Wednesday, June 30, 2021

ASUS, KEDAI KOPI DAN MIMPI

Kapan terakhir kali kamu pergi ke kedai kopi favoritmu? Memesan segelas cappuccino dan sepotong brownies. Menyepi dari ramainya rumah yang penuh keponakan, berusaha menyelesaikan tulisanmu yang mendekati deadline.

Kamu duduk di sudut  sofa biru yang paling empuk. Di atas meja dari gelas pesananmu mengepul aroma kopi segar yang baru saja diseduh. Laptopmu terbuka di atas pangkuan, tapi pikiranmu melayang ke pertemuanmu dengan seseorang di sore itu.

Atau ingatkah waktu kamu melerai debat kusir sahabat-sahabatmu di kedai langganan kalian? Kalian menguasai meja paling besar sejak sore hingga malam hari. Sebagian temanmu ingin tugas dari dosen killer itu selesai secepat mungkin. Mereka protes karena selama berjam-jam jemari mereka terus menari di atas keyboard, sementara sebagian lainnya justru santai menonton series terbaru di laptop yang lain.

Atau kamu dan kolegamu sedang berdebar-debar.  Berulang kali kamu menghafal bagian demi bagian presentasi kalian. Laptop itu terbuka, dengan proyektor menyorot ke satu dinding ruang privat di kedai kopi yang espressonya terkenal di seantero kota. Sebentar lagi seorang calon investor akan tiba. Nasib usaha kalian tergantung dari hasil presentasi siang hari itu.

Inspirasi Ruang Bekerja dari Kedai Kopi

Selain dikenal sebagai mesin pencari paling populer, Google juga terkenal punya desain kantor yang keren dan modern.  Selain menyediakan fasilitas-fasilitas tak biasa seperti salon, studio musik, sampai gym, Google menyediakan kedai-kedai kopi sebagai fasilitas untuk para pekerjanya. Semua karyawan bahkan tamu Google bisa bekerja sambil menikmati aneka menu dan tentu saja, kopi segar dengan gratis.


Salah satu sudut Goggle cafetaria di Tel Aviv
Sumber: https://www.dezeen.com/


Google berhasil membuat suasana kantin kantor menjadi suasana “work cafe” sehingga kantor Google dikenal menjadi tempat yang menyenangkan untuk bekerja.

Desain kantor ala kedai kopi ini kemudian banyak menjadi sumber inspirasi para arsitek dan desainer interior karena dipercaya bahwa di ruangan dimana semua orang bisa bekerja sembari mengobrol santai bahkan makan dan minum, kreatifitas dan produktifitas justru semakin meningkat.

Work in a cafe is more than good coffe.

Seiring dengan semakin pesatnya teknologi khususnya perangkat komputer dan internet, tren orang melakukan pekerjaan di kedai kopi memang semakin meningkat. Ternyata tidak semata karena kedai kopi menyediakan kopi dan camilan favorit, tapi ada hal-hal khusus yang membuat kedai kopi menjadi tempat favorit tidak hanya untuk hang-out, tetapi juga untuk bekerja.

Termasuk kamu, kan?



Salah satu sudut kedai kopi favorit di Semarang
Foto: Dok Pribadi

Sensory Experience

Ada alasan yang ternyata terbukti ilmiah bahwa bekerja di kedai kopi membuat produktifitas dan kreatifitas kita meningkat. Sebuah penelitian di tahun 2012 yang dipublikasikan di Journal of Consumer Research menunjukkan bahwa “low-to moderate level of ambient noise“ alias bunyi-bunyian yang terdengar seperti di kedai kopi dapat meningkatkan kreatifitas. 

Suara orang-orang mengobrol, suara mesin espresso, sayup musik, ditambah semerbak harumnya kopi, menjadi atmosfer tersendiri yang sulit ditemukan di tempat lain.

Peneliti di University of Illinois menemukan bahwa “noise” atau bunyi-bunyian dengan frekuensi sekitar 70 desibel, yang mirip dengan bunyi-bunyian di kedai kopi bisa meningkatkan kreativitas dan produktifitas.

Bahkan sekarang ada aplikasi yang sengaja membuat bunyi ala kedai kopi lengkap dengan suara musik, orang-orang mengobrol, dan mesin kopi. Saya juga sejak setahun belakangan sering bekerja di depan laptop sambil mendengarkan suara-suara dari video ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response) tentang aktivitas di kedai kopi. Mendengar secara berulang-ulang denting gelas beradu dengan sendok, desis uap dari steamer, gesekan pisau yang mengiris aneka kue, membuat perasaan saya nyaman.

