Monday, November 4, 2019

Sehari di Kampung Nyusu


Wilayah Kabupaten Semarang memiliki beragam daya tarik wisata mulai dari wisata alam hingga buatan. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah Semarang dan sekitarnya, wilayah Bandungan dan Kopeng, dikenal sebagai daerah dengan hawa dingin yang menjadi salah satu tujuan wisata keluarga.

Nah diantara puluhan daya tarik wisata di Kabupaten Semarang, ada 35 desa wisata yang kian hari semakin dibenahi untuk menarik lebih banyak lagi wisatawan ke wilayah ini. Memang wilayah Kabupaten Semarang ini masih memiliki daerah-daerah pedesaan dengan potensi wisata alami. Selain Desa Menari di Tanon Getasan, di wilayah yang berdekatan ada juga desa wisata yang terkenal dengan jargon Kampung Nyusu. 

Pas banget di hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 2019 kemarin, saya bareng rombongan bloger diajak oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang untuk mengunjungi Kampung Nyusu ini yaitu Desa Sumogawe di wilayah Getasan. Desa-desa di wilayah ini memang dikenal sebagai penghasil susu. Rata-rata warga memiliki sapi perah dan di sana juga terdapat koperasi peternakan sapi perah sekaligus pengolahan susu. 

Mengenal Tradisi Saparan


Hari kunjungan kami waktu itu jatuh pada hari pasaran Senin Legi, yaitu hari untuk perayaan Saparan di dusun Sumogawe. Perayaan Saparan (yang diambil dari kata: Bulan Safar dalam penanggalan Islam) sendiri merupakan tradisi di desa-desa di Indonesia terutama di wilayah Jawa. Masing-masing desa biasanya memiliki harinya sendiri. 
Suasana Jalan dusun Sumogawe
Selepas berkendara sekitar 45 menit dari kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, kami tiba di Sumogawe. Hawa cukup sejuk karena dusun ini berada di lereng gunung Merbabu. Suasana jalan desa meriah dipenuhi pedagang yang menjajakan aneka jenis barang dari makanan hingga mainan. 
Panggung acara sudah didirikan di salah satu pelataran warga. Di satu sisi makanan khas desa seperti pisang, telo dan kacang rebus, terhidang di atas meja, bersama –tentu saja- produk khas desa Sumogawe, susu. 
Siapa yang langsung terngiang jinglenya?

Saya baru tahu kalau salah satu produk susu yang dijual keliling dengan jinglenya akrab banget di telinga saya sejak zaman kuliah, ternyata diproduksi di wilayah ini.


Waktu kami tiba di Sumogawe sekitar pukul 10 pagi, acara kirab sudah dimulai. Masyarakat Sumogawe dari berbagai kalangan, mulai dari para sesepuh desa hingga anak-anak, turut meramaikan kirab. Seluruh peserta kirab berjalan dan berbaris mengelilingi desa dengan atributnya masing-masing, termasuk membawa gunungan berisi hasil bumi seperti sayur dan buah-buahan, tak ketinggalan tumpeng dan ingkung (ayam). 
Gunungan Hasil Bumi
Peserta Kirab
Tradisi Saparan, atau juga disebut oleh pak Lurah dalam sambutannya sebagai kegiatan Merti Deso diadakan setiap tahun di hari Senin Legi. Kegiatan ini sudah dilakukan di Sumogawe sejak zaman nenek moyang. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan semua umat. Karena pada hari itu semua unsur lapisan masyarakat berkumpul.


Tidak hanya warga dusun Sumogawe saja, tapi juga warga dari dusun tetangga. Termasuk juga sahabat dan para kerabat diundang dan sengaja hadir khusus dalam rangka Saparan ini. Kami juga berbaur bersama warga menonton pertunjukan seni yaitu Tari Prajuritan, yang berkisah tentang perjuangan pangeran Diponegoro melawan penjajah. 
Tari Prajuritan
Selain panggung pertunjukan seni, acara Saparan yang mengingatkan saya pada suasana Lebaran di kampung simbah ini dimeriahkan dengan acara saling berkunjung ke rumah-rumah warga. Begitupun kami, dengan ditemani mas dan mbak dari Sumogawe yang dilatih untuk memandu pengunjung, kami turut merasakan keakraban dan keramahan warga Sumogawe, dan tentu saja, aneka masakan dan camilan yang dihidangkan di rumah-rumah. 

Alhamdulillah, kenyangnya tