Thursday, January 31, 2019

HOKBEN, RESTO DENGAN SISTEM JAMINAN HALAL


Zaman saya kuliah, setiap kali pulang dari liburan dari Jakarta, ada satu oleh-oleh makanan yang tidak pernah absen saya beli. Keluarga saya selalu punya titipan oleh-oleh yang sama: HokBen! 

Saya selalu menyempatkan diri mampir ke gerainya di daerah Blok M, atau di stasiun Gambir sebelum kereta berangkat untuk membeli paket Chicken Katsu. Pada masa-masa itu juga, setiap jalan-jalan dengan sepupu-sepupu saya di Jakarta, saya memilih untuk makan di sana. Menyantap potongan dada ayam yang gurih berbalut tepung renyah, bersama salad dan saus khas HokBen, mmh, priceless. 

Chicken Katsu HokBen, menu favorit sepanjang masa. (Sumber gambar: hokben.co.id)

Yup, Hoka-Hoka Bento,yang sejak tahun 2013 hadir dengan nama baru: HokBen, sudah lama menjadi restoran cepat saji favorit saya dan keluarga. Sebelum ada HokBen di kota tempat tinggal saya, mau tidak mau kesempatan menikmati menu lezat HokBen hanyalah ketika sedang di Jakarta, atau kalau ada kerabat yang membawakan oleh-oleh HokBen.

HokBen baru membuka gerainya di luar Jakarta pada tahun 1990 di Bandung. Di Surabaya HokBen membuka cabang pada tahun 2005. Saya yang tinggalnya di kawasan Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang) harus menunggu sampai tahun 2010 sebelum ada gerai pertama HokBen di kawasan ini. 

Finally! HokBen memang jadi pilihan utama buat keluarga saya, terutama ketika sedang bepergian, rasanya aman kalau ada HokBen karena anak-anak pasti lahap makan. 

Kini pada 2018 HokBen sudah membuka gerai pertamanya di Sumatera, tepatnya di Kota Bandar Lampung. Dengan dibukanya HokBen MBK Bandar Lampung, maka kini HokBen memiliki 147 gerai. Semua gerai HokBen dimiliki penuh oleh PT Eka Bogainti dan tidak membuka sistem franchise.

MEMILIH YANG HALAL 

Siapa yang suka kesel kalau baca tulisan yang di tempel di resto macam ini: 

Dilarang membawa makanan dan minuman ke dalam resto. 

Setelah saya beri tahu alasannya, jangan sebel lagi, yah. Salah satu alasan mengapa kita dilarang membawa makanan dan minuman dari luar untuk dikonsumsi di dalam resto, bisa jadi adalah sebagai upaya untuk menjaga kehalalan produk makanan di resto itu. 

Kehalalan suatu produk makanan dan minuman (selanjutnya kita sebut makanan aja ya) tidak hanya tergantung dari jenis bahan makanan yang dipakai. Seperti pada umumnya kita hanya memperhatikan apakah makanan yang kita makan mengandung babi atau tidak. Tapi konsep halal pada makanan sangat komprehensif, bahkan sampai pada peralatan makan yang digunakan untuk menyantap makanan itu. Nah, kalau ada makanan non-halal yang dikonsumsi di dalam resto halal, bisa mengakibatkan kontaminasi makanan lain menjadi tidak halal juga. 

Informasi ini disampaikan oleh Mbak Oftiana Irayanti dan Irma Fadlilah dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Semarang dalam acara Kumpul Bareng Komunitas Bloger Semarang bersama HokBen. 

LPPOM MUI ini adalah lembaga yang bertugas untuk meneliti, mengkaji, menganalisa dan memutuskan apakah produk-produk baik pangan dan turunannya, obat-obatan dan produk kosmetika apakah aman dikonsumsi baik dari sisi kesehatan dan dari sisi pengajaran agama Islam yakni halal atau boleh dan baik untuk dikonsumsi bagi umat Muslim khususnya di wilayah Indonesia, selain itu memberikan rekomendasi, merumuskan ketentuan dan bimbingan kepada layanan masyarakat.

Saya bareng para bloger Ganjel Rel (GRes) diundang Mbak Irma Wulansari dari Divisi Komunikasi Hoka-Hoka Bento Group di gerai HokBen terbaru di jalan Majapahit Semarang untuk mendapatkan sosialisasi tentang Sertifikasi Halal dan Sistem Jaminan Halal. 

Sebagai umat Islam, semestinya kehalalan suatu makanan menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan untuk mengonsumsi makanan. Mengonsumsi makanan halal adalah perintah Allah Subhanahu wata'ala yang harus ditaati.  


Pada dasarnya semua yang ada di bumi ini adalah halal kecuali yang diharamkan dalam Al-Qur'an dan hadits. 

Dalam Surat Al Baqarah ayat 173 disebutkan: 

"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah.” 

Beruntungnya tinggal di Indonesia, tidak sulit menemui makanan halal. Eh, tapi yakin halal? Karena makananan itu tidak hanya harus bebas dari bahan-bahan yang mengandung najis (sesuatu yang kotor menurut syariat Islam), tapi juga harus thayib, alias baik, suci atau bersih. 

Kalau ada makanan yang terkenal enak tapi belum terjamin kehalalannya, sebaiknya berpikir ulang deh. Kadang ada juga resto yang menempelkan stiker halal di pintunya, tapi berdasarkan klaim sendiri. 

Lalu bagaimana caranya kita bisa yakin kalau makanan yang dikonsumsi sudah halal? Apalagi di zaman modern ini sebagian besar makanan yang sampai pada konsumen adalah makanan yang sudah diolah. Makanan olahan ini adalah produk hasil teknologi yang mengakibatkan secara kasat mata konsumen sulit untuk mengidentifikasi kehalalalan bahan-bahan yang terkandung di dalamnya. 

Lebih mudah menentukan kehalalan bahan mentah ketimbang olahan

Misalnya nih, kalau antara daging babi dan sapi secara kasat mata kita dapat membedakan dari warna, tekstur, dan aromanya, kalau daging sudah diolah menjadi bentuk sosis, misalnya, sudah semakin sulit kita membedakannya. 

Hal ini juga berlaku untuk produk lain selain makanan, seperti kosmetika dan obat-obatan. 

Nah, kalau sudah ketemu dengan hal-hal yang meragukan seperti itu, umat muslim sebaiknya menghindarinya. Seperti disampaikan di dalam hadist: 

"(Sesuatu) yang halal telah jelas dan yang haram juga telah jelas, dan diantara keduanya ada perkara Syubhat (samar-samar). Barangsiapa menjaga diri dari perkara yang syubhat itu berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barangsiapa terjatuh ke pada yang syubhat berarti ia telah terjatuh dalam yang haram. Ketahuilah, di dalam tubuh terdapat segumpal darah, jika ia baik maka akan baiklah seluruh tubuh. Namun jika ia rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuh, ketahuilah bahwa segumpal darah tersebut adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di zaman modern ini banyak hal yang mengakibatkan keragu-raguan (syubhat). Karena itu untuk memastikan kehalalan makanan yang akan kita konsumsi, diperlukan jaminan sertifikasi halal yang dikeluarkan oleh Badan yang terakreditasi dan terpercaya yaitu LPPOM MUI. LPPOM MUI ini adalah satu-satunya lembaga sertifikasi halal yang sudah mendapatkan sertifikasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN). 

Untuk Memastikan Kehalalan suatu produk, LPPOM MUI melakukan proses pemeriksaan secara empiris terhadap bahan, produk dan fasilitas produksi (dengan uji lab jika diperlukan) lalu akan dibahas secara syariah oleh Komisi Fatwa. Hanya produk-produk yang memenuhi syarat, yang akan diberikan Sertifikat Halal. Saat ini untuk mendapatkan informasi tentang produk halal bisa melalui aplikasi Halal MUI yang bisa diunduh secara gratis di Appstore.

Aplikasi Halal MUI

SISTEM JAMINAN HALAL HOKBEN

Sertifikat Halal HokBen

HokBen memperoleh Sertifikat Halal dari MUI pada tahun 2008 dengan nomer sertifikat halal No. 00160048830908. Pada tahun 2017, HokBen berhasil memperoleh Sertifikat Sistem Jaminan Halal karena telah berhasil mempertahankan status A  selama tiga periode berturut-turut. 

Sertifikat Sistem Jaminan Halal HokBen
Untuk mendapatkannya bukan perkara sederhana. Untuk mendapat sertifikat halal, semua produk yang ada di resto baik makanan, minuman, condiment semacam saus, termasuk juga semua gerainya di berbagai kota harus didaftarkan untuk disertifikasi. Tidak boleh hanya sebagian produknya, atau sebagian gerai saja. Semua gerai itu juga termasuk yang akan diverifikasi dan diperiksa. 

Mbak Irma dari HokBen bercerita, ketika HokBen ketika mengajukan sertifikasi halal, semua produk, termasuk semua vendor dan suplier, mulai dari beras, daging, sayuran, dan lain-lainnya juga harus sudah mendapatkan sertifikat halal. 

Rumit yah. Semua demi kepentingan konsumen, agar label halal yang tercantum di depan resto benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Semuanya sejalan dengan visi HokBen yaitu menjadi Pemimpin dalam Industri Makanan Bergaya Jepang dengan Kualitas Terbaik. Sehingga manajemen HokBen menjalankan misinya untuk menciptakan solusi bagi Pelanggan dengan Menyediakan Makanan Bergaya Jepang dan Layanan yang Terbaik Melalui Orang-orang yang Ahli di Bidangnya. 

Penyerahan Sertifikat Sistem Jaminan Halal HokBen

Salah satu jaminan layanan terbaik bagi kita, khususnya umat muslim adalah jaminan bahwa makanan yang dikonsumsi sudah tersertifikasi halal. 

Sistem Jaminan Halal (SJH) ini berarti HokBen sudah menerapkan sistem manajemen terintegrasi yang disusun, diterapkan dan dipelihara untuk mengatur bahan, proses produksi, produk, sumber daya manusia dan prosedur dalam rangka menjaga kesinambungan proses produksi halal sesuai dengan persyaratan LPPOM MUI yang tercantum pada HAS 23000:1 tentang Kriteria Sistem Jaminan Halal. 

Ada 11 Kriteria Sistem Jaminan Halal yang harus dipenuhi, yaitu: 

1. Kebijakan Halal 
Manajemen puncak harus menetapkan kebijakan halal tertulis yang menunjukkan komitmen perusahaan untuk menghasilkan produk halal secara konsisten. 

2. Tim Manajemen Halal 
Kebijakan halal harus didiseminasikan kepada semua stakeholder. Yang dimaksud stakeholder di sini adalah semua manajemen, tim manajemen halal, pekerja, hingga supplier. Maksud Diseminasi adalah bahwa kebijakan halal oleh manajemen disebarkan secara terencana, terarah dan dikelola dengan profesional. 

3. Pelatihan dan Edukasi 
Perusahaan harus mempunyai prosedur tertulis pelaksanaan pelatihan untuk semua personel yang terlibat dalam aktivitas kritis, termasuk karyawan baru 

4. Bahan 
Bahan tidak boleh berasal dari bahan haram/najis. Bahan di sini termasuk bahan baku (raw material), bahan tambahan (additive) & bahan penolong (processing aid) misalnya pelarut, katalis, air untuk mencuci, hingga kuas untuk mengoleskan bahan. 

5. Produk 
Produk pada resto mencakup semua menu yang disajikan, baik dibuat sendiri oleh perusahaan maupun menu yang dibeli dari pihak lain (menu titipan, rekanan), termasuk menu musiman dan menu ekstra. Selain itu kehalalan produk juga mencakup pemilihan namanya, tidak boleh menggunakan nama-nama berkonotasi negatif, misal “Mie Setan” atau vulgar. 

6. Fasilitas Produksi 
Produksi halal hanya dibolehkan di fasilitas produksi yang memenuhi kriteria Fasilitas produksi ini mencakup bangunan, ruangan, mesin, peralatan utama, peralatan pembantu sejak penyiapan bahan, proses utama, hingga penyimpanan produk. 

7. Prosedur Tertulis untuk Aktivitas Kritis
Aktivitas kritis itu diantaranya adalah: Seleksi Bahan Baru, Pembelian Bahan, Pengembangan Produk Baru, Pemeriksaan Bahan Datang, Produksi, Pencucian Fasilitas Produksi, Penyimpanan dan Penanganan Bahan & Produk, Transportasi, Pemajangan (Display) dan Penyajian. Semuanya harus dilakukan sesuai prosedur halal. 

8. Kemampuan Telusur 
Maksud ketertelusuran Selalu dapat dibuktikan bahwa produk yang isertifikasi berasal dari bahan yang disetujui (termasuk jika ada pengkodean bahan/produk) dan diproduksi di fasilitas yang memenuhi kriteria. 

9. Penanganan Produk yang Tidak Memenuhi Kriteria 
Perusahaan harus mempunyai prosedur untuk menangani produk yang tidak memenuhi kriteria. Prosedur harus memuat definisi yang tepat tentang produk ini dan cara menanganinya. Misalnya produk yang sudah disertifikasi tetapi terlanjur diproduksi dari bahan yang tidak disetujui dan/atau diproduksi di fasilitas yang tidak memenuhi kriteria. Prosedur ini bersifat antisipatif karena kemungkinan kesalahan selalu ada 

10. Audit Internal 
Audit internal ini merupakan verifikasi pemenuhan 11 kriteria yang dilakukan oleh auditor dari internal perusahaan. Prosedur tertulis untuk proses ini harus dimiliki oleh perusahaan. 

11. Kaji Ulang Manajemen 
Evaluasi efektifitas pelaksanaan Sistem Jaminan Halal yang dilakukan oleh manajemen. Kaji ulang manajemen harus dilakukan setidaknya sekali dalam setahun. 

Konsistensi menjaga semua kriteria itu penting, karena Sertifikat Halal sendiri ada masa berlakunya, yaitu selama dua tahun saja, dan sesudahnya harus diperpanjang. Kan pernah tuh ada cerita sebuah bakery terkenal yang pernah mendapat sertifikat halal, namun sesudahnya tidak diperpanjang. Dengan demikian MUI tidak menjamin lagi kehalalan produknya. 

Dengan sertifikat Sistem Jaminan Halal ini, masyarakat yang akan membeli produk-produk HokBen menjadi lebih tentram karena jaminan kehalalannya. 

HOKBEN MAJAPAHIT RESTO HALAL PILIHAN KELUARGA

Acara Kumpul Bareng bersama HokBen memang selalu ditunggu-tunggu karena sarat ilmu dan juga para bloger selalu disambut dengan hangat. Sama saat kami diterima oleh Store Manager HokBen Majapahit Semarang, Mas Agustinus Wahyu Purnomo, di gerai HokBen terbaru di Jalan Majapahit Semarang. 

Gerai HokBen Majapahit dengan luas lahan kurang lebih 1000 meter persegi merupakan gerai berkonsep stand alone yang pertama di Semarang. Gerai yang berdiri sendiri ini punya fasilitas yang lebih lengkap dibandingkan gerai HokBen lain yang berada di dalam mal. Dengan ukuran yang lebih luas, gerai HokBen Majapahit terdiri dari dua lantai, punya kapasitas 160 kursi, dengan ruangan privat yang bisa digunakan untuk rapat, arisan, dan acara lain. 



Musala juga tersedia di lantai dua, lengkap dengan tempat wudu yang terpisah dari toilet. Selain untuk makan di tempat (dine in), dibawa pulang (take away), HokBen Majapahit juga ada layanan Drive Thru-nya. Untuk layanan ini khusus bagi pengendara kendaraan bermotor ya, baik roda empat maupun roda dua. Kami juga sempat mencoba layanan Drive Thru ini. Cepat dan efisien. 

