Sunday, March 25, 2018

Backpackeran ke Bali dengan 100 Ribu

Ada disclaimer dalam tulisan ini. Hehe.

Kemana kamu akan pergi kalau kamu mendapatkan kesempatan untuk pergi kemana saja di Indonesia? Mungkin itu pertanyaan yang bisa mewakili tema Arisan Blogger tentang Destinasi Impian di Indonesia dari Mara dan Erina, duo gadis yang ngehits di sosmed dan dunia perbloggeran kota Semarang.

Kalau pertanyaan itu ditanyakan ke saya, jawabannya: saya pengen pergi ke Bali. Yaah pembaca kecewa.. hihihi. Kok bukan ke Raja Ampat, Labuan Bajo atau Aceh gitu?
Destinasi Impianku: Bali
Kenapa Bali?

Di benak saya, ada beberapa tempat yang membangkitkan nostalgia. Kalau yang dekat, tuh: Yogya, tanah kelahiran saya. Tempat lainnya adalah Bukittinggi, tempat saya KKL bareng teman-teman kuliah. Tempat-tempat dengan kenangan istimewa seperti itu selalu bikin excited, karena ada nuansa dan suasana yang bikin kangen. Gitu. Jadi meskipun saya juga belum pernah ke tempat-tempat indah lainnya, karena kangen, saya tetep pengen ke Bali.

Pengalaman ke Bali waktu masih balita cuma bisa diingat lewat media foto-foto. Zaman itu sih perginya bareng keluarga besar. Selepas itu ke Bali waktu zaman SD, road trip sama ortu dari Solo. Masih terbayang suasana jalan sunyi menuju suatu kawasan Pura yang baru saya tahu sekarang itu Pura Gunung Kawi. Di ingatan saya juga masih lekat gambaran sebuah lukisan di salah satu museum yang kami datangi tentang neraka. Hiii. Saya nggak ngalamin ke Bali bareng teman-teman sekolah, karena waktu itu izin dari sekolahan buat Study Tour cuma mentok sampai ke Bandung.

Tapi selain itu semua, kenangan tentang Bali selanjutnya ini yang paling bikin saya kangen Bali: Perjalanan ke Bali 20 tahun yang lalu.

Road To Bali

Pada suatu masa, kala belum musim ada traveller dan nggak ada sosmed, saya sama tiga teman sekolah pernah backpackeran ke Bali dari Solo. Bermodal uang sekitar 100 ribuan rupiah di saku masing-masing, kami bisa sampai ke Bali dan menginap di sana dua malam. Saya cerita ini sekaligus sebagai catatan buat saya (dan tiga teman saya lainnya) barangkali kalau mau napak tilas.

Pantai Watu Ulo Jember dan fashion anak muda pada masanya. Sarung!
Kami berangkat dari Solo ke Jember naik mobil bapaknya salah satu teman saya yang memang sedang ada proyek di sana. Keesokan pagi sebelum jam enam pagi, tibalah kami di Jember. Hari pertama, kami diantar ke pantai Watu Ulo. Kenapa disebut pantai Watu Ulo, karena ada batu memanjang seperti ular yang menjorok ke laut. Setelah itu kami pindah ke sisi pantai yang lain, yang lebih banyak perahu-perahu dan bisa lihat pemandangan lebih bagus.

Malamnya, kami berembuk, kasak-kusuk tentang rencana perjalanan ke Bali yang sudah kami pikirkan sejak di Solo. Setelah memantapkan niat, waktu malam hari kami jalan-jalan, kami sempetin tuh beli peta Bali. Akhirnya dengan proposal yang tidak rumit, kami diizinkan ke Bali sama bapaknya sahabat saya itu. Tapi besok, jangan hari ini, kurang lebih begitu katanya. (Kalau Ibu saya sih udah tahu kalau saya mau lanjut ke Bali dari Jember.)

Hari kedua di Jember, kami diantar lagi ke Pantai, kali ini Pantai Pasir Putih di Utara. Di sana ada wisata naik perahu, dan pasirnya ternyata coklat. Demi pengiritan kami nggak ngapa-ngapain di sana selain makan bekal.

Menjelang tengah malam, kami diantarkan ke terminal bus. Dan bersyukur dapat bus terakhir malam itu yang menuju Bali. Jangan dibayangkan busnya nyaman, dengan reclining seat dan berAC. Bus kami itu penuh sesak, dengan extra kursi plastik di tengah-tengah deretan kursi. Beruntung kami berempat bisa keangkut naik bus itu semua. Bawaan saya, satu buah travel bag. Bawaan teman-teman saya, ransel masing-masing, gitar, dan radio tape. Jangan ditanya kenapa kok bawa-bawa radio tape segala, saya juga nggak gitu mikirin karena seingat saya sih tiap kami pergi entah itu dekat-dekat ke Tawangmangu aja, radio itu dibawa-bawa terus.

Menurut catatan saya, ongkos bus adalah 7000 rupiah.

Waktu itu tidak ada ponsel. Saya dibekali satu kartu ATM sama ibu saya, dan uang sekitar 100ribu rupiah. Sebelum berangkat (waktu di Solo), kami sepakat “setor” masing-masing uang saku sebesar 80 ribu rupiah. Maksudnya begini, kalau ada pengeluaran bersama seperti makan, bayar tiket masuk, kami nggak ribet lagi ngeluarin dompet masing-masing. Langsung dibayar sama satu orang aja. Kalau pengeluaran pribadi seperti beli oleh-oleh ya tetap urusan masing-masing. Karena satu-satunya perempuan, saya yang jadi bendahara rombongan.

Di dalam bus yang super penuh itu, kami berempat duduknya terpencar. Saya kebagian duduk di sebelah turis Jepang, yang mirip sama James Iha, gitarisnya Smashing Pumpkins. Mungkin karena karakter muka yang mirip, saya merasa aman di sebelah turis tinggi besar itu. Berasa satu rombongan, dan dijagain. Untung dia keren, jadi nggak bete berjam-jam di sebelahnya. Hihi.

Tiba di Bali

Menjelang pagi kami sudah diatas kapal Ferry menuju Gilimanuk dari Ketapang. Kira-kira jam sembilan, kami sampai di Terminal Ubung. Baru turun dari bus, langsung disambut sama supir angkot, yang menawari untuk mengantar kami ke Kuta. Kami bener-bener buta arah, nggak tahu Bali, dan cuma berbekal peta Bali yang kami beli di Jember. Nggak tahu juga mau nginep di mana. Ya udah, ikut dia aja.
Catatan selama di Bali.
Nggak ada catatan berapa ongkos angkutan itu. Berasa nyarter aja karena begitu kami berempat naik, pak supir langsung tancap gas dan kami tiba di hotel Yulia Kuta. Kami menyewa satu kamar dengan satu tempat tidur tanpa kamar mandi untuk saya, seharga 12 ribu (Kamar AB 301). Untuk tiga teman saya, satu kamar dengan kamar mandi seharga 30 ribuan (Kamar B-507). Jadi saya bisa numpang mandi aja di sana, kan. Setiba di kamar, saya langsung tidur, sementara tiga teman saya jalan-jalan.