Kafein, Tentu saja ;)

Tidak ada kedai kopi yang tidak menyediakan kopi (tentunya), dan salah satu zat yang dikenal banyak terkandung di dalam kopi adalah kafein.

Kafein bekerja dengan cara menstimulasi sistem saraf pusat. Kandungan kafein di dalam kopi yang kita minum akan menimbulkan berbagai reaksi yang ternyata bermanfaat untuk tubuh.  Salah satu manfaatnya adalah untuk meningkatkan fokus dan kewaspadaan.

Mungkin itu sebabnya banyak orang yang mengaku belum benar-benar bangun jika belum menyeruput kopi di pagi hari.

Kopi jika diminum dengan tepat dapat juga dapat menstimulasi endorfin atau “hormon bahagia” yang dibutuhkan otak kita. 

Kalau lagi hepi, bukankah rasanya kita bisa melakukan segalanya?

Jadi terbayang dengan gelas-gelas kopi  yang menemani saya dan teman-teman ketika mesti lembur menyelesaikan tugas-tugas atau berkutat membuat maket. Ketika kuap mulai menyerang, menyeruput kopi seakan menjadi obat penghilang kantuk. Untuk orang yang bukan maniak kopi seperti saya-pun, mencium aroma kopi saja sudah cukup membuat tubuh kembali berenergi.  

Selain kafein, siapa yang tak tergiur dengan aneka kue yang terpajang di display?
Foto: Dok Pribadi

Stimulasi

Di komunitas penulis yang saya ikuti, tak terhitung banyaknya kisah “writer’s block” yang membuat si Penulis merasa kehabisan ide sehingga berbulan-bulan lamanya mandeg berkarya.  

Kadang-kadang ketika sedang mendesain rumah, layar monitor saya juga seakan membeku. Tidak ada bayangan desain rumah yang denahnya baru setengah rampung itu akan menjadi apa. Yang ada saya malah jadi main Solitaire karena tak juga bisa membuat desain yang bagus dan menarik.

Di era internet saat ini, ide atau inspirasi memang lebih mudah untuk didapatkan dari berbagai sumber. Tinggal buka laptop atau smartphone, inspirasi bertebaran di mesin pencari. Terkadang saya juga menonton film atau membaca buku, sebagai stimulasi agar ide kembali mengalir. Atau, salah satu yang paling mujarab: mencari suasana kerja yang berbeda untuk mendapatkan penyegaran. Pergi ke kedai kopi adalah salah satu pilihan yang mudah dan murah ketimbang harus pergi keluar kota.

Tapi kita mungkin tak sadar, salah satu sebab yang membuat ide terasa deras mengalir ketika bekerja di kedai kopi adalah karena di sana kita mendapatkan stimulasi dari segala penjuru. 

Di kedai kopi,  percakapan kecil dari orang yang duduk di seberang kita atau outfit keren dari seorang gadis yang baru muncul dari balik pintu bisa menjadi ide tulisan. Motif dan warna bantal-bantal sofa, indahnya lukisan yang dipajang atau pemandangan dari balik jendela, bisa menjadi inspirasi desain. Bahkan legitnya brownies, atau lagu yang diputar, tiba-tiba bisa membangkitkan energi.  

Suasana yang dinamis di kedai kopi adalah stimulasi kuat yang bisa membuat ide kembali mengalir.


Networking

Bekerja di kedai kopi terkadang membuka kesempatan untuk bertemu dan bahkan berkenalan dengan orang-orang baru. Obrolan rutin dengan barista di kedai kopi langganan kita, tak sadar bisa jadi sarana promosi sehingga jasa kita bisa tersebar ke pelanggan lain.

Kedai kopi juga menjadi tempat favorit ketika akan bertemu dengan klien. Saya juga semakin sering mengadakan pertemuan terkait pekerjaan di kedai kopi langganan. Di sana fasilitas dan peralatan tersedia, makanan dan minuman favorit mudah dipesan, jadi saya tidak perlu lagi repot menyiapkan banyak hal. Suasana yang casual, terkesan santai, justru membuat topik serius bisa dibahas lebih maksimal, ketimbang harus dirapatkan di kantor yang terkesan kaku.

Dulu Semua Hanya Mimpi

Di era 90-an, ketika laptop masih menjadi barang langka dan mahal, tidak terbayang bisa bekerja di di luar rumah atau di luar kantor. Sewaktu masih jadi mahasiswa arsitektur, membuat PC rakitan yang masuk buget tapi bisa memenuhi kebutuhan grafis khususnya AutoCAD, CORELDraw dan 3D Max, menjadi kelaziman. Waktu itu dengan spesifikasi yang sama, harga laptop dibandingkan PC rakitan bisa empat-lima kali lebih mahal.

