Tuesday, October 9, 2018

Cara Mengurus Pindah KPP dan E-Faktur Pajak

 
Karena kantor pindah, dan kecamatan beda, maka untuk legalitas perusahaan dan juga pengurusan segala macam surat, harus mengurus juga pindah alamat ke Kantor Pelayanan Pajak. Repot nggak sih? Ya lumayan, karena sudah belasan tahun di KPP lama, rasanya agak “malas” aja pindah-pindah. Tapi kan ya harus tetap diurus juga. 

Mengurus Pindah KPP
Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencabut berkas dari KPP lama. Caranya? Saya membuat surat pindah dan membawanya ke KPP lama. Surat pindahnya ini saya minta filenya dari KPP lama. Soalnya surat yang saya download di internet ternyata bukan yang dimaksud. Jadi biar cepat urusannya minta surat dari KPP aja. Siapa tahu ada format surat yang terbaru. Sebelum ngurus pindahan ini sebisanya kewajiban dan laporan pajak sudah dilakukan ya. Misalnya laporan PPN masa dan PPh.

Setelah itu menunggu. Normalnya waktu tunggu ini tidak lebih dari 10 hari kerja. Ada yang bilang kurang dari 7 hari kerja malah. Tapi waktu saya mengurus pas banget sedang ada mutasi para AR (Account Representative) dan termasuk juga AR PT saya, jadinya waktu tunggu lebih dari normalnya. Tapi alhamdulillah, kira-kira tidak sampai tiga minggu, saya ditelpon dari KPP lama kalau berkas PT saya sudah selesai diurus, dan saya tinggal mengambil dokumen dari KPP lama untuk dibawa ke KPP baru.

Selepas dibawa ke KPP baru, saya mendapatkan kartu NPWP baru, dengan alamat baru, tapi nomornya tetap sama. Untuk dokumen lain-lain seperti PKPnya akan dikirim via pos ke alamat kantor yang baru.

Tips sebelum mengurus pindah KPP ini kalau dari saya sih, sebisanya nggak ada invoice yang harus segera terbit fakturnya. Soalnya kira-kira selama waktu tunggu pengurusan pindah KPP, kita tidak bisa menerbitkan faktur.

Mengurus E-Faktur


Waktu mengambil berkas di KPP baru, saya juga langsung mengajukan surat untuk minta nomor faktur baru. Dengan pemikiran semua berkas sudah dicabut di KPP lama, saya bisa langsung bikin faktur. Ternyata tidak sesederhana itu. Saya juga harus mencabut berkas e faktur di KPP lama dulu. Weleh-weleh, kenapa juga nggak dari awal waktu mau cabut berkas pindahan diberi tahu soal ini.

Jadilah saya balik lagi ke KPP lama. Mengurus pencabutan di sana langsung dibantu HelpDesk. Tapi di helpdesk, password e nofa saya sudah tidak bisa mengakses akun PT saya. Mungkin karena semua berkas sudah dicabut di KPP lama, jadi mereka tidak bisa akses atau gimana nggak gitu ngerti juga. Setelah para petugas KPP lama dan baru saling menelepon, akhirnya berkas e-faktur untuk sertifikat elektronik dkk selesai dicabut dari KPP lama.

Kemudian untuk mengurus sertifikat elektronik, sama seperti pertama kali dulu, alias si penandatangan faktur harus datang sendiri ke KPP baru dan membawa berkas-berkas pribadi kelengkapannya macam KTP, KK, semua dilengkapi fotokopian, dan softcopy foto (dalam flashdisk). Untuk berkas-berkas kantor ada fotokopi laporan pajak tahun terakhir, surat-surat permohonan (3 lembar), dan saya tambah sekalian permintaan nomor faktur baru. Biar aman bawa juga cap perusahaan.

Di KPP baru, prosesnya kira-kira 15 menit. Dibantu petugas, saya akhirnya punya password e-nofa baru, passphrase baru dan sertifikat elektronik baru.

Saya tanya, “Ini sudah bisa langsung dipakai untuk bikin faktur di aplikasi?”

Petugas menjawab, “Sudah, tinggal install saja sertifikatnya.”

Oke, pulanglah saya tanpa mampir dulu ke helpdesk. Karena kalau cuma install sertifikat elektronik kan gampang.

Tapi ternyata lagi, saya belum juga bisa bikin faktur. Kenapa? Karena setelah login ke aplikasi e-faktur, alamat kantor saya masih yang lama. Saya coba edit sendiri tentu saja nggak bisa. Saya coba syncronized dengan KPP tidak bisa, alias eror. Saya browsing-browsing caranya di internet, tidak ada yang berhasil. Mau install ulang nggak berani, takut datanya hilang meski saya sudah buat kopian database e faktur di flashdisk. Saya cek di e nofa online, ternyata registrasi e faktur di dekstop saya tertulis belum teregistrasi.

Akhirnya telepon ke KPP baru, dan jawabannya, dibawa ke sini aja. Padahal itu aplikasi di PC bukannya di laptop. Katanya lagi, coba kopikan saja semua folder e faktur yang di dalam PC itu ke flashdisk. Nanti bisa dibantu di sini pake flashdisk saja, begitu katanya.

Tapi saya agak ragu bisa dibantu cuma pake flashdisk itu. Kalau gagal gimana? Jarak dari KPP sekitar 15 km, kalau harus bolak-balik lagi kok nggak praktis banget. Faktur juga sudah menunggu untuk segera diterbitkan.

Jadi saya install e faktur (64 bit) ke dalam laptop. Proses instalasi cepat dan gampang. Dari aplikasi 32 bit di PC, saya copy folder db dan sertifikat elektronik secara manual ke folder instalasi e faktur ke laptop. Data-data dari aplikasi faktur lama bisa terbaca meski beda sistem dari 32 ke 64, tapi tetap saja alamat kantornya belum berubah.

Yasud, mari berangkat lagi ke KPP.

Dan di KPP langkah yang dilakukan petugas adalah:

1. Install lagi aplikasi e faktur dengan db yang masih kosong. (Aplikasi lama juga masih ada, nggak diapa-apain)

2. Download sertifikat elektronik baru dari e nofa (internet). Meski kemarin sudah didownloadin dan saya simpan di flashdisk juga.

3. Eksport semua data dari aplikasi e faktur yang lama (bisa buka dua aplikasi secara bersamaan di laptop, pastikan aja nama foldernya beda biar nggak tertukar) simpan dengan nama yang cocok, misal fp keluaran, fp masukan, data lawan transaksi, dll. Bentuk filenya csv.

4. Login di aplikasi e faktur baru seperti dulu, masukin data-data seperti dulu. Sertifikat elektronik juga diminta waktu ini. Ikutin aja langkahnya. Di sini tadi passphrase, password e nofa, dan kode aktivasi diperlukan.

5. Taraa! Data alamat di aplikasi e-faktur yang baru sudah terupdate. (Alias alamatnya sudah yang baru)

6. Impor data-data tadi seperti faktur pajak keluaran, masukan, dll. Sebetulnya kalau nggak dibutuhkan ya nggak usah diimpor. Tapi kan pasti perlu data setidaknya di tahun berjalan. Di aplikasi saya setelah impor ini beberapa faktur pajak keluaran saya statusnya terlihat “belum approved” padahal tu faktur umurnya sudah setahun dan pastinya dulu sudah approved. Kata petugas dibiarin aja nggak apa. Atau kalau mau ya di upload ulang. Saya memilih membiarkan saja.

7. Demi keamanan dan ribet kalau harus balik lagi, saya nyoba langsung di depan petugas untuk buat faktur pajak keluaran, dan syukurlah bisa.

Untungnya tadi bela-belain bawa laptop plus database aplikasi  e-faktur yang lama. Kalau cuma bekel flashdisk dipastikan mesti balik lagi. Jogging dulu, aah. Jadi, demikianlah drama pindah KPP yang saya alami. Hehe. Semoga bisa membantu, meski ini tulisan agak nggak nyambung sama tulisan saya lainnya di blog ini. Habis geregetan sendiri waktu nyari-nyari informasi soal ini di internet.

Tips mengurus aplikasi e faktur ke KPP:

1. Pastikan kalau mau ke KPP harus bawa laptop dan koneksi internet, entah tethering dari Hp atau modem. Tidak semua KPP ada wifinya. Mungkin malah nggak ada wifi di KPP manapun hehe. Usul buat KPP karena koneksi internet hukumnya wajib untuk urusan ini, KPP menyediakan wifi. Nggak semua koneksi internet via hp itu cepat, atau bisa saja yang datang nggak punya hape dengan koneksi internet.

2. Bawa flashdisk.

3. Bawa catatan password e nofa dan passphrase (yang kita bikin sendiri itu), juga kode aktivasi (yang jumlahnya 16 huruf/angka).

4. Sabar antri, karena rata-rata di satu KPP cuma punya 1 petugas helpdesk. Padahal kalau urusan aplikasi e faktur bisa lebih dari 30 menit per-orang. Belum lagi kalau gaptek ya.

Semoga yang punya permasalahan sama, bisa terbantu yah. Oiya, saya bukan orang akuntansi, apalagi pegawai pajak. Saya cuma orang yang belajar ngurus-ngurus pajak sendiri hehe.



Gambar modifikasi dari: freepik

<a href="https://www.freepik.com/free-vector/moving-background-design_1087343.htm">Designed by Vectorarte</a>



Friday, September 7, 2018

ASUS VivoBook Flip TP 410 Laptopku


Setiap hari aktivitas rasanya bukannya kurang tapi makin nambah. Untungnya perkembangan teknologi semakin pesat dan sangat meringankan aneka tugas kita. ASUS sebagai produsen produk komputer ternama juga tak henti-hentinya mengembangkan teknologi yang semakin canggih untuk kemudahan masyarakat. Lihat aja produk-produk laptop ASUS yang semakin hari semakin keren. Bukti nyata dari inovasi yang berkelanjutan tidak hanya pengembangan hardware dan software yang mendukung kinerja, tapi juga tampilan yang semakin trendy.

Performa yang semakin apik dan canggih ini apalagi kalau bukan untuk memenuhi aneka kebutuhan penggunanya dari pelajar, pekerja kantoran, mahasiswa, gamers, entrepreneur, pedagang, para profesional, dan masih banyak lagi. Di tahun 2018 ini ASUS juga meluncurkan produk-produk baru, salah satu diantaranya yaitu ASUS VivoBook Flip TP 410 yang tampilannya canggih, dan rasanya pas banget buat saya.

#ASUSLaptopku

Saya sudah lama berkenalan dengan ASUS. Tepatnya sejak zaman saya baru lulus kuliah arsitektur, lalu kerja sambil kuliah S-2. (Yang artinya sekian tahun yang lalu hihi). Waktu itu ASUSnya minjem punya teman sekantor. Warnanya hitam, tapi saya nggak hafal serinya. Zaman itu soalnya belum mampu beli laptop sendiri. Padahal seandainya punya laptop ASUS seperti teman saya itu pasti tugas-tugas kuliah bisa saya selesaikan di kos-kosan. Tidak harus mengetik di Personal Computer (PC) yang ada di kantor di sela waktu kerja.

Setelah akhirnya punya usaha sendiri di bidang arsitektur dan event organizer, saya akhirnya bisa beli laptop. Pilihan saya jatuh pada seri Notebook ASUS EeePCSeries. Laptop putih nan cantik itu akhirnya jadi teman saya kemana-mana. Punya Laptop ASUS membantu banget karena kegiatan saya seringkali harus meninggalkan kantor. Ketika ada pekerjaan di luar kota, rasanya aman dan nyaman bawa laptop ASUS karena kalau tiba-tiba ada dokumen yang harus dibuat, atau harus presentasi, ada perangkat canggih yang menemani. Setelah enam tahun berlalu, laptop ASUS saya itu masih setia di dalam tas kerja saya, dan sekarang mulai sering dipakai anak-anak untuk mengerjakan tugas sekolah.

Anak sekolah zaman now memang sudah harus berkenalan dengan teknologi dan internet. Untungnya ada laptop ASUS. Ehm, tapi… kok ya rasanya mulai harus “rebutan” sama anak sendiri ya, buat makai laptop ASUSnya. Melihat anak saya makin gede, sudah mulai bisa bertanggungjawab dengan barang-barang, laptop ASUS putih itu rasa-rasanya bisa saya “wariskan” kepadanya.

Jadi di tahun 2018 ini, sudah saatnya #GantiLaptopASUS buat saya pakai sendiri. Biar bisa kerja bareng sama anak, dan nggak rebutan lagi. Hihi. Tentu pilihan saya tetap ASUS karena sudah lebih dari enam tahun menemani dan terbukti tangguh. Melihat produk baru ASUS yaitu ASUS VivoBook Flip TP410 ini saya langsung jatuh hati. Cinta pada pandangan pertama. Soalnya penampilannya nggemesin banget sih. Rasanya pas untuk saya bawa kerja kemana-mana. Apalagi lihat fitur-fiturnya yang ini:




Bobotnya ringan, hanya 1,6kg. Bobot yang ringan ini penting banget mengingat tas kerja saya itu biasanya sudah penuh berisi aneka barang mulai dari dompet, dokumen, buku, alat tulis, ponsel, sampai makeup kit. Hihi. Ya namanya mamak-mamak kerja, sekali waktu harus touch up biar nggak belel. Ukuran ASUS VivoBook Flip TP410 yang setipis 1,92 cm ini pasti bisa “nyelip” dengan aman di tas kerja saya.

Biarpun ringan dan tipis, layar laptop ASUS VivoBook Flip TP410 ini ukurannya 14 inci. Cocok buat saya yang mesti kerja dengan aplikasi desain dan grafis. NanoEdge Display menjadikan tampilan ultra tipisnya yang berfitur “Nanoedge” mampu memaksimalkan ukuran layar, dengan ukuran “body” minimal. Singset gitu ya si laptop ASUS VivoBook Flip TP410.

Fitur utama yang bikin saya langsung jatuh hati adalah kemampuan ASUS VivoBook Flip TP410 untuk diubah-ubah menjadi empat mode. Bisa ditekuk-tekuk, euy! Seringkali saya harus ketemu klien atau kolega bukan di kantor yang resmi dengan meja rapat panjang dan gede, melainkan  di rumah makan, di café, bahkan di dalam mobil! Ribet kan kalau harus presentasi di dalam mobil yang bergerak, trus “menjereng-jereng” laptop yang gede. Belum lagi takut patah, duh. Nah, kalau ASUS VivoBook Flip TP410 punya empat mode yaitu powerful laptop, media stand, responsive tablet, dan share viewer. Wih kerennya. Artinya ASUS VivoBook Flip TP410 sangat mendukung untuk dibawa bekerja ke segala medan.


 Kalau pernah lihat film angkasa luar yang bisa masuk ke dalam ruangan dengan menempelkan jempolnya ke alat sensor, yang sekarang diadopsi di pintu-pintu kantor juga, laptop ASUS VivoBook Flip TP410 juga dilengkapi dengan Fingerprint Sensor. ASUS VivoBook Flip TP410 sudah mendukung fitur Windows Hello yang biasanya ada di laptop-laptop kelas atas. Padahal harga ASUS VivoBook Flip TP410 ini sangat terjangkau mulai dari 7 jutaan. Nah kembali ke Windows Hello, dengan fitur ini kita dapat sign in ke Windows 10 yang sudah preinstall di ASUS VivoBook Flip TP410 hanya dengan sentuhan jari. Fitur ini sangat berguna karena biasanya di dalam laptop itu tersimpan data-data penting kita mulai dari data-data kantor, sampai foto-foto pribadi. Kalau memakai ASUS VivoBook Flip Tp410, tidak usah khawatir orang lain bisa seenaknya membuka data-data kita.

Dengan fitur-fitur canggih dan tampilan kece itu, ASUS VivoBook Flip TP410 didukung prosesor Corei7-7500U yang adalah prosesor dual-core tercepat untuk generasi ke-7 Intel Core series. RAMnya 16GB, jadi untuk membuka banyak aplikasi (terutama kalau saya buat aplikasi desain), kinerjanya akan tetap cepat. Whuss! Storagenya juga gede dengan HDD (hard disk drive) sampai 1 terabyte (wah bisa simpen banyak koleksi lagu buat penunjang mood kerja) dan SDD (solid state drive) berkapasitas 256 GB. Semua dokumen kerja, dokumen pribadi, aman di laptop ASUS VivoBook Flip TP410. Dengan garansi dua tahun dari ASUS, rasanya mantap banget deh kalau kerja pakai Laptop ASUS VivoBook Flip TP410. Jadi semangat nih, #2018GantiLaptopASUS. Berdoa kenceng, semoga ada rezekinya.




Asus Laptopku Blogging Competition by uniekkaswarganti.com 

https://www.uniekkaswarganti.com/2018/08/asus-laptopku-blogging-competition.html


Saturday, May 5, 2018

KEB Intimate Talk About Photography with Pesonna Hotel Semarang


Menurut Lembaga riset digital marketing Emarketer pada 2018 diperkirakan jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika. Nah, kalau menurut riset pandangan mata saya, lebih dari 50% pengguna smartphone memotret dulu makanan, sebelum dimakan. Ini berdasarkan pengamatan di resto, warung, dan tempat kulineran, hehe. Otomatis, kegiatan memotret makanan menggunakan smartphone telah menjadi kegiatan jamak bagi masyarakat Indonesia.

KEB Intimate yang Seru

Food Photography, sebagai salah satu bagian dari kegiatan memotret, memang menjamur di masyarakat Indonesia. Dari yang sekedar memotret karena hobi, sampai menjadikannya profesi. Kalau melihat aneka foto makanan lalu kita tergiur dibuatnya, berarti si pemotret telah berhasil dalam food photography, begitu kata mas Hinu Indra Wardhana.

Dan rasa-rasanya semua kalangan sekarang ini makin jago motret makanan. Pantesan kalau saya lihat sosmed, terutama di Instagram tuh, rasanya makin mentah niat dan usaha saya buat diet. Banyak foto makanan berseliweran yang bikin ngiler. Rasanya ingin juga bisa menghasilkan foto-foto makanan yang bikin orang yang melihatnya gagal diet. Hihi.

Ika Puspita dan Ira Sulistyana
Pesona food photography yang tak kunjung padam ini disambut oleh Kelompok Emak Blogger (KEB) sehingga dalam acara KEB Intimate yang pada hari Sabtu, 5 Mei 2018 menyambangi kota Semarang, punya tema utama, yaitu: KEB Intimate: Talk About Food Photography. Senangnyaa Semarang didatangi Mak Sumarti Saelan, Mak Sary Melati, dan Mak Indjoel. Difasilitasi member KEB dari Semarang yaitu Mbak Ika Puspita sebagai koordinator acara dan Ira Sulistyana sebagai MC.

Mak Sumarti Saelan dari KEB

KEB, sebagai salah satu pioner komunitas blogger bagi perempuan, menggandeng juga komunitas lain di Semarang seperti Blogger Gandjel Rel, Kompakers Semarang, dan IIP Semarang untuk ikutan acara seru ini. Narasumbernya tak lain dan tak bukan: mas Hinu, seorang Food Photographer dari Semarang, yang namanya sudah saya sebut di atas tadi. Acara hari ini spesial karena ngomongin  perihal motret makanan khusus untuk pengguna smartphone. Hore! Maklum senjata saya ya (baru) itu.

Mas Hinu, Food Photographer

Menurut mas Hinu, hasil karya foto pengguna smartphone tidak kalah dari kamera profesional lain seperti DSLR, asal tahu ilmu dan caranya. Salah satu syarat utamanya: "pacari smartphonemu". Maksudnya semakin kita mengenal "senjata" kita maka akan semakin baik hasil yang kita dapatkan.

Pesonna Food Photography

Udara Semarang yang mulai panas karena barusan ditinggalkan musim penghujan, jadi tidak terasa karena Skylounge di Lantai 9 Pesonna Hotel Semarang yang lapang dan adem menjadi tempat acara KEB Intimate. Baru kali ini saya menginjakkan kaki di hotel milik PT Pegadaian (persero) di jalan Depok No. 33 Kembangsari Semarang. Tapi Pesonna Hotel memang mudah dicari karena lokasinya strategis, dekat dengan Simpang Lima, Lawang Sewu, Tugu Muda, dan Kota Lama serta Pecinan Semarang.

Paket Buko Poso Pesonna Hotel

Untuk keperluan acara, Pesonna Hotel menyediakan menu istimewa yaitu menu yang nantinya akan menjadi hidangan Ramadan “Buko Poso ing Awang-awang”, yaitu paket All You Can Eat berupa pilihan menu ala angkringan sebagai obyek food photography.

Praktek Smartphone Food Photography

Yang paling seru dari acara food photography tentunya acara prakteknya. Makanan lezat ala angkringan mulai dari aneka gorengan seperti bakwan dan mendoan, sate telur puyuh, sate kerang, ceker ayam, kacang dan ubi godog, plus aneka nasi bungkus dan tentu saja kolak, penuh dikerubuti peserta.

Saya praktek memotret sembari mencoba mengingat-ingat tips dari mas Hinu sebelumnya untuk memotret makanan, antara lain:

1. Bersihkan Background: siapkan tisu atau lap untuk bersih-bersih.
2. Percantik obyek makanan: siapkan senjata berupa bumbu-bumbu tambahan, bubuk kopi, dan lain-lain untuk melengkapi obyek. Mas Hinu bahkan punya orang-orangan kecil yang bisa menjadikan obyek foto tambah lucuk!
3. Pencahayaan: cahaya alami always the best. 
4. Komposisi: sebagian besar fokus mata manusia banyak melihat ke arah kanan bawah. Jadi obyek foto bisa diletakkan di bidang kanan bawah dari foto. Tetapi komposisi yang bagus tidak harus melulu menuruti teori itu. Untuk itu perlu banyak latihan.
5. Sudut pandang: Latihan!

Lah, intinya semua perlu banyak berlatih, ya Mas.

Foto Makanan Angkringan paket Buko Poso ing Awang-awang Pesonna Hotel

Beberapa tips untuk fotografi dengan smartphone juga langsung dipraktekkan. Seperti menghindari penggunaan flash, dan zoom. Untuk pengaturan Aparture, di smartphone saya nggak bisa, tuh. Jadi apa adanya saja memanfaatkan cahaya yang ada. Syukurlah, rupanya nyantol dan salah satu foto saya jadi jalan dapat rezeki voucher “Buko Poso ing Awang-awang” untuk dua orang di bulan Ramadan menjelang. Wah jadi ada kesempatan lagi untuk datang ke Pesonna Hotel Semarang. Terima kasih, Pesonna Hotel, yang hari ini digawangi Mbak Inka, Public Relation Pesonna Hotel, yang sudah mendukung kegiatan KEB Intimate hari ini.

Pesonna Hotel, Hotel Berkonsep Halal di Kota Semarang 
 
Pelayanan Ramah dan Islami di Reception Pesonna Hotel

Pesonna Hotel yang merupakan kependekan dari “Pegadaian Selalu Optimalkan Nilai-Nilai Aset” ini, mengedepankan konsep halal dengan mewujudkan hotel yang bersih, aman, nyaman, dengan makanan dan fasilitas-fasilitas halal. Esensi dari halal adalah menyajikan segala sesuatu yang baik bagi manusia dan lingkungan, semua kalangan dapat memanfaatkan segala fasilitas di hotel, tidak terbatas pada kaum muslim.

Sebelum acara foto-foto makanan, peserta KEB Intimate diajak sama Mbak Inka untuk hotel tour. Pesonna Hotel memiliki 152 kamar, selain itu ada fasilitas meeting room, dan ballroom dengan kapasitas 625 orang, restoran yang lengkap pilihan menunya, kolam renang, musola, dan juga sky meeting room di lantai 9 yang kami pakai untuk tempat acara KEB Intimate.

Kamar Nyamannya Pesonna Hotel
Waktu masuk ke kamar, desainnya cozy, dengan space yang lega untuk menggelar sajadah. Fasilitas di dalam kamar lengkap selain AC, LED TV, Hot & Cold Shower, ada juga Coffe & Tea Maker, Minibar, dan Save Deposit Box. Fasilitas spesial dari Pesonna Hotel adalah peralatan ibadah yaitu sajadah, mukena, dan Al Quran.

Lifestyle and Halal Concept Pesonna Hotel Semarang

Sebagai salah satu dari sembilan properti PT Pesonna Indonesia Jaya, anak perusahaan PT Pegadaian, Pesonna Hotel Semarang bisa jadi salah satu pilihan pelancong dan pebisnis, untuk memenuhi kebutuhan akomodasi di Kota Semarang. Jaraknya hanya 15 menit dari Bandara Ahmad Yani, 7 menit dari Stasiun Kereta Api, dan 17 menit dari Pelabuhan Tanjung Mas. Rasanya meski saya tinggal di Semarang, bisa juga memilih Pesonna Hotel Semarang untuk staycation bareng keluarga. Soalnya ada kolam renangnya (buat anak-anak), dan dekat aneka pusat kuliner di seputar jalan Depok dan Gajahmada. Biar bisa lanjut praktek Food Photographynya. Hihi.


Pesonna Hotel Semarang
Jl. Depok No. 33 Kembangsari, Semarang
Informasi dan Reservasi: 024 – 865 70840 ext 4010/11
Instagram:@ pesonnahotelsemarang Twitter: @Pesonna HotelSMG


Harga All You Can Eat "Buko Poso ing Awang-awang" : 49K (net)/pax

Berbagi Bolu Merapi

Bolu Susu Merapi, Berbagi Dengan Hati

 Bolu Merapi itu apa sih?

Ceritanya begini. Ada anak muda Yogya yang gemes sendiri karena begitu maraknya dunia “perkuean” di kotanya yang seolah didominasi oleh artis dan juga oleh bukan penduduk asli Yogya. Namanya Anggia Pino. Womenpreneur ini ingin di Yogya ada produk kue lezat yang dibuat oleh orang asli Yogya, dan bisa jadi kebanggan kota Yogya. Di tangan kreatifnya lahirlah: Bolu Susu Merapi. Bolu Susu Merapi ini adalah sebuah produk kue yang terbuat dari bahan-bahan berkualitas, utamanya susu.

Anggia Pino dan Bolu Susu Merapinya
Kok susu? Ini juga terinspirasi dari pengalaman Anggi (begitu panggilannya) yang sulit minum susu. Dengan slogan Bolu Susu Merapi, Gantinya Minum Susu, harapannya orang yang sulit minum susu bisa mendapatkan cita rasa dan juga gizi yang terkandung dalam susu dari kue buatannya. Untuk itu Anggi menggandeng sahabatnya: Andi, yang sudah berpengalaman di produk-produk susu dari brand-brand besar di Indonesia.

Lalu mengapa Merapi? Gunung api aktif yang terletak di dua provinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini sudah dikenal menjadi icon yang mendunia. Ditambah lagi, di kawasan lereng Merapi terdapat peternak sapi yang sudah terkenal menghasilkan produk susu yang berkualitas. Jadilah Bolu Susu Merapi, kue produk asli orang Yogya.

Berbagi Dengan Hati

Menurut Anggi, diproduksinya Bolu Susu Merapi ini tidak bermaksud untuk menggeser oleh-oleh khas Yogya lainnya yang sudah dikenal seperti bakpia. Anggi membuat Tagline “Berbagi Dengan Hati” untuk Bolu Susu Merapi bukannya tanpa alasan. Bolu Susu Merapi adalah perwujudan mimpinya untuk membuat suatu produk yang sehat, lezat, dan –ini penting- terjangkau bagi masyarakat. Terbukti dari harga kue ini hanya Rp.28.000 per-box. Dengan harga terjangkau, harapannya masyarakat bisa mendapatkan produk kue yang enak dan bergizi dimana dalam satu box Bolu Susu Merapi terkandung 100 gram susu sapi murni. Saat ini ada dua macam varian rasa yang tersedia yaitu Bolu Susu Keju dan Bolu Susu Coklat.

Topping Keju menambah kelezatan Bolu Susu Merapi
Tapi kalau menurut saya Bolu Susu Merapi ini bisa jadi pilihan tambahan oleh-oleh ketika pulang dari Yogya. Biasa kan, sebagai kawasan tujuan wisata, setiap orang yang pulang dari Yogya juga ditunggu oleh-olehnya. Wah kalau yang dioleh-olehin satu pasukan lumayan juga tuh, bugetnya. Nah, kapan lagi dengan uang 100 ribu rupiah (masih dapat kembalian, lagi) bisa dapat tiga box bolu asli Yogya, dengan kemasan apik, rasa yang enak, yang bisa bikin teman kantor, saudara, sampai tetangga bahagia. Dengan harga yang tidak menguras kantong, kita bisa makin banyak berbagi kepada orang lain. Cocok deh, dengan taglinenya Berbagi Dengan Hati. Berbagi Bolu Merapi kita bisa pakai hati, alias ikhlas! Hehe.

Grand Launching Bolu Merapi
 

Gathering dan Pers Conference Bolu Susu Merapi
Dalam acara Media Gathering dan Pers Conference Bolu Susu Merapi di Yogya tanggal 3 Mei kemarin, saya sempat mencicipi dua varian rasa Bolu Susu Merapi. Bolu Susu Keju menurut saya terasa banget rasa susunya. Dengan topping keju, rasanya jadi manis gurih. Tapi Bolu Susu Coklat yang jadi favorit saya (dan anak saya yang langsung ngabisin lebih dari setengah kotak). Keduanya bercitarasa lembut dan lumer di lidah, tapi tidak lengket di mulut. Rasanya light, dan cukup bikin kenyang.

Nah, buat yang ingin yobain sendiri Bolu Merapi yang rasanya lembut ini, bisa datang langsung ke acara Grand Launching Bolu Merapi di Atrium Lippo Plaza Yogyakarta tanggal 6 Mei 2018. Acaranya dimulai dari jam 10 pagi sampai jam sembilan malam. Asyiknya untuk pembelian Bolu Merapi di waktu Grand Launching, ada promo Buy 1 Get 1 Free alias dengan Rp. 28.000 bisa dapat dua box Bolu Susu Merapi! Belum lagi voucher dan kesempatan memenangkan hadiah undian aneka peralatan elektronik sampai motor!

Jadi jangan sampai kehabisan!

Bolu Susu Merapi juga membuka kesempatan bagi mitra-mitra yang ingin bergabung dan berkolaborasi, untuk memasyarakatkan bolu lezat bergizi ini. Untuk mitra akan mendapatkan aneka keuntungan seperti diskon, prioritas, dan lain-lain. Untuk yang tertarik bergabung bisa langsung menghubungi Customer Service di: 0811-27-444-99

Bolu Susu Merapi

Facebook FP: Bolu Merapi
Instagram: @BoluMerapi
Email: bolumerapi@gmail.com
CS: 0811-27-444-99

Sunday, March 25, 2018

Backpackeran ke Bali dengan 100 Ribu

Ada disclaimer dalam tulisan ini. Hehe.

Kemana kamu akan pergi kalau kamu mendapatkan kesempatan untuk pergi kemana saja di Indonesia? Mungkin itu pertanyaan yang bisa mewakili tema Arisan Blogger tentang Destinasi Impian di Indonesia dari Mara dan Erina, duo gadis yang ngehits di sosmed dan dunia perbloggeran kota Semarang.

Kalau pertanyaan itu ditanyakan ke saya, jawabannya: saya pengen pergi ke Bali. Yaah pembaca kecewa.. hihihi. Kok bukan ke Raja Ampat, Labuan Bajo atau Aceh gitu?
Destinasi Impianku: Bali
Kenapa Bali?

Di benak saya, ada beberapa tempat yang membangkitkan nostalgia. Kalau yang dekat, tuh: Yogya, tanah kelahiran saya. Tempat lainnya adalah Bukittinggi, tempat saya KKL bareng teman-teman kuliah. Tempat-tempat dengan kenangan istimewa seperti itu selalu bikin excited, karena ada nuansa dan suasana yang bikin kangen. Gitu. Jadi meskipun saya juga belum pernah ke tempat-tempat indah lainnya, karena kangen, saya tetep pengen ke Bali.

Pengalaman ke Bali waktu masih balita cuma bisa diingat lewat media foto-foto. Zaman itu sih perginya bareng keluarga besar. Selepas itu ke Bali waktu zaman SD, road trip sama ortu dari Solo. Masih terbayang suasana jalan sunyi menuju suatu kawasan Pura yang baru saya tahu sekarang itu Pura Gunung Kawi. Di ingatan saya juga masih lekat gambaran sebuah lukisan di salah satu museum yang kami datangi tentang neraka. Hiii. Saya nggak ngalamin ke Bali bareng teman-teman sekolah, karena waktu itu izin dari sekolahan buat Study Tour cuma mentok sampai ke Bandung.

Tapi selain itu semua, kenangan tentang Bali selanjutnya ini yang paling bikin saya kangen Bali: Perjalanan ke Bali 20 tahun yang lalu.

Road To Bali

Pada suatu masa, kala belum musim ada traveller dan nggak ada sosmed, saya sama tiga teman sekolah pernah backpackeran ke Bali dari Solo. Bermodal uang sekitar 100 ribuan rupiah di saku masing-masing, kami bisa sampai ke Bali dan menginap di sana dua malam. Saya cerita ini sekaligus sebagai catatan buat saya (dan tiga teman saya lainnya) barangkali kalau mau napak tilas.

Pantai Watu Ulo Jember dan fashion anak muda pada masanya. Sarung!
Kami berangkat dari Solo ke Jember naik mobil bapaknya salah satu teman saya yang memang sedang ada proyek di sana. Keesokan pagi sebelum jam enam pagi, tibalah kami di Jember. Hari pertama, kami diantar ke pantai Watu Ulo. Kenapa disebut pantai Watu Ulo, karena ada batu memanjang seperti ular yang menjorok ke laut. Setelah itu kami pindah ke sisi pantai yang lain, yang lebih banyak perahu-perahu dan bisa lihat pemandangan lebih bagus.

Malamnya, kami berembuk, kasak-kusuk tentang rencana perjalanan ke Bali yang sudah kami pikirkan sejak di Solo. Setelah memantapkan niat, waktu malam hari kami jalan-jalan, kami sempetin tuh beli peta Bali. Akhirnya dengan proposal yang tidak rumit, kami diizinkan ke Bali sama bapaknya sahabat saya itu. Tapi besok, jangan hari ini, kurang lebih begitu katanya. (Kalau Ibu saya sih udah tahu kalau saya mau lanjut ke Bali dari Jember.)

Hari kedua di Jember, kami diantar lagi ke Pantai, kali ini Pantai Pasir Putih di Utara. Di sana ada wisata naik perahu, dan pasirnya ternyata coklat. Demi pengiritan kami nggak ngapa-ngapain di sana selain makan bekal.

Menjelang tengah malam, kami diantarkan ke terminal bus. Dan bersyukur dapat bus terakhir malam itu yang menuju Bali. Jangan dibayangkan busnya nyaman, dengan reclining seat dan berAC. Bus kami itu penuh sesak, dengan extra kursi plastik di tengah-tengah deretan kursi. Beruntung kami berempat bisa keangkut naik bus itu semua. Bawaan saya, satu buah travel bag. Bawaan teman-teman saya, ransel masing-masing, gitar, dan radio tape. Jangan ditanya kenapa kok bawa-bawa radio tape segala, saya juga nggak gitu mikirin karena seingat saya sih tiap kami pergi entah itu dekat-dekat ke Tawangmangu aja, radio itu dibawa-bawa terus.

Menurut catatan saya, ongkos bus adalah 7000 rupiah.

Waktu itu tidak ada ponsel. Saya dibekali satu kartu ATM sama ibu saya, dan uang sekitar 100ribu rupiah. Sebelum berangkat (waktu di Solo), kami sepakat “setor” masing-masing uang saku sebesar 80 ribu rupiah. Maksudnya begini, kalau ada pengeluaran bersama seperti makan, bayar tiket masuk, kami nggak ribet lagi ngeluarin dompet masing-masing. Langsung dibayar sama satu orang aja. Kalau pengeluaran pribadi seperti beli oleh-oleh ya tetap urusan masing-masing. Karena satu-satunya perempuan, saya yang jadi bendahara rombongan.

Di dalam bus yang super penuh itu, kami berempat duduknya terpencar. Saya kebagian duduk di sebelah turis Jepang, yang mirip sama James Iha, gitarisnya Smashing Pumpkins. Mungkin karena karakter muka yang mirip, saya merasa aman di sebelah turis tinggi besar itu. Berasa satu rombongan, dan dijagain. Untung dia keren, jadi nggak bete berjam-jam di sebelahnya. Hihi.

Tiba di Bali

Menjelang pagi kami sudah diatas kapal Ferry menuju Gilimanuk dari Ketapang. Kira-kira jam sembilan, kami sampai di Terminal Ubung. Baru turun dari bus, langsung disambut sama supir angkot, yang menawari untuk mengantar kami ke Kuta. Kami bener-bener buta arah, nggak tahu Bali, dan cuma berbekal peta Bali yang kami beli di Jember. Nggak tahu juga mau nginep di mana. Ya udah, ikut dia aja.
Catatan selama di Bali.
Nggak ada catatan berapa ongkos angkutan itu. Berasa nyarter aja karena begitu kami berempat naik, pak supir langsung tancap gas dan kami tiba di hotel Yulia Kuta. Kami menyewa satu kamar dengan satu tempat tidur tanpa kamar mandi untuk saya, seharga 12 ribu (Kamar AB 301). Untuk tiga teman saya, satu kamar dengan kamar mandi seharga 30 ribuan (Kamar B-507). Jadi saya bisa numpang mandi aja di sana, kan. Setiba di kamar, saya langsung tidur, sementara tiga teman saya jalan-jalan.

Hotel Yulia ini masih ada lho, sekarang, coba aja cari Yulia Beach Inn. Lokasinya strategis banget di belakang Kuta Square dan cuma lima menit jalan kaki ke Pantai Kuta. Di sekitarnya banyak banget aneka toko kerajinan dan toko-toko unik lainnya. Katanya jalanan di situ sekarang macetnya bukan main. Tapi tetep kalau ke Bali, saya mau nginep di Hotel Yulia.

Keliling Bali tahun 90-an

Hari pertama di Bali, kami cuma jalan-jalan di seputar hotel. Temen-temen saya sempat masuk Hard Rock Café waktu saya tidur itu, dan cerita kalau di sana cuma berani pesen air mineral. Hihi. Sore harinya kami jalan ke Pantai Kuta. Dan ajaib, di antara jutaan kemungkinan, kami bisa-bisanya ketemu Ibu Susini, guru Bahasa Indonesia kami.

Malamnya kami jalan agak jauh dengan niat cari outletnya kaos Joger. Setelah muter-muter sekitar satu jam, kami tanya sama orang lewat, dan diberitahu kalau Joger sudah tutup. Rupanya jam bukanya cuma sampai sore hari. Kalau sekarang sih, Joger Bali buka dari jam sepuluh pagi sampai jam delapan malam.
Murah ya, 6000an buat makan empat orang. Hihi.

Soal makan di Bali, kami mesti hati-hati, karena konon banyak menu yang tidak boleh kami makan. Jadi demi kehati-hatian, dan pengiritan, malam itu kami makan nasi goreng, bubur ayam dan minumnya teh botol. 6500 rupiah saja untuk berempat. Dari catatan saya, ongkos makan kami memang rata-rata segituan sekali makan untuk berempat! Malam itu kami sempatkan menelepon ke rumah masing-masing, dengan telepon koin, dan modal 100 rupiah untuk percakapan 3 menit!

Hari kedua di Bali, kami memutuskan untuk sewa mobil. Sewanya minta bantuan hotel. Ongkos sewa mobil waktu itu 40 ribu rupiah untuk seharian. (Lepas kunci) Kami isi BBM 15 ribu rupiah. Mobilnya Jimny. Kalau sekarang, rental mobil lepas kunci di Bali ada yang cuma 150 ribuan per-harinya. Tergantung mobilnya apa.

Diantara kami berempat, cuma satu orang yang sudah lancar nyetir. Jadi dia bertugas jadi sopir sepanjang hari itu. Tugas saya duduk di depan sambil njereng peta. Tujuan pertama kami adalah pasar Sukowati. Pasarnya seperti pasar Klewer gitu. Meski begitu ternyata muter-muter di pasar kerajinan bikin waktu tak terasa berlalu. Tiba-tiba sudah jam 12 siang, padahal kami belum sarapan. Bendahara pelit! Hehe. Di Pasar Sukawati ini saya beli bedcover warna pink. Yes bedcover, dan gimana saya bisa masukin bedcover ke dalam travel bag saya sampai ke Solo sungguh misteri.

Tujuan kedua adalah ke Tanah Lot. Dan di sana, -dunia memang selebar daun kelor-, kami ketemu lagi sama bu Susini! Dari catatan saya tiket masuk ke Pura Tanah Lot 1100 rupiah/ orang. Parkir mobil 500 rupiah. Waktu itu ada acara nonton ular di dalam gua dan kami “nyemplungin” uang 1000 rupiah. Saat ini harga tiket masuk Tanah Lot adalah 20 ribu rupiah/ orang dewasa.
Di tebing Tanah Lot. Ini bukan di Studio Foto, lho.
Habis dari tanah Lot kami buru-buru ke Joger. Di sana saya cuma beli selembar kaos. Dengan waktu yang tersisa sebelum petang, kami memburu sunset ke Pura Ulu Watu. Kawasan Ulu Watu waktu itu sungguh sunyi. Suasananya syahdu banget deh. Untuk masuk ke sana, kami membayar tiket masuk sebesar 1000 rupiah/ orang. Sebelum masuk kami harus memakai kain yang diikat ke pinggang. Menontoni sunset di tepian tebing cuma dengan segelintir orang menjadi kenangan indah yang menutup hari itu. Harga tiket Pura Ulu Watu sekarang adalah 20 ribu rupiah/ orang dewasa.


Tiap malam waktu saya sudah tidur, tiga teman saya selalu jalan-jalan keliling. Ada cerita serem ketika mereka sempat dicegat di jalan dan ditawari barang aneh-aneh. Hii.

Pulang

Hari terakhir di Bali adalah hari Jumat. Saya ingat betul karena kami menyusuri jalanan mencari masjid untuk dua teman saya. Pagi harinya masih kami sempatkan main ke Pantai Kuta. Kami sebelumnya berencana naik bus ke Surabaya lalu lanjut dengan kereta api ke Solo. Tapi teman saya usul agar kami cari tiket yang bisa langsung ke Solo saja, biar lebih cepat sampai. Betul juga karena kalau dihitung sejak ke Jember, sudah lima hari kami meninggalkan rumah. Kali-kali aja orang rumah pada kangen.

Sungguh beruntung kami dapat tiket bus, jurusan Bali-Yogyakarta, yang lewat Solo untuk sore hari itu juga. Harganya, nggak tercantum di catatan saya. Sekitar 20 ribuan kayaknya. Kalau sekarang tarif Bus jurusan Bali-Solo mulai 300 ribuan/ orang.

Kami kembali ke hotel untuk berkemas-kemas dan cari oleh-oleh. Fyi, semua perjalanan ini selain waktu sewa mobil, kami lakukan dengan berjalan kaki. Jadi kalau mau backpackeran di Bali, penting untuk tinggal di kawasan yang strategis alias dekat dari mana-mana. Saya dalam hati berterima kasih sama supir angkot yang mengantarkan kami ke Hotel Yulia waktu itu.

Oiya di akhir perjalanan, setelah beli tiket bus pulang, uang kas kami masih nyisa, lho. Ada gunannya kan ngirit makan dan jalan kaki kemana-mana, hoho.

Jam setengah tiga kami sudah siap di kantor agen travel, diantar mobil ke Terminal Ubung. Di sana bus kami sudah menunggu, dan langsung cabut begitu kami naik. Nyaris ditinggal! Kali ini kami duduk bersebelahan, dan busnya ber-AC. Jam setengah delapan malam kami sudah di atas ferry menuju Ketapang. (Lama soalnya antri dua jam di pelabuhan).

Jam setengah sembilan malam, kami sudah melaju di tanah Jawa. Keesokan paginya, kami sudah hampir masuk kota Solo. Sudah nggak sabar ingin segera sampai, kok ya bus ini berhenti dulu di Palur untuk sarapan. Waduh tinggal dikit lagi padahal. Selanjutnya kami diturunkan di depan pintu terminal Tirtonadi, dan bus langsung tancap gas ke Yogya. Cuma kami berempat yang turun di Solo.

Karena pegelnya badan mulai terasa, saya langsung pulang ke rumah naik taxi. Sampai di rumah, sekitar jam delapan pagi dan langsung laporan kedatangan sama ibu saya yang lagi main tenis di lapangan depan rumah.

Ibu saya menyambut, “Lho, kok udah pulang?”

Foto Pura Bratan dari: 

<a href="https://www.freepik.com/free-photos-vectors/background">Background image created by Nikitabuida - Freepik.com</a>



Tuesday, March 20, 2018

Bertualang Bareng Hotel D'Emmerick Salatiga

 

Kalau ambil paket “Camping In The Valley” di d’Emmerick Hotel Salatiga, dengan 700 ribuan per-enam orang, bisa dapat fasilitas menginap satu malam di tenda, traditional dinner, barbeque party dan acara api unggun, sarapan, plus fasilitas menyaksikan sunrise dan acara jogging track. Selain itu kolam renang yang sejuk dan adem juga bisa dinikmati tanpa dipungut biaya lagi.

Kalau blogger, fotografer dan videografer minggu lalu, mendapat undangan untuk merasakan sensasi berkemah plus bertualang di d’Emmerick Hotel dalam acara Blogger Camp. Peserta nggak cuma berasal dari Semarang dan Salatiga tapi juga dari Wonosobo, Pekalongan, sampai Jakarta. Jadi selama dua hari satu malam, kami merasakan fasilitas menginap di tenda, high rope game, panahan, archery battle, barbeque night, plus jeep adventure. Komplit!

The Seru Blogger Camp

Mengapa mau susah-susah camping kalau bisa nginep di hotel. Well, memang sih hotel menyediakan kamar-kamar dengan fasilitas yang lengkap dengan kasur empuk. Tapi siapa juga yang bilang kalau camping di d’Emmerick itu nggak nyaman? Lha wong tinggal datang aja lho. Nggak usah lagi ribet mendirikan tenda, nggak usah cari semak-semak karena kamar mandi dan WC juga tersedia, bersih, dengan air adem yang mengalir.

Sebelum seluruh rangkaian acara, kami dijamu dengan makan siang di Cleverly Eatery, tempat makan yang nyaman di pool sidenya d’Emmerick Hotel. Kami disambut Mbak Dona dan Mas Sigit dari hotel, dan sajian sedap. Chef Cleverly Eatery menyajikan menu-menu andalannya antara lain Gecok Cabut Gunung, Makdulah Nikmat, Saged Sayur Asem, dan Poffertjes. Hehe namanya unik-unik, kan. Kalau penasaran sama rasanya langsung aja ke d’Emmerick hotel, dan datang ke Cleverly Eatery. Semua menu tadi mulai dari 15 ribu rupiah saja!

Gecok Cabut Gunung, di belakangnya ada Poffertjes ngintip
Setelah kenyang dengan jamuan makan siang, kami menuju tempat kami akan bermalam. Untungnya kawasan hotel banyak tanaman yang rindang, jadi menuruni setapak berbatu sambil nggembol ransel nggak terasa terlalu pegel. Tempat tenda-tenda berdiri memang berada di “lembahnya” hotel. Di bawah sana nampak tenda-tenda terpal dengan kapasitas sampai dengan enam orang dewasa. Ngos-ngosan sambil keringatan kami menuju ke lembah hotel.

Cuaca Salatiga di siang hari itu cukup panas, meski kalau ada angin jadi sejuk. Kebayang kalau dulu kawasan d'Emmerick ini pasti dingin banget, karena kurang lebih satu kilometer jaraknya (ke arah kota Salatiga) ada rumah sakit paru. Dulu biasa disebut sanatorium. Biasanya fasilitas kesehatan ini terletak di dataran tinggi yang masih sejuk dan dingin dengan udara bersih. Meskipun sekarang kawasan di sekitar hotel makin ramai, lokasi hotel yang berada di jalan raya menuju kawasan Kopeng ini memang masih termasuk kawasan berhawa sejuk. 

Selain tenda-tenda terpal dengan alas matras empuk, di kawasan perkemahan ada dua bangunan kamar mandi, masing-masing untuk putra dan putri. Bangunan dengan ukuran kurang lebih 8 meter kali 8 meter itu terdiri dari bilik-bilik WC dan bilik shower yang terpisah. Fasilitas ini nyaman banget untuk kelas camping. Di dalamnya ada wastafel-wastafel dengan cermin besar plus sabun cuci tangan dan tissue.

Outbound Game

High Rope diawali wall climbing. (In frame: Leon)
D’Emmerick hotel memiliki fasilitas permainan outdoor yang beragam. Sore itu kami mencoba permainan high rope, archery, dan archery battle. Selain itu ada juga ATV. Permainan high ropenya berupa rangkaian instalasi dari wall climbing, elvis bridge, sepeda, sampai jaring laba-laba. Dengan alasan kesorean, saya nggak main high rope. Hehe. Padahal karena tangan sudah pegel main panahan. Siapa sangka memanah target yang diam aja bisa bikin sedemikian pegel dan memar (kena entakan tali panah). Gimana kalau mau memanah target yang bisa kabur, like someone heart gitu...

Calm, Focus, Brave, Win! Wait, Me Win?
Aneka permainan outdoor nan seru bisa dinikmati siapa saja meskipun tidak menginap di hotel, ya. Tapi ingat ada batas usia untuk tiap-tiap permainan, dan selalu ikuti instruksi dari petugasnya. Safety first!
Aneka Permainan Oudoor yang bisa dipilih.
Selepas permainan yang seru, malam hari kami dijamu lagi sama salah satu menu favorit saya: jagung bakar. Hmmm masih kebayang legit dan gurihnya jagung bakar di Cleverly Eatery, plus anget-anget wedang jahe. Malam yang akrab diisi dengan sharingnya mas Dhave nan cool, the talented mas Ervix, dan Om Sarbu fotografer handal dari Pekalongan plus MC lokal ceria: jeng Isul.
Sharing Session (In Frame: Isul dan Mas Ervix)

Rise Before The Sun
Yang bikin acara Blogger Camp kemarin tambah spesial adalah kesempatan untuk merasakan pengalaman menikmati pemandangan sunrise dari puncak Gunung Telomoyo. Karena itu semua harus bangun pagi-pagi buta alias jam tiga pagi! Banyak diantara kami yang nggak sempat tidur, atau cuma tidur-tidur ayam. Tapi nyawa yang baru setengah ngumpul langsung bangun serentak begitu badan tergoncang-goncang di dalam jeep. Perjalanan Jeep Adventure ini bareng dengan komunitas S4X4tigaAdventureRoad.

Saya tuh, bukan termasuk yang enjoy berkendara di ketinggian. Zaman masih piyik aja, tiap kali diajak piknik ke Tawangmangu sama keluarga, rasanya pengen turun dari mobil saking enggannya naik-naik ke puncak gunung. Urat takut ketinggian sempat putus sekitar usia remaja, karena waktu itu mau turun jurang naik jurang tanpa tali aja santai. Sayangnya abis itu nyambung lagi urat penakutnya.

Jadi, waktu gelap-gelapan di jalan dalam jeep demi sunrise di puncak gunung, berkali-kali saya nanya sama Pak Sony, “kusir” jeep warna jingga yang saya naiki bareng Archa Bella dan Mimi Peri: “Are we there yet?” (To hide the fact that saya nahan pipis)

Selepas menyusuri lereng gunung dengan jalan yang ngepas selebar jeep selama 30 menit, rombongan kami tiba di (hampir) puncak, tepat ketika semburat jingga mulai muncul. Yang disebut “puncak” ini adalah pinggiran jalan yang agak melebar, tempat jeep bisa parkir rada melipir. Dari tempat kami berhenti bisa terlihat kalau di puncak Telomoyo banyak tower-tower telekomunikasi dari berbagai instansi. Dan, ini penting: nggak ada WC. Katanya di dalam pemancar sih ada, tapi harus jalan lagi 10 menit ke atas. Belum tentu dibukain pintu lagi, kalau ada penjaganya hehe. Jadi, harap dikondisikan yaa.

Buru-buru kami solat subuh sebelum matahari meninggi. Tempat solatnya di pinggiran jalan yang nggak terlalu dingin tapi berangin. Wudunya pakai air dari jerigen.
Sunrise, difoto pake kamera ponsel
Suasana ramai beranjak syahdu (biar dramatis) waktu gelap mulai tersingkap. Awan yang menyelimuti kaki gunung memang sedikit menunda matahari tampak di hadapan. Tapi perlahan matahari muncul malu-malu. Tak pantaslah kami protes hanya gara-gara awan karena cuaca cerah sepanjang perjalanan, sehingga ketika mulai terang kami disuguhi pemandangan alam yang menawan.

The sunrise, off course, doesn’t care if we watch it or not. It will keep on being beautiful, even if no one bothers to look at it. 
(Gene Amole)

Cakep!

Deg-degan saya 30 menit tadi (plus mikir 30 menit perjalanan turun nantinya) terbayar lunas. Pakai kembalian lagi. Saya sadar, di mana-mana, jalan menuju puncak memang nggak gampang. The rockiest roads lead to the highest peak. Quotes unknown yang berlaku juga buat perjalanan naik jeep ke Telomoyo.

Oiya, tempat jeep-jeep kami berhenti juga adalah tempat start olah raga paralayang. Tinggi gunung Telomoyo ini lebih dari 1800 mdpl, pantas kalau jadi salah satu landasan olah raga extrim ini. Dan tempat start paralayang ini jadi spot favorit rombongan Blogger Camp buat berfoto. Spot favorit lainnya adalah berpose aneka gaya di atas atap jeep. Duh, saya mah yang jauh-jauh dari jurang dan napak-napak tanah aja.

Yang perlu diperhatikan kalau mau naik ke puncak Telomoyo, di sepanjang jalan saya melihat beberapa titik longsor. Memang longsorannya tidak sampai menutup badan jalan, tapi berarti ketika hujan deras, atau kondisi cuaca ekstrem lainnya, pengunjung perlu waspada. Eh di jalan ternyata ada "air kricikan" di bebatuan yang mirip air terjun, lho.

Nah, kalau ingin naik gunung ini dengan berjalan kaki, di “gerbang” Gunung Telomoyo ada loket yang jual tiket masuk ke kawasan Telomoyo. Nggak mahal kok, lima ribu rupiah saja per-orang. Tempat parkirnya luas, dilengkapi dengan WC yang bersih. Untuk parkir mobil lima ribu rupiah juga. Parkir motor, nggak nanya tapi mestinya lebih murah dari mobil. Waktu perjalanan turun sempat berpapasan dengan beberapa pengendara motor. Motor matic tidak disarankan naik, sih.

Jalanan rusak, di mata saya skala rusaknya (untuk ukuran mobil-mobil kota) adalah 8,5/10. Meski jalanan memungkinkan untuk kendaraan selain jeep, pastikan kondisi kendaraan benar-benar baik dan BBM-nya cukup. Kalau bis sih enggak bisa naik ya. Truk sama pickup kata Pak Sony bisa sampai ke atas. Terutama dinaiki para pengelola dan pemelihara tower-tower telekomunikasi di puncak. Kalau buat ukuran pak Sony dan teman-teman dari S4X4tigaAdventureRoad, sih, jalan di Telomoyo bagaikan melenggang di jalan tol.
Gunung Telomoyo difoto dari kawasan loket.
Menurut saya Gunung Telomoyo ini cocok untuk wisata pemandangan. Oke untuk latihan nafas buat yang mau naik gunung beneran dengan bonus pemandangan keren. Dengan berjalan kaki, rata-rata butuh dua jam, untuk sampai puncak. Tapi di atas sana nggak ada Ind*maret. Bawa bekal minum dan jajan sendiri secukupnya.

Kalau kami sih, selain tinggal duduk geronjalan, karena ikutan paket Jeep Adventure dari d’Emmerick hotel, ada chef yang menyiapkan sarapan. Ha! Ada chef di puncak gunung. Suguhannya mie kuah anget-anget, plus kopi dan teh. (Saya nggak makan tapi, soalnya isi perut belum sempat di unloading.)

Meski begitu untuk naik jeep - menurut saya- kalau sedang hamil, bawa bayi, atau punya masalah kesehatan yang selevel dengan kondisi-kondisi itu, ditunda dulu aja yah.

Klimaks!

Selepas 30 menit menuruni gunung Telomoyo plus 30 menit di jalan aspal menuju Hotel d’Emmerick, saya sudah separuh tidur, membayangkan mandi, lalu gegoleran sebentar sebelum pulang. Ternyata, petualangan ini belum klimaks. Hotel d’Emmercik masih punya paket yang namanya Jeep Trip. Bisa didapatkan mulai dari 250 ribu rupiah untuk 3 orang bisa menikmati satu kali trip dengan jeep di kawasan perkebunan sekeliling hotel.
Jeep Trip di perkebunan seputar hotel.
Di jalan pulang pak Sony memang sempat bilang kalau nanti di halaman hotel tracknya seru dan dijamin bikin teriak teriak karena lahannya miring.

“Gini lho nanjaknya,” kata Pak Sony sambil tangannya dimiringkan sekitar 60 derajat.

Aaah mana ada, pikir saya. Tapi ternyata beneran! Track jeep trip di kawasan perkebunan sekitar hotel ini seru bangeet. Nyenggol-nyenggol dikit deh sama acara offroad di tipi-tipi. Pake acara jeep nyangkut dan keciprat lumpur juga. Mimi Peri dan Archa Bella sampai berlomba teriak paling merdu di kursi belakang. Pak Sony senyum-senyum puas gitu. Rupanya semakin penumpang jejeritan, berarti semakin memuaskanlah acara jeep adventure itu.
Lobby Hotel D'Emmerick, tempat kami disambut datang dan dilepas pulang
Selepas tengah hari acara Blogger Camp usai juga. Kami harus meninggalkan kenangan seru di d’Emmerick Hotel. Diiringi rintik hujan yang seperti ikutan sedih, kami bersiap pulang. Berpisah sementara sama teman-teman keren di Blogger Camp. Ber-tujuh barengan Erina, Mbak Siti, Mas Salman, Leon, Mbak Ika, dan Mbak Wati, dikapteni Pak Babe nya mba Wati, saya beranjak dari sejuknya Salatiga menuju Semarang.

Lain kesempatan pengen banget datang ke d’Emmerick lagi bareng keluarga. Kalau berempat pasti nyaman banget tinggal di salah satu Family Roomnya. Anak-anak (dan bapaknya anak-anak) bisa berenang sekaligus merasakan pengalaman macam-macam outbound gamenya. Saya sih puas dengan gegoleran menikmati udara sejuk sambil nggak masak tapi tetap makan enak. Hehe.

Thank you, d’Emmerick Hotel Salatiga, & Titik Tengah Partnership (yang sudah mencolek saya at the last minute)!

d'Emmerick Hotel Salatiga
Jl. Hasanudin (Jl. Raya Salatiga-Kopeng) KM 4 Salatiga Jawa Tengah.
Telp: 0298-325 498
www.d-emmerickhotel.com