Hotel Yulia ini masih ada lho, sekarang, coba aja cari Yulia Beach Inn. Lokasinya strategis banget di belakang Kuta Square dan cuma lima menit jalan kaki ke Pantai Kuta. Di sekitarnya banyak banget aneka toko kerajinan dan toko-toko unik lainnya. Katanya jalanan di situ sekarang macetnya bukan main. Tapi tetep kalau ke Bali, saya mau nginep di Hotel Yulia.

Keliling Bali tahun 90-an

Hari pertama di Bali, kami cuma jalan-jalan di seputar hotel. Temen-temen saya sempat masuk Hard Rock Café waktu saya tidur itu, dan cerita kalau di sana cuma berani pesen air mineral. Hihi. Sore harinya kami jalan ke Pantai Kuta. Dan ajaib, di antara jutaan kemungkinan, kami bisa-bisanya ketemu Ibu Susini, guru Bahasa Indonesia kami.

Malamnya kami jalan agak jauh dengan niat cari outletnya kaos Joger. Setelah muter-muter sekitar satu jam, kami tanya sama orang lewat, dan diberitahu kalau Joger sudah tutup. Rupanya jam bukanya cuma sampai sore hari. Kalau sekarang sih, Joger Bali buka dari jam sepuluh pagi sampai jam delapan malam.
Murah ya, 6000an buat makan empat orang. Hihi.

Soal makan di Bali, kami mesti hati-hati, karena konon banyak menu yang tidak boleh kami makan. Jadi demi kehati-hatian, dan pengiritan, malam itu kami makan nasi goreng, bubur ayam dan minumnya teh botol. 6500 rupiah saja untuk berempat. Dari catatan saya, ongkos makan kami memang rata-rata segituan sekali makan untuk berempat! Malam itu kami sempatkan menelepon ke rumah masing-masing, dengan telepon koin, dan modal 100 rupiah untuk percakapan 3 menit!

Hari kedua di Bali, kami memutuskan untuk sewa mobil. Sewanya minta bantuan hotel. Ongkos sewa mobil waktu itu 40 ribu rupiah untuk seharian. (Lepas kunci) Kami isi BBM 15 ribu rupiah. Mobilnya Jimny. Kalau sekarang, rental mobil lepas kunci di Bali ada yang cuma 150 ribuan per-harinya. Tergantung mobilnya apa.

Diantara kami berempat, cuma satu orang yang sudah lancar nyetir. Jadi dia bertugas jadi sopir sepanjang hari itu. Tugas saya duduk di depan sambil njereng peta. Tujuan pertama kami adalah pasar Sukowati. Pasarnya seperti pasar Klewer gitu. Meski begitu ternyata muter-muter di pasar kerajinan bikin waktu tak terasa berlalu. Tiba-tiba sudah jam 12 siang, padahal kami belum sarapan. Bendahara pelit! Hehe. Di Pasar Sukawati ini saya beli bedcover warna pink. Yes bedcover, dan gimana saya bisa masukin bedcover ke dalam travel bag saya sampai ke Solo sungguh misteri.

Tujuan kedua adalah ke Tanah Lot. Dan di sana, -dunia memang selebar daun kelor-, kami ketemu lagi sama bu Susini! Dari catatan saya tiket masuk ke Pura Tanah Lot 1100 rupiah/ orang. Parkir mobil 500 rupiah. Waktu itu ada acara nonton ular di dalam gua dan kami “nyemplungin” uang 1000 rupiah. Saat ini harga tiket masuk Tanah Lot adalah 20 ribu rupiah/ orang dewasa.
Di tebing Tanah Lot. Ini bukan di Studio Foto, lho.
Habis dari tanah Lot kami buru-buru ke Joger. Di sana saya cuma beli selembar kaos. Dengan waktu yang tersisa sebelum petang, kami memburu sunset ke Pura Ulu Watu. Kawasan Ulu Watu waktu itu sungguh sunyi. Suasananya syahdu banget deh. Untuk masuk ke sana, kami membayar tiket masuk sebesar 1000 rupiah/ orang. Sebelum masuk kami harus memakai kain yang diikat ke pinggang. Menontoni sunset di tepian tebing cuma dengan segelintir orang menjadi kenangan indah yang menutup hari itu. Harga tiket Pura Ulu Watu sekarang adalah 20 ribu rupiah/ orang dewasa.


Tiap malam waktu saya sudah tidur, tiga teman saya selalu jalan-jalan keliling. Ada cerita serem ketika mereka sempat dicegat di jalan dan ditawari barang aneh-aneh. Hii.

Pulang

Hari terakhir di Bali adalah hari Jumat. Saya ingat betul karena kami menyusuri jalanan mencari masjid untuk dua teman saya. Pagi harinya masih kami sempatkan main ke Pantai Kuta. Kami sebelumnya berencana naik bus ke Surabaya lalu lanjut dengan kereta api ke Solo. Tapi teman saya usul agar kami cari tiket yang bisa langsung ke Solo saja, biar lebih cepat sampai. Betul juga karena kalau dihitung sejak ke Jember, sudah lima hari kami meninggalkan rumah. Kali-kali aja orang rumah pada kangen.

Sungguh beruntung kami dapat tiket bus, jurusan Bali-Yogyakarta, yang lewat Solo untuk sore hari itu juga. Harganya, nggak tercantum di catatan saya. Sekitar 20 ribuan kayaknya. Kalau sekarang tarif Bus jurusan Bali-Solo mulai 300 ribuan/ orang.

Kami kembali ke hotel untuk berkemas-kemas dan cari oleh-oleh. Fyi, semua perjalanan ini selain waktu sewa mobil, kami lakukan dengan berjalan kaki. Jadi kalau mau backpackeran di Bali, penting untuk tinggal di kawasan yang strategis alias dekat dari mana-mana. Saya dalam hati berterima kasih sama supir angkot yang mengantarkan kami ke Hotel Yulia waktu itu.

Oiya di akhir perjalanan, setelah beli tiket bus pulang, uang kas kami masih nyisa, lho. Ada gunannya kan ngirit makan dan jalan kaki kemana-mana, hoho.

Jam setengah tiga kami sudah siap di kantor agen travel, diantar mobil ke Terminal Ubung. Di sana bus kami sudah menunggu, dan langsung cabut begitu kami naik. Nyaris ditinggal! Kali ini kami duduk bersebelahan, dan busnya ber-AC. Jam setengah delapan malam kami sudah di atas ferry menuju Ketapang. (Lama soalnya antri dua jam di pelabuhan).

Jam setengah sembilan malam, kami sudah melaju di tanah Jawa. Keesokan paginya, kami sudah hampir masuk kota Solo. Sudah nggak sabar ingin segera sampai, kok ya bus ini berhenti dulu di Palur untuk sarapan. Waduh tinggal dikit lagi padahal. Selanjutnya kami diturunkan di depan pintu terminal Tirtonadi, dan bus langsung tancap gas ke Yogya. Cuma kami berempat yang turun di Solo.

Karena pegelnya badan mulai terasa, saya langsung pulang ke rumah naik taxi. Sampai di rumah, sekitar jam delapan pagi dan langsung laporan kedatangan sama ibu saya yang lagi main tenis di lapangan depan rumah.

Ibu saya menyambut, “Lho, kok udah pulang?”

Foto Pura Bratan dari: 

<a href="https://www.freepik.com/free-photos-vectors/background">Background image created by Nikitabuida - Freepik.com</a>



Tuesday, March 20, 2018

Bertualang Bareng Hotel D'Emmerick Salatiga

 

Kalau ambil paket “Camping In The Valley” di d’Emmerick Hotel Salatiga, dengan 700 ribuan per-enam orang, bisa dapat fasilitas menginap satu malam di tenda, traditional dinner, barbeque party dan acara api unggun, sarapan, plus fasilitas menyaksikan sunrise dan acara jogging track. Selain itu kolam renang yang sejuk dan adem juga bisa dinikmati tanpa dipungut biaya lagi.

Kalau blogger, fotografer dan videografer minggu lalu, mendapat undangan untuk merasakan sensasi berkemah plus bertualang di d’Emmerick Hotel dalam acara Blogger Camp. Peserta nggak cuma berasal dari Semarang dan Salatiga tapi juga dari Wonosobo, Pekalongan, sampai Jakarta. Jadi selama dua hari satu malam, kami merasakan fasilitas menginap di tenda, high rope game, panahan, archery battle, barbeque night, plus jeep adventure. Komplit!

The Seru Blogger Camp

Mengapa mau susah-susah camping kalau bisa nginep di hotel. Well, memang sih hotel menyediakan kamar-kamar dengan fasilitas yang lengkap dengan kasur empuk. Tapi siapa juga yang bilang kalau camping di d’Emmerick itu nggak nyaman? Lha wong tinggal datang aja lho. Nggak usah lagi ribet mendirikan tenda, nggak usah cari semak-semak karena kamar mandi dan WC juga tersedia, bersih, dengan air adem yang mengalir.

Sebelum seluruh rangkaian acara, kami dijamu dengan makan siang di Cleverly Eatery, tempat makan yang nyaman di pool sidenya d’Emmerick Hotel. Kami disambut Mbak Dona dan Mas Sigit dari hotel, dan sajian sedap. Chef Cleverly Eatery menyajikan menu-menu andalannya antara lain Gecok Cabut Gunung, Makdulah Nikmat, Saged Sayur Asem, dan Poffertjes. Hehe namanya unik-unik, kan. Kalau penasaran sama rasanya langsung aja ke d’Emmerick hotel, dan datang ke Cleverly Eatery. Semua menu tadi mulai dari 15 ribu rupiah saja!

Gecok Cabut Gunung, di belakangnya ada Poffertjes ngintip
Setelah kenyang dengan jamuan makan siang, kami menuju tempat kami akan bermalam. Untungnya kawasan hotel banyak tanaman yang rindang, jadi menuruni setapak berbatu sambil nggembol ransel nggak terasa terlalu pegel. Tempat tenda-tenda berdiri memang berada di “lembahnya” hotel. Di bawah sana nampak tenda-tenda terpal dengan kapasitas sampai dengan enam orang dewasa. Ngos-ngosan sambil keringatan kami menuju ke lembah hotel.

Cuaca Salatiga di siang hari itu cukup panas, meski kalau ada angin jadi sejuk. Kebayang kalau dulu kawasan d'Emmerick ini pasti dingin banget, karena kurang lebih satu kilometer jaraknya (ke arah kota Salatiga) ada rumah sakit paru. Dulu biasa disebut sanatorium. Biasanya fasilitas kesehatan ini terletak di dataran tinggi yang masih sejuk dan dingin dengan udara bersih. Meskipun sekarang kawasan di sekitar hotel makin ramai, lokasi hotel yang berada di jalan raya menuju kawasan Kopeng ini memang masih termasuk kawasan berhawa sejuk. 

Selain tenda-tenda terpal dengan alas matras empuk, di kawasan perkemahan ada dua bangunan kamar mandi, masing-masing untuk putra dan putri. Bangunan dengan ukuran kurang lebih 8 meter kali 8 meter itu terdiri dari bilik-bilik WC dan bilik shower yang terpisah. Fasilitas ini nyaman banget untuk kelas camping. Di dalamnya ada wastafel-wastafel dengan cermin besar plus sabun cuci tangan dan tissue.

Outbound Game

High Rope diawali wall climbing. (In frame: Leon)
D’Emmerick hotel memiliki fasilitas permainan outdoor yang beragam. Sore itu kami mencoba permainan high rope, archery, dan archery battle. Selain itu ada juga ATV. Permainan high ropenya berupa rangkaian instalasi dari wall climbing, elvis bridge, sepeda, sampai jaring laba-laba. Dengan alasan kesorean, saya nggak main high rope. Hehe. Padahal karena tangan sudah pegel main panahan. Siapa sangka memanah target yang diam aja bisa bikin sedemikian pegel dan memar (kena entakan tali panah). Gimana kalau mau memanah target yang bisa kabur, like someone heart gitu...

Calm, Focus, Brave, Win! Wait, Me Win?
Aneka permainan outdoor nan seru bisa dinikmati siapa saja meskipun tidak menginap di hotel, ya. Tapi ingat ada batas usia untuk tiap-tiap permainan, dan selalu ikuti instruksi dari petugasnya. Safety first!
Aneka Permainan Oudoor yang bisa dipilih.
Selepas permainan yang seru, malam hari kami dijamu lagi sama salah satu menu favorit saya: jagung bakar. Hmmm masih kebayang legit dan gurihnya jagung bakar di Cleverly Eatery, plus anget-anget wedang jahe. Malam yang akrab diisi dengan sharingnya mas Dhave nan cool, the talented mas Ervix, dan Om Sarbu fotografer handal dari Pekalongan plus MC lokal ceria: jeng Isul.
Sharing Session (In Frame: Isul dan Mas Ervix)

Rise Before The Sun
Yang bikin acara Blogger Camp kemarin tambah spesial adalah kesempatan untuk merasakan pengalaman menikmati pemandangan sunrise dari puncak Gunung Telomoyo. Karena itu semua harus bangun pagi-pagi buta alias jam tiga pagi! Banyak diantara kami yang nggak sempat tidur, atau cuma tidur-tidur ayam. Tapi nyawa yang baru setengah ngumpul langsung bangun serentak begitu badan tergoncang-goncang di dalam jeep. Perjalanan Jeep Adventure ini bareng dengan komunitas S4X4tigaAdventureRoad.

Saya tuh, bukan termasuk yang enjoy berkendara di ketinggian. Zaman masih piyik aja, tiap kali diajak piknik ke Tawangmangu sama keluarga, rasanya pengen turun dari mobil saking enggannya naik-naik ke puncak gunung. Urat takut ketinggian sempat putus sekitar usia remaja, karena waktu itu mau turun jurang naik jurang tanpa tali aja santai. Sayangnya abis itu nyambung lagi urat penakutnya.

Jadi, waktu gelap-gelapan di jalan dalam jeep demi sunrise di puncak gunung, berkali-kali saya nanya sama Pak Sony, “kusir” jeep warna jingga yang saya naiki bareng Archa Bella dan Mimi Peri: “Are we there yet?” (To hide the fact that saya nahan pipis)

Selepas menyusuri lereng gunung dengan jalan yang ngepas selebar jeep selama 30 menit, rombongan kami tiba di (hampir) puncak, tepat ketika semburat jingga mulai muncul. Yang disebut “puncak” ini adalah pinggiran jalan yang agak melebar, tempat jeep bisa parkir rada melipir. Dari tempat kami berhenti bisa terlihat kalau di puncak Telomoyo banyak tower-tower telekomunikasi dari berbagai instansi. Dan, ini penting: nggak ada WC. Katanya di dalam pemancar sih ada, tapi harus jalan lagi 10 menit ke atas. Belum tentu dibukain pintu lagi, kalau ada penjaganya hehe. Jadi, harap dikondisikan yaa.

Buru-buru kami solat subuh sebelum matahari meninggi. Tempat solatnya di pinggiran jalan yang nggak terlalu dingin tapi berangin. Wudunya pakai air dari jerigen.
Sunrise, difoto pake kamera ponsel
Suasana ramai beranjak syahdu (biar dramatis) waktu gelap mulai tersingkap. Awan yang menyelimuti kaki gunung memang sedikit menunda matahari tampak di hadapan. Tapi perlahan matahari muncul malu-malu. Tak pantaslah kami protes hanya gara-gara awan karena cuaca cerah sepanjang perjalanan, sehingga ketika mulai terang kami disuguhi pemandangan alam yang menawan.

The sunrise, off course, doesn’t care if we watch it or not. It will keep on being beautiful, even if no one bothers to look at it. 
(Gene Amole)

Cakep!

Deg-degan saya 30 menit tadi (plus mikir 30 menit perjalanan turun nantinya) terbayar lunas. Pakai kembalian lagi. Saya sadar, di mana-mana, jalan menuju puncak memang nggak gampang. The rockiest roads lead to the highest peak. Quotes unknown yang berlaku juga buat perjalanan naik jeep ke Telomoyo.

Oiya, tempat jeep-jeep kami berhenti juga adalah tempat start olah raga paralayang. Tinggi gunung Telomoyo ini lebih dari 1800 mdpl, pantas kalau jadi salah satu landasan olah raga extrim ini. Dan tempat start paralayang ini jadi spot favorit rombongan Blogger Camp buat berfoto. Spot favorit lainnya adalah berpose aneka gaya di atas atap jeep. Duh, saya mah yang jauh-jauh dari jurang dan napak-napak tanah aja.

Yang perlu diperhatikan kalau mau naik ke puncak Telomoyo, di sepanjang jalan saya melihat beberapa titik longsor. Memang longsorannya tidak sampai menutup badan jalan, tapi berarti ketika hujan deras, atau kondisi cuaca ekstrem lainnya, pengunjung perlu waspada. Eh di jalan ternyata ada "air kricikan" di bebatuan yang mirip air terjun, lho.

Nah, kalau ingin naik gunung ini dengan berjalan kaki, di “gerbang” Gunung Telomoyo ada loket yang jual tiket masuk ke kawasan Telomoyo. Nggak mahal kok, lima ribu rupiah saja per-orang. Tempat parkirnya luas, dilengkapi dengan WC yang bersih. Untuk parkir mobil lima ribu rupiah juga. Parkir motor, nggak nanya tapi mestinya lebih murah dari mobil. Waktu perjalanan turun sempat berpapasan dengan beberapa pengendara motor. Motor matic tidak disarankan naik, sih.

Jalanan rusak, di mata saya skala rusaknya (untuk ukuran mobil-mobil kota) adalah 8,5/10. Meski jalanan memungkinkan untuk kendaraan selain jeep, pastikan kondisi kendaraan benar-benar baik dan BBM-nya cukup. Kalau bis sih enggak bisa naik ya. Truk sama pickup kata Pak Sony bisa sampai ke atas. Terutama dinaiki para pengelola dan pemelihara tower-tower telekomunikasi di puncak. Kalau buat ukuran pak Sony dan teman-teman dari S4X4tigaAdventureRoad, sih, jalan di Telomoyo bagaikan melenggang di jalan tol.
Gunung Telomoyo difoto dari kawasan loket.
Menurut saya Gunung Telomoyo ini cocok untuk wisata pemandangan. Oke untuk latihan nafas buat yang mau naik gunung beneran dengan bonus pemandangan keren. Dengan berjalan kaki, rata-rata butuh dua jam, untuk sampai puncak. Tapi di atas sana nggak ada Ind*maret. Bawa bekal minum dan jajan sendiri secukupnya.

Kalau kami sih, selain tinggal duduk geronjalan, karena ikutan paket Jeep Adventure dari d’Emmerick hotel, ada chef yang menyiapkan sarapan. Ha! Ada chef di puncak gunung. Suguhannya mie kuah anget-anget, plus kopi dan teh. (Saya nggak makan tapi, soalnya isi perut belum sempat di unloading.)

Meski begitu untuk naik jeep - menurut saya- kalau sedang hamil, bawa bayi, atau punya masalah kesehatan yang selevel dengan kondisi-kondisi itu, ditunda dulu aja yah.

Klimaks!

Selepas 30 menit menuruni gunung Telomoyo plus 30 menit di jalan aspal menuju Hotel d’Emmerick, saya sudah separuh tidur, membayangkan mandi, lalu gegoleran sebentar sebelum pulang. Ternyata, petualangan ini belum klimaks. Hotel d’Emmercik masih punya paket yang namanya Jeep Trip. Bisa didapatkan mulai dari 250 ribu rupiah untuk 3 orang bisa menikmati satu kali trip dengan jeep di kawasan perkebunan sekeliling hotel.
Jeep Trip di perkebunan seputar hotel.
Di jalan pulang pak Sony memang sempat bilang kalau nanti di halaman hotel tracknya seru dan dijamin bikin teriak teriak karena lahannya miring.