Kamar kos menjelma bunker tempat berhari-hari kami berkutat dengan tugas-tugas. Dulu bisa mengerjakan tugas sambil ngopi-ngopi cantik di tempat yang keren sungguh jauh dari mimpi. Tentunya di masa lalu tidak leluasa membawa perangkat seperti PC ke mana-mana, kan?

Tapi seiring kemajuan teknologi, segudang fasilitas yang tersedia di kedai-kedai kopi mulai dari kursi yang nyaman, kopi segar, ditambah fasilitas internet, dan terutama laptop yang semakin canggih dan ringan, mimpi itu sudah jadi kenyataan.

ASUS sebagai produsen laptop terkemuka juga makin terdepan dalam membuat mimpi semakin nyata dengan meluncurkan seri VivoBook 15 A516 berlayar lebar yang canggih dan andal.

BIGGER – WIDER SCREEN

Buat arsitek yang sering menggunakan aplikasi grafis seperti AutoCAD dan 3D Max, laptop dengan layar yang lebar akan sangat membantu pekerjaan. Bidang gambar yang lebar membuat bekerja terasa lebih nyaman dan mudah.

Seperti taglinenya: Bigger Dream, Wider Screen, Asus VivoBook 15 A516 jadi pilihan tepat karena punya layar berukuran 15 inchi plus resolusi Full HD. Sudut pandangnya lebar sampai dengan 178°. Bidang kerja yang luas ini cocok banget untuk kerja grafis, karena dengan demikian obyek di dalam monitor bisa terlihat lebih jelas.

Laptop ini juga cocok kalau sedang butuh hiburan nonton serial favorit. Ekspresi si Aktor kesayangan jadi terlihat lebih jelas, kan?

Selain itu, kalau biasanya ketika kerja di tempat yang ramai seperti kedai kopi, kadang kita terganggu karena bayangan orang yang berseliweran terpantul di monitor kita, Asus VivoBook 15 A516 ini dilengkapi dengan lapisan anti glare atau anti silau. Lapisan optik ini akan mereduksi pantulan cahaya di monitor. Kita bisa bekerja dengan lebih fokus.

Fokus itu penting gaes. Jangan kelamaan diam-diam memandangi bayangan gebetan dari layar monitor sementara gambarmu nggak kelar-kelar.

RINGAN DAN STYLISH

Punya laptop dengan layar lebar adalah kemewahan yang di masa lalu seringkali harus dibayar dengan ukuran laptop yang besar dan bobot yang lebih berat.  Tapi membawa Asus VivoBook 15 A516 pundak dan punggung dijamin aman karena laptop ini punya teknologi Nano Edge Display, sehingga ukuran bezelnya lebih tipis ketimbang laptop lain yang berukuran sama. Jadi meskipun layarnya lebih lebar, ukuran Asus VivoBook 15 A516 tak jauh beda dengan laptop berukuran 14 inchi.

Bobot Asus VivoBook 15 A516 ini cuma 1,8 kilogram, termasuk paling enteng untuk ukurannya. Ditambah penampilannya keren dengan dua pilihan warna yaitu Transparent Silver atau Slate Grey. Mau dibawa ke kedai kopi favorit sih hayuk aja. Cukup dimasukkan ke tas cantik yang biasa kamu bawa.

Zaman dulu rasanya malas harus pergi sambil bawa laptop tapi sekarang laptop sudah layaknya ponsel yang selalu dibawa kemana-mana.

“Komputer masa kini memiliki tampilan berbeda karena mereka memang berbeda. Dengan solid-state drive (SSD) dan teknologi terkini, Anda mendapatkan kecepatan, keamanan, ketahanan, dan desain yang cantik. Kami telah melakukan jajak pendapat, dan hasilnya, orang-orang lebih senang saat bepergian dengan PC modern.”

Pasti nyaman menjinjing Asus VivoBook 15 A516 ketika bepergian karena yang namanya kebutuhan bekerja bisa muncul setiap saat. Ketika sedang berlibur saja, tiba-tiba klien bisa menelepon dan minta denahnya diubah hari itu juga.

Catatan: Foto ini pinjamlaptop si Sulung

Prinsip saya: Selalu sedia ASUS sebelum klien minta revisi.

SIAP SUPPORT KERJA CERDASMU

Selain ukuran slim, ringannya bobot, ditambah penampilan yang oke, Asus VivoBook 15 A516 juga siap dipakai kerja cerdas.

 “Laptop dengan prosesor Intel® Core™ 10th Gen series ke atas didesain untuk performa dan mobilitas. Dengan efisiensi yang tinggi serta dimensi thin and light, laptop menawarkan peningkatan performa dan produktivitas untuk penggunanya. Konektivitas WiFi generasi terbaru juga memungkinkan transfer data 3x lebih cepat dibanding generasi sebelumnya.”

Asus VivoBook 15 A516 dilengkapi dengan prosesor intel terbaru ditambah RAM 8GB dan grafis diskrit NVidia(R) MX330. Nggak bakalan masuk lemot-lemot klub kalau lagi buka AutoCAD bareng aplikasi lain.   

Foto: ASUS


Selain dibawa kerja, laptop ini juga nggak nolak kalau diajak main game. Tetap tangguh dan seru! Keyboard Asus VivoBook 15 A516 ini full size dengan desain yang ergonomis, dilengkapi fitur backlit dan ada lampunya gitu jadi bisa dipakai mengetik meski sambil gelap-gelapan. Buat bekerja atau main game, Asus VivoBook 15 A516 tetap nyaman dan asyik.

APLIKASI OFFICE ASLI

Zaman saya kuliah dulu, punya aplikasi office yang asli di perangkat komputer adalah sebuah kemewahan. Harganya itu lho yang kurang bersahabat buat kantong mahasiswa. Jadilah aplikasi yang dipakai hanya seadanya, yang tentunya tidak sehandal aplikasi yang asli.

Semua tipe ASUS Vivobook 15 A516 sudah mamakai sistem operasi Windows 10 Home Edition dan Microsoft Office 2019. Praktis tinggal pakai tanpa harus repot membeli dan menginstal software dulu.

“Nikmati semua manfaat dengan PC yang lengkap – PC sudah termasuk Office Home & Student 2019. Aplikasi Office versi lengkap (Word, Excel dan PowerPoint) memberikan semua fungsi yang dibutuhkan dan diharapkan oleh penggunanya. Penggunaan aplikasi Office seumur hidup dapat memastikan Anda untuk selalu memiliki akses ke fitur yang Anda kenal dan sukai. Dilengkapi dengan 100% aplikasi Office asli, software juga akan terus mendapatkan pembaruan keamanan yang rutin untuk melindungi perangkat, program dan data Anda.”

Dengan aplikasi yang asli di laptop kita, rasanya lebih aman dan nyaman ya dalam bekerja.

RUANG PENYIMPANAN YANG AMAN

Kebutuhan akan ruang penyimpanan yang besar di laptop terus meningkat seiring dengan semakin tingginya resolusi foto, belum lagi file presentasi berupa video, dan file-file grafis lainnya. ASUS VivoBook 15 A516 bisa memenuhi kebutuhan akan ruang penyimpanan yang lega dan aman.

Laptop ini didesain dengan penyimpanan ganda menggunakan SSD Pcle(R) hingga 256 GB dan HDD hingga 1TB. SSD memang punya banyak kelebihan, diantaranya adalah proses booting laptop yang lebih cepat. Cocok sekali untuk software grafis yang terkenal bisa membuat laptop jadi lemot.

Kalau menggunakan ASUS VivoBook 15 A516 ini, aplikasi-aplikasi bisa diinstal di SSD, supaya kinerjanya jauh lebih cepat. Sementara itu file-file pekerjaan, foto-foto dan koleksi film kita bisa disimpan di HDD yang kapasitasnya lebih besar.

Diedit dari Foto ASUS

Bagaimana dengan keamanan data di HDD? ASUS VivoBook 15 A516 memiliki peredam guncangan E-A-R(R) HDD yang melindungi data dari setiap benturan. Perlindungan ini akan bekerja secara otomatis dalam mendeteksi getaran sehingga mengurangi kemungkinan kerusakan HDD. Kalau sedang kepepet kerja di kendaraan misalnya, kita tidak perlu khawatir HDDnya akan rusak.

SOCKET DAN PORT LENGKAP

Foto: ASUS

Saya termasuk orang yang lebih sering menggunakan mouse ketika bekerja di laptop. Terutama ketika sedang bekerja dengan aplikasi grafis.

Di masa seperti sekarang di mana seringkali ada rapat online, kerapkali saya juga harus menghubungkan laptop sekaligus ke layar proyektor, webcam tambahan merekam peserta di ruangan, speaker, dan printer. Belum lagi ada flashdisk yang menancap karena harus mengambil data-data penting dari laptop lain. 

