Wednesday, January 31, 2018

ASUS X555QA, Laptop Pilihan Keluarga


Kami Memakai ASUS



Tahun 2017 sepertinya memecahkan rekor banyaknya waktu yang saya habiskan untuk bekerja di luar kota. Dalam tahun 2017 saya bolak-balik Semarang-Jakarta lebih dari 10 kali, ke luar Jawa dua kali, belum lagi ke area Jawa Tengah seperti Jogja, Solo, sampai Purbalingga. Memang tidak ada apa-apanya dibandingkan pekerja-pekerja lainnya, yang bisa mondar-mandir keliling Indonesia beberapa kali dalam seminggu. Bahkan kerabat saya yang saking seringnya keluar kota, sampai suka bingung waktu bangun pagi, “Ini saya lagi di mana, ya?” Hehe.

Di semua perjalanan saya ada perangkat selain ponsel yang tidak pernah ketinggalan: LAPTOP. Semua keperluan hidup, utamanya data-data kerjaan, sampai hiburan, tumplek blek di perangkat canggih nan baik hati itu. Sehingga kapanpun dibutuhkan, saya selalu siap. Selama ini saya dan suami yang bekerja sebagai wirausaha sangat terbantu dengan perangkat ASUS andalan: Notebook ASUS EEPad Series, yang sudah menemani kami sejak 2013. Laptop berwarna putih ini sudah membantu kami untuk aneka pekerjaan. Selama ini mulai dari menyusun aneka dokumen, mendesain rumah, mengolah data, sampai dibawa presentasi, laptop ASUS yang tahan banting itu sangat kami andalkan.
ASUS Teman Setiaku

Dengan berjalannya waktu, pemakaian laptop di rumah tidak hanya jadi kebutuhan saya dan ayahnya untuk bekerja, tapi juga untuk anak-anak. Mereka mulai punya aneka kebutuhan, baik untuk sekolah, atau sekedar informasi dan hiburan.

“Bu, aku mau minjem laptop buat lihat tutorial sulap di Youtube,” pinta si Sulung. Dia memang sedang getol belajar sulap.

“Bu, kata bu Guru aku disuruh lihat internet buat nyari bahan PR ku ini.” Ealah, si Bungsu yang masih kelas dua SD pun ikutan punya tugas.

“Bu, boleh lihat video yang kemarin di upload pak Guru? Ada akunya lho ikutan main di sana,” ucap si Sulung (lagi) berseri-seri. Ditambahkannya juga, “Habis itu aku mau cari gambar-gambar paper craft di internet trus mau aku jualin ke temen-temen.” Wah kalau ini Ibu dukung soalnya bisa sambil belajar cari uang saku sendiri. Hehe.

“Bu, tolong nyalain Youtube yang ada suara burung kenarinya dong.” Hah? (Ini sih suara ayahnya hihi)

Tapi tunggu duluuu, kerjaan ibu bikin presentasi juga belum kelar, nih!

Lalu laptop satu-satunya itu dikerubungin empat kepala.

Semua butuh laptop!

Kalau sudah begitu, saya biasanya langsung menimbang urgensi kepentingan anak-anak yang mau ‘pinjam pakai’ laptop. Kalau nggak ada deadline pekerjaan, biasanya saya serahkan laptop, sekalian saya bisa selonjoran sebentar.

Dampingi Anak Memakai Laptop
Selalu dampingi anak ketika pakai laptop (Foto diambil di toko furniture dengan laptop mainan hehe)
Eh, tapi bijaksana nggak sih, kalau anak-anak sudah pakai laptop, apalagi buat internetan? Apalagi di dunia yang semakin terbuka semacam ini, konten-konten negatif mulai dari pornografi (ini yang paling bikin ibu-ibu syok), predator anak yang berkeliaran bebas, sampai berita hoax menghantui keluarga-keluarga di Indonesia.

Terus terang saya tidak terlalu ketat membatasi penggunaan teknologi khususnya yang berhubungan dengan internet dan tentunya perangkat yang dipakai baik itu ponsel, PC, atau laptop. Saya tidak punya peraturan hanya boleh mengakses di hari atau jam tertentu. Selama mereka memang membutuhkan, biasanya saya perbolehkan. Buat saya yang penting anak-anak tetap diawasi selama memakai laptop, mengakses internet, dan menurut dengan batasan waktu yang saya berikan.

Dari sebuah acara yang memaparkan tentang dampak internet untuk keluarga, saya mencatat beberapa hal penting ketika mengawal anak-anak ketika memakai laptop khususnya ketika terhubung dengan internet:

1. Menjadi teladan bagi anak-anak

Sebelum memberi wejangan, apalagi larangan bagi anak-anak, sebagai orang tua juga harus memberikan teladan dengan memakai laptop dan berinternet dengan sehat. Survey membuktikan banyak anak-anak justru terpapar konten negatif pertama kali dari perangkat milik orang tuanya sendiri.

2. Memberikan pengertian kepada anak-anak akan bahaya konten negatif

Tentunya pengertian bisa disesuaikan dengan usia dari anak-anak. Jelaskan bahwa kecanduan akan konten negatif akan merusak otaknya dengan bahasa yang sesuai. Ajari juga anak-anak untuk mampu menolak pengaruh dari luar, misalnya dari teman-temannya jika mereka diajak untuk mengakses konten negatif.

3. Pasang aneka filter di laptop
Inilah gunanya orang tua melek teknologi. Aneka perangkat dan fitur tambahan sebagai pelindung pertama bagi anak-anak dari konten negatif sudah tersedia.


4. Mengawasi Jenis Permainan/ tontonan yang diakses anak
Meskipun sudah memberikan “pagar” terhadap konten negatif, orang tua tidak bisa lalai terhadap apa yang sesungguhnya anak-anak mainkan atau tonton melalui laptop. Seringkali permainan meski terlihat “tidak berbahaya” tetapi mengandung konten yang tidak patut untuk anak-anak. Tontonan di situs pemutar video juga tidak melulu aman, meskipun kita sudah memasang mode: Restricted.
Sistem rating yang harus dipahami orang tua

5. Peka terhadap perubahan sikap anak

Perubahan-perubahan yang mengarah pada pemakaian perangkat yang patut diwaspadai antara lain: buru-buru menutup layar monitor ketika kita datang, anak hanya menyalakan laptop di malam hari, atau menarik diri dari pergaulan, atau menemukan file mencurigakan di laptop.

6. Menjalin komunikasi yang baik dengan anak
Tanpa ada komunikasi yang baik antara anak dan orang tua, rasanya mustahil semua hal di atas bisa dilakukan.

Mengawal perkembangan anak masa kini memang akan selalu bersinggungan dengan yang namanya teknologi. Sebagai orang tua harus selalu mengupgrade diri seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat. Saya juga sangat terbantu dengan adanya internet, karena segala informasi dan keperluan bisa diakses dengan lebih cepat, apalagi kalau didukung dengan perangkat yang mumpuni.

Setelah lima tahun didukung perangkat ASUS, saya pikir saatnya juga mengupgrade laptop kami, dan tentunya ASUS tetap menjadi Top Of Mind. Pangsa pasar laptop consumer ASUS di Indonesia memang sangat kuat, hingga September 2017 sebesar 41,9% dan terus tumbuh. Belum lagi ASUS berhasil meraih TOP Brand Award untuk kategori bisnis laptop di 2017.

Karena terus berinovasi, ASUS juga memberikan banyak pilihan bagi konsumennya. Terutama dengan hadirnya berbagai varian notebook untuk consumer mainstream. Hmm jadi punya banyak pilihan dari ASUS nih. Menjelang akhir tahun 2017, ASUS meluncurkan notebook X-series dengan harga terjangkau yang cocok untuk bekerja dan juga untuk hiburan atau bermain. Hm.. dari rententan laptop ASUS X-Series ini, kayaknya seri ASUS X555QA yang paling pas buat ibunya, bapaknya, juga anak-anak. Cocok buat empat kepala!

