Wednesday, December 27, 2017

Tips Liburan Akhir Tahun: Jangan!

Saatnya Liburan Akhir tahun (Gambar: Freepik)

Rasa-rasanya saya tidak pernah khusus merencanakan acara liburan akhir tahun (Masehi). Zaman lajang dan tinggal di kos-kosan seringkali akhir tahun terlewatkan dalam acara tidur lelap tanpa mimpi. Begitupun sewaktu telah berkeluarga dan ada anak-anak. Akhir tahun keluar rumah dan menuju pusat keramaian berarti harus menghabiskan waktu dalam kemacetan. Macet-macet buat saya bukan agenda liburan yang menyenangkan, kapanpun itu. Selain itu tentu saja, alasan utama: saya tidak betah begadang.

Acara akhir tahun paling direncanakan hanya terjadi di masa sekolah. Waktu itu bersama teman-teman SMP (atau SMA, ya) merencanakan acara bakar-bakaran di rumah. Yang terpilih rumah saya. Konsepnya open house gitu dengan gelar tiker bagi siapa saja yang mau mampir menjelang atau sesudah konvoi tahun baru. Barbeque Night gitu maunya, yang terwujud dalam rupa sebuah anglo dengan api kebesaran yang selalu membuat gosong jagung-jagung di atasnya. Beda jauh sama acara barbeque dalam film-film Barat. Ada panggangan besar, di atasnya ada daging-daging hamburger, paprika, onion, lan sakpiturute. Jagung gosong adalah menu barbeque kami, ala Jowo.

Nah, belakangan memang akhir tahun selalu bertepatan dengan hari libur sebagian besar anak sekolahan. Pembagian lembar-lembar rapor anak sekolah sama juga dengan lembar-lembar surat cuti untuk ditandatangani bagi sebagian besar orang tua yang kerja kantoran. Kapan lagi bisa menghabiskan waktu bersama keluarga. Sengaja jatah cuti setahun ditahan-tahan, demi momen libur akhir tahun ini. Semua supaya bisa berbarengan jalan-jalan, keluar kota kalau ada buget, meskipun beresiko terlibat dalam antrian macet yang berkepanjangan, di jalan, di loket obyek wisata, di warung-warung kuliner langganan.

Demi kelancaran liburan akhir tahun, yang cuma datang sekali dalam setahun, (iya lah) saya mau berbagi beberapa tips liburan. Dicocokin sama tema Arisan Blog Gandjel Rel dari Blogger Nasyionel asal Semarang, salah satu founder komunitas Gandjel Rel, duh siapa sih yang nggak kenal Mak Uniek Kaswarganti, dan juga dari Novia Domi, mamah-mamah cantik blogger yang sudah memulai karir profesional di dunia sosial media.

Tips Pertama: Jangan Go-Show!

Tips ini berlaku buat yang berlibur keluar kota dan berencana menginap, terlebih kalau ada anak-anak di dalam rombongan. Kecuali di kota tujuan punya kerabat yang baik hati untuk menampung kita di rumahnya, jangan berangkat tanpa pesan hotel/ penginapan sebelumnya. Apalagi kalau perginya ke daerah-daerah yang masih eksklusif, yang masih jarang ada penginapan apalagi hotel. Bisa-bisa nginep di jalanan beneran.

Akhir tahun adalah saatnya high season, di kota-kota yang menjadi tujuan berlibur seperti Yogyakarta, Denpasar, dan lain-lain, hampir semua hotel akan ramai dipesan. Apalagi kalau yang diinginkan hotel-hotel di seputar obyek wisata. Kalaupun beruntung dapat kamar di hotel, tentunya harga yang dikenakan bisa berlipat ganda.
Ga dapet penginapan, kemping aja, yuk.


Saya pernah tuh, bareng 10 orang kerabat, go show ke Yogya. Padahal nggak high season, lho, cuma akhir pekan biasa, tapi tetap aja kamar hotel-hotel yang kami anggap cocok tidak tersedia. Karena hari semakin malam, akhirnya kami terdampar di satu hotel lokal yang yaa sebetulnya lumayan. Tapi dengan buget yang sama, seandainya kami merencanakan penginapan ini jauh hari, bisa dapat kamar di hotel yang lebih baik fasilitasnya.

Jadi kalau tidak mau beresiko muter-muter, atau puyeng lihat aplikasi OTA (Online Travel Agent) yang terus-terusan bilang “no room available at selected date”, atau melihat angka dengan label juta-juta di sana, sebaiknya pesan kamar hotel dulu jauh hari sebelum berangkat.

Jangan go–show ini juga berlaku untuk pembelian tiket penerbangan, kereta api, bus ,dan aneka transportasi masal lainnya. Kalau berencana menyewa kendaraan juga, akhir tahun biasanya rental mobil akan full booked.

Tips Kedua: Jangan Kesiangan!

Biasanya obyek-obyek wisata penuh di akhir tahun. Salah satu tips penting buat saya adalah jangan kesiangan kalau mau datang ke salah satunya. Kemarin nih, di Purbalingga, obyek wisata Owabong adalah salah satu tempat yang tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi musim libur. Mirip cendol-lah. Tapi gimana dong kalau anak-anak kekeuh pengen kesana? Lagi pula tidak setiap saat juga kami bisa ke Purbalingga. Owabong memang menarik karena punya aneka wahana air dan sangat segar karena sumber mata air alaminya.

Solusinya adalah: kami datang lebih pagi.
Kalau sepi bisa main sepuas hati (Lokasi Owabong Purbalingga)
Jam buka Owabong adalah jam enam pagi. Jadi jam enam kurang kami sudah nongkrong di depan loket. Parkiran juga masih lapang, tidak perlu parkir di tempat tambahan yang tentunya lebih jauh dari pintu. Wisatawan lain biasanya mulai berdatangan jam sembilan, jadi lumayan kan, ada tiga jam yang lega buat kami berenang-renang dan bermain sepuasnya. Paling jam setengah sebelas anak-anak sudah kecapaian. Saat obyek wisata lagi penuh-penuhnya, kami sudah pulang.

Sama halnya waktu bawa rombongan piknik ke The Worlds Landmark Merapi Park, di Kaliurang, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jam buka The Landmark Merapi Park adalah jam delapan tiga puluh. Sekitar jam sembilan pagi. Sebelum gerbang dibuka kami sudah sampai, nggak perlu antri tiket. Setelahnya jadi bisa lebih puas berfoto-foto sebelum obyek wisata penuh dengan rombongan lain. Selain itu kami juga bisa memilih gazebo-gazebo untuk beristirahat dengan lebih leluasa, karena nggak harus berebut.

Ingat tipsnya ya, lihat dulu jam buka obyek wisatanya, hitung waktu tempuh kesana, lalu datanglah paling pagi.

Tips Ketiga: Jangan Lupa Bekal

Kadang demi alasan kepraktisan, apalagi kan liburan, kita jadi malas bawa-bawa bekal. Lebih praktis beli, kata jutaan ibu-ibu. Lha wong liburan kok ya nyiapin bekal seperti hari sekolah. Memang benar sih, apalagi kalau libur akhir tahun sekaligus dengan niat kulineran. Alias mencicip makanan-makanan khas di tempat yang kita datangi.

Tapi menurut saya sih, bekal itu wajib, terutama bekal air minum dan camilan. Selain itu jika memungkinkan saya sebisanya menyiapkan bekal nasi dan lauknya juga. Tidak harus memasak sendiri, saya beli bekal yang layak ini sebelum sampai ke tempat tujuan wisata. Bisa di minimarket, warung nasi, atau outlet fastfood langganan sejuta umat.

Tips ini tidak berlaku buat tempat-tempat yang melarang kita membawa makanan dan minuman dari luar ya. Hihi. Macam beberapa waterboom, Kidzania (cuma boleh bawa air putih), dan museum (iyalah masa mau makan di museum). Cek dulu boleh enggaknya. Seringkali saya lihat dus-dus makanan ditinggal di loket, (atau bahkan dimakan di tempat!) gara-gara tidak boleh dibawa masuk.