ASUS VivoBook A516 bisa memenuhi kebutuhan ini karena memiliki Port yang lengkap yaitu:

  • Satu port USB-C 3.2 yang 10 kali lebih cepat dari USB 2.0
  • Satu port USB 3.2 type A
  • Dua Port USB 2.0
  • Satu port HDMI
  • Satu slot microSD reader
  • Audio jack

KEAMANAN AKSES

Foto: ASUS

Untuk keamanan tambahan di Laptop ASUS VivoBook 15 A516, kita bisa mengombinasikan fitur Fingerprint Sensor dan Windows Hello sehingga hanya dengan satu sentuhan, bisa langsung mengakses laptop. Dengan begini, orang lain tidak bisa sembarangan mengakses laptop tanpa seizin kita. Mana tahu dalam koleksi foto itu ada si Dia yang rahasia, ya.   


BANYAK PILIHAN

Ada berbagai pilihan varian Asus VivoBook 15 A516 yang bisa disesuaikan dengan buget dan kebutuhanmu, nih.

 

My ASUS

Dukungan ASUS tidak berhenti hanya pada saat laptop berpindah ke pangkuanmu. Dengan aplikasi MyASUS kita bisa mengakses banyak aplikasi ASUS yang bisa membantu kita memaksimalkan fungsi laptop kita.

Dengan bantuan MyASUS kita juga bisa update software, multitask dengan iOS atau ponsel Android, bahkan menghubungi layanan purna jual. Semuanya untuk kenyamanan pengguna laptop ASUS.


When Past Time Became Dreams


Di sebuah kedai kopi di Edinburgh, sebuah dongeng yang tersohor seantero bumi: “Harry Potter” lahir. Penulisnya: JK Rowling, memang sering menghabiskan waktunya untuk menulis di kedai kopi. Tak ada yang tahu pasti apakah pada waktu itu, ditingkahi aroma kopi dan dengung orang mengobrol, Rowling pernah bermimpi bahwa kisah yang tengah ditulisnya akan jadi salah satu kisah yang paling populer di dunia.

Ada kutipan dari Paul Valery, seorang penyair dan filsuf dari Perancis: 

The best way to make your dreams come true is to wake up.

Mau mimpi terwujud seperti kisah Rowling dan Harry Potternya? Kita memang harus bangun dari mimpi, lalu bekerja keras mewujudkannya. Seperti Rowling yang setiap hari mendatangi kedai kopi lalu menulis halaman demi halaman dengan tekun.

Tapi ini kan pandemi, mana bisa kerja dengan leluasa sambil ngopi cantik di kedai kopi seperti dulu? Para pekerja kantoran saja diminta untuk kerja dari rumah.

Memang setelah merasakan hidup di era pandemi Covid-19 selama satu setengah tahun, banyak dari kita ingin hidup kembali seperti dulu. Bisa bepergian dengan leluasa dan bebas dari kekhawatiran. Siapa sangka hal sesederhana ngopi cantik sekarang kembali jadi mimpi?

Well, kata Mike Tyson: 

I'm a dreamer. I have to dream and reach for the stars, 

and if I miss a star then I grab a handful of clouds.

Tidak ada yang salah punya mimpi kembali duduk di sofa biru kesayangan itu sambil menyeruput cappuccino dan mengunyah brownies. Manusia selama berabad-abad terbukti sebagai makhluk adaptif dan kreatif. Sementara belum bisa terwujud karena pandemi, kenapa tidak menghadirkan “kedai kopi” di rumah?

BONUS :) TIPS Menciptakan Suasana Kedai Kopi di Rumah

Foto: ASUS


Siapkan:

1. Tempat duduk paling nyaman.

Tempat duduk paling nyaman ini tidak harus kursi atau sofa.  Ada beberapa orang yang lebih suka kerja sambil lesehan. Silakan saja kalau kamu lebih suka kerja di atas karpet. Salah satu tempat duduk favorit saya untuk kerja di rumah adalah di kasur! Karena kasur ukurannya luas dan dilengkapi dengan bantal-bantal, saya bisa mengubah posisi dari duduk bersandar, bersila, bahkan selonjor dan tengkurap dengan nyaman. Pastikan ruangan tempat kerja ini mendapatkan cahaya yang cukup dan memiliki penghawaan yang baik.

2. Meja untuk meletakkan laptop dan perangkat kerja lainnya misalnya buku catatan. 


Meja ala kedai kopi versi saya. 
Foto: Dok Pribadi

3. Musik/ ambiance yang cocok. 

Salah satu tips dari saya, cobalah bekerja sambil “mendengarkan” video ASMR kedai kopi. Di Youtube ada banyak pilihan suasana kedai kopi dari berbagai negara.