Ada Drive Thru di HokBen Majapahit
Selain semua fasilitas tadi, Layanan untuk Ulang Tahun juga tersedia di HokBen Majapahit. Bagi yang tidak sempat datang ke gerai bisa mendapatkan produk HokBen melalui layanan pesan antar via HokBen Delivery di 1 500 505 atau ojek online. 

Rasanya nyaman makan bareng keluarga atau sahabat di HokBen Majapahit. Ruangan di dalam dilengkapi dengan pendingin ruangan, terpisah dari ruangan yang khusus diperuntukkan untuk merokok, di teras lantai dua. 

Ruang-ruang di HokBen dihiasi warna-warna HokBen sesuai dengan konsep gerainya yang mulai 2013 hadir dengan tampilan, pelayanan, dan nuansa yang lebih segar dan bersahabat. 

Hokben Community Pattern

Hokben Community Pattern mendominasi dinding ruangan gerai Hokben. Saya baru tahu kalau pola-pola berwarna kuning cerah itu ternyata memiliki makna. 

Welcoming Hello
Hokben akan menyambut pelanggan dengan ramah 
Parent and Kid
Hokben menyediakan makanan yang sehat untuk seluruh anggota keluarga dari orang tua sampai anak-anak. 
Friendship
Hokben menjadi tempat berkumpul bersama sahabat dan keluarga 
Respect
Setiap pelanggan akan dilayani dengan sepenuh hati 
Pride
Rasa bangga HokBen telah berhasil dikenal masyarakat luas dan menyajikan menu terbaik untuk pelanggan 

HokBen Community Pattern ini selain tercermin dalam desain dan tampilan gerai, juga tercermin dalam pelayanan yang diberikan oleh karyawan HokBen. Terbukti sambutan pak Agustinus dan teman-teman di HokBen Majapahit selama acara Kumpul Bareng yang selalu ramah dan sabar menghadapi GRes yang penuh semangat. Hehe. Setelah mendapatkan ilmu yang bermanfaat, GRes dijamu dengan menu-menu HokBen yang halal dan lezat ditambah lagi oleh-oleh untuk keluarga di rumah. 


Jadi betah berlama-lama kumpul bareng GRes di HokBen Majapahit. Tidak perlu ragu memilih HokBen Majapahit untuk acara bareng keluarga, sahabat, dan kolega. Fasilitas oke, dan menunya lezat, bergizi dan terjamin halal.

Oiya, follow juga akun-akun sosial media HokBen untuk mendapatkan berita terkini dan promo-promo terbaru dari HokBen.

Sosial Media HokBen


Sumber tulisan: 
Materi Kumpul Bareng Komunitas Blogger Semarang - Manajemen Hoka-Hoka Bento
Materi Sosialisasi Pengantar Sertifikasi Halal dan Sistem Jaminan Halal LPPOM MUI Jawa Tengah
Website: www.hokben.co.id


Saturday, January 19, 2019

Mala: Chapter Zero


“Nih, paket buat lo!” 

“Buset!” Mala berusaha menangkap kardus yang dilempar Yori ke pangkuannya. “Handle with care, dong! Kalo rusak gimana,” gerutu Mala lalu memeriksa paketnya dengan penuh sayang. Diperiksanya setiap sudut kardus coklat berbalut plastik bertuliskan namanya itu. 

“Ngapain lo?” sergah Mala ketika menyadari Yori menatap penuh minat kepada paket di tangannya. 

“Gue penasaran aja apa lagi yang lo beli. Buku apa lagi, maksud gue.” 

Mala mengrenyit, hafal dengan nada suara Yori yang penuh sindiran. 

“Yaah mumpung diskon, Yor. Lagian buku ini udah susah dicari di toko, kemarin kebetulan ada yang jual yang edisi pertama, dikasih bonus lagi.” 

Yori menghela nafas. “Liat tuh, Mal, meja ruang tengah penuh sama buku lo. Bufet ibu kos juga isinya buku-buku lo. Kamar lo sendiri udah kayak gudang buku,” Yori mulai mengabsen. “Emangnya lo sempet baca semuanya? Apa lo mau bikin perpustakaan?” 

“Gue kan beli pake duit sendiri, kenapa lo yang repot?” gerutu Mala sambil melangkah menuju kamarnya dan menutup pintu. 

“Nggak ada gunanya beli buku banyak kalo nggak dibaca!” Teriakan Yori masih terdengar dari balik pintu. 

Di dalam kamar kosnya yang aman, Mala mulai membuka paket berisi buku pesanannya dengan hati-hati. Mala menimang-nimang buku itu dan mulai mencari tempat untuk menyimpannya. Dua kardus bekas air mineral di bawah tempat tidurnya sudah penuh buku. Rak buku kecil tiga tingkat itu apalagi. Mala memutar otak. Kamar kosnya hanya berukuran tiga kali tiga meter. Lemari pakaian, tempat tidur dan meja rias sudah membuat ruangan sesak. Tak mungkin Mala beli satu rak buku lagi untuk menampung koleksinya. 

Hobi Mala beli buku tidak sebanding dengan waktu luangnya untuk membaca. Apalagi semenjak Mala punya bos baru yang gila kerja dan hobi mengajak satu ruangan untuk lembur bareng. Akibatnya delapan puluh persen buku yang dibeli Mala masih berada dalam kemasan plastik. 

Mala meraih tas belanja kain dari supermarket dan menyimpan buku barunya di dalamnya. Pandangannya menyapu ruangan dan tertumbuk pada sedotan alumunium di dalam gelas es tehnya. Di sudut ruangan teronggok botol-botol plastik kemasan minuman yang sudah siap disetor untuk ibu kos yang menjadi koordinator kegiatan daur ulang di komplek. Brosur acara kantor minggu depan untuk kampanye “Zero Waste” tergeletak di atas meja. 

Beberapa saat Mala merenungi seisi kamarnya. 

Kemudian: 

“Yor! Sini cepet!” teriak Mala. “YORI!” 

Tak sampai lima detik pintu kamar Mala menjeblak terbuka. 

“Eh gila lo teriak-teriak gue kira ada apa!” omel Yori melihat Mala sedang bersila di lantai. Buku-buku bertumpuk di sekitarnya. 

“Lo pernah bilang ada rumah baca di tempat lo jadi relawan itu. Masih sering ke sana?” 

Yori mengangkat alis. 

Catatan Mala: 
Zero waste bukan cuma untuk barang lama yang tidak terpakai, tapi juga barang baru yang entah kapan bakalan dipakai. 

#roadto4thgandjelrel 
#blogchallengegandjelrel 

Gambar modifikasi dari: <a href="https://www.freepik.com/free-vector/doodles-ecology-set_1538752.htm">Designed by Macrovector</a> 

Friday, January 11, 2019

Inilah Tujuh Alasan Kenapa Kamu Harus Kuliah di Semarang


Foto: Wikipedia

Tak terasa, sudah lebih dari separuh umur, saya habiskan di kota Semarang. Padahal waktu saya masih SMA dulu, mengenal Semarang sebagai kota yang panas, banyak nyamuknya, dan sering banjir. Jadi untuk kuliah di Semarang, terus terang nggak terpikir sama sekali, sampai.... saya ketemu sama Bapak saya dan akhirnya dengan berbagai pertimbangan saya memasukkan salah satu pilihan kuliah di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Takdir Allah, saya malah diterima kuliah di sana.

Hari pertama mengunjungi kampus, kesan panas menyengat membuat saya sedikit miris. Waktu itu baru beberapa tahun saja kampus Undip mulai dipindah ke wilayah Tembalang. Duh, di tempat yang gersang (dalam pandangan saya) ini saya bakalan menghabiskan setidaknya empat tahun kehidupan masa remaja, *drama. Tapi ternyata, kita memang nggak akan cinta kalau nggak kenal, sekarang setelah belasan tahun tinggal di sini, saya sudah jadi warga kota Semarang, dan jatuh cinta sama kota ini.

Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) pernah merilis daftar kota paling layak huni di Indonesia. Daftar-daftar kota ini didapatkan dari hasil survey yang dilakukan dua hingga tiga tahun sekali. Survey yang dilakukan IAP berbasis pada pendapat warga kota mengenai kota tempat tinggalnya sendiri dari beberapa aspek antara lain tempat ibadah, air bersih, pendidikan, fasilitas kesehatan, pangan, dan transportasi. Surveynya dilakukan di 26 kota dari 19 provinsi. Berdasarkan survey IAP ini Semarang berada di urutan ke-6.

Menurut Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2018, Semarang berada pada urutan ke-2 dalam kategori Kota Metropolitan. Peringkat pertama dicapai Surabaya, dan peringkat ketiga Tangerang Selatan. Indikator penilaiannya adalah Lingkungan, Masyarakat, Ekonomi, Mobilitas, Pemerintah, dan Kualitas Hidup. Lingkup penilaian berdasarkan model yang dipakai dalam IKCI 2018 yakni Smart City Wheel oleh Boyd Wheel.  (Sumber IG: GNFI).

Nah, sekarang kan menjelang akhir tahun ajaran, sebentar lagi Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) mulai dilaksanakan. Biasanya nih meski di waktu yang sudah mepet ini, masih ada saja calon mahasiswa baru yang belum mantap mau kuliah di mana. Saya merekomendasikan kepada kamu, wahai calon mahasiswa baru (hihi), kuliah aja di Semarang.

Mengapa Semarang?


1.       Banyak Pilihan Kampus Berkualitas


Bagi calon mahasiswa yang mengincar perguruan tinggi negeri, di Semarang ada 5 Perguruan Tinggi Negeri yaitu: Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Islam Negeri Walisongo (UIN Walisongo), Politeknik Negeri Semarang (Polines), dan Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin). Selain perguruan tinggi negeri, di Semarang juga ada sejumlah Perguruan Tinggi Swasta berkualitas antara lain: Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Universitas Katolik Soegijapranata (Unika), Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Universitas Semarang (USM), Universitas 17 Agustus 1945 (Untag Semarang), Universitas Stikubank Semarang (Unisbank) dan masih banyak lagi.

Ada banyak jurusan yang bisa dipilih, yang bisa disesuaikan dengan cita-cita dan tujuan hidup kamu, wahai calon mahasiswa. Masing-masing kampus punya kelebihan masing-masing, diantaranya memiliki jurusan-jurusan unggulan yang menjadi favorit calon mahasiswa. Tapi berarti kalau kamu mengincar kampus dan jurusan favorit, harus lebih giat berdoa dan belajar, supaya bisa ditempatkan sesuai kampus yang terbaik buat kamu.  

2.       Banyak Pilihan Moda Transportasi


Sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah, kota Semarang tentu saja didukung dengan berbagai moda transportasi. Di tahun 2018, Bandara Internasional Ahmad Yani sudah memiliki wajah baru yang lebih kece. Berbagai jurusan pesawat ke Jakarta, Surabaya, Makassar, Bandung, Denpasar, Pangkalan Bun, dan beberapa kota lainnya bisa langsung diakses dari Semarang. Untuk penerbangan internasional sementara ini sudah tersedia penerbangan ke Singapura dan Malaysia.

Untuk moda transportasi kereta api, letak Semarang di pantai Utara, otomatis dilalui kereta-kereta yang melewati jalur pantura. Kereta jurusan kota-kota wilayah tengah di pulau Jawa seperti Bandung dan Malang, juga bisa dicapai dari Semarang. Sekarang ada kereta Joglosemarkerto, yang menghubungkan kota Semarang dengan kota Solo, Purwokerto, dan Yogya.

Bagaimana dengan jalur darat? Dengan tersambungnya tol-tol di pulau Jawa, untuk menuju Solo dari Semarang hanya perlu waktu tempuh kira-kira satu jam, untuk ke Jakarta enam jam, dan ke Surabaya empat jam. Tersedia bus-bus mulai ekonomi sampai eksekutif juga yang melayani trayek dalam pulau Jawa hingga luar Jawa.

Banyaknya pilihan moda transportasi ini jadi keunggulan kota Semarang, karena berarti mahasiswa akan mudah untuk bepergian, dan mudah dikunjungi oleh orang tua atau keluarganya. Ini sih berdasarkan pengalaman pribadi. Rasanya kalau si anak berada di kota yang bisa dengan mudah didatangi akan membuat hati orang tua lebih tenang.

Untuk bepergian di dalam kota, ada fasilitas bus (BRT) yang melayani rute-rute dari kawasan kampus di Semarang hingga ke banyak tujuan di kota dengan harga sangat terjangkau. Bahkan ada harga khusus untuk mahasiswa, hanya seribu rupiah saja (2018). Tentu saja, layanan taxi dan ojek online juga tersedia di Semarang. Nggak bisa nyetir sendiri? Aman.


3.       Makanan Enak dan Terjangkau


Tahu kan kalau kota Solo itu banyak makanan enak dan banyak orang berburu kuliner di sana, nah sebagai anak yang besar di kota dengan segudang makanan sedap, tinggal di Semarang terasa ‘fine’ buat saya. Cita rasa makanan Semarang cocok di lidah karena cenderung gurih, tidak terlalu manis.
 
Lumpia Semarang nan sedaaap!
Kuliner di kota Semarang merupakan perpaduan Budaya Jawa, Tionghoa, dan Arab yang kental. Jadi makanan-makanan perpaduan tiga budaya itu banyak bisa ditemui. Lunpia salah satunya, adalah kudapan lezat hasil perkawinan budaya Jawa dan Tionghoa. Aneka soto khas Semarang juga bisa jadi pilihan lezat, mengenyangkan dan sehat untuk sarapan. Selain makanan Indonesia, makanan-makanan kekinian juga sudah menjamur terutama di wilayah sekitar kampus. 

Untuk urusan perut, enak deh tinggal di Semarang. Harga makanan juga masih relatif terjangkau buat anak kuliahan. Warteg bertebaran, warung Padang, pecel lele, dan burjo mudah ditemui.

4.       Lalu Lintas Ramah


Sebagai kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia, menurut saya lalu lintas di kota Semarang masih bisa ditoleransi. Jalanan di kota Semarang relatif dalam kondisi baik, dan cukup lebar. Banyak jalan alternatif untuk menuju ke satu lokasi, sehingga tidak menyebabkan jalanan tertentu terlalu padat. Hanya saja yang perlu diwaspadai adalah kontur tanah kota Semarang yang berbukit. Jadi untuk yang baru belajar mengendarai kendaraan bermotor, bisa jadi tantangan tersendiri. Kalau buat saya sih, malah menarik, karena kalau bisa mengendarai mobil di Semarang, berarti terlatih untuk berkendara di segala medan. 

5.       Aneka Ragam Tempat Wisata


Semarang sangat terkenal dengan warisan bangunan-bangunan tuanya. Kawasan Kota Lama, juga Lawang Sewu, menjadi ikon kota yang menarik wisatawan dari berbagai daerah. Kawasan Simpang Lima juga masih menjadi magnet karena dikelilingi aneka jajanan terutama di malam hari, dan adanya car free day di hari Ahad.

Di Semarang kamu bisa menemui wilayah pantai, laut, pelabuhan, yang asyik buat nongkrong dengan biaya super terjangkau, atau malah mau duduk-duduk manis di wilayah perbukitan buat melihat kerlip lampu kota di malam hari. 

Wilayah Kota Semarang mencapai lebih dari 370 kilometer persegi, dengan aneka keunikan yang nggak akan habis untuk dieksplorasi sepanjang masa kuliahmu.  