Kenapa bekal ini penting, satu, makanan dan minuman di obyek wisata seringkali lebih mahal (ngirit pisan). Daripada uang habis buat beli air minum dalam kemasan seharga dua atau tiga kali lipat, kan mendingan dibelikan oleh-oleh penganan khas. Dua, belum tentu bersih dan baik. Terkadang saya temuai jajanan macam bakso, mie, di obyek-obyek wisata gitu bikin sakit tenggorokan sesudahnya karena berbumbu micin. Kalau sudah kepepet, anak-anak haus, atau lapar, trus harus beli makanan dan minuman apapun yang tersedia kan jadinya horor. Tiga, resiko antri lama. (Tidak perlu dijelaskan, hehe)

Jadi bekal ini penting!

Hm, tiga tips “jangan” cukup ya. Semoga bisa bermanfaat buat liburan akhir tahun yang tinggal beberapa hari menjelang. Jalanan masih macet, antrian loket masih mengular, dan ikutan river tubing macam sedang disetrap mengapung di kali.

Intinya, kalau buat saya, liburan –kapanpun itu- semestinya akan membuat hari-hari di luar liburan semakin produktif dan bersemangat. Selamat liburan, dan stay safe! 


Sumber gambar:
<a href="https://www.freepik.com/free-vector/background-of-various-travel-elements-with-message_1042524.htm">Designed by Freepik</a>

Thursday, December 14, 2017

Menciptakan Kenangan Manis di Hari Ibu


Menyambut hari ibu di bulan Desember, Mbak Chela dan Mbak Noorma mengusung tema Ibu untuk arisan Blog Gandjel Rel ke 17. Keduanya adalah blogger perempuan yang aktif dan aktif di Semarang dan sekitarnya. 

Mengapa sih perlu ada hari Ibu segala? Sebetulnya benar kalau memberikan kasih sayang untuk siapapun apalagi untuk Ibu memang tidak harus menunggu hari Ibu. Tapi pada dasarnya manusia membutuhkan momentum, untuk melakukan atau memperingati sesuatu. Sebagai penanda supaya hidup tidak hanya mengalir apa adanya. 

Di Indonesia, hari ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember. Pemilihan tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno, lho. Hari Ibu dicanangkan pada tahun 1953, tepatnya pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia. Selain hari ibu di Indonesia, hari Ibu secara internasional juga dirayakan sekali dalam setahun. Di banyak negara seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, Singapura, Denmark, Filipina, New Zealand, (Hampir di seluruh dunia), hari Ibu diperingati setiap pekan kedua bulan Mei. 

Sumber: Freepik <a href='https://www.freepik.com/free-vector/pretty-background-with-watercolor-flowers-for-mother-s-day_1102231.htm'>Designed by Freepik</a>


Sosok Ibu adalah simbol kasih sayang keluarga. Madrasah pertama bagi anak-anak juga dari ibu. Jadi jika sekali dalam setahun ada hari yang khusus dipersembahkan untuk ibu-ibu, bagi selain ibu-ibu tidak sepantasnya protes. Hehe. Memberikan atau menunjukkan kasih sayang untuk ibu memang bisa kapan saja, tak ada salahnya di satu hari yang istimewa kita memberikan juga perlakuan istimewa kepada ibu-ibu kita. Hari ibu bisa juga jadi ajang untuk menunjukkan kasih sayang kepada orang yang sudah menjadi malaikat Tuhan di muka bumi untuk kita. 

Nah, berkaitan dengan hari ibu yang masih beberapa hari lagi, yuk kita sama-sama berusaha memberikan kenangan manis untuk ibu-ibu kita. Kalau idenya lagi mentok, ada nih 7 ide untuk merayakan hari ibu. 

1. Ajak Ibu Piknik

Piknik tidak perlu ke tempat yang jauh atau mahal. Piknik bisa dilakukan di dalam kota. Sekarang banyak taman-taman di kota yang bagus, ajak Ibu menikmati suasana yang berbeda. Jangan lupa siapkan juga makanan dan camilan. Kalau perlu bawa tikar, dan bikin suasana jadi seperti piknik betulan. Piknik ini juga bisa dilakukan di halaman rumah, lho!

2. Traktir Ibu Makan

Kalau piknik terasa merepotkan, ajak saja Ibu ke restoran. Kalau selama ini kita selalu dimasakin ibu aneka makanan enak, dalam sehari biarkan ibu menikmati hari tanpa belanja dan memasak. Ajak beliau makan di restoran yang beliau inginkan, atau pesan antar makanan ke rumah, dan hidangkan dengan menarik di atas meja makan. 

3. Beri Pijatan Kaki (dan Pundak)

Aktivitas Ibu sehari-hari tentunya membuat badan ibu letih. Siapkan baskom berisi air hangat. Rendam kaki Ibu pakai garam mandi atau rebusan rempah-rempah yang bisa dibeli dengan harga sangat terjangkau di pasar tradisional. Setelahnya pijat kaki ibu. Ingat kan, kalau surga itu ada di telapak kaki beliau. Kalau energi masih ada, pijat juga pundak ibu tercinta. 

4. Ajak Belanja

Siapkan buget yang cukup buat Ibu membeli barang yang paling beliau inginkan. Yakin deh, ibu-ibu tidak akan tega minta barang yang mahal-mahal pada anaknya. Bahkan seringkali akan menolak. Tapi ibu akan senang karena tahu anaknya bersedia memberikan sesuatu untuknya. 

5. Beri Waktu Bebas Seharian

Memberikan waktu bagi ibu untuk melakukan hal yang menyenangkan di luar rumah tanpa memikirkan pekerjaan, pekerjaan rumah tangga, dan lain-lain meskipun hanya sehari akan sangat berharga. Tapi dengan begitu jangan sampai rumah yang ditinggalkan cuma beberapa jam saja jadi berantakan ketika ibu pulang. 

6. Sehari tanpa Membantah

Tidak usah harus dijelaskan lagi kaan. Hayo, berani nggak? Hihihi. 

7. Ajak Nonton

Mudah-mudahan sih waktu hari Ibu ada film bagus yang cocok sedang diputar di bioskop ya. Kalaupun tidak ada, bisa menyewa dvd dan menonton film di rumah saja. Buat suasana rumah seperti bioskop, bikin (atau beli) popcorn, dan jauhkan gangguan selama jam nonton bareng Ibu. 

Selain ide-ide di atas ada banyak lagi kegiatan yang bisa dilakukan untuk menciptakan kenangan manis dengan ibu kita. Sedikit usaha untuk memberikan kenangan yang awet di benak ibu tersayang. Ada yang bilang jika kenangan itu akan bertahan lebih lama dibandingkan barang yang mudah rusak atau dilupakan. 

From Freepik <a href='https://www.freepik.com/free-vector/floral-background-with-birds-for-mother-s-day_1109593.htm'>Designed by Freepik</a>

Salam kangen dan cinta untuk ibu-ibu saya. Yang melahirkan, yang mendidik, yang memberi nasihat, yang memarahi, yang menjadi teman, yang masaknya enak, yang suka bercerita, yang kadang menyebalkan. Semua dihardirkan Allah untuk kebaikan saja. 





Monday, December 4, 2017

Sowan Guru


Pesan Bu Guru BP kami.
Kesempatan bertemu dengan teman-teman sekolah entah itu SD, SMP, SMA, atau kuliah adalah hal yang sangat berharga. Pertemuan yang terkadang tidak ada juntrungannya atau tidak ada tujuan apa-apa selain bertemu itu sendiri. Makanya mungkin ada yang enggan karena reuni hanyalah ajang makan-makan sambil ngobrol yang “tidak berfaedah”.