“Gini lho nanjaknya,” kata Pak Sony sambil tangannya dimiringkan sekitar 60 derajat.

Aaah mana ada, pikir saya. Tapi ternyata beneran! Track jeep trip di kawasan perkebunan sekitar hotel ini seru bangeet. Nyenggol-nyenggol dikit deh sama acara offroad di tipi-tipi. Pake acara jeep nyangkut dan keciprat lumpur juga. Mimi Peri dan Archa Bella sampai berlomba teriak paling merdu di kursi belakang. Pak Sony senyum-senyum puas gitu. Rupanya semakin penumpang jejeritan, berarti semakin memuaskanlah acara jeep adventure itu.
Lobby Hotel D'Emmerick, tempat kami disambut datang dan dilepas pulang
Selepas tengah hari acara Blogger Camp usai juga. Kami harus meninggalkan kenangan seru di d’Emmerick Hotel. Diiringi rintik hujan yang seperti ikutan sedih, kami bersiap pulang. Berpisah sementara sama teman-teman keren di Blogger Camp. Ber-tujuh barengan Erina, Mbak Siti, Mas Salman, Leon, Mbak Ika, dan Mbak Wati, dikapteni Pak Babe nya mba Wati, saya beranjak dari sejuknya Salatiga menuju Semarang.

Lain kesempatan pengen banget datang ke d’Emmerick lagi bareng keluarga. Kalau berempat pasti nyaman banget tinggal di salah satu Family Roomnya. Anak-anak (dan bapaknya anak-anak) bisa berenang sekaligus merasakan pengalaman macam-macam outbound gamenya. Saya sih puas dengan gegoleran menikmati udara sejuk sambil nggak masak tapi tetap makan enak. Hehe.

Thank you, d’Emmerick Hotel Salatiga, & Titik Tengah Partnership (yang sudah mencolek saya at the last minute)!

d'Emmerick Hotel Salatiga
Jl. Hasanudin (Jl. Raya Salatiga-Kopeng) KM 4 Salatiga Jawa Tengah.
Telp: 0298-325 498
www.d-emmerickhotel.com

Saturday, February 24, 2018

Kamtibmas Tanggung Jawab Bersama


Siapa yang tidak resah membaca atau mendengar berita terkait gangguan Kamtibmas? Kamtibmas itu adalah akronim dari keamanan dan ketertiban masyarakat. Keamanan berarti kondisi yang bebas dari segala macam bentuk gangguan dan hambatan, sedangkan ketertiban bisa berarti kondisi ketika berbagai kegiatan berlangsung sesuai ketentuan. Rasanya semua orang ingin bisa beraktivitas tanpa harus khawatir dengan tindak kejahatan, dan ingin segala sesuatu berjalan sesuai aturan.

Apa sih gangguan Kamtibmas yang terjadi di sekeliling kita? Gangguan Kamtibmas bisa berupa pencopetan, penjambretan, tawuran, sampai yang belakangan (sayangnya) marak diberitakan adalah begal motor. Jika di zaman dahulu ada copet dan jambret yang tujuannya mengambil barang berharga milik korban, begal motor adalah aksi yang lebih sadis lagi. Tak jarang aksi nekad itu mengakibatkan korban jiwa. Karena itu pada satu kesempatan, Kapolrestabes Semarang, Kombes (Pol) Abiyoso Seno Aji sempat membuat pernyataan tegas terkait begal motor ini yang kemudian menjadi salah tafsir. Biasanya salah tafsir terjadi karena salfok (salah fokus), dan tanpa mau tahu latar belakang masalahnya.

Silaturahmi Supaya Mengerti

Pada hari Rabu, 21 Februari 2018, dalam suasana akrab dan santai, digelar acara Silaturahmi Kapolrestabes dengan media, blogger, dan komunitas di kota Semarang. Sambil lesehan, ngemil gorengan dan jajan pasar, kami bertemu dan bertukar cerita dengan Bapak Kapolrestabes beserta jajarannya. Kalau sebelum-sebelumnya datang ke kantor polisi cuma buat mengurus SIM atau bikin surat laporan kehilangan, kali ini bisa duduk-duduk lesehan sambil selfie dengan polisi. Hehe. Memang benar kalau silaturahmi itu membuat yang jauh menjadi dekat, yang belum kenal menjadi tahu, dengan demikian bisa muncul pengertian satu sama lain.
Sebagai pembuka kami disambut oleh Bapak AKBP Iga DP, yang menyampaikan agar masyarakat dapat lebih bijak dalam penggunaan teknologi informasi. Karena dampak teknologi informasi ini sangat luas. Dalam era begitu terbuka, penggunaan sosial media yang menyentuh segala lapisan masyarakat, statemen yang diniatkan positif bisa menjadi negatif. Masyarakat sama-sama memiliki kekuatan di jemari tangannya, satu “klik” saja untuk menjadi positif atau negatif, adalah pilihan kita. Hati-hati menyebarkan berita yang belum kita yakini kebenarannya. Jika berita yang kita sebarkan membuat resah, jangan-jangan kita jadi pelaku gangguan kamtibmas. Hiii. 

Bapak Kapolrestabes duduk santai diantara peserta silaturahmi
Selanjutnya Bapak Kapolrestabes bergabung bersama kami. Terkait dengan aksi begal motor dan pernyataan beliau yang sempat menuai kontroversi, Bapak Abi mengungkapkan tiga hal. Yang pertama, statemen yang terdengar begitu keras itu sebenarnya bukanlah emosi, melainkan wujud empati terhadap korban dan keluarga korban kejahatan begal motor.

Yang kedua, tidak ada niatan untuk mendorong masyarakat melakukan tindak main hakim sendiri. Statemen itu diharapkan bisa menumbuhkan daya tangkal dan daya cegah dari masyarakat. Pada dasarnya masyarakat didorong untuk lebih sigap dengan keberadaan begal atau perkumpulan yang condong pada kejahatan. Masyarakat tidak perlu ragu-ragu untuk memberikan informasi awal jika melihat potensi sumber aksi kriminalitas dan potensi penganggu keamanan. Polrestabes Semarang telah menyediakan call center di nomor 1500092.

Ketiga, pernyataan itu bermaksud untuk menekan niat pelaku kejahatan agar urung melakukan kejahatan. Bahwa tindakan tegas yang diambil aparat kepolisian terhadap setiap aksi begal motor sudah selayaknya dilakukan jika memang telah membahayakan sesuai aturan dan tanpa melanggar HAM.