Kenapa ASUS X555QA
ASUS X555QA yang mumpuni. (Sumber gambar:ASUS.com)
Harga terjangkau

Sebagai keluarga dengan aneka kebutuhan, soal harga ini menjadi pertimbangan utama: Bagaimana dengan harga yang paling terjangkau kami bisa mendapatkan manfaat maksimal. Laptop X555QA dengan harga mulai dari enam jutaan sangat pas bagi kami. Belum lagi seperti notebook-notebook lain yang dihadirkan setelah November 2017, ASUS juga sudah melengkapi X555QA dengan sistem operasi Windows 10 di dalamnya. Ini penting karena praktis, kami tinggal pakai dan tidak perlu repot menginstal sistem operasi sebelumnya.

Kapasitas Penyimpanan Besar

Sebagai pengepul dokumen baik itu foto maupun video, saya membutuhkan kapasitas simpan yang besar. Demi kelancaran pekerjaan, data-data kantor dari bertahun-tahun yang lalu juga harus bisa tertampung. Belum lagi video-video tutorial yang sering diunduh anak-anak juga butuh tempatnya sendiri. ASUS X555QA punya kapasitas penyimpanan yang cukup luas, mencapai 1TB alias 1.000GB SATA HDD.

Laptop Responsif dan Handal

Kalau sedang bekerja lalu laptop sering lemot akan membuat mood turun dan akibatnya produktivitas kerja tidak maksimal. Didukung dengan prosesor AMD 10-9620p yang punya empat inti prosesor (quad core) dan grafis berbasis Radeon R5. AMD A10-9620P ini merupakan APU kelas menengah berbasis Bristol Ridge (prosesor APU generasi ke-7) dengan empat core (dua modul Excavator) bekerja di kecepatan 2,5GHz sampai 3,4GHz.

Dalam pengertian simpel saya, nggak bakalan sering “hang”, atau nggak akan lemot, meski saya membuka banyak aplikasi sekaligus. Soalnya saya sering bekerja buka aplikasi pengolah kata, pengolah gambar, sambil “menonton” film meski hanya mendengarkan dialog/ suaranya saja. Hehe.

Anak-anak juga pasti akan puas menonton aneka video dengan tampilan gambar yang bagus berkat grafis Radeon R5 uang terdiri dari 384 shader core dan 6 compute core serta kontroler memori dual channel DDR4-18600. Prosesor ini performanya lebih tinggi dibandingkan dengan FX-8800P yang merupakan versi flagship terdahulu. Belum lagi audio bersertifikasi ASUS SonicMaster sehingga kualitas suara yang dihasilkan makin memuaskan.

ASUS X555QA juga merupakan laptop yang responsif karena dengan fitur resume 2 detik, dari kondisi sleep mode saya bisa langsung memakai laptop ini kapan saja dengan cepat.

Baterai awet

Sejak zaman dahulu, alasan memiliki laptop salah satunya tentunya karena kemampuannya untuk “mobile” alias berpindah-pindah. Membawa laptop berarti tidak perlu “hinggap” di dekat colokan terus menerus. Jadi buat kami punya laptop dengan baterai yang awet is a must. ASUS menggunakan baterai Li-Polymer sehingga keawetannya sampai 2,5 kali lebih baik dibandingkan dibandingkan dengan baterai silinder Li-Ion biasa.

Baterainya juga akan tetap awet meski telah mengalami ratusan siklus pengisian ulang. Ini berkat teknologi ekslusif yang digunakan, sehingga baterai masih tetap mampu menyimpan setidaknya hingga 80% dari kapasitas aslinya sejak baru dibeli. Nah!

Layanan Service dan Purna Jual Mumpuni

Dengan garansi penuh dari ASUS termasuk service dan sparepart selama dua tahun, dan berlaku global, kami tidak akan ragu memilih ASUS X555QA. Tak heran ASUS menguasai pangsa pasar laptop di Indonesia ya, pelayanannya mudah diakses dari mana-mana!

Warna-warni ASUS X555QA Sumber gambar: www.bocahrenyah.com

Wah mantap ya ASUS X555QA ini. Rasa-rasanya semua anggota keluarga setuju kalau laptop ini yang jadi pilihan. Buktinya ada empat kepala manggut-manggut ketika menatap desain ASUS X555QA yang stylish dengan banyak pilihan warna cantik.

“Yang merah!”
“Aku yang kuning, cerah!”
“Bagus hitam, lah.”
“Ah, favorit ibu tetap yang putih.”