6.       Ongkir Murah


Di zaman belanja secara daring seperti sekarang, ongkos kirim menjadi pertimbangan kan kalau mau memesan barang secara daring. Apalagi sebagai mahasiswa yang merantau, yang masih mengharap kiriman masakan buatan ibu di rumah. Belum lagi aneka kebutuhan kuliah seringkali lebih murah jika dipesan daring. Semarang lokasinya di tengah-tengah pulau Jawa, jadi biaya ongkir barang relatif lebih terjangkau dari segala daerah di pulau Jawa. Hihi.


7.       Komunitas Positif


Kalau jadi mahasiswa ada baiknya bersosialisasi juga dengan orang-orang lain di luar kampus, supaya pengetahuan berkembang, dan pengalaman bertambah. (Supaya nggak cupu! *eh ada yang teriak). Masyarakat Semarang kadang dibilang cuek, tapi sebetulnya orang Semarang itu justru menggemaskan. *hehe. Kalau buat saya pas, karena nggak kepo-kepo amat, tapi tetap ramah dan perhatian. Sejak dulu kota Semarang menerima banyak pendatang kan, jadi ada banyak ragam suku dan budaya yang melebur di sini. 

Nah, di kota Semarang aneka komunitas mulai tumbuh subur bak jamur. Tinggal rajin-rajin cari info di sosmed. Semua tinggal dipilih sesuai hobi. Bagi yang suka budaya tradisional, bisa gabung di Sobokarti. Ada juga komunitas-komunitas penggemar otomotif, pekerja sosial, olahraga, dan lainnya.

Kalau kamu suka nulis, suka ngeblog bisa dong gabung di Gandjel Rel dan jadi GRes. Gandjel Rel ini adalah komunitas positif di Semarang yang beranggotakan perempuan yang hobi, dan atau berprofesi sebagai bloger.
 
Wahai para calon mahasiswi yang hobi ngeblog, gabung ya dengan keseruan kami-kami ini.
Jadi daripada menghabiskan waktu luang untuk kegiatan tak berfaedah macam: ..... (isilah titik-titik sesuai pengalaman pribadimu), nanti di Semarang bisa tuh bergabung dengan komunitas.
Kegiatan-kegiatan positif dalam komunitas bisa mengembangkan kemampuan tersembunyi kamu, melatih diri berhadapan dengan banyak orang dengan beraneka sifat, juga mengembangkan relasi, semua hal yang sangat bermanfaat untuk kehidupan. *wejanganEmak

Jadi, itu tadi tujuh alasan (versi saya) buat calon mahasiswa untuk memilih kuliah di Semarang.  Ini juga bisa jadi pertimbangan buat para orang tua yang anaknya sudah mau kuliah, tak perlu ragu mengirim  anaknya untuk kuliah di Semarang. Kota Semarang sudah terbiasa menerima pendatang dari berbagai ragam budaya, sehingga lebih terbuka untuk menerima perbedaan.

Selamat belajar dan memilih universitas, kota Semarang bisa jadi pilihan untuk menjadi tempat tinggal sementara, atau barangkali nanti malah seperti saya, jadi warga Semarang, soalnya sudah kadung cinta!



#roadto4thgandjelrel
#blogchallengegandjelrel



Monday, December 31, 2018

Ketukan Asa Pengrajin Wayang Kulit Dusun Butuh Sidowarno


Di sudut Pasar Sidowarno, saya mengamati kegiatan jual beli yang mulai lengang, barangkali karena hari menjelang siang. Sebuah papan petunjuk desa peninggalan mahasiswa KKN terpampang di salah satu sisi pertigaan jalan. “Selamat Datang Desa Sidowarno, The Unique Village and The Hidden Potential” begitu tulisan yang terpampang di papan bercat biru tersebut. Saya bermaksud untuk menuju sebuah dusun di wilayah itu, yang baru saja dicanangkan sebagai Kampung Berseri Astra (KBA) karena potensinya sebagai pusat kerajinan wayang kulit. 

Tetenger Desa Sidowarno
Pasar Sidowarno adalah tempat janjian saya untuk bertemu dengan Baron, salah satu pengrajin wayang kulit di Dusun Butuh. Sebelumnya saya menempuh perjalanan hampir satu jam dengan menggunakan mobil dari pusat Kabupaten Klaten. 

“Mohon maaf sebelumnya kalau nanti rumah saya gedeg (rumah dari bambu). Karena tempatnya mblusuk (terpencil) nanti saya jemput di Pasar Sidowarno biar tidak nyasar (tersesat),” ucap Baron di telepon. 

Tak sampai sepuluh menit menunggu, Baron tiba dengan mengendarai sepeda motor. Mobil yang saya tumpangi kemudian menyusuri jalanan desa beraspal selebar empat meter yang lengang mengikuti Baron menuju rumahnya. Rumah dan bangunan lainnya seperti balai desa, dan rumah-rumah penduduk lebih banyak berada di sisi Timur jalan, sementara sisi yang lain ditumbuhi pepohonan. Itu adalah sisi yang berbatasan dengan sungai Bengawan Solo. Saya melewati bangunan sekolah dasar yang sepi karena sedang musim libur sekolah. Setelah lima menit berkendara, tibalah saya di sebuah tanah lapang dengan rumah-rumah yang berjajar di kedua sisinya. 

Papan petunjuk arah dalam dusun.

Pandangan saya langsung tertuju pada dua lembar kulit kerbau yang dijemur di tengah-tengah halaman. Sementara di dekatnya, seorang laki-laki sedang mengerok kulit kerbau yang dibentangkan dalam rangka bambu. 

Kulit kerbau dijemur di tengah-tengah halaman
Saya mengikuti Baron melangkah menuju salah satu rumah yang di terasnya ada sebuah meja dengan aneka peralatan seperti tatah, palu, dan sebuah wayang kulit setengah jadi. Spanduk bertuliskan “Sanggar Aruming Budaya” menyambut di dinding depan rumah. 

Sanggar Aruming Budaya

Sugeng rawuh, nyuwun pangapunten sakwontenipun (Selamat datang, maaf ala kadarnya),” sambut Baron kemudian ketika saya sudah duduk di dalam rumah. Gelas-gelas teh panas terhidang sembari kami berbincang. 

Saya mendapatkan nomor kontak Baron melalui Wahyu dari Astra Solo dan berkenalan dengan Baron lewat WhatsApp, tiga hari sebelumnya. Namun kehangatan dan keterbukaan Baron mengingatkan saya pada keramahan yang menjadi ciri khas masyarakat pedesaan. Percakapan dengan Baron kemudian berlangsung dengan menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Jawa. (Saya menuliskan di sini terjemahannya dalam bahasa Indonesia.) 

Saya menatap ruang tamu yang luas, dengan lantai keramik yang dipenuhi wayang kulit yang sudah jadi, maupun setengah jadi. Rumah Baron, sama sekali bukan rumah gedeg seperti yang dia sebutkan di telepon. 

Berkenalan dengan Pengrajin Wayang Kulit 


Dusun Butuh adalah salah satu desa yang berada di Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Meskipun terletak dalam wilayah Kabupaten Klaten, Dusun Butuh sangat dekat dari kabupaten tetangganya, yaitu hanya berjarak sembilan kilometer dari pusat kabupaten Sukoharjo. Dari pusat Kabupaten Klaten Dusun Butuh berjarak 28 kilometer, sementara dari kota Solo, Dusun Butuh hanya berjarak kurang dari sepuluh kilometer. 