4. Kopi Favorit

Nah, kalau semua sudah siap, silakan melipir ke dapur dan bikin kopi kesukaan, dan jangan lupa camilannya. Nggak mantap kalau bukan kopi segar dari mesin espresso? Di era sekarang kopi dari kedai favorit yang beken itu juga bisa dipesan-antar sampai ke rumah. 

5. Setelah semua siap, -sambil berdoa supaya mimpi ini terwujud- siapkan Asus VivoBook 15 A516nya.

Kerja sambil ngopi cantik di rumah versi ASUS
Foto: ASUS


Kerja sambil ngopi cantik (? ) di rumah versi saya
Foto: Dok Pribadi

Viola! Coffe and best laptop. What more do you need? 

 

“Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS - 15 Inch Modern PC. Bigger Dream, Wider Screen Writing Competition bersama dewirieka.com”

 

Sumber:

https://www.asus.com/id/Laptops/For-Home/Everyday-use/A516

https://www.bbc.com/worklife/article

Tuesday, February 9, 2021

Hadiah Sandra






Satu Minggu Sebelum Pesta Ulang Tahun Sandra

“Setiap tahun hadiah yang dia kasih makin mahal, Nan.”

Kinan refleks mengelus kalung dengan liontin berlian di lehernya, hadiah ulang tahunnya dari Sandra dua tahun yang lalu.  Dia berbisik, “Kata adikku kalung ini harganya hampir sepuluh juta.”

“Aku tahu banget berapa harganya.” Reni berkata lesu. “Kamu jangan bilang Sandra, punyaku kugadai waktu kemarin bayar kontrakan. Heru baru aja mulai kerja lagi, jadi tabunganku nol rupiah.”

“Beneran kamu jual?” Kinan terkejut.

“Aku gadai, Nan,” ralat Reni. “Kalau ada uang nanti kutebus lagi.”

Kinan mendesah. “Well, kalau mau jujur,  aku masih punya utang kartu kredit buat beliin hadiahnya tahun lalu.”

Ooh, tas itu ya? Kamu nyicil berapa lama?”

“Dua puluh empat bulan. Tas itu baru lunas setahun lagi,” keluh Kinan.

Kinan dan Reni menatap selembar kertas merah muda berhias aplikasi renda putih dengan gundah. Di zaman serba digital ini masih ada rupanya orang yang mengirim undangan ulang tahun bak undangan kawinan dan diantar kurir. Amplop undangan itu tidak datang sendirian, ia datang bersama sebuah bingkisan berisi seperangkat alat rias bermerk premium, dan selembar kain bersulam untuk dijahit menjadi baju seragam.

Ulang tahun Sandra yang ke dua puluh lima rupanya akan menjadi lebih istimewa ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Tahun-tahun yang biasanya dirayakan bersama dengan Kinan dan Reni. Sebagai sahabat dekat sejak SMA -ditambah hari ulang tahun mereka yang hanya terpaut masing-masing satu hari- Kinan, Reni, dan Sandra sudah merayakan ulang tahun bersama-sama sejak sepuluh tahun yang lalu.

“Mungkin.... kita nggak perlu kasih Sandra hadiah apa-apa tahun ini. Toh dia udah punya semuanya.”

“Tapi Nan, dia selalu beliin kita hadiah. Belum lagi oleh-olehnya setiap pulang dari luar negeri. Masa kita setahun sekali aja nggak mau beliin dia kado?”

“Bukan nggak mau, Ren, tapi nggak mampu,” keluh Kinan.

“Eh, aku kemarin mikir-mikir mau beliin Sandra ini. Bagus nih, lagi tren, diskon lagi.” Reni menunjukkan satu set baju longgar bermotif shibori dari ponselnya. “Aku juga pengen beli kalo udah gajian.”

Kinan menatap Reni serius. “Ren, kamu nggak ingat cerita Sandra? Waktu dapet oleh-oleh baju kayak gitu dari luar negeri tapi dia nggak suka, trus baju itu....”

“Dia kasih ke asistennya....” Reni menyambung dengan muram.  Setelan seharga dua ratus ribu itu mendadak kehilangan pesonanya.

“Dia sih enak, suaminya kaya tujuh turunan.”

“Nggak cuma itu, tiap hari dia sendiri juga makin kaya, Ren.” Kinan membuka-buka Instagram Sandra. “Satu kali posting begini dia bisa dapet ratusan ribu sampe jutaan.”

“Beruntung banget sih dia. Suami tajir, kerjaan enak. Kerja sehari bisa dapat gajiku sebulan.”