Tanggung Jawab Bersama
Add caption
Menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat sudah merupakan kewajiban dan tanggung jawab yang semestinya diwujudkan oleh Kepolisian. Semua dilakukan semata dalam menjalankan tugas dalam rangka mewujudkan dan menciptakan ketertiban, rasa aman, dan nyaman. Diharapkan masyarakat juga memiliki kepedulian dan rasa yang sama untuk menekan tindak kejahatan terkait kamtibmas. Pak Abi mengajak masyarakat untuk menumbuh kembangkan rasa keberanian, kepekaan, dan kepedulian yang sama atas kamtibmas di kota Semarang.


Thursday, February 22, 2018

Lunpia Cik Me Me, Inovasi Kuliner Khas Semarang



Inovasi bisa diartikan sebagai proses pengembangan untuk menciptakan produk atau sistem yang baru. Orang yang inovatif selalu ingin menghadirkan sesuatu yang lebih baik dari pada yang sudah ada sebelumnya. Ketika berkesempatan untuk bertemu dengan Meliani Sugiarto, kesan yang saya dapatkan adalah pemilik Lunpia Cik Me Me ini memiliki semangat dan passion yang menyala untuk melakukan inovasi pada lunpia Semarang.

Inovasi yang Mengedepankan Rasa

Lidah bisa berdusta tapi cita rasa sudah pasti tidak akan pernah berdusta. Itulah yang diyakini oleh Cik Me Me, begitu Meliani Sugiarto biasa dipanggil, waktu membuka lunpia Delight empat tahun silam. Sebagai keturunan asli dari founder lunpia Semarang sekaligus generasi ketiga Lunpia Mataram, Cik Me Me merasa sangat penting baginya untuk melestarikan kuliner asli Semarang ini. Lunpia adalah produk yang sudah mendarah daging pada dirinya. Dengan berbekal pengalaman dan pengetahuan langsungnya berkecimpung di dunia lunpia sejak kecil, didukung langsung oleh sang ayah, maestro chef Tan Yok Tjay, Cik Me Me menciptakan Lunpia yang diberi nama Lunpia Delight.
Lunpia adalah tradisi yang terus dilestarikan dan dikembangkan oleh Cik Me Me
Tak hanya berhenti menciptakan satu rasa lunpia klasik, Cik Me Me terus menciptakan berbagai inovasi, terutama dalam menciptakan aneka varian rasa lunpia. Ada enam produk dari lunpia Cik Me Me yaitu original, plain (vegetarian), crab (kepiting), fish kakap, Kajamu (kambing jantan muda) dan Raja Nusantara (rasa jamur nusantara dengan kacang mete). Semua inovasi rasa lunpia ini sudah diramu sedemikian rupa, melalui puluhan kali percobaan, hingga didapatkan formula alias resep yang tepat.
Logo Lunpia Cik Me Me
Ada kisah mengapa Lunpia Delight yang sudah dikenal luas oleh masyarakat bertransformasi menjadi Lunpia Cik Me Me. Ketika Lunpia Delight berulang tahun yang pertama pada tanggal 20 Februari 2015, Bapak Setda Kota Semarang, Drs Adi Trihananto, Msi menyarankan Cik Me Me untuk menggunakan nama yang lebih selaras dengan identitas budaya Nusantara. Saran itu dianggap sangat bijak dan disambut baik oleh manajemen Lunpia Delight. Sejak saat itu secara bertahap nama Lunpia Delight yang bermakna “Lunpia yang Menyenangkan” berubah menjadi “Lunpia Menyenangkan milik Cik Me Me”. Dengan identitas yang baru yaitu “Lunpia Cik Me Me” menjadi ciri kedaerahan berdasarkan citra budaya sebagai tampilan ikon kuliner kota Semarang.

Gerai Lunpia Ternyaman
Gerai Lunpia Cik Me Me
Lunpia Cik Me Me menempati lokasi yang sama seperti sebelumnya, yaitu di jalan Gajahmada No. 107 Semarang. Lokasinya sangat strategis dengan tempat parkir yang lapang. Yang menarik buat saya waktu tiba adalah tulisan “Mushola Istiqomah” terpampang di kaca lantai dua. Sampai saya kira saya salah alamat. Toko lunpia kok ada tulisan musola?

Begitu menginjakkan kaki ke dalam, kesan kios lunpia yang sempit dan panas langsung menghilang. Suasana begitu lapang dan sejuk. Meja dan kursi makan cukup banyak tersedia, membuat konsumen yang hendak menunggu ataupun hendak makan di tempat bisa mendapatkan tempat yang nyaman. Rupanya ini adalah inovasi lain dari Cik Me Me yang ingin mengubah kesan panas dan sempit dari gerai-gerai lunpia yang telah ada sebelumnya.
Gerai Lunpia Cik Me Me dengan fasilitas lengkap dan bersih
Selain menyediakan enam rasa varian lunpia, gerai Lunpia Cik Me Me juga dilengkapi dengan aneka oleh-oleh yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Keistimewaan lainnya, baru satu-satunya di kota Semarang nih, gerai lunpia yang menyediakan ruang bermain yang menarik bagi anak-anak dan juga musola yang luas dan bersih. Cik Me Me sangat mengerti bahwa para konsumen lunpia yang sebagiannya adalah pejalan dari luar kota, sering membutuhkan fasilitas musola ini. Juga bagi para pengunjung yang membawa anak-anak, bisa memakai fasilitas playground di lantai dua, yang menurut saya lebih bagus dan lengkap daripada sebagian besar tempat bermain anak yang pernah saya datangi. Anak-anak akan gembira menunggu sementara lunpia disiapkan. Jangan-jangan malah nggak mau pulang. Hehe.
Ruangan di lantai dua yang luas dan sejuk
Di lantai dua juga tersedia beberapa set meja dan kursi, dan juga ruang meeting yang dapat disewa dengan membayar sejumlah tertentu. Info dari Cik Me Me, untuk bisa menggunakan ruang meeting harganya mulai dari Rp 50.000/ orang untuk minimal 15 orang. Dengan harga terjangkau, ruang meeting yang nyaman dapat dipergunakan hingga tiga jam lamanya plus dapat hidangan lunpia yang lezat!