Desa Sidowarno ini adalah salah satu desa dimana banyak penduduknya berprofesi sebagai pengrajin. Seperti papan nama desa yang artinya “Desa yang Unik dan Menyimpan Potensi Tersembunyi”, desa ini menyimpan keahlian masyarakatnya yang sudah puluhan tahun menekuni aneka kerajinan. Selain wayang kulit, di Desa Sidowarno juga tersimpan kerajinan ukir, kerajinan kaligrafi, dan payet. Kerajinan kaligrafi di atas kulit kambing sudah dipasarkan sampai ke mancanegara. Begitupun kerajinan payet di atas baju pengantin, yang sudah dipakai oleh keluarga presiden RI ke-7 Joko Widodo ketika menggelar hajatan pernikahan. 
Sunardi Baron
Untuk kerajinan wayang kulit, Baron yang memiliki nama lengkap Sunardi Baron, menyebutkan setidaknya ada 75 pengrajin wayang kulit di wilayah Sidowarno, khususnya di Dusun Butuh. Baron sendiri bersama kedua saudaranya, Sukari dan Sunarto adalah keluarga pengrajin wayang. Profesi pengrajin wayang kulit memang telah berlangsung secara turun temurun di Dusun Butuh. Namun demikian bukan berarti hanya keturunan pengrajin yang bisa menjadi pembuat wayang kulit. Baron sendiri justru mendapatkan keahliannnya dari orang lain. 

Semua diawali dari tekad Sismiyanto Sutar, ayah Baron untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya. Sismiyanto meminta anaknya untuk tekun belajar membuat wayang. Meski tidak berprofesi sebagai pengrajin wayang, Sismiyanto ingin anak-anaknya memiliki keahlian tersebut. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, sepulang sekolah Baron rutin belajar membuat wayang dari salah satu pengrajin wayang di dusun Butuh. 

“Bapak tidak ingin saya seperti dirinya. Bapak ingin saya lebih maju. Kalau saya malas, Bapak marah," tutur Baron. “Begitu semangatnya Bapak saya, waktu itu uang yang tidak banyak, sebagiannya dibelikan bahan-bahan untuk membuat wayang,” kenang Baron sedikit berkaca-kaca. 

Selepas belajar di Sekolah Menengah Pertama, Baron fokus untuk menekuni pembuatan wayang kulit hingga merantau ke Jawa Timur. Lima tahun merantau belajar membuat wayang, pria berusia 44 tahun ini kembali ke desanya. Meski demikian perjalanannya menjadi pengrajin wayang bukannya tanpa liku-liku. 

Setelah usahanya membuat wayang mulai mendapatkan hasil, Baron tergoda untuk bertani Buah Melon. Usahanya ini kemudian kandas karena hasil panenannya diambil pengepul tanpa dibayar setimpal. Setelah itu Baron kembali mencoba menekuni bidang lain yaitu menjadi peternak ayam. Kembali usaha ini berujung pada kerugian dan membuat Baron bangkrut karena ribuan ayamnya mati terkena penyakit. 

Setelah mengalami aneka kejadian itu, Baron kemudian kembali memantapkan tekadnya untuk menjadi pengrajin. Baron bersyukur bahwa ayahnya sangat disiplin dan keras mendorong Baron untuk belajar membuat wayang kulit. Terbukti kini membuat wayang adalah keterampilan yang bisa menjadi jalan rezeki untuk diri dan keluarganya. 

Mengenal Pembuatan Wayang Kulit 

Pertunjukan Wayang Kulit di Kabupaten Klaten (Sumber gambar: https://klatenkab.go.id/)

Wayang kulit adalah suatu pertunjukan yang diselenggarakan oleh masyarakat Jawa dan telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Oleh karena itu, wayang kulit sudah dianggap sebagai tradisi atau kebudayaan Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Wujud pertunjukannya berupa boneka wayang yang dibuat dari bahan kulit (biasanya kulit kerbau) yang diperagakan atau dimainkan oleh seniman wayang yang disebut dalang. Seluruh adegan pertunjukan diiringi oleh musik tradisional Jawa yang disebut gamelan. 

Dalang bertugas memainkan wayang sambil duduk bersila di depan layar yang disebut kelir sebagai latar belakang. Pagelaran wayang dapat juga disaksikan dari belakang layar sekalipun yang terlihat hanyalah bayang-bayang wayang. Layar berwarna putih disinari lampu khusus yang disebut blencong. Latar belakang ini disebut “pakeliran” atau oleh orang asing dinamai “shadow puppet”. Dengan demikian Wayang Kulit merupakan satu kesatuan dengan pertunjukan wayang, di mana wayang yang terbuat dari kulit, dalang, gamelan, merupakan satu kesatuan kesenian yang tidak dapat dipisahkan. 

Pada tahun 2003, pertunjukan wayang kulit telah diakui UNESCO sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). 

Transformasi kulit menjadi wayang Arjuna.

Wayang kulit dibuat dari lembaran kulit yang ditatah, dibentuk, serta digambari dengan aneka macam warna, yang dalam tradisi Jawa disebut “disungging” dan dibentuk sedemikian rupa dengan lambang-lambang yang menyerupai wujud aslinya. Untuk wayang berwujud manusia sebagai tokoh-tokoh dalam cerita wayang dibuat dengan sudut pandang dari samping sehingga terlihat pipih. 


Sismiyanto mengerjakan pengerokan kulit kerbau.

Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk membuat satu buah wayang kulit memang panjang. Dua lembar kulit kerbau yang dijemur di halaman adalah proses awalnya. Setelah melalui proses perendaman dan penjemuran, kulit yang masih ditempeli bulu tadi harus dikerok terlebih dahulu. Untuk itu kulit dibentangkan dengan tali pada kerangka bambu. Setelah kulit bersih dari bulu, kulit direndam lagi di aliran sungai Bengawan Solo yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumah Baron. 
Kulit yang sudah dipotong seuai pola, dipentheng pada papan kayu.
Setelahnya kulit dijemur dengan cara dipentheng atau dijemur dengan cara dibentangkan menggunakan paku di atas papan kayu. Biasanya kulit yang dipentheng ini sudah dipotong sesuai model wayang yang akan dibuat. Paku-paku ditatahkan di sekeliling kulit untuk menjaga bentuk kulitnya tetap datar dan tidak bergelung. 
Perangkat menatah wayang
Sunarto menatah wayang
Selanjutnya kulit yang sudah dipotong seukuran wayang itu mulai digambar lebih detail, lalu ditatah sesuai dengan polanya. Bentuk wayang akan mulai tampak setelah proses ini. Proses selanjutnya adalah menyungging atau proses mewarnai. Baron mewarnai wayang kulitnya menggunakan kuas dan cat sablon. Untuk pesanan khusus, wayang kulit juga bisa diwarnai dengan pelapis emas. 

Sukari menyungging wayang dengan prada/ emas.
Bahan pewarna terbuat dari emas
Agar dapat berdiri tegak, kulit yang sudah ditatah dan diwarnai tadi diberi apitan (gapit) dari cempurit yang terbuat dari tanduk. Ujung-ujung tangannya diberi hulu (tuding) terbuat dari tanduk, berguna untuk menggerakkan bagian tangan wayang saat dimainan oleh dalang. Karena bahan baku tanduk yang cukup mahal, mencapai ratusan ribu sebuah, terkadang gapit dibuat dari kayu sejenis rotan. 

Gapit rotan (kiri berwarna coklat muda) dan Gapit dari tanduk (berwarna hitam)

“Membuat wayang tidak mudah, prosesnya panjang, tidak bisa cepat selesai, dan belajarnya juga lama,” ucap Baron. 

Karena itu Baron memahami jika anak-anak muda semakin jarang yang mau berprofesi sebagai pengrajin wayang kulit. Mereka lebih memilih untuk bekerja di tempat-tempat usaha yang banyak berada di sekitar Dusun Butuh. Wilayah Sukoharjo dan Solo Baru yang berbatasan langsung dengan desa memang merupakan pusat industri dan komersial dengan berdirinya pabrik-pabrik dan pusat perbelanjaan. Dekatnya tempat kerja dari rumah, dan kepastian gaji yang didapatkan setiap bulannya, membuat para pemuda lulusan setingkat SMP atau SMA lebih memilih menjadi karyawan. 

Aneka wayang setelah ditatah, sebagian merupakan pesanan dari Jawa Timur.
Menurut Baron, untuk bisa mengetahui dasar-dasar pembuatan wayang, seseorang setidaknya harus belajar setidaknya selama lima bulan secara intensif. 