Kinan dan Reni menghela nafas bersamaan untuk kesekian kalinya hari itu. Lumpia udang dengan acar bawang dan saus kental yang terhidang di hadapan mereka belum juga tersentuh.

“Kok bisa ya nasib kita beda banget begini.”

“Dulu padahal Sandra yang sering pinjem PR kamu kan, Ren. Kalau bukan karena kamu rajin ngelesin dia, Sandra bisa-bisa nggak lulus UN, tuh.”

“Kalau nggak dijemput kamu, Sandra pasti sering telat gara-gara mesti naik angkot ke sekolah.”

“Otak kamu yang paling encer sampe bisa dapet beasiswa kuliah.”

“Kamu yang hebat bisa kuliah ke luar negeri.”

“Bukan kuliah, cuma short course,” ralat Kinan cepat.

“Yang penting pernah hidup di Amerika enam bulan. Keren banget, tuh.”

“Dan Sandra cuma kursus kecantikan satu tahun.”

“Semua berubah drastis sejak dia nikah sama Nico.”

“Stop, stop!” Kinan mendadak tersadar kalau sedang julid. “Ren. Ini Sandra, temen kita, dan selalu baik sama kita.”

“Iya, tapi sekarang masalahnya dia selalu kasih kita hadiah mahal-mahal itu. Bikin pusing balesnya.”

Kinan dan Reni tercenung sambil mulai menggigit lumpianya. Di sekeliling mereka antrian orang yang ingin membeli oleh-oleh khas Semarang itu semakin mengular.

“Eh, tahun ini kita kompakan yuk, nggak usah beli hadiah mahal,” usul Kinan setelah lumpianya tandas.

“Trus kita kasih dia apa?”

“Kita bisa beliin bunga, misalnya,” jawab Kinan ragu-ragu.

“Kok bunga sih kayak mau ketemu nenek-nenek, ah.”

“Ren, ini solusi buat kita yang lagi bokek. Apalah nanti hadiahnya kita pikirin. Demi keselamatan dompet kita sendiri, kita mesti kompakan nggak beli hadiah mahal buat Sandra.”

Reni tersenyum. “Oke, deal.”

Satu Hari Sebelum Pesta Ulang Tahun Sandra

“Kamu beli apa?” Kinan tercengang mendengar cerita Reni.

“Bonus dari kantor tiba-tiba cair, Nan,” kilah Reni.

“Tapi bonus kantor bisa kamu tabung, Ren. Keperluan kamu kan banyak,” sesal Kinan. “Mending kamu balikin deh, jamnya.”

“Jujur, aku galau juga habis beli ini. Bonusku langsung amblas.” Reni menimang-nimang kotak berisi jam yang baru dibelinya. “Sandra juga pasti punya jam yang lebih bagus dan mahal. Jangan-jangan jam ini nanti dia kasih buat asistennya juga.”

Kinan mengeluh. “Makanya, kita kan kemarin udah sepakat kalau tahun ini nggak akan beli hadiah mahal buat Sandra.” Dia mendadak kehilangan selera menyendok gelato yang baru saja diantarkan ke mejanya.

“Apa kita patungan aja? Seadanya kamu punya berapa?” harap Reni.

“Sori,  Ren. Aku belum ada job nulis lagi, nih.” Kinan meraih jam dari tangan Reni. “Tapi jam ini  bagus kok. Dan nggak mungkin Sandra ngasih hadiah dari kamu ke orang lain,” hibur Kinan.

“Yah, mungkin hadiah dari Sandra nanti bisa buat ganti jam tangan ini,” cetus Reni.

Kinan menyergah, “Reni!”

Reni meringis. “Sorry, tapi aku desperado, nih!”

Kinan memutar-mutar mangkuk gelatonya. “Tapi.... betul juga ya. Sandra selalu ngasih hadiah yang jauh lebih bagus dari punya kita.”

“Nggak cuma lebih bagus, tapi lebih mahal,” tegas Reni.

“Hadiahnya nanti bisa kita... Ah enggak-enggak.” Kinan buru-buru mengibaskan tangan seperti mengusir nyamuk.

Reni mengerling. “Kenapa enggak?”

“Kamu juga mikirin apa yang aku pikirin?”

Keduanya bertatapan lalu terbahak.

“Parah kamu, Ren.”

“Kamu juga parah.”

“Tapi itu bisa jadi solusi sementara sampai kita punya duit lagi.”