Tapi bukankah pertemuan itu mendekatkan nurani? Bertemu kawan lama bisa juga menjadi “obat seger” dari rutinitas yang membuat kita kehilangan spontanitas. Apalagi teman-teman sekolah adalah teman-teman di masa kita masih muda, bergairah, dan menganggap masalah hidup terberat adalah ketika di atas rapor ada nilai 5, atau baru ditolak gebetan.

Itulah mengapa acara reuni masih menjadi agenda yang ditunggu-tunggu.

Di setiap reuni, selain bertemu dengan teman-teman, kadang ingin juga hadir sosok yang tak bisa dipisahkan dari sejarah kita bersekolah, yaitu Bapak dan Ibu guru. Guru memang sosok yang selalu mengesankan, bahkan meskipun jika waktu itu kenangan yang tercipta bukan kenangan yang melulu indah.

Begitu, ya, Mbak Relita dan Mbak Yuli, dua orang blogger dengan tutur halus yang membuat saya memikirkan kembali tentang sosok guru-guru saya. Begitu banyak yang bisa diceritakan, tapi saya memilih tentang hal yang satu ini.

Bapak mertua saya adalah seorang guru. Dan setiap kali saya pulang mudik lebaran, undangan untuk menghadiri reuni bertumpuk di atas meja. Beliau selalu bersemangat untuk hadir, meskipun dalam kondisi yang kurang sehat, atau meskipun di rumah masih banyak saudara dan tamu. Bertemu dengan murid-murid, ternyata adalah hal yang juga menyenangkan bagi beliau. Meskipun seringkali pertemuan murid dan guru ini hanya terbatas pada reuni. Kesempatan yang hanya bisa terulang sekian tahun kemudian.

Entah pada pertemuan yang mana, beberapa teman saya semasa SMA mencetuskan ide yang, sesungguhnya tidak baru, tapi keren. Sebuah program untuk memberikan sumbangsih kepada guru.

Jika selama ini guru-guru mentok diingat pada saat reuni, bagaimana kalau kita memberikan perhatian khusus kepada para guru ini, tidak hanya setahun sekali, atau bahkan sepuluh tahun sekali. Tergantung seberapa sering angkatan kita reuni.

Berkat keberanian dan kenekadan teman-teman yang didukung oleh teman-teman (hampir) satu angkatan di SMA, maka lahirlah: Celengan. Ada beberapa orang yang menjadi “pengurus” celengan, dengan dukungan teman-teman seangkatan yang berada di dua grup Whatsapp. Seperti namanya, celengan ini serupa dana sosial, isinya bersumber dari teman-teman satu angkatan di SMA Negeri 3 Solo. (Duh, sebutin angkatannya nggak yaaa…)

Salah satu program utama Celengan adalah: Sowan Guru. Alias datang ke rumah-rumah guru-guru kami, terutama adalah guru yang mengajar selama periode kami bersekolah.

Program sowan guru ini tidak sekedar menjalin hubungan yang telah lewat belasan tahun, tapi juga berusaha mendata tentang kondisi terkini pamong kami semasa remaja itu, dan apakah diantara guru-guru kami ini, ada yang memerlukan sesuatu yang bisa kami haturkan.

Mencari data guru, ternyata tidak mudah juga. Dengan bantuan beberapa guru yang masih aktif mengajar, kami dapat juga kontak berupa nomor telepon dan alamat rumah. Guru-guru kami ini juga memiliki semacam paguyuban guru, rutin bertemu secara berkala. Apakah waktu berkumpul itu para guru membicarakan kami juga para muridnya, entahlah. Hehe.

Ujung tombak sowan guru tentunya teman-teman yang masih berdomisili di Solo. Tentu saja karena sebagian besar guru-guru kami juga masih tinggal di sana. Beberapa kali sowan guru juga dijadwalkan jika ada teman yang sedang mudik. Intinya kami mendatangi rumah guru-guru kami (ada juga beberapa yang ditemui di tempat mengajar), untuk bersilaturahim. Syukurlah, setelah lebih dari dua puluhan guru kami temui, semuanya memberikan kesan positif.
Sowan Pak Koes, ngobrol diantara rumus-rumus fisika

Saya, baru berkesempatan ikut satu kali. Bersama dua orang sahabat mendatangi seorang guru Fisika yang tentu saja waktu saya SMA, bukan guru favorit saya karena pelajarannya waktu itu bikin pusing. Beliau saat ini sudah pensiun, tapi masih aktif mengajar ilmu Fisika, membuka les, dan mempersiapkan anak-anak sekolah yang akan mengikuti olimpiade.

Bapak Koesmanto, guru fisika saya itu, masih sama seperti terakhir kali saya mengingat beliau.

Ketika bertemu. langsung terbayang ketika menuliskan rumus-rumus fisika dengan begitu cepatnya di papan tulis. Ketika saya cuma menatap dengan nanar karena tidak bisa mengikuti penjelasannya yang kalau diingat-ingat lagi, sebetulnya sangat runut. Saya ingat Bapak Koesmanto lengkap dengan kacamata yang agak melorot, dengan sorot mata yang mengingatkan saya pada Einstein. Hanya kali ini rambutnya lebih banyak yang memutih.

Tentu saja Pak Koes, begitu beliau dipanggil, tidak mengingat saya. Saya bukan murid yang menonjol di bidang fisika, selain pernah jadi penulis kelas yang menuliskan lembar-lembar catatan fisikanya di papan tulis. Tapi pak Koes menyebutkan nama beberapa teman seangkatan saya, yang salah satunya sekarang jadi dosen di ITB.

Pembicaraan dengan pak Koes, yang tidak terbayang bisa saya lakukan belasan tahun yang lalu, ternyata menyenangkan. Saya lupa waktu itu nge-teh atau tidak, tapi dalam gerimis hujan, saya tahu, bahwa seorang guru yang benar-benar mencintai profesinya, sampai puluhan tahun kemudian tidak akan pernah kehilangan semangat. Beliau hidup, meski tidak lewat dirinya, tapi juga hidup lewat harapan-harapan yang beliau titipkan pada murid-muridnya.

Salah satu harapan pak Koes yang jadi nyata, tentu saja ketika mengenang teman saya, yang kini menjadi dosen di universitas ternama itu. Dalam hati kecil saya berharap, pak Koes juga bisa merasa bangga untuk saya, yang tidak pernah dapat nilai 10 dalam pelajaran fisika, dan kini tidak ingat lagi tentang teori Newton atau gelombang elektromagnetik. Barangkali iya, tapi tak bisa terungkap lewat bahasa Fisika.

Pada waktu reuni SMA yang kami adakan tahun 2016 pada musim mudik lebaran, kami juga mengundang guru-guru kami sebanyak yang kami bisa. Lokasinya di sekolah, yang sudah berubah 80% dari sejak kami meninggalkannya. Ada beberapa guru yang urung datang karena meskipun sudah akan dijemput, menolak karena enggan merepotkan. Ah, sampai kapanpun guru-guru adalah sosok yang tak ingin membuat repot siapapun.

Di acara reuni itu kami bercerita tentang program sowan guru dan menyampaikan permohonan maaf jika ada guru-guru yang belum sempat kami sowani. Ketika acara selesai, seorang guru kami, yang jujur saja tadinya saya tidak ingat mengajar apa, mendekati saya. Beliau berkata sambil tersenyum: “Mbak, saya ini belum pernah didatangi, lho.”

Beliau adalah Bapak Sri Santoso, guru olahraga kami. Dalam waktu singkat kami berupaya supaya teman-teman yang masih ada di Solo untuk liburan lebaran itu bisa mengatur waktu kunjungan ke rumah Bapak Sri Santoso. Seperti biasa, setelah kunjungan, teman-teman memberikan “laporan” yang secara umum berisi kondisi kesehatan, kondisi keluarga, dan sejauh apa kami bisa menyampaikan titipan untuk beliau.

Tentunya kami bahagia dan lega jika para guru dalam kondisi sehat dan tak kurang suatu apa. Tapi guru-guru kami ini, dalam berbagai kondisi, secara garis besar tidak menyampaikan keluhan apapun .