“Meskipun belajarnya lama, penghasilan yang didapat dari membuat wayang bisa lebih baik dibandingkan gaji di pabrik. Dan buat saya, kebebasan mengatur waktu sendiri adalah salah satu keuntungan yang tidak bisa didapatkan kalau saya kerja di pabrik.” Demikian ungkap Baron. 

Kini melalui sanggar wayang kulit Aruming Budoyo miliknya, selain menerima pembuatan wayang kulit untuk pertunjukan, Baron juga membuat aneka bentuk modifikasi wayang seperti hiasan dinding, kaligrafi dan gantungan kunci untuk suvenir. 

Aneka suvenir gantungan kunci berbentuk wayang
Wayang kulit buatan Baron dijual mulai dari 400 ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Satu buah wayang kulit jug bisa berharga sampai belasan juta rupiah tergantung ukuran dan hiasan akhirnya. Wayang berlapis emas, atau prada tentunya lebih mahal dibandingkan wayang dengan cat biasa. Baron juga pernah membuat wayang berukuran dua meter. Semua dibuatnya sesuai dengan permintaan pelanggan. 

Baron dan cetakan ukuran wayang kulit setinggi dua meter yang pernah dibuatnya.
Wayang kulit bisa dibuat dalam pelbagai ukuran, mulai dari yang disebut Baron sebagai “Caperan” dengan ukuran tinggi sekitar 20 sentimeter, wayang “Kidang Kencanan” yaitu wayang berukuran sedang yang biasa dimainkan oleh dalang anak-anak, dan wayang ukuran biasa. 

Waktu pembuatan wayang kulit bervariasi, tergantung tingkat kesulitannya. Rata-rata satu wayang ukuran biasa bisa diselesaikan dalam waktu dua minggu sampai satu bulan. 

Setelah kurang lebih 30 tahun menekuni usaha pembuatan wayang kulit, konsumen Baron kini tersebar dari Jawa Timur hingga Jakarta. Baron juga rutin mengikuti pameran, salah satunya pameran tahunan Jateng Fair yang diadakan di Semarang. Meskipun sementara ini konsumen langsungnya adalah orang Indonesia, Baron diberi tahu bahwa beberapa wayang hasil karyanya dibawa keluar negeri sebagai hadiah atau suvenir. 

“Saya sendiri tidak tahu wayang saya sudah sampai mana saja. Sementara saya masih di desa sini saja,” gurau Baron. 

Terkadang Baron mendapat pesanan wayang yang cukup banyak dan harus selesai dalam waktu singkat, misalnya untuk memenuhi kebutuhan pentas wayang. Untuk memenuhi pesanan seperti itu, Baron bekerja sama dengan rekan pengrajin wayang kulit lain yang tergabung di dalam KUBE (Kelompok Usaha Bersama) yang diberi nama KUBE Bima. 

Kanan: Anggota KUBE Bima berfoto bersama ASTRA
Kiri:  Andika Jagad Putu, putra sulung Baron sewaktu kecil
Pada tahun 2010 anggota KUBE Bima mencapai puluhan orang. Saat ini anggota KUBE Bima  menyusut hingga belasan orang. Namun Baron tetap optimis bahwa keberadaan KUBE akan mampu mendorong kemajuan pengrajin wayang di desanya. 

“Di KUBE kami bersama-sama bekerja untuk memajukan desa lewat usaha pembuatan wayang kulit. Kuncinya adalah mau bekerjasama.” 

Peran Astra untuk Pengrajin Wayang 


Baron memang tidak sendiri menekuni profesi sebagai pengrajin wayang kulit di Dusun Butuh. Wayang kulit dari Butuh dikenal berkualitas baik sehingga banyak disukai dalang untuk digunakan dalam pentas wayang. 

“Kalau kualitas wayangnya jelek, tidak enak dipakai ndalang. Misalnya buat sabetan, rasanya tidak nyaman dipakai.” 

Dari kiri ke kanan: FX Nanang (ASTRA), Sunardi Baron, Wahyu (ASTRA) ketika Pencanangan Kampung Berseri Astra

Potensi kerajinan wayang yang berkualitas ini disambut baik oleh PT Astra Internasional (ASTRA) dengan mencanangkan Dusun Butuh sebagai Kampung Berseri Astra (KBA) ke 74 se-Indonesia dan yang ke-2 di Jawa Tengah. Disampaikan Baron, keberadaan KUBE menjadi salah satu pertimbangan mengapa ASTRA memilih Dusun Butuh sebagai KBA. 

Pencanangan KBA sendiri merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) ASTRA untuk desa-desa di seluruh Indonesia yang dinilai memiliki potensi tertentu. Potensi-potensi yang ingin dikembangkan ASTRA melalui KBA beragam, yaitu: 

1. Kampung Wisata, yaitu kampung yang menunjukkan suasana asli perkampungan dari aspek sosial ekonomi, budaya, adat istiadat dan keseharian. 
2. Kampung Hijau, yaitu perkampungan dengan lingkungan hijau yang asri dan sehat, dengan penerapan program pelestarian lingkungan dalam segala komponen baik sosial ekonomi, pendidikan, budaya, dan kesehatan masyarakat. 
3. Kampung Produktif, yaitu konsep kampung mandiri yang mampu memenuhi kebutuhan sendiri melalui kegiatan produktif dan menjadi pusat pembelajaran 
4. Kampung Cyber, yaitu kampung modern dengan pemanfaatan teknologi informasi dalam setiap komponen kehidupan kampung terkait administrasi, interaksi sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya. 
5. Kampung Budaya, yaitu kampung yang melestarikan dan mengembangkan potensi adat, tradisi, kesenian, kerajinan, arsitektur, dan tata ruang yang nyata dalam kehidupan sehari-harinya. 

Melalui Program KBA, Astra memberikan kontribusi sosial berkelanjutan kepada masyarakat dengan konsep pengembangan empat pilar program yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Baron bercerita bahwa, Koordinator Wilayah Grup Astra Solo, FX Nanang pernah menyampaikan dalam acara Pencanangan KBA pada bulan Agustus 2018 lalu, bahwa Astra ingin mengangkat sisi budaya di Dusun Butuh, sehingga harapannya Dusun Butuh bisa menjadi destinasi wisata untuk para turis. 

Kedekatan Dukuh Butuh dengan kota Solo merupakan keistimewaan tersendiri karena Solo dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa, yang memiliki dua keraton yaitu Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran. Selain itu kabupaten Klaten juga merupakan daerah perlintasan untuk menuju Yogyakarta, yang dikenal juga sebagai pusat kebudayaa dan sebagai tujuan wisata populer di Indonesia. 

Dengan pencanangan Dusun Butuh sebagai KBA, Astra akan memberikan dukungan berupa program-program yang disesuaikan dengan kebutuhan warga setempat. FX Nanang menyampaikan bahwa bantuan bisa berupa sarana, pelatihan, alat-alat yang dibutuhkan untuk membuat atau mempromosikan produk-produk pengrajin. 

Diharapkan di kemudian hari usaha masyarakat khususnya kerajinan wayang kulit semakin maju. Untuk itu ditargetkan dalam dua atau tiga tahun ke depan potensi yang ada khususnya kerajinan wayang kulit di Dusun Butuh bisa menjadi percontohan dan kebanggan masyarakat. 

Harapan dan upaya Astra itu seiring dengan asa Baron, dan juga pengrajin wayang kulit di Dusun Butuh yang ingin desanya semakin maju. 

“Kalau desanya makin maju, anak-anak muda juga akan makin bangga kerja jadi pengrajin di desa. Anak-anak muda sekarang sukanya kerja di pabrik.” 

Keprihatinan Baron bisa dikatakan mewakili kegelisahan para pengrajin wayang akan penerus keterampilan mereka. Hal ini juga menjadi salah satu yang menjadi perhatian ASTRA yaitu kurangnya regenerasi pengrajin wayang kulit di dusun Butuh. 