Menikmati Lunpia Halal

Bukti lain bahwa Cik Me Me ingin terus membuat lunpia lebih baik, dan bukti bahwa konsumen adalah nomor satu, adalah tekadnya untuk menjadikan Lunpia Cik Me Me sebagai pelopor lunpia bersertifikasi halal MUI. Extra effort ini dilakukan Cik Me Me mengingat bahwa di Indonesia sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam. Dengan sertifikat halal MUI yang kini semakin ketat dengan laporan dan pengawasan rutin ini, masyarakat tak perlu was-was ketika menikmati Lunpia Cik Me Me.
Lunpia Cik Me Me disiapkan fresh setiap hari
Untuk rasa tentunya dikawal ketat oleh manajemen Lunpia Cik Me Me. Lunpia Cik Me Me disiapkan setiap hari di dapur khusus yang langsung diawasi oleh cik Me Me sendiri dan ayahnya, maestro chef Tan Yok Tjay. Rebung yang berkualitas dipilih khusus, harus benar-benar disesuaikan tekstur dan jenisnya dengan aneka varian rasa lunpia. Rebung kemudian dimasak berjam-jam lamanya, agar kaldu meresap, dan menjadi lebih kering. Dengan demikian rasa rebungnya tidak “pesing” seperti lunpia yang kurang tanak dimasak. Dengan dimasak sampai tiga jam untuk rebungnya saja, maka akan keluar aroma masakan dan bumbu-bumbu lezat. Ini juga rupanya salah satu rahasia mengapa Lunpia Cik Me Me tidak mudah basi, meski dikemas tanpa menggunakan kemasan kedap udara.
Varian Rasa Lunpia
Lunpia Cik Me Me harganya bervariasi dari Rp 10.000 untuk lunpia plain alias vegetarian, Rp 15.000 untuk lunpia original dan Rp 22.000 untuk lunpia Fish Kakap, Crab, Kajamu, dan Raja Nusantara. Worthed banget soalnya rasanya lezat dan mengenyangkan. Belum lagi kalau makannya ditambah daun bawang, saus lunpia plus acar dan cabai. Coba saja bayangkan rasa lunpia yang gurih berpadu dengan manis saus lunpia, ditambah pedasnya cabai dan krenyes-krenyes segarnya acar. Nyam! Pantas saja kalau Lunpia Cik Me Me dengan aneka rasa lunpia yang lezat cepat mendapatkan tempat di hati masyarakat, baik itu dari luar kota maupun dalam kota Semarang.

Mau yang basah atau goreng, sama lezatnya. Lunpia goreng dimasak dengan metode deep frying, dalam 25 liter minyak. Karena itu lunpia tidak akan bergelimang minyak. Lunpia Cik Me Me goreng tahan selama 24 jam di luar kulkas, sementara yang basah tahan 8 jam. Jika sudah dimasukkan ke kulkas bisa tahan hingga tiga hari. Akan tahan lebih lama jika masuk ke dalam freezer.
Lunpia Raja Nusantara (Rasa Jamur Nusantara dengan kacang mede)
Cik Me Me membagikan tips untuk menghangatkan lunpia. Untuk menghangatkan lunpia goreng, cukup menggunakan teflon dan sedikit minyak, atau dimasukkan ke dalam oven selama lima menit. Dengan demikian lunpia akan kembali hangat. Untuk lunpia basah, cara menghangatkannya adalah dengan dimasukkan ke dalam magic jar/ penanak nasi.

Jam buka gerai Lunpia Cik Me Me sejak pukul lima pagi hingga last order pukul 10 malam, menjamin setiap pelancong yang hendak membawa lunpia sebagai oleh-oleh bisa mendapatkan Lunpia Cik Me Me yang “fresh” setiap saat.

Kalau tidak sempat ke toko bagaimana? Konsumen tidak perlu risau bin galau karena Lunpia Cik Me Me bisa dipesan antar juga. Untuk setiap pembelian minimal 10 lunpia rasa apa saja, Lunpia Cik Me Me menyediakan layanan free delivery untuk wilayah Semarang. Aneka lunpia ini juga bisa dipaketkan keluar kota. Untuk aneka keperluan, lunpia Cik Me Me bisa customized juga, lho. Misalnya mau bikin lunpia dengan ukuran lebih kecil untuk arisan, bisa banget, tinggal pesan beberapa hari sebelumnya.
Cik Me Me dan kisahnya melestarikan kuliner khas Semarang (foto:Mas Jo)
Lunpia Cik Me Me memang berkomitmen untuk terus berinovasi menghadirkan lunpia yang lezat dan berkualitas, dan meningkatkan aneka layanan yang membuat penggemar lunpia semakin mudah untuk mendapatkan oleh-oleh khas Semarang ini. Praktis, enak, halal!

Lunpia Cik Me Me
Alamat: Jalan Gajahmada 107 Semarang
Telp: 024-3511007/ 085-100-000-727
Jam Buka: 05.00 – 22.00


Friday, February 2, 2018

Bersamamu Indonesia Maju


Saat ini bangsa Indonesia sedang berlayar menuju Indonesia maju dengan melakukan pembangunan di seluruh pelosok Tanah Air. Dalam lima tahun masa pemerintahan Presiden Jokowi sejak tahun 2014, tahun pertama telah dilalui untuk Membangun Pondasi, tahun kedua untuk Percepatan Infrastruktur, dan tahun ketiga adalah untuk Pemerataan yang Berkeadilan.

Peserta Flash Blogging beserta Tim Komunikasi Presiden, Kominfo, dan Dinas Kominfo Jawa Tengah.
Foto: Archa Bella

Hal ini disampaikan oleh bapak Andoko Darta, dari Tim Komunikasi Presiden dalam acara Flash Blogging di Semarang, 2 Februari 2018. Bertempat di Hotel Santika, Flash Blogging yang merupakan kegiatan dari Kominfo dan Dinas Kominfo Provinsi Jawa Tengah, menyampaikan tema tentang “Menuju Indonesia Maju”.

Teguh Membangun Bangsa

Pembangunan infrastruktur sedang gencar dilakukan oleh pemerintah. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan berupa ribuan kilometer jalan baru, pembangunan transportasi terintegrasi dengan mengembangkan kualitas dan kapasitas bandara, pelabuhan, jalan tol, pembangunan bendungan, dan lain-lain.

Gencarnya pembangunan infrastruktur oleh pemerintah dilakukan untuk kemajuan bangsa, bukan untuk memenuhi kepentingan golongan tertentu, atau golongan kaya semata. Salah satunya, bahwa dengan infrastruktur yang baik, maka saluran logistik lancar sehingga harga-harga barang keperluan masyarakat dapat turun. Dengan membangun infrastruktur, akan membuka lapangan pekerjaan untuk puluhan ribu pekerja melalui proyek-proyek pembangunan yang berjalan. Membangun infrastruktur, akan meningkatkan daya saing bangsa Indonesia. Dengan meningkatnya daya saing Indonesia, bangsa kita akan cepat maju. Bangsa Indonesia yang maju akan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Kebijakan Pembangunan Pemerintah: Pemerataan yang Berkeadilan

Pembangunan yang dilakukan juga dilakukan secara merata. Seperti semangat perjalanan pembangunan di tahun ketiga, yaitu Pemerataan yang Berkeadilan.