Artikel ini diikutsertakan pada Blog Competition ASUS AMD - Laptop For Everyone yang diselenggarakan oleh bocahrenyah.com

Tuesday, January 30, 2018

Menulis Resolusi dengan SMART

Resolusi Tahun Baru
Bingung tahun baru ditodong bikin resolusi? Boro-boro mikirin resolusi, lha wong mau ngapain aja besok ga jelas, apalagi disuruh mikir mau ngapain sepanjang tahun. Padahal konon, resolusi itu penting sebagai salah satu penunjuk arah hidup ke depannya. Resolusi bisa jadi sebuah tujuan yang bisa membuat langkah-langkah kita menjadi semakin terarah. Hehe. Tapinya saya juga bukan tipe yang suka bikin resolusi. Mungkin itu ya sebabnya hidup saya seolah tak terarah. Walah malah curcol.

Itulah sebabnya lama banget naikin tulisan ini karena tadinya saya nggak punya ide mau nulis apa dengan tema “Resolusi 2018”. Gagasan dari mbak blogger dan volunteer yang menyebut dirinya Embak Kantoran (yang sering jalan-jalan): Lestari alias Taro di tema Arisan Gandjel Rel kali ini. Saya nggak ingat kapan terakhir bikin resolusi buat diri saya sendiri. (Jangan-jangan nggak pernah.)

Arti resolusi menurut KBBI adalah: resolusi/re·so·lu·si/ /rĂ©solusi/ n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal: rapat akhirnya mengeluarkan suatu -- yang akan diajukan kepada pemerintah

Sedangkan arti yang lebih cocok dengan dengan tema tulisan ini bisa dibilang: tekad (afdolnya tertulis) dari seseorang untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dari pada sebelumnya.

Terus kenapa kok resolusi ditulis pada awal tahun? Kalau menurut saya sih karena momentum aja. Bagi sebagian besar orang, lazim kalau ada peristiwa khusus atau sesuatu perubahan dijadikan titik tolak perbaikan. Ada yang bikin resolusi di awal tahun, waktu ulang tahun, atau setelah mengalami peristiwa yang mengubah hidup.

Resolusi itu, meski terdengar seperti seuatu yang super penting, ternyata nggak mesti yang “wah” atau extravaganza. Misalnya resolusi keliling dunia dalam setahun atau resolusi berenang menyebrangi selat Sunda. Mark Zucherberg aja pernah punya resolusi: ingin pakai dasi setiap hari. Nah simpel kan!

Tapi sesederhana apapun resolusi yang kita bikin, mestinya kita harus buat resolusi yang baik. Resolusi kita meski belum bisa mewujudkan perdamaian dunia, setidaknya harus mengandung nilai ibadah, bermanfaat bagi diri kita sendiri, dan lebih baik lagi buat orang lain. Trus gimana caranya bikin resolusi?

Membuat Resolusi yang SMART
SMART untuk resolusimu



S.M.A.R.T ini adalah sebuah konsep yang dipakai untuk menetapkan target atau tujuan. Biasanya sama orang kantoran dipakai untuk manajemen proyek, atau pengembangan SDM. Konsep ini pertama kali digunakan oleh George T. Doran pada tahun 1981. SMART adalah akronim dari: Spesific Measurable, Achievable, Realistic, Timely. Kalau dihubungkan dengan resolusi kira-kira begini:

S: Spesific

Baiknya kita menuliskan definisi dari resolusi kita. Kalau kita nulis resolusi: Olahraga lebih sering. Itu artinya kurang spesifik. Olahraga apa? Apakah jalan kaki sudah disebut olah raga? Seberapa banyak itu “sering”? Apakah seminggu sekali atau seminggu tiga kali? Nah akan lebih jelas kalau kita menulisnya misalkan: Jogging 200 km dalam setahun.

M: Measurable, bisa dibilang terukur. Kalau tidak dapat diukur, bagaimana kita tahu kalau resolusi kita berhasil dilakukan atau belum?

Nah balik lagi ke resolusi jogging 200 km dalam setahun tadi, ada ukuran atau target yang jelas sebagai tolak ukur keberhasilan kita. Misalnya kelak di tanggal 31 Desember kita baru jogging 199 km, berarti kurang sedikit lagi, resolusi kita tercapai.