Setelah desanya dicanangkan sebagai KBA, Baron berharap ASTRA bisa menjadi kepanjangan tangan para pengrajin untuk semakin mengenalkan Dusun Butuh dan potensinya. 

Mewariskan Ilmu 


Demi keberlanjutan kerajinan wayang kulit di desanya, Baron bertekad untuk mengajarkan keterampilannya ke sebanyak mungkin orang, diawali dari keluarganya sendiri. Untuk mewariskan ilmu pembuatan wayang kulit, Baron sudah mulai melatih anak sulungnya, Andika Jagad Putu yang kini duduk di kelas sembilan. Anak perempuannya, Kanaya, yang masih balita nantinya juga akan diajari membuat wayang kulit. Menurutnya siapapun bisa belajar membuat wayang. Tak terbatas usia dan jenis kelamin. 

Perempuan juga bisa belajar membuat wayang kulit
“Anak-anak SD kelas tiga atau empat sudah bisa mulai dilatih membuat wayang kulit,” tutur Baron. “Saya menerapkan disiplin seperti Bapak dulu untuk anak saya. Meski anak-anak sekarang penanganannya beda dengan zaman dulu.” 

Menurut Baron, anak muda sekarang tidak bisa dipaksa. Agar mau belajar membuat wayang kulit, kuncinya adalah menanamkan kecintaan mereka terlebih dahulu terhadap wayang. Dan salah satu kunci untuk bisa membuat anak muda mencintai wayang adalah mengemas cerita-cerita wayang kulit sedemikian rupa agar menarik generasi muda. 

“Waktu ada film Mahabarata di televisi, pesanan wayang Pandawa, khususnya Arjuna meningkat.” Menurut Baron ini adalah salah satu bukti berhasilnya tayangan tersebut untuk menarik minat masyarakat luas terhadap tokoh-tokoh wayang. Dengan tampilan kemasan pertunjukan yang bagus, dengan memanfaatkan teknologi masa kini, anak-anak bisa diarahkan untuk menjadi semakin mengerti jalan cerita wayang. 

Anak-anak bisa mendapatkan manfaat dari belajar membuat wayang kulit
Belajar membuat wayang kulit juga memiliki sejumlah manfaat. Anak-anak yang belajar membuat wayang kulit, menurut Baron akan mampu memperluas wawasan dan menambah pelajaran budi pekerti, karena tokoh-tokoh dalam wayang kulit mencerminkan jalan cerita kehidupan manusia yang mengandung nilai-nilai luhur. Tokoh-tokoh dalam wayang adalah perlambang nasib baik dan buruk, sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya di dunia. 

Selain itu anak-anak dilatih untuk tekun dan sabar. Membuat gambar wayang, memotong, dan mewarnai dengan motif dan desain yang rumit diperlukan sifat telaten. Kegiatan menatah wayang juga membuat anak-anak berlatih untuk fokus, karena pola-pola wayang yang kecil harus dikerjakan dengan teliti. Mata juga terlatih menjadi tajam dan awas. 

Rumitnya detail tatahan wayang kulit
Terkait dengan dicanangkannya Dusun Butuh sebagai KBA, Baron berharap ASTRA bisa menjadi kepanjangan tangan pengrajin untuk lebih mendorong potensi wayang kulit. Idealnya menurut Baron di desa ada satu tempat khusus yang bisa dipakai untuk menggelar pertunjukan wayang secara rutin. Di tempat itu juga bisa digelar pelatihan atau lokakarya bagi siapapun yang berminat belajar membuat wayang. 

“Saya juga berharap keterampilan membuat wayang ini bisa masuk ke sekolah-sekolah sebagai salah satu pelajaran,” tutur Baron. “Saya siap menerima anak-anak sekolah untuk belajar di rumah ini. Ya seadanya, saya akan menyediakan waktu, asal wayang kulit tidak punah.” 

Baron memang menepati kata-katanya. Di rumahnya, Baron pernah menerima mahasiswa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo jurusan seni Kriya untuk belajar membuat wayang selama empat bulan, tanpa pungutan biaya. Baron dan keluarganya juga tengah mengajarkan seni membuat wayang kulit pada delapan siswa kelas dua belas dari SMA Negeri 1 Polokarto Sukoharjo. Mereka belajar membuat wayang kulit untuk mata ajaran Ujian Praktek Sekolah. 

Siswa SMA belajar menyungging wayang
Anak-anak remaja ini dengan modal bahan-bahan untuk membuat wayang seperti kulit dan cat, diajari oleh Baron dan keluarganya proses membuat wayang kulit dari awal hingga akhir. Dalam sepekan, kelompok siswa ini datang sebanyak satu atau dua kali. Pembagian tugas mereka lakukan, mulai menatah hingga menyungging. Wayang yang sedang mereka kerjakan adalah wayang Punakawan, yaitu Semar. 

Baron menjelaskan wayang Semar lebih mudah dibuat, karena bentuknya lebih besar dengan detail tatahan dan warna yang tidak serumit wayang lainnya.

Indra Permadi, ketua kelompok dari siswa SMAN 1 Polokarto mengatakan bahwa mereka memilih praktek membuat wayang kulit karena ingin beda dari teman-teman lainnya. 

“Wayang itu unik, tidak ada kelompok lain yang membuat wayang selain kami,” ungkap Indra. “Membuat wayang kulit juga sekaligus untuk melestarikan budaya Jawa.” 

Baron bersama siswa-siswa SMAN 1 Polokerto yang belajar membuat wayang kulit
Nantinya wayang yang mereka hasilkan ini akan dilelang di acara sekolah. Para siswa ini menyadari bahwa keterampilan membuat wayang kulit juga bisa menjadi sesuatu yang menghasilkan. Karena itu meskipun sejak bulan September harus menyisihkan waktu dan jarak ekstra menuju rumah Baron, mereka tetap bersemangat. 

Pada semangat belajar anak-anak seperti Indra dan kawan-kawannya inilah harapan Baron bertumpu. Baron berharap semangat anak-anak muda akan mampu menumbuhkan perasaan cinta terhadap wayang, jadi semakin banyak lagi yang mau belajar membuat wayang. 

“Kulo niku mboten ngertos, seneng banget kalih wayang. Dados pripun nggih, mboten neko-neko pengen wayang saged maju lan mboten punah.” 

(Saya itu tidak tahu kenapa, suka sekali dengan wayang. Jadi bagaimana ya, keinginan saya tidak macam-macam, hanya ingin wayang (kulit) ini dapat maju dan tidak punah.) Demikian jawab Baron ketika ditanya apa alasannya begitu bersemangat mengajari anak-anak muda. 

Karena itu Baron merasa bangga dan bersyukur dengan perhatian ASTRA yang peduli pada kemajuan kampung pengrajin wayang kulit seperti di Dusun Butuh. Membuat wayang bagi Baron dan para pengrajin lainnya bukan sekedar upaya mencari nafkah tapi merupakan semangat untuk meneruskan warisan budaya luhur yang turun temurun. 


Asa pada setiap ketukan tatahan wayang kulit.
Sebelum menutup pertemuan dengan saya hari itu, Baron menunjukkan bagaimana caranya menatah wayang. Sembari duduk di meja kerja di teras rumahnya, Baron dengan telaten menggunakan tatah beraneka bentuk untuk memberi pola pada kulit. 

Ketukan tatah yang beradu dengan kulit dan kayu adalah irama kehidupan pengrajin wayang kulit di Dusun Butuh. Ketukan halus, namun harus teguh dan teratur menunjukkan ketekunan dan fokus dalam menjalani profesi yang mereka pilih atas dasar cinta. 

Ketukan yang mengantarkan asa para pengrajin wayang kulit untuk kehidupan desanya yang lebih maju di masa depan. 


Foto: dokumen pribadi dan dokumen Suwardi Baron 
Daftar Pustaka: Wirastodipuro, KRMH. 2006. Ringgit Wacucal. Solo: ISI Press