Takdir Allah, tak lama setelahnya, kami mendengar kabar bahwa Bapak guru kami itu meninggal dunia.

Seorang guru matematika kami yang sangat disegani, juga kami dengar kabar sedonya, tak lama setelah “Celengan” sempat sowan ke ndalem beliau. Beliau dalam kondisi sehat, dan sedang berolahraga ketika Allah memanggil. Kami selalu mengenang beliau karena tak banyak dari kami yang berhasil lolos dalam ulangan mingguan matematikanya. Saya pribadi sepertinya cuma lolos satu kali. Bahkan untuk mendapatkan nilai tujuh saja, sulitnya bukan main.

Ketika menyadari begitu banyak guru-guru kami dipanggil Allah, kami bersyukur bahwa kami sempat sowan. Bapak dan ibu guru kami ini, tentunya telah berpuluh tahun mengabdi menjadi pendidik. Tidak hanya mengajar, tidak hanya menjejalkan rumus-rumus ke kepala kami yang penuh dengan rencana dolan dan colut. Bapak dan ibu guru kami juga semakin tua. Seperti juga kami, yang meskipun selalu berasa masih pakai seragam putih dan abu-abu, kini juga telah menderita encok, dan tak kuat begadang.

Dalam waktu sowan yang demikian singkat, kami ingin menyelipkan sedikit kenangan kepada bapak dan ibu guru tentang kami. Bahwa murid-muridnya yang tak seberapa pandai, dan selalu merepotkan ini, meski barangkali cuma sekali ini sempat bertemu, kami ingat.
Pesan Pak Hartadi

Tak banyak yang kami bawa. Barangkali hanyalah sekotak roti, selembar kain, atau sekeranjang buah. Tapi sungguh banyak yang kami dapatkan. Di akhir pertemuan selalu kami minta bapak dan ibu guru ini menuliskan pesannya untuk kami. Dan diantara pesan-pesan itu selalu terselip doa untuk kesuksesan kami semua.

Semua guru, tetap memandang kami sebagai murid-muridnya sekian belas tahun yang lalu. Semuanya selalu menitipkan pesan dan doa, supaya kami semua menjadi orang yang berguna. Tak ada yang mengingat kemarahan, tak ada yang tidak membuat kami menjadi semakin tidak bersyukur.
Pesan Pak Darsono, guru Sosiologi

Teman-teman yang sempat sowan, sesudahnya selalu menyampaikan kisah yang indah. Selalu ada hal baru yang kami dapatkan. Sampai kapanpun kami adalah murid yang selalu belajar.

Sowan guru juga mendekatkan kami, anak-anak lulusan sebuah SMA yang jumlahnya ratusan, yang dulu nge-geng dan tak begitu kenal satu sama lain. Ada banyak kondisi yang membuat mengurusi Celengan dan tetek bengeknya membuat kami seperti benar-benar kapok, musuhan, pundung, mutung, dan marah. Tapi kami seperti segerombolan landak yang ingin tetap hangat karena dekat, meski kadang kecubles duri.

Saya pribadi jadi lebih mengenal teman-teman SMA saya, yang dulu bahkan tidak tahu kelas apa, rumahnya di mana, kuliah di mana. Seorang pemilik perusahaan di Solo mau blusukan ke pasar untuk belanja kelengkapan warung di rumah guru yang dibuka lewat program Celengan ini. Atau teman yang lain yang mau manjat-manjat demi memasang rak dan spanduk untuk warung pak guru.

Saya juga cuma bisa menyemangati lewat grup WA, teman-teman yang menempuh hujan badai, literally, untuk sampai ke rumah guru-guru kami. Saya juga jadi tahu, cerita-cerita teman-teman tentang guru-guru kami ini yang tak se-cetek kisah saya. Saya cuma bisa terharu bahwa pada masa sekian belas tahun yang lalu, ada teman-teman yang benar-benar menjadikan kehadiran para guru ini sebagai orang tua. Dan kedekatan antar mereka tak sekedar dihubungkan pada lembar-lembar kertas ulangan.

Begitu banyak yang kami dapatkan, hingga sadar sepenuhnya bahwa Celengan dan “Sowan Guru”nya, bukanlah persembahan dari kami, tapi adalah sesuatu yang kami dapatkan.






Friday, December 1, 2017

Memahami UHC Kota Semarang di Acara Temu Blogger Kesehatan


Di penghujung bulan November yang dingin dan basah karena siraman hujan, 35 Blogger dari wilayah Semarang dan sekitarnya dikoordinasi oleh TitikTengah Partnership, mendapatkan kesempatan dari Dinas Kesehatan Kota Semarang untuk mendapatkan informasi seputar kesehatan di The Wujil Resort, Ungaran. Informasi tentang kesehatan ini sebagian besarnya belum banyak dipahami oleh kami sebagai masyarakat kota Semarang. Mulai dari Program Universal Health Coverage (UHC) Semarang, sampai metode Rockport. Awam banget nget nget.

Puskesmas Gayamsari Semarang
Ayo ke Puskesmas!

Apa yang terlintas ketika dengar kata Puskesmas? Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr Widoyono, MPH, membuka perjumpaan siang dengan para blogger di The Wujil Resort, dengan pertanyaan itu. Jawaban dari peserta jadi bermacam-macam, mulai dari: Peralatan yang jadul, ruangan kotor, antri lama, obat generik, pelayanan lambat, dan lain-lain meluncur dari mulut teman-teman. Hehe. Maafkan, Pak Kadinkes, karena memang sebagai awam, terlanjur mencap Puskesmas sebagai tempat untuk memeriksakan kesehatan yang cenderung kuno. Tapi ada juga yang mengakui sangat terbantu dan puas dengan pelayanan di Puskesmas di dekat tempat tinggalnya. Meskipun bukan Puskesmas yang sama dengan KTP, tapi tetap melayani dengan baik.

Nah, sebetulnya Puskesmas itu gimana, sih?

Pak Widoyono yang humoris secara lugas memaparkan bahwa Puskemas adalah layanan kesehatan, bukan “kesakitan”. Jadi begini, dalam terminologi dunia kesehatan, ada dua hal yaitu: sehat dan sakit. Nah orang sehat diurusi oleh puskesmas, sementara orang sakit diurusi oleh rumah sakit (dan teman-temannya).

Jadi Puskesmas itu sejatinya bertugas mengurus orang sehat, bukan orang yang sakit.

Oleh karenanya, diharapkan masyarakat mau datang ke Puskesmas, justru untuk memeriksakan dirinya atau berkonsultasi ketika sehat. Hal ini terkait dengan paradigma sehat itu sendiri. Bahwa kegiatan Promotif dan Preventif, alias kegiatan pencegahan lebih baik dibandingkan kuratif dan rehabilitatif, atau pengobatan. Salah satu kegiatan promotif adalah penyuluhan kesehatan, misalnya tentang kesehatan gigi dan mulut. Contoh kegiatan preventif adalah kegiatan pemberian vitamin A untuk balita.

Puskesmas di seluruh kota Semarang jumlahnya hanya 37 unit. Puskesmas sejumlah itu memiliki tanggungjawab yang sangat luas untuk memelihara kesehatan masyarakat kota Semarang melalui tindakan-tindakan yang diharapkan bisa mencegah sebelum terjadi sakit. Belum lagi dengan jumlah tenaga dan sumber daya lain yang lebih terbatas. Bandingkan dengan institusi yang berhubungan dengan orang sakit, seperti Apotik, RSUD, RS, Toko Obat, Klinik, Dokter Praktek, dan lain-lain. Jumlahnya tentu jauh lebih banyak. Apalagi “layanan kesakitan” dipandang lebih bernilai ekonomi dibandingkan “layanan kesehatan”.

Selain itu, Puskesmas sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), masih juga wajib mengurusi orang sakit. Ada 144 diagnosis penyakit yang harus bisa ditangani oleh Puskesmas. Misalnya: batuk, pilek, dan diare. Jadi, warga masyarakat juga diharapkan pengertiannya, jika menderita penyakit-penyakit tersebut untuk memeriksakan diri ke Puskesmas terlebih dahulu, dibandingkan langsung merujuk pada Rumah Sakit.