200 km memang hampir sama dengan jogging bolak balik Semarang-Solo. Tapi kalau itu target setahun, sementara dalam satu tahun ada 365 hari, jadi tinggal dibagi aja: 200:365 = 0,54 km alias 540 meter perhari. Tapi nggak mungkin setiap hari jogging, ya udah anggap dalam setahun ada 100 hari olah raga, alias sekitar 3 hari sekali, jadi tiap kali hanya perlu jogging 2 km untuk mencapai resolusi.

A: Achievable: alias “mungkin” rasa-rasanya untuk kita lakukan. Jangan bikin resolusi yang ujung-ujungnya bikin males dan baper. Misalnya resolusi menikah tahun ini untuk para jo... ups, ga jadi, nanti baper. Makanya resolusi satu orang dengan yang lainnya nggak bisa dipukul rata. Kapasitas setiap orang jelas berbeda-beda. Dan juga jangan bikin resolusi yang “nggak mungkin”, misal resolusi, mau tambah tinggi 5cm dalam setahun, sementara umur kita sudah 25 tahun.

R: Realistic.

Bikin resolusi yang tidak realistis atau sangat berat akan membuat kita kesulitan, yang bisa bikin kita menyerah sebelum mulai. Selain itu resolusi dibikin agar kita realistis dalam memenuhinya. Start slowly but sure. Seperti jogging 200 km dalam setahun tadi, kalau dalam seminggu pertama kita maksain lari 100 km misalnya, jelas belum-belum kita akan sengsara, akibatnya jadi males buat menyelesaikannya.

T: Time Based

Inilah untungnya punya resolusi yang jelas. Kita jadi tahu bagaimana menyelesaikan resolusi yang kita buat. Dengan resolusi jogging 200km dalam setahun, dan sekarang sudah akhir Januari, berarti tinggal 235 hari lagi. Kalau ingin resolusi tercapai, harus buru-buru dilakukan.

Nah, Jadi, gimana dengan resolusimu? Sudah SMART belum? Kalau belum, coba bikin lagi. Nggak ada yang bilang kalau resolusi itu harus dibikin di awal tahun. Kapanpun merasa diri harus lebih baik lagi, sok atuh bikin resolusi yang baru.

Buat saya juga nih, jadinya kepengen menuliskan resolusi. Dengan panduan SMART, rasanya jadi lebih mudah. Ini bocoran resolusi saya di tahun ini. Dikiit aja.
Semangat mewujudkan resolusi!

Resolusi 2018
(angka tidak menunjukkan prioritas):

1. Mengurangi omelan (bukan meniadakan, karena kayaknya maksa banget hihi) yang tadinya bisa beberapa kali sehari menjadi maksimal tiga kali dalam seminggu. Hm, buat saya ini penting, karena saya mulai menyadari betapa bahayanya mengomel tidak hanya untuk yang diomeli tapi juga untuk si tukang ngomel.

2. Berenang sebulan dua kali. Buat saya yang jarang olah raga, resolusi ini sudah sesuatu. Kenapa berenang? Karena dengan kondisi gangguan fisik di lutut dan overweight, berenang adalah olah raga yang paling dianjurkan banyak pihak.

3. Membuat menu makanan berkonten sayuran setiap hari. Yang ini kudu banget dipaksa. Karena yang makan selain saya ada tiga tubuh lainnya. Apa jadinya kalau si koki super malas dan goreng nugget tiap kali. Selain menu sayuran itu murah, tapi juga padat gizi.

4. Update Blog minimal sebulan dua kali. Berkat arisan blog, saya bisa update blog minimal 3 kali dalam sebulan. Semoga setelah arisan periode ini masih ada periode lanjutannya, supaya resolusi yang nomer empat ini bisa tercapai juga.

5. Menyelesaikan 1 (satu... satuuu ajaa plisss) cerita novel untuk dikirimkan ke media apapun!

Bismillah. Doakan saya ya, semoga tercapai, supaya resolusinya nggak sekedar tulisan tak berfaedah sepanjang tahun dan cuma jadi secarik kertas tak berguna di akhir tahun. Resolusimu apa?


Sumber gambar:

<a href="https://www.freepik.com/free-vector/new-year-s-resolutions_1014138.htm">Designed by Freepik</a>
<a href='https://www.freepik.com/free-photo/gym-with-motivational-phrase_960393.htm'>Designed by Freepik</a>







Thursday, January 11, 2018

Throwback 2017: KIJP Batch 6 Karimun Jawa


It's just another people backyard
Sudah lebih dari sepuluh tahun sejak terakhir kalinya saya melangkahkan kaki (literally) keluar dari tanah pulau Jawa. Mungkin itu sebabnya perasaan saya ketika waktu semakin dekat untuk berangkat ke acara Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) bulan Oktober yang lalu, semakin resah. Bahkan sampai 24 jam sebelum jadwal Kapal berangkat, saya masih separuh hati. Padahal saya termasuk penganut paham: kalau ragu-ragu, nggak jadi aja!

Untuk lebih memantapkan hati, di luar kebiasaan, banyak orang saya pamiti. Saya sampai “bilang-bilang” ke teman-teman di grup-grup Whatssap kalau saya mau ke Karimun Jawa, berharap satu dari sekian banyak yang saya beritahu itu ada yang punya firasat apa gitu lalu bilang: Jangan berangkat!

Sampai akhirnya pada detik pertama saya menjejakkan kaki di perahu yang bergoyang lembut, saya bersyukur karena tidak jadi mangkir.

KIJP itu Apa?

Pengetahuan saya tentang KIJP adalah zero, sampai ada provokator menunjukkan pada saya akun instagram KIJP dan mendorong (baca: menyuruh) saya untuk ikutan daftar. Sekilas saja saya ceritakan kegiatan KIJP adalah sebuah komunitas yang beranggotakan relawan yang berbagi inspirasi tentang profesi dan pekerjaannya dengan anak-anak Sekolah Dasar. Mengapa disebut jelajah pulau, karena KIJP ini menargetkan lokasi-lokasi di luar pulau Jawa.

Para relawan akan tinggal bersama di salah satu rumah penduduk setempat selama berkegiatan. Selama tiga hari dua malam, mereka diharapkan mampu memberikan kontribusi tidak hanya untuk anak-anak sekolah, tapi juga masyarakat di sekitarnya. Selanjutnya silakan kepo akun-akun medsos KIJP.

“Mak Win harus daftar!” gitu suruh si Provokator setelah saya lapori kalau saya sudah baca-baca medsos KIJP.

Oke, memang saya tertarik dengan kegiatan KIJP, tapi agak ragu, karena pertama, profesi saya rada nggak jelas dua tahun belakangan, dan yang kedua, harus naik kapal cepat ke Karimun Jawa menjelang musim penghujan, agak menyurutkan langkah. Belum lagi sering beredar berita turis terjebak berhari-hari di Karimun Jawa karena cuaca buruk. Bacalah di kacamata saya, ibu-ibu dengan dua anak masih SD (agak lebay) yang meskipun bisa berenang, pernah merasakan mabuk laut yang bikin kapok waktu menyeberang Selat Sunda.

“Ini kan di Karimun Jawa, nggak seperti yang di Kepulauan Seribu. Di sana 9 jam di kapal!” si Provokator menyemangati (atau menakut-nakuti).

Tapi akhirnya saya mendaftar karena awalnya semata untuk memenuhi janji pada si Provokator. Dan menjadi rezeki saya untuk ikut merasakan pengalaman yang paling berkesan di tahun 2017. Seperti ide tulisan untuk Arisan Blog Gandjel Rel dari duo blogger perempuan yang keren, Mbak Tanty dan Nuzha sebagai penutup tahun 2017 dan menyambut tahun 2018.

Keberangkatan
Kapal Ekspress Bahari
Selepas 18 jam sebelum berangkat yang tenang, sekitar jam 10 pagi di hari Jumat Kapal Cepat Ekspress Bahari dari Pelabuhan Kendal bersama 40-an relawan. Kami nanti akan terbagi dalam empat kelompok di desa Kemujan Karimun Jawa. Kemujan ini adalah bagian dari kepulauan Karimun Jawa bagian Utara. Menurut panitia, dari Pelabuhan Karimun Jawa perjalanan ke Kemujan memerlukan waktu 45 menit jalan darat naik pickup.

Karimun Jawa adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Jepara. Waktu tempuh kapal cepat sejenis dari Pelabuhan Jepara hanya sekitar dua jam. Jika dari Pelabuhan Kendal membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Buat kami waktu itu berangkat dari Pelabuhan Kendal adalah keputusan yang tepat karena jarak tempuh ke Jepara dari kota Semarang masih sangat tidak manusiawi dikarenakan perbaikan jembatan. Mengingat para relawan ini berasal dari seluruh penjuru dunia (nggak ngarang ini nyata), Semarang lebih mudah dijangkau.

Kapal melaju dengan lancar, tidak ada insiden, karena saya membekali diri dengan obat anti mabuk laut. Kapal Ekspress Bahari terbagi menjadi tiga tingkat, mulai tempat duduk ekonomi di bagian paling atas dengan fasilitas kursi papan, goyangan ombak dan angin laut yang dahsyat, sampai kelas VIP di bagian bawah kapal dengan kursi empuk, AC, snack seadanya, dan televisi yang menyajikan tontonan dangdut yang akhirnya seperti jadi original soundtrack of KIJP Batch 6 Karjaw.

Nice, mbak VV!

Perjalanan di laut selama tiga jam nyaris tidak terasa karena separuhnya diisi kegiatan tidur. Thanks to obat anti mabuk. Ketika mengintip ke jendela, air laut mulai biru, dan di kejauhan dermaga Karimun Jawa mulai kelihatan. Airnya biru tosca!

KIJP rasa KKN

Tentunya tidak semua relawan KIJP baru pertama kali kenal satu sama lain. Banyak diantara mereka yang sudah pernah bertemu di kegiatan serupa, di kota XYZ. Rombongan relawan KIJP ini di mata saya terdiri dari para veteran, dan juga penganut garis keras kegiatan relawan pendidikan. Ada yang kerjanya sepanjang tahun menghabiskan cuti untuk kegiatan serupa di seluruh penjuru nusantara, ada yang masih jet lag karena baru mendarat dari London dan langsung berlayar.

Setelah hampir sejam berpanas-panas di bak belakang pickup, di rumah Bu Matrai, (bener ga ya nulis namanya begini), sebagian dari para relawan itu berkumpul. Termasuk saya, ibu-ibu yang nyempil diantara anak-anak muda yang keren dan berbakat. Setelah sempat ketemuan di acara briefing, diskusi dan persiapan cuma bisa berlangsung di grup Whatssap. Tapi seperti saudara ketemu gede, di tengah panas dan lembabnya udara Kemujan, kami bersebelas saling bersimbiosis. Semua demi kesuksesan acara hari inspirasi di SD Negeri 3 Kemujan.
Sedulur baru


Saya jadi terbayang masa-masa KKN di Pegandon, Kendal, yang membuat semua penghuni nyaris nggak pernah pulang. Masa-masa yang memberi saya salah satu sahabat baik sampai sekarang. Di sana sebagian besar dari kami yang merupakan anak kos mendapatkan perbaikan gizi dari rempeyek kacang dan ayam goreng.

Di rumah yang terletak berhadapan dengan runway bandara Karimun Jawa, saya makan ikan tiga kali sehari.

Hari Inspirasi
Anak-anak di Kemujan ini, energinya seperti berlipat ganda. Salah satunya bisa jadi karena ikan yang jadi lauk utama mereka sepanjang waktu, mereka tumbuh jadi anak-anak yang cerdas dan sehat.

Anak-anak yang tinggal di Kemujan, pada umumnya sudah naik kendaraan bermotor ke sekolahnya sejak kelas tiga atau empat. Mereka biasanya berboncengan, tanpa helm, di jalanan Kemujan yang (untungnya) masih sepi. Hal ini terpaksa dilakukan, mengingat jarak dari rumah ke sekolah yang jauh, sementara orang tua mereka sibuk bekerja.
Anak-anak Kemujan

Selain itu mereka di luar sekolah adalah mengaji di musala atau masjid terdekat. Di desa dekat kami mengajar kebetulan ada satu tempat yang menjadi sanggar kesenian bagi anak-anak. Selain ke sekolah mereka juga naik motor untuk acara sore seperti latihan sepak bola.

Nah, meskipun pernah ikut acara serupa di Semarang, baru kali ini saya kehabisan napas. Pas banget dapat kelas (usia) kecil, yang penuh tangisan dan teriakan. Amunisi yang sudah dipersiapkan jauh hari seperti peralatan mengajar, aneka stiker, jadi kehilangan dayanya. Saya dari Semarang membawa MMT berukuran 6 meter persegi yang niatnya untuk simulasi denah rumah, yang akhirnya hanya jadi alas duduk ketika saya berusaha bercerita sambil menenangkan satu anak yang selalu menangis ketika digoda teman-temannya.

Inilah anak-anak pulau yang sehat, suka membaca, dan cinta buku.

Anak-anak di sana juga sudah terbiasa menerima pendatang. Selain KIJP, ada beberapa komunitas dan juga mahasiswa yang pernah menghabiskan waktu bersama mereka. Bahkan kadang sampai berhari-hari. Oleh karena itu rata-rata mereka mudah dekat dengan kami. Meski baru ketemu sekali.

Seandainya segala situasi memungkinkan, ingin rasanya main bareng lebih lama lagi. Semoga KIJP diberikan rezeki untuk datang lagi ke Kemujan, atau ke pulau-pulau lain yang lebih jauh di Karimun Jawa di tahun 2018. Seperti tantangan dari pejabat daerah di Karimun Jawa waktu kami melakukan refleksi.

Hari inspirasi memang hanya beberapa jam saja. Kami ini cuma sekedar keceh di pinggir pantai, dibandingkan para guru yang setiap hari mengarungi lautan, demi mengantar anak-anak pulau ini menuju cita-cita mereka. Semoga para guru selalu sehat dan istiqomah setiap waktu.

Indahnya Karimun Jawa

Saya tidak menampik kalau tadinya salah satu yang membuat KIJP menarik adalah tempatnya yang berada di pulau yang tersohor karena keindahan wisatanya. Bagaimana tidak jika halaman belakang seseorang adalah pantai berair tenang dan jernih. Bisa lihat sunrise setiap hari sepanjang tahun kalau mau. Hanya 10 menit jalan kaki dari rumah, sampai di Pantai Bunga Jabe, yang punya pasir putih dan pondok-pondok untuk menginap. Sangat menggoda untuk bikin barbeque night sambil main gitar semalaman.
Seafood di Alun-alun Karimun Jawa
Akhirnya memang rombongan kami sempat piknik. Malam-malam selepas tugas mencarter pickup untuk ditumpangi 20 orang buat makan ikan bakar di alun-alun Karimun Jawa. Tempat harga sepiring lobster 25 ribu rupiah. Sebelum pulang naik kapal kami juga sempat mampir di pantai dengan bebatuan indah, sempat menyusuri hutan Mangrove dan foto-foto cantik. Semua cerita yang niatnya mau saya tulis di lain waktu.

Tapi akhirnya piknik sejati yang saya alami adalah “memiknikan hati”. Keraguan saya waktu berangkat yang tergantikan oleh kenangan tak tergantikan. Saya bahagia bahwa pengalaman pertama saya dengan Karimun Jawa adalah untuk kegiatan KIJP. Tentu saja saya mau kembali lagi ke Karimun Jawa. (Dan juga niat di hati teman-teman relawan lainnya. I’m positive about this, buktinya kelompok saya membabi-buta berencana balik ke Kemujan lagi padahal kapal belum angkat sauh.)

Saya berdoa ingin kembali ke sana. Mungkin di lain waktu bukan untuk KIJP. Mungkin dengan mengajak keluarga. Lain kali saya mesti berenang, karena kemarin nggak mau ambil risiko bawa-bawa baju basah di tas yang sudah penuh sesak.

Tapi ketika kembali ke sana saya ingin lagi ke Kemujan, atau pulau-pulau lain di sekelilingnya (kalau nyali udah bertambah), pengen keliling pulau naik motor. Pengen ketemu lagi dengan bu Matrai, dengan putrinya, mungkin lihat peternakan mutiara yang dibilang salah satu guru, sekalian nginap di rumah penduduk, main-main sama anak-anak, dan bukannya sama hiu.