Dengan semangat pemerataan, pembangunan di kawasan-kawasan 3T (tertinggal, terdepan dan terluar), gencar dilakukan oleh pemerintah. Daerah tertinggal, terdepan dan terluar adalah wajah Indonesia yang harus diperbaiki dan didorong kemajuannya. Kawasan perbatasan adalah beranda terdepan dari bangsa Indonesia. Membangun kawasan 3T ini perlu dilakukan supaya warga di sana turut merasa bangga menjadi bangsa Indonesia. Kawasan ini adalah identitas bangsa.

Pemerataan pembangunan yang dilakukan bukan berarti kesamaan perlakuan. Pemerataan berarti keadilan. Sebagai contoh, selama puluhan tahun merdeka, masyarakat Papua harus membayar berpuluh kali lipat lebih mahal untuk mendapatkan BBM. Kini dengan kebijakan BBM 1 harga, masyarakat di Papua dapat menikmati harga sama dengan di daerah Indonesia lainnya.

Membangun Manusia Indonesia

Sebagai satu kesatuan, pembangunan harus dilakukan secara holistik. Selain membangun fisik, pembangunan harus menyentuh pembangunan non fisik. Setelah membangun infrastruktur, yang juga sangat penting adalah membangun manusia Indonesia.

Presiden Jokowi menyadari bahwa kunci untuk memenangkan persaingan adalah perlunya kontribusi dari sumber daya manusia yang handal. Manusia Indonesia perlu dilatih untuk menjadi sumber daya yang unggul, tangguh, dan bermartabat. Karena itu masyarakat Indonesia perlu untuk terus ditingkatkan kompetensinya dalam setiap profesi dan keahlian yang mereka tekuni.

Membangun manusia Indonesia melalui pendidikan
Manusia Indonesia yang unggul, perlu memiliki semangat persatuan. Indonesia adalah kita. Kita perlu meningkatkan ke"kita"an dibandingkan ke"aku"an atau ke”kami”an. Paham “keakuan” dan “kekamian” cenderung membuat kita hanya mementingkan diri atau kelompoknya sendiri. Akibatnya, kita jadi bekerja sendiri-sendiri atau bekerja hanya dengan kelompoknya sendiri. Indonesia maju bisa dicapai jika seluruh masyarakat mau bekerja bersama-sama. Jika ingin maju, kita harus berjuang bahu-membahu.

Kreatif Menuju Indonesia Maju

“Ask not what your country can do for you, but what you can do for your country.” Sebuah quotes yang sangat terkenal dari presiden Amerika, John F. Kennedy.

Pertanyaan itu juga yang sebaiknya kita tanyakan untuk diri kita sendiri. Apa yang dapat kita lakukan untuk bangsa? Seperti disampaikan oleh Bapak Anto Prabowo, seorang jurnalis senior harian Suara Merdeka, peran yang dimiliki oleh penulis dan blogger di masa kini sangat besar.

Di era keterbukaan informasi, segala kejadian dan informasi yang terjadi sangat mudah mencapai masyarakat. Di era ini pula, berita mencapai masyarakat tanpa ada gate keeper, tanpa ada yang menyaring. Jika dulu berita disampaikan melalui media yang telah melalui dewan redaksi sebagai penyeleksinya, kini yang menyeleksi adalah langsung para pemegang gadget.

Semua orang berlomba merebut perhatian khalayak dengan tulisan-tulisan yang menarik. Karena itu pula, fenomena berita palsu dan hoax telah menjadi permasalahan masyarakat sehari-hari. Sudah menjadi tugas dari blogger untuk menulis berita yang bermanfaat, dan tidak terkontaminasi dengan berita-berita hoax. Kita bisa berperan untuk melawan berita palsu dengan bacaan bermutu. Meningkatkan literasi akan membuat masyarakat lebih pintar, lebih cerdas, memperluas wawasan serta berperan dalam kemajuan bangsa.

Untuk itu kreativitas dalam menulis sangat diperlukan. Karena sesuatu yang kreatif akan lebih disukai oleh orang banyak.

“Creativity is Intelligence Having Fun,” quotes dari Albert Einstein.

Presiden Joko Widodo juga telah menerapkan cara-cara kreatif dan fun ini untuk memberikan informasi dan program-program pemerintah melalui akun-akun sosial media. Penampilan Presiden di beberapa vlog yang sedang memberi makan rusa menjadi perbincangan hangat masyarakat. Tak jarang baju sampai payung yang dipakai Presidenpun menjadi perbincangan.

Berikut adalah akun sosial media Presiden.

Website: Presidenri.go.id
Facebook: Presiden Joko Widodo
Twitter: @Jokowi
Youtube: youtube.com/jokowi
Instagram: @jokowi

Kita harus mulai menggunakan dan mengembangkan cara-cara kreatif untuk meningkatkan rasa kebangsaan. Amerika Serikat, meski mengalami kekalahan di perang Vietnam, membangkitkan semangat bangsanya dengan membuat film yang mengangkat kepahlawanan melalui tokoh-tokoh di film Rambo, dan film perang lainnya.

Penulis-blogger, dapat berperan serta dengan terus menghadirkan tulisan, bacaan, melalui posting-posting yang bermutu di sosial media, yang dibuat dengan cara menarik. Dengan cara yang asyik, kita bisa berperan menyampaikan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi kemajuan Indonesia.

Untuk kemajuan Indonesia, penulis-blogger bisa berkarya dengan tulisan untuk menyemai kebangsaan.

Mencintai Indonesia

Bagaimana bisa membangun kalau kita tidak mencintai bangsa ini? Kita perlu menumbuhkan rasa cinta dan bangga supaya tumbuh perasaan turut memiliki, dan turut ingin memajukan Indonesia. Pepatah Jawa bilang: “Rumangsa melu handarbeni, rumangsa wajib hangrungkebi,” sebuah ajaran kebaikan untuk ikut memiliki dan membela keberadaan negara. Nasihat itu perlu diterapkan dan ditumbuh kembangkan lagi di hati masyarakat Indonesia.

Ketidakpuasan akan keadaan, harus diimbangi dengan perasaan ingin turut memajukan bangsa. Tidak ada gunanya terus “nyinyir” pada keadaan bangsa tapi tidak melakukan apa-apa. Yang diperlukan bangsa ini adalah saran dan kritik yang membangun. Apapun keadaan saat ini, kemajuan Indonesia sangat bergantung dari kita semua. Kita harus terus mengisi ruang-ruang publik dengan hal-hal positif, agar tetap optimis. Kita harus percaya, bahwa bangsa Indonesia sama baiknya dengan bangsa-bangsa yang lain.

Seperti pesan dari bapak Sukardi Rinakit, staf Khusus Presiden: “Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia”.
Bersama Kita Semua Indonesia Maju
Kita semua punya peluang untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia. Sumbangan kita sangat diperlukan. Jangan pernah lelah bekerja. Bersamamu, Indonesia Maju.