Kinan terdiam lama. Pekerjaannya sebagai penulis lepas memang membuat pendapatannya sering tak pasti. Selama ini tak pernah terpikirkan olehnya untuk menjual hadiah dari Sandra. Atau seperti Reni: menggadaikannya. Sebuah kemungkinan baru yang sangat menggoda.  

“Oke, problem,” ujar Kinan akhirnya. “Kamu udah punya hadiah buat Sandra. Sekarang kamu harus nemenin aku cari hadiah.”

“Serius?”

Kinan bergegas menghabiskan gelatonya, lalu menyeret Reni keluar dari gedung tua tempat cafe favorit mereka berada.  Kartu kreditnya masih menyisakan limit kredit. Masih cukup untuk membayar sepatu yang pernah dilihatnya di salah satu butik itu.

Satu Jam Setelah Pesta Ulang Tahun Sandra

Kamar Sandra (dan Nico) berada di lantai dua dengan pemandangan kerlip lampu kota Semarang di malam hari. Sandra merancang kamarnya seperti kamar para putri raja di buku dongeng kesukaannya. Berada di lereng bukit, rumah itu bagaikan kastil Eropa.

“Kamu kok tahu kalau aku kepingin sepatu ini, Nan? Ukurannya pas lagi!” seru Sandra sambil mencoba sepatu hadiah dari Kinan.  Tumpukan hadiah yang belum dibuka terserak di sekelilingnya.

“Dari dulu kan ukuran kaki kita sama,” senyum Kinan.

And I looove this watch, Ren. Aku pernah tunjukin ke Nico tapi malah kamu duluan yang beliin. Thank you.”

Sandra memeluk erat Reni dan Kinan.

“Tapi sebetulnya kalian nggak usah repot-repot begini. Aku super happy akhirnya kita ketemu dan tetap bisa ngerayain ulang tahun bareng. Aku jarang banget bisa meet-up sama kalian,” sesal Sandra.

“Nggak apa-apa, kita ngerti kok,” hibur Reni.

“Aku sering banget mimpi kita lagi jalan-jalan dan liburan bareng. Dalam minggu ini bahkan hampir tiap hari lho mimpiin kalian,” cerita Sandra sungguh-sungguh.

Setahun belakangan Sandra memang jadi super sibuk. Apalagi setelah followers instagramnya menyentuh angka satu juta. Bahkan tiga bulan terakhir mereka hanya bisa bertemu Sandra lewat video call.

“Itu tandanya kamu kangen kita,” ujar Reni.

“Nico juga bilang begitu. Katanya aku perlu spend quality time bareng kalian. Nico bilang, nggak cuma aku sama dia aja yang perlu honeymoon, tapi aku sama kalian juga.”

Reni dan Kinan mesam-mesem. Memang sejak awal berkenalan, Nico, sang pangeran pemilik rumah segede istana ini juga selalu bersikap baik pada Reni dan Kinan seolah sahabatnya sendiri.

“Nah, minggu lalu mendadak aku dapat ilham.” Ekspresi Sandra tiba-tiba jadi misterius. “Sebenernya ini masih rahasia, tapi aku udah nggak sabar pingin ngasih tahu.”

“Rahasia apa, sih?” Kinan bertanya antusias.

“Jadi gini, tahun kemarin aku liburan sama Nico di resort hotel punya keluarganya di Lombok. So beautiful. Di sana deket sama toko-toko kerajinan kesukaan kamu, Ren. Kamu juga bisa nulis di pinggir pantai sambil lihat sunset, Nan. Aku pikir pasti akan seru kalau kita bisa sama-sama liburan bareng di sana.” Senyum Sandra mengembang. “So...., I’m taking you guys there.”

“Hah?”

“Aku akan atur semuanya: transport, makan, kalian nggak usah mikirin. Kita tinggal janjian kapan bisa sama-sama berangkat.”

“Tapi San...,” Reni menatap Kinan mencari bantuan.

“Masa kita liburan dibayarin kamu gitu, it’s too much,” sambung Kinan.

Sandra menatap kedua sahabatnya bergantian. “Please,” ucapnya penuh harap.  I wish you could accept this. Ini hadiah dari aku.”

“Hadiah?” tanya Kinan.

“Ini hadiah ulang tahun buat my best friends!” lanjut Sandra berseri-seri.

“Hadiah ulang....” Reni tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Matanya nanar menatap Kinan yang balas melongo.

***

Cerita ini adalah fiksi yang diikutsertakan dalam Lomba Blog Menulis Fiksi “Ulang Tahun” yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Semarang Gandjel Rel"



Sumber Gambar:

canva.com 

<a href="https://www.freepik.com/vectors/christmas">Christmas vector created by macrovector - www.freepik.com</a>