima tahun sebelumnya, Nh. Dini sudah menulis sajak dan prosa berirama yang dibacanya sendiri di RRI Semarang. Kala itu tahun 1951 yang berarti usia Nh. Dini sekitar 15 tahun.

Karya cerita kenangan adalah semacam otobiografi Nh. Dini. Yang berbeda dari kebanyakan kisah tentang diri sendiri yang dibukukan, Nh. Dini tidak hanya menampilkan hal-hal baik dari kehidupannya, melainkan semua kisah berusaha ditampilkan secara utuh agar kita dapat mengambil pelajaran di dalamnya.

Buku cerita kenangan Nh. Dini diterbitkan pertama kali pada tahun 1978, berjudul “Sebuah Lorong di Kotaku” oleh Dunia Pustaka Jaya, sebelum akhirnya diambil alih dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Berikut adalah daftar karya Nh. Dini untuk cerita kenangan (saja).

1. Sebuah Lorong di Kotaku: 1978
2. Padang Ilalang di Belakang Rumah: 1979
3. Langit dan Bumi Sahabat Kami: 1979
4. Sekayu: 1981
5. Kuncup Berseri: 1982
6. Kemayoran: 2000
7. Jepun, Negerinya Hiroko: 2000
8. Dari Parangakik ke Kampuchea: 2003
9. Dari Fontenay ke Magallianes: 2005
10. La Grande Bourne: 2007
11. Argentuil, Hidup Memisahkan Diri: 2008
12. Pondok Baca; Kembali ke Semarang: 2011
13. Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang: 2012
14. Dari Ngalian ke Sendowo: 2015

Saya rasa hampir tak ada rahasia yang Nh. Dini simpan tentang kehidupannya. Buku serial cerita kenangan yang pada saat tulisan ini dibuat sudah mencapai 14 buku, bagaikan lembar-lembar hidupnya yang terbagi untuk siapapun yang membaca. Di luar itu, ada puluhan karya lainnya yang berwujud novel, cerpen, cerbung, artikel, dan lainnya tersebar di aneka media.

Waktu akan berjumpa Nh. Dini untuk pertama kalinya, saya sempat resah karena merasa “mengenal” beliau dari cerita-ceritanya di buku serial kenangan. Rasanya seperti akan ketemu dosen pembimbing. Dan lagi ditambah cerita awal perjumpaan kami yang begitu deg-degan dan berkesan. (Bisa dibaca di blog ini tulisannya) Saya berubah jaim, bersopan-sopan, dan mematut-matut diri sungguh-sungguh ketika pertama kali akan ketemu. (Bukan berarti pertemuan berikutnya saya bersikap seenaknya saja, tapi kemudian saya menjadi tidak terlalu tegang lagi.)

Layaknya fans, saya jejingkrakan waktu kemudian mendapat sms dari Nh. Dini. Isi smsnya adalah undangan untuk sowan ke rumahnya. Saya ingat banget waktu itu di-smsm pas lagi acara 17-an di komplek. Waktu akhirnya sowan (bareng Arti Ahmad), juga rada norak-norak bergembira pakai foto-foto seperti di anjungan wisata. (Duh, punten, Eyang) Sekalian disclaimer, saya akan menuliskannya kadang Eyang, kadang Nh. Dini. Hehe.

Saat ini waktu buku cerita kenangan Nh. Dini yang ke-15 sedang ditulis, saya ingin berbagi cerita dari sedikit yang pernah saya alami ketika berjumpa dengan beliau. Dan mengapa saya mengatakan bahwa beliau adalah salah satu penulis favorit saya.

Kaya Pengalaman Batin

Pada usia dua puluh tahun Nh. Dini sudah bekerja di kantor Garuda Indonesia Airways di Kemayoran, di tahun 1960 menikah dengan Yves Coffin, yang beliau kenal karena pekerjaannya juga. Selepas itu langsung mengikuti pekerjaan suaminya ke berbagai negara. Nh. Dini sempat tinggal di Jepang, Kamboja, Perancis, Filipina, Amerika Serikat, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. Hal ini membuat Nh. Dini mengalami berbagai peristiwa, mengenal banyak manusia dari berbagai budaya, yang memperkaya batinnya.

Rajin Mencatat

Eyang selalu berkata kalau beliau memiliki “ingatan istimewa”. Jadi aneka peristiwa yang pernah beliau alami, dapat diputar kembali bagaikan adegan dalam film. Namun selain itu Eyang juga memiliki catatan-catatan yang tersebar rapi di bukunya, dan kini juga di dalam gawainya. Menyerap apa-apa yang dilihat menjadi kenangan rapi yang tinggal dibongkar sewaktu-waktu diperlukan.

Runtut, dan detail, adalah bahasa Nh. Dini dalam menuliskan karyanya. Nh. Dini pernah berujar, “Saya tidak mengarang, karena semua yang saya tuliskan itu adalah berdasarkan ingatan dan pengamatan sehari-hari.”

Murah Hati

Hidup sebagai penulis terkenal, memenangkan aneka penghargaan di dalam dan luar negeri, bukan berarti Nh. Dini hidup berkelimpahan harta. Tapi Eyang adalah sedikit dari penulis yang memang hanya menggantungkan rejekinya lewat jalan menulis. Jika diundang sebagai pembicara, pasti karena kiprahnya juga dalam dunia kepenulisan. Penghasilan Eyang sebagai penulis (saja) tidaklah dapat dibilang memadai untuk menunjang kehidupannya. Apalagi pamor buku di semakin menurun belakangan ini.

Tetapi rejeki memang tidak dapat diduga datangnya. Dan itu sangat Eyang yakini. Pada masa-masa beliau sakit, dan tidak sanggup membiayai pengobatannya sendiri, uluran tangan dari teman-teman Eyang sangat membantu. Kini anak-anaknya, dan bahkan putranya, Pierre, juga telah berhasil dengan “Minion”-nya.

Saya percaya, hal ini karena benih-benih yang telah ditabur, dan Allah yang menjatuhkan tempo kapan akan dituai. Nh. Dini adalah sosok yang murah hati. Perpustakaan yang Nh. Dini bangun berupa Pondok Baca di Sekayu, di Sendowo, sebagian besarnya dibangun atas biaya sendiri. Seringkali juga saya mendapati beliau selalu berbagi (bukan hanya menyisihkan) setiap rupiah yang beliau dapat untuk orang lain.

Selalu Mau Belajar

Berkat itu pula saya rasa, Eyang tidak mudah menjadi pikun. Pikirannya tajam karena terus terasah. Ini saya alami sendiri ketika ‘memandu’ Eyang dengan gawai barunya. Di usia 81 tahun, Nh. Dini nyaris tak kesulitan mengoperasikan gawai android. Ini rekor, karena saya di waktu yang bersamaan mengajari orang lain yang 30 tahun lebih muda usianya, tapi rasanya kok sulit.

Eyang hingga kini masih mengetik dan mengirim sendiri semua email-emailnya. Meski karena keterbatasan fisik, Eyang hanya diperkenankan dokter untuk berada di depan komputer beberapa jam per-harinya.

Mencintai Alam
Di sebelah kiri adalah kamar Nh. Dini, dan di pojok itu adalah taman asri karya beliau
Di samping kamar eyang, ada sepetak lahan yang selalu hijau dengan aneka tanaman. Nh. Dini yang kini tinggal di wisma lansia, menempati kamar di pojok wisma yang bersebelahan dengan sepetak tanah. Sebelum Eyang tinggal di sana, lahan itu kosong begitu saja. Tapi kini menjadi begitu rimbun dan asri. Kalau membaca buku serial cerita kenangan “Dari Parangakik ke Kampuchea”, di Pnom-Penh, Eyang mau repot menanam aneka tumbuhan buah-buahan dan bunga-bungaan di halaman “rumah dinas”nya, hingga hasilnya bisa dinikmati banyak orang. Selama tinggal di Perancis, Nh. Dini juga aktif dalam kegiatan lingkungan hidup. Sempat menyelamatkan burung belibis yang terkena polusi minyak dari musibah tenggelamnya kapal tangker.

Menyayangi Keluarga

Jika ada yang pernah menuliskan bahwa hubungan Nh. Dini dengan anak-anaknya kurang baik sehingga harus tinggal sendiri, itu tidaklah benar. Eyang tinggal di Indonesia atas keinginan beliau sendiri. Komunikasi Nh. Dini dengan kedua anaknya, Marie-Claire Lintang dan Pierre Louis Padang, juga dengan cucu-cucu tercinta sangatlah dekat. Beberapa kali saya mendapati Eyang mengirimkan aneka oleh-oleh makanan khas Indonesia, seperti abon dan terasi, ke Perancis untuk Padang. Hubungan Eyang dengan kakak-kakak perempuannya yang masih tinggal di Sekayu juga sangat dekat. Hampir setiap minggu Eyang mampir ke Sekayu, atau setidaknya mengirimkan “oleh-oleh” sebagai wujud perhatian kepada keluarga.



Masih banyak sesungguhnya yang ingin saya tuliskan tentang Nh. Dini. Barangkali nanti di episode lain dalam blog ini aja.

Penulis yang baik, yang telah berhasil mewujudkan karya-karya luar biasa memang banyak. Tapi karena saya kurang gaul, tak banyak yang cukup betulan saya kenal. Sungguh beruntung saya dapat berbincang dan belajar banyak dari beliau. Tidak hanya urusan menulis, tetapi juga masalah kehidupan sehari-hari.

Karya Nh Dini: "Pangeran Dari Seberang" biografi penyair Amir Hamzah yang diterbitkan kembali
Sampai-sampai saya pernah dengan mellownya menuliskan, bahwa berbincang dengan Nh. Dini, bikin saya merasa ngobrol dengan Eyang putri sendiri. Saya kan tidak pernah merasakan bisa ngobrol banyak dengan “eyang beneran”. Karena itu bolehlah saya bilang saya beruntung, karena bisa mengenal salah satu penulis yang menjadi idola saya.