Tapi segala tantangan itu justru menjadikan Puskesmas bersemangat untuk terus meningkatkan pelayanannya. Seperti ketika pagi sebelum ke Ungaran untuk bertemu Bapak Widoyono, rombongan blogger sempat mendatangi Puskesmas Gayamsari. Puskesmas Gayamsari ini adalah satu-satunya Puskesmas di Kota Semarang yang mendapatkan predikat Paripurna. Fyi, beberapa tahun belakangan memang sedang dilakukan akreditasi untuk puskesmas-puskesmas di seluruh penjuru Indonesia, untuk mengetahui sejauh mana semua sumber daya yang dimiliki Puskesmas tersebut.

Puskesmas Gayamsari melayani wilayah 7 kelurahan, didukung oleh 50 tenaga kerja. Jenis-jenis pelayanan yang ada adalah pemeriksaan umum, pemeriksaan kesehatan gigi, pemeriksaan balita sakit, pemeriksaan kesehatan ibu dan anak, farmasi, laboratorium, dan layanan inovasi berupa klinik VCT, klinik rehabilitasi narkoba, dan klinik kesehatan tradisional.

Salah satu program unggulan Puskesmas Gayamsari antara lain Gomil atau Gojek Ibu Hamil yaitu program penjemputan untuk ibu-ibu hamil yang hendak memeriksakan dirinya ke Puskesmas. Puskesmas Gayamsari yang memiliki motto: “Sehat Anda Kebahagiaan Kami” saat ini sedang berupaya terus meningkatkan pelayanannya baik secara fisik, dengan mengajukan rencana dan rancangan bangunan gedung Puskesmas yang baru untuk tahun 2020, maupun dengan terus meningkatkan profesionalitas setiap tenaga kerja yang terlibat di dalamnya. Semoga Puskesmas Gayamsari terus berbenah, semakin baik, dan prima dalam pelayanan kesehatan untuk masyarakat Gayamsari khususnya dan kota Semarang pada umumnya.

Selain Puskesmas Gayamsari yang sempat kami kunjungi, 36 Puskesmas lainnya di seluruh wilayah kota Semarang semakin hari juga terus berlomba-lomba untuk meningkatkan pelayanan kesehatannya.

Nah, dengan informasi tersebut, kita sebagai warga kota Semarang tidak perlu ragu untuk berkonsultasi ke Puskesmas, terkait dengan kesehatan diri, keluarga, dan lingkungannya. Ingat, ke Puskesmas tidak perlu menunggu sakit, ya!

Program UHC (Universal Health Coverage) Kota Semarang

Nah, ini adalah program kesehatan yang sedang hangat bahkan hot banget di kalangan warga kota Semarang. Bayangkan aja, pesan berantai yang sampai ke aneka sosmed ini sungguh memikat hati. Setiap warga kota Semarang, mulai November 2017 bisa berobat gratisss! Hal ini membuat warga berbondong-bondong mendatangi faskes untuk mendapatkan pengobatan. Tapi tak sesederhana itu, lho!

Sesungguhnya apa sih, program UHC itu?

Nah, pada sesi sore, para blogger bertemu dengan ibu Lilik Farida, beliau adalah Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Kota Semarang. Ibu Lilik menjelaskan bahwa UHC ini adalah program kesehatan kota Semarang yang bekerjasama dengan BPJS. Program UHC membuat masyarakat kota Semarang tidak perlu membayar premi BPJS sendiri, melainkan dibayarkan oleh pemerintah kota Semarang. Waaaw!

Tapi tunggu dulu, premi BPJS yang akan dibayarkan itu khusus untuk BPJS kelas 3. Nah, catatannya begini, setelah mendapatkan program UHC, masyarakat berarti telah setuju untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan plafon BPJS kelas 3. Jika nanti terjadi sakit dan ingin naik ke kelas 2 atau 1, maka otomatis keikutsertaan dalam program UHC dinyatakan gugur.

Jadi UHC ini adalah program bantuan pembayaran iuran (bantuan iur) BPJS (kelas 3) untuk masyarakat kota Semarang. Apa saja syarat kepesertaan UHC? Yang pertama, punya dokumen kependudukan kota Semarang, setidaknya 6 bulan. Kedua, mau mendapatkan pelayanan kesehetan tingkat pertama di faskes di kota Semarang. Selanjutnya dan yang penting, pendaftaran tidak dapat diwakilkan, alias no calo!

Bagi satu keluarga dalam satu KK dapat didaftarkan oleh kepala keluarga atau salah satu anggota keluarga di dalam KK tersebut. Bagi lansia atau siapapun yang sudah tinggal sendiri, dan dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk mendaftar sendiri ke dinas kesehatan kota Semarang, misalnya karena sakit, bisa mendaftarkan program UHC melalui Puskesmas setempat.

Ingat yaa, UHC akan gugur jikalau peserta ingin naik kelas pelayanan BPJSnya. Dan bagi yang masih memiliki tunggakan BPJS juga harus melunasinya dulu.

Dengan demikian, UHC ini semua warga kota Semarang adalah penerima bantuan iur. Meskipun demikian, mengingat bahwa bantuan iur yang diberikan berupa layanan untuk BPJS kelas 3, masyarakat diharapkan bisa mempertimbangkan sendiri, sasaran dari program UHC ini untuk siapa.

Selain menyampaikan tentang program UHC, bu Lilik juga menjelaskan tentang program PIS-PK. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS PK). Program ini adalah melakukan kunjungan ke seluruh keluarga di Kota Semarang untuk mendata tentang kesehatannya. Jadi bentuknya berupa kegiatan survey ke rumah-rumah. Indikatornya ada 12, sebagai berikut:
  1. Keluarga mengikuti program KB
  2. Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan
  3. Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap
  4. Bayi mendapat ASI eksklusif
  5. Balita mendapatkan pematauan pertumbuhan
  6. Penderita tuberkulosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar
  7. Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur
  8. Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan
  9. Anggota keluarga tidak ada yang merokok
  10. Keluarga sudah menjadi anggota JKN
  11. Keluarga mempunyai akses sarana air bersih
  12. Keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat
Atas dasar ke 12 indikator tersebut, keluarga dinyatakan sehat bila >80% tergolong baik. Nah, sebagai warga kota Semarang harus dukung PIS-PK ini ya. Jadi kalau ada petugas kesehatan yang datang, harap diterima dengan tangan terbuka. Tidak perlu disuguhi teh anget atau cemilan kok, hehe, yang penting sampaikan informasi dengan sejujurnya. Data-data ini penting untuk mengembangkan rencana kerja dan program kesehatan yang penting dan cocok untuk warga kota Semarang.

Yuk, cek kesehatanmu secara rutin

Dukung GERMAS dengan Cek Kesehatan Secara Rutin

Naah, sesi malam adalah sesi yang cukup mendebarkan sebetulnya. Hehe. Bukan karena agak ngantuk, tapi karena semua peserta akan dites gula darah dan kolesterolnya. Buat saya, yang tidak pernah rutin memeriksakan kesehatan, hal ini bikin deg-deg-an. Bukan karena takut jarum, tapi takut angka hasilnya. Meski sejujurnya saya nggak terlalu mudeng, angka yang bagus itu berapa. Alhamdulillah, tekanan darah, gula darah, juga kolesterol normal bahkan low. Tapi berat badannya masih belum normal. Uhuk.

Sejatinya, pemeriksaan kesehatan rutin ini salah satu program yang penting dalam pemeliharaan kesehatan. Melalui Program GERMAS atau Gerakan Masyarakat Sehat yang dicanangkan secara nasional, Cek Kesehatan secara Rutin adalah fokus program di tahun 2017 ini selain Aktivitas Fisik, dan Perbanyak Makan Sayur dan Buah.

Keterangan tentang GERMAS bisa baca: Hidup Sehat dengan GERMAS

Padahal rasanya males ya, wong nggak sakit kok harus cek kesehatan. (Helow judulnya aja cek kesehatan, bukan cek kesakitan)

Jadi seperti disampaikan oleh Ir. Purwati, kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, yang menegaskan juga informasi dari dr Widoyono siang harinya, bahwa penyakit-penyakit tidak menular itu semakin merajalela. Bahkan secara ekstrem menghabiskan porsi yang besar dari dana BPJS Kesehatan. Nah lho. Jadi dengan GERMAS, salah satunya kita secara sadar memeriksa kesehatan diri sendiri, bisa mengurangi terjadinya penyakit-penyakit tidak menular yang menggerogoti dana kesehatan bangsa ini. Penyakit-penyakit itu antara lain stroke, diabetes, gagal ginjal.

Mau cek kesehatan di mana? Ke Puskesmas aja! Jadi, jangan malaassss! Yuk GERMAS!

Rockport, bukan sebangsa Musik Metal.
BBB - Blogger-Blogger Bahagia Hehe

Pagi hari yang dingin di Ungaran, tapi hari cerah. Kami sudah digiring ke parkiran The Wujil untuk mengukur kebugaran tubuh dengan metode Rockport. Beberapa hari sebelumnya sempat cari tahu tentang metode ini. Takutnya badan yang kaku kaku karena jarang olah raga ini tak akan sanggup menanggung deritanya. Hihi, lebay.

Tapi ternyata metode Rockport ini sederhana, dan bisa kita lakukan sendiri. Metode ini juga bukan sebangsa ospek, karena benar-benar menyesuaikan dengan kondisi badan masing-masing peserta. Jadi intinya adalah peserta melakukan aktivitas lari/ jogging/ jalan cepat/ jalan lambat/ jalan santai semaksimal yang bisa dilakukan oleh tubuhnya, sejauh 1mil, atau sekitar 1,6 km. Setelahnya bisa diukur tingkat kebugaran masing-masing.

Mengapa tes kebugaran ini penting? Karena dengan menilai kebugaran seseorang dapat digunakan untuk mencegah atau bahkan mengobati penyakit-penyakit yang menyebabkan kemunduran kesehatan akibat gaya hidup yang tidak sehat dan atau penuaan

Tes Kebugaran dapat mengukur tingkat kebugaran seseorang dengan mengukur volume seseorang dalam mengkonsumsi oksigen saat latihan dan kapasitas maksimum (VO2 Maks). VO2 Maks adalah Oksigen maksimal yang dapat digunakan oleh tubuh manusia untuk melakukan aktivitas yang intensif. Biasanya VO2 Maks dinyatakan dalam satuan liter per menit atau mililiter/menit/kgBB.

Tes kebugaran ini juga dipakai untuk calon jamaah haji.



Nah, sebelumnya kami sempat mengisi kuesioner tentang kondisi tubuh masing-masing. Beberapa dari kami yang pernah mengalami atau menderita masalah kesehatan seperti sering mengalami nyeri dada di bagian kiri, atau pernah dinyatakan menderita sakit tertentu oleh dokter, akan diberi pengawasan khusus.

Alurnya begini:

1. Sebelum memulai pemanasan, dilakukan penghitungan denyut nadi permenit. Denyut saya 88.
2. Pemanasan/ peregangan ringan.
3. Lari/ jogging/ jalan di lintasan sejauh 1,6 km. (Waktu tempuh dihitung) Kaki saya lagi bengkak tidak memungkinkan dibawa lari, akhirnya jadi jalan cepat.
4. Di garis finish dilakukan penghitungan waktu tempuh, dan denyut nadi. Waktu tempuh saya 14 menit dan denyut saya (cuma) 100. Haha. Nambah dikit banget.
5. Mencocokkan hasil waktu tempuh dan denyut nadi dengan tabel yang ada di formulir kebugaran.

Selain data-data di atas, hasil metode Rockport ini di pengaruhi oleh jenis kelamin, dan usia. Nah, hasilnya, berdasarkan usia saya, kebugaran saya ada di kelas: Cukup. Yaa lumayaaan. Daripada Kurang atau Kurang Banget. Sedihnya sebagian besar dari kami, meskipun masih muda –ehm-, justru punya tingkat kebugaran yang Kurang. Kalaah dengan ibu-ibu dari Dinas Kesehatan yang lebih senior tapi tingkat kebugarannya “Sangat Baik”. Hoho. Larinya aja jauh lebih cepat dari sayaaa. Beliau 11 menit. Huhu.

Tapi kami semua, sepulang dari acara temu blogger kesehatan ini, bertekad di dalam hati untuk menjadi lebih bugar dan sehat! Dalam rentang 3 bulan, bisa dilakukan tes dengan metode ini secara mandiri. Semoga hasilnya lebih baik.

Selama dua hari bersama Dinas Kesehatan Kota Semarang, membuka wawasan saya tentang hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan, atau ada di depan mata tapi enggan merhatiin. Padahal setiap diri kita bertanggung jawab dan memberikan kontribusi entah negatif atau positif untuk kesehatan tidak hanya diri sendiri dan keluarga, tapi juga lingkungan. Karena akan jadi apa masalah kesehatan di kota kita, bahkan di alam semesta ini, dipengaruhi oleh diri kita. Be A Healthy Hero!
Semua pengen bahagia dan sehat, sisters, roomie, dan rombongan
Satu kepakan sayap kupu-kupu, bisa jadi awal badai yang dahsyat.

Friday, November 17, 2017

Internet Sehat Jadi Manfaat

Zaman dahulu internet dikembangkan sebagai sebuah proyek rahasia militer. Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengembangkan internet pada tahun 1969, sebagai sebuah teknologi untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lain yang tersebar di daerah-daerah vital untuk mengantisipasi masalah terkait serangan nuklir.

Teknologi lain yang kemudian berkembang sehubungan dengan internet adalah World Wide Web (www) yaitu sebuah media elektronik yang dapat diakses secara global melalui jaringan internet. Selepas tahun 1990, the world wide web adalah media yang membuat kita bisa mengakses aneka konten mulai dari gambar, surat kabar, radio, hingga televisi.
Seperti juga pada awal kemunculannya di dunia, internet di Indonesia pada awalnya digunakan di dalam ranah akademisi. Bisa mengakses internet adalah barang mewah yang tidak sembarang orang dapatkan dengan mudah. Tapi kini teknologi berkembang sangat pesat. Semua orang just one touch away from the internet.  

Saya ingat banget zaman mengakses internet dengan kabel telepon terhubung di modem PC. Istilahnya “dial up”. Lalu berharap-harap internet tersambung sembari mendengar suara-suara khas sambungan telepon. Jingle iklan lagu: kosong delapan kosong sembilan delapan... dst. yang berisi nomor-nomor yang harus ditekan untuk membuat sambungan internet lewat jaringan telepon kabel juga masih nyantol di kepala. Tarif internet saat itu berkisar antara 15ribu rupiah untuk akses internet per jam lewat kabel telepon. Tapi jangan ditanya kecepatannya. Untuk membuka satu email perlu waktu sekitar satu sampai dua menit.

Selanjutnya mulai muncul perusahaan Internet Service Provider (ISP). Kantor saya bersama teman-teman akhirnya memutuskan untuk berlangganan internet lewat ISP ini. Biayanya sekitar 500 ribu per bulan. Tapi, sebelumnya kami harus memasang antena dan perangkat lain di atap kantor, yang memakan biaya sekitar 3 jutaan. Itu waktu tahun 2000an. Cukup mahal, kan. Tapi layanan ISP ini lumayan cepat, dan bisa dipakai untuk beberapa komputer di kantor. 

Punya sambungan internet unlimited sangat memudahkan saya dalam menyelesaikan berbagai urusan.  Selain untuk menyelesaikan pekerjaan, bahagia rasanya bisa akses internet tanpa ngitung jam dan bisa mendapatkan bahan-bahan tugas kuliah dengan lebih cepat. Sekali-sekali, internet juga saya pakai untuk berkomunikasi dengan teman-teman kuliah via mailing list dan Yahoo Messenger. Internet sungguh berfaedah. Hehe.

Internet, Kebutuhan Pokok
Kini masa internet susah memang sudah berlalu. Teknologi semakin murah, dan saya sangat terbantu karena banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan tanpa harus melulu datang ke kantor. Bisa email aneka dokumen, bisa berkomunikasi bahkan video call lewat ponsel sekalipun sedang di gunung, sungguh terbantu dengan internet.  

Seolah-olah, akses internet sekarang termasuk dalam 10 bahan pokok kehidupan umat manusia. Tidak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak. Anak-anak masa kini yang sering disebut generasi Z, adalah anak-anak yang seakan baru lahir saja sudah nempel dengan kebutuhan berinternet. Ibu-ibu mana yang nggak pernah mempertontonkan lagu Baby Shark di rumah untuk anak balitanya lewat Youtube? Generasi Z juga sangat mudah beradaptasi dan menyerap teknologi baru.

Padahal Generasi Z ini sebagian besar ortunya adalah generasi X dan Y yang rata-rata baru melek internet selepas akil baligh. Nanti setelah generasi Z datang lagi generasi Alpha yang akan menyimpan semua datanya secara online di cloud. Generasi Alpha ini akan menemukan aneka teknologi yang lebih canggih lagi. Mungkin di masa depan orang tinggal kedip langsung konek internet. 

Internet Sehat biar Manfaat
Derasnya arus informasi di internet memang sulit untuk dibendung. Seperti pisau, internet bisa bermanfaat, bisa juga membuat celaka. Terutama karena aneka konten tidak baik yang sangat mudah tersebar berkat mudahnya akses internet. Hal negatif dari internet yang sedang gencar diperangi pemerintah adalah penyebaran berita tidak benar atau berita hoax. Hoax ini sangat berbahaya karena tersebar dengan begitu cepat dan tanpa filter. Tidak semua orang cukup bijak melakukan cek dan ricek kebenarannya. Belum lagi pornografi, kekerasan, dan lain-lain yang sangat mudah tersebar lewat internet.

Meskipun internet bisa disebut termasuk bahan pokok kehidupan manusia sekarang, sebagai pemakai, kita jangan sampai diperbudak internet. Sebagai pengguna yang pintar, harus bisa mengelola penggunaan internet yang sehat, supaya internet benar-benar menjadi manfaat bagi kita.

Internet Sehat untuk Anak-anak

Anak-anak sekarang tidak ada yang bisa steril dari internet. Selain untuk keperluan tugas sekolah, bermain, internet juga dipakai untuk hiburan.

<a href='https://www.freepik.com/free-photo/cute-kid-with-tablet-in-the-dark_1188247.htm'>Designed by Freepik</a>

Saya termasuk yang tidak menerapkan secara saklek kepada anak-anak, jam-jam untuk berinternet. Mengapa? Ya ini karena saya menyadari kalau dengan aktivitas dan pekerjaan saya membuat saya terkadang butuh untuk berinternet kapan saja, tanpa dibatasi jam kerja. Saya tidak mau anak-anak protes karena melihat orang tuanya akses internet dengan bebas, sementara mereka cuma bisa menontoni. Kami menyediakan waktu mereka mengakses internet lewat ponsel atau komputer yang tidak saklek tapi tetap terkontrol.
Langkah-langkah yang dilakukan antara lain:
  • Meletakkan komputer di ruang keluarga. Setidaknya apa yang dibuka anak-anak bisa lebih terkontrol karena tidak sembunyi.
  • Mengaktifkan restricted mode di Youtube dan mesin pencari sembari secara insidental turut menemani anak ketika menonton.
  • Mengontrol setiap game yang akan diunduh di ponsel sampai ke iklan-iklannya.
  • Belum memperbolehkan anak-anak memiliki ponsel sendiri dan media sosial.
  • Memberikan fasilitas untuk anak-anak bisa beraktivitas di rumah selain memakai ponsel/ PC. Intinya kalau melarang atau membatasi, harus mencarikan ganti aktivitas yang bisa mereka lakukan.
  • Selalu update dengan perkembangan teknologi

Tapi saya kira sepandai apapun kita memfilter dengan teknologi, informasi negatif dari internet akan selalu menemukan caranya untuk mencapai anak-anak kita. Jadi yang paling penting bukan hanya membatasi internet secara teknologi, tapi membentengi diri sendiri dan keluarga dari pengaruh negatifnya dengan berusaha memberikan pengertian tentang dampak negatif konten tak sehat kepada anak-anak.

Tips internet sehat untuk Saya
Karena sehari-hari juga menggunakan internet, saya berusaha membatasi diri juga agar penggunaan internet tetap bermanfaat. Antara lain:
  • Tidak jadi follower akun-akun gosip atau akun yang sering menyebarkan berita negatif. 
  • Tidak gatal menyebarkan berita yang diterima lewat medsos
  • Tidak reaktif terhadap berita di medsos. Selalu cek dan ricek. 
  • Banyak beraktivitas dengan orang lain, menjadi anggota masyarakat yang aktif. 
Salah satunya untuk bisa memanfaatkan internet yang sehat adalah menjadi anggota komunitas yang mendorong pemanfaatan teknologi dan internet ini untuk menjadi lebih produktif. Salah satunya dengan bergabung bersama komunitas Gandjel Rel. Di sana banyak blogger, influencer, penulis, dan anggota yang tak segan berbagi ilmu dan pengalamannya di dunia yang erat kaitannya dengan internet.

Siapa yang tidak terinspirasi dengan Mbak Penulis, blogger, seleb, yang kece dan humble, Dewi Rieka,  atau mbak blogger yang aktif di berbagai komunitas Prananingrum? Seperti arisan blog Gandjel Rel kali ini, tentang internet sehat. Berinternet sehat, salah satunya ya dengan menulis konten yang sehat. Semoga tulisan saya untuk arisan blogger Gandjel Rel kali ini juga bermanfaat.


Monday, November 13, 2017

Dari HIJUP dan Arisan Resik untuk Keluarga Harmonis


Tinggal di negara beriklim tropis lembab membuat tubuh kita mudah berkeringat dan kotor. Apalagi sebagai perempuan, aktivitas kita tidak terbatas pada urusan pekerjaan, tapi juga urusan rumah tangga. Biasanya salah satu kegiatan paling mujarab untuk mengembalikan kesegaran dan kebersihan tubuh adalah dengan mandi dengan sabun.

Tapi tentunya tidak semua bagian tubuh kita bisa dibersihkan dengan produk yang sama. Misalnya sabun untuk badan, tidak pas jika dipakai untuk wajah. Alih-alih bersih, kulit wajah kita bisa kering, gatal atau teriritasi. Wajah memang seringkali dianggap sebagai aset kecantikan yang paling berharga. Sudah lazim kalau setiap orang khususnya perempuan memiliki aneka produk perawatan untuk wajahnya.

Sayangnya kaum perempuan sering melupakan perawatan salah satu bagian tubuh yang tak kalah pentingnya, yaitu area kewanitaan. Sebagai bagian dari kecantikan perempuan, area kewanitaan seringkali hanya dirawat dengan produk seadanya. Padahal kalau kita tidak cermat menjaga kebersihannya, kesehatan tubuh bisa terganggu. Area kewanitaan yang tidak sehat bisa juga berakibat pada berkurangnya keharmonisan keluarga. 
HIJUP Bloggers Meet Up X Arisan Resik
Nah, bagaimana agar aktivitas super padat jalan terus, tapi kesehatan area kewanitaan dan keharmonisan rumah tangga tetap terjaga?
Semua itu dibahas dalam kegiatan penuh manfaat dari HIJUP dan Resik-V Godogan Sirih di Semarang pada tanggal 28 Oktober 2017.

HIJUP Bloggers Meet Up x Arisan Resik
Semarang menjadi salah satu kota yang beruntung disinggahi #HIJUPevent, yaitu HIJUP Bloggers Meet Up X Arisan Resik yang diperuntukkan khusus untuk para perempuan. Saya juga merasa sangat beruntung bisa terundang dalam acara ini. #HIJUPmeetupsemarang ini digelar di satu venue baru dan keren di Semarang yaitu Verve Bistro and Cafe.
Peserta arisan sumringah menanti acara Arisan Resik dimulai.
Segarnya nuansa hijau mendominasi suasana #HIJUPbloggersmeetup mulai dari penataan meja, Hampers cantik dari HIJUP dan Resik-V, sampai pakaian yang dikenakan oleh peserta arisan. Arisan Resik bukan arisan biasa, tapi arisan sarat ilmu. Forum ini berisi komplit mulai dari ilmu bisnis dari mbak Fitri Aulia, founder brand muslimah KIVITZ, ilmu kecantikan dan kesehatan dari ibu Yuna Eka Kristina, Senior Public Relation PT Kino Indonesia, juga ilmu kreatif tentang hand lettering dari mbak Mila bersama komunitas DudukNyeni dan Semarangcoret.

Bisnis Manis, Keluarga Harmonis
Ibu Yuna dan mbak Fitri Aulia
Para peserta arisan terinspirasi ketika Mbak Fitri Aulia mengungkapkan kisahnya ketika merintis brand baju muslimah KIVITZ. Brand yang mengusung konsep Syar’i and Stylish ini dibangunnya bersama sang suami. Meskipun suami istri, Mbak Fitri dan suami tetap berusaha profesional dalam mengurus usaha bersama ini. Pembagian tugas yang jelas diantara keduanya membuat perusahaan yang dirintis sejak tahun 2010 telah berhasil dikenal sebagai salah satu brand baju muslim terkemuka di Indonesia.

Mbak Fitri membagikan tips bagi yang ingin memulai bisnis, terutama bisnis fashion. Diantaranya, ketika akan memulai suatu bisnis, harus paham betul passion kita apa, lalu kompetitor kita siapa. Setelah tahu itu semua, kita harus bisa menunjukkan karakter atau kelebihan kita. Proses untuk mengawali bisnis bisa dibilang cukup panjang, karena setelah melalui semua perhitungan yang cermat barulah kita bisa menghasilkan produk yang baik.

Sebagai founder dari brand baju muslim terkemuka, aktivitas Mbak Fitri tentunya sangat padat. Tapi meskipun sibuk bekerja, Mbak Fitri tetap mengalokasikan waktu untuk menjaga kesehatan dan kecantikan tubuhnya. Terbukti dengan penampilan Mbak Fitri yang selalu memesona. Menurut Mbak Fitri, menjaga kecantikan tubuh penting untuk tetap menciptakan keluarga yang harmonis. Jangan sampai bisnis melejit, tapi kita lupa dengan tubuh sendiri. Keharmonisan keluarga juga terletak pada kesehatan dan kecantikan tubuh.

Selain kecantikan wajah, Mbak Fitri tak pernah alpa menjaga kesehatan organ-organ tubuh lainnya termasuk organ reproduksi, terutama area kewanitaan.

Jangan sampai wajah atau penampilan kita cantik,  tapi tidak resik.

Merawat Area Kewanitaan dengan Resik-V Godogan Sirih
Resik-V Godogan Sirih yang Praktis dan Aman
Untuk urusan merawat area kewanitaan,  ibu Yuna memperkenalkan salah satu produk unggulan dari PT Kino Indonesia yaitu Resik-V Godogan Sirih. Resik-V Godogan Sirih adalah antiseptik alami yang terbuat dari air rebusan daun sirih, dan diperkaya dengan Ekstrak Rumput Fatimah. Sejak zaman dahulu nenek moyang bangsa Indonesia memang sudah mengenal #manfaatdaunsirih sebagai pembersih kewanitaan. Di rumah eyang saya, ada ember khusus berisi air rebusan sirih yang disediakan di kamar mandi untuk keperluan membasuh area kewanitaan sehabis buang air. Karena Resik-V Godogan Sirih terbuat dari air rebusan daun sirih asli, aromanya juga persis dengan buatan eyang saya dulu.

Kini dengan adanya Resik-V Godogan Sirih, untuk membersihkan dan memelihara kesehatan area kewanitaan menjadi semakin praktis. Tinggal tuang secukupnya ke telapak tangan, diusapkan ke area kewanitaan, lalu bilas dengan air hingga bersih.

Resik-V Godogan Sirih mampu #mengatasikeputihan, gatal-gatal, serta mengurangi bau tak sedap di area kewanitaan. Secara mikrobiologi, produk ini sudah teruji dapat membantu mengurangi jumlah Jamur Candida Albicans yang menyebabkan #keputihan. Dan yang bikin tambah mantap, Resik-V Godogan Sirih sudah mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia.

Ibu Yuna menyarankan Resik-V Godogan Sirih digunakan dua kali sehari, terutama jika sedang menstruasi. Produk ini aman karena tidak membunuh flora normal di area kewanitaan. Jadi tidak menyebabkan kering seperti yang sering dikhawatirkan selama ini. Untuk kerabat perempuan yang sudah mensturasi, meskipun belum menikah, bisa menggunakan Resik-V Godogan Sirih untuk membantu menjaga kebersihan area kewanitaan.

Belajar Hand Lettering 
Perlengkapan Hand Lettering dalam HIJUPxArisan Resik
Ilmu ketiga yang dibagikan dalam HIJUP Bloggers Meet Up X Arisan Resik kali ini adalah ilmu hand lettering. Para peserta Arisan Resik antusias mencoba setelah mendengarkan penjelasan dari Mbak Mila tentang seni menggambar huruf ini. Singkat saja pemaparannya, karena yang penting praktek!
Semangat berlatih hand lettering
Peralatan komplit sudah dipinjamkan kepada semua peserta arisan, tapi kami masih deg-degan menorehkan kuas ke atas kertas. Menulis dengan media cat air ini memang tricky. Karena tekanan tertentu akan mengakibatkan tebal dan tipisnya huruf yang berbeda. Intinya sih semakin konsisten semakin baik. Kuncinya: naik tipis, turun tebal. Hehe.

Akhirnya setelah berlatih beberapa saat, tangan mulai terbiasa. Meskipun rada belepotan, jadi juga karya hand lettering saya yang pertama.

Tipsnya: tangan memang harus nyaman ketika memegang kuas, dan sebaiknya posisinya berbeda dari posisi ketika kita menulis pakai pulpen. Agak miring-miring gitu, deh.

Embrace our femininity, pakai Resik-V Godogan Sirih.
Arisan Resik akhirnya ditutup dengan bagi-bagi hadiah. Alhamdulillah, selain hampers cantik yang dibagikan untuk seluruh peserta arisan, saya dapat hadiah dari karya hand lettering, dan dapat “kocokan” arisan berupa voucher belanja dari HIJUP sebesar Rp 250.000. Wah, senangnya bisa belanja di situs yang komplit menyediakan aneka busana muslimah dari brand-brand terkemuka.

Tapi hadiah yang dibagikan tidak hanya untuk peserta arisan, karena HIJUP juga bagi-bagi voucher belanja sebesar Rp 50.000 dengan ketentuan belanja minimum Rp 250.000 buat kita semua. Caranya gampang, masuk ke situs HIJUP dengan klik banner di bawah ini untuk membuka situs HIJUP. Setelah belanja, masukkan Kode Voucher:HIJUPBMUSEMARANG di menu pembayaran. Segera dipakai vouchernya, ya!
Klik dan dapatkan Voucher Belanja 50.000!

Terima kasih HIJUP dan Arisan Resik, acaranya menyenangkan dan sarat manfaat. Semoga semakin berkah, dan silaturahim antara kita terus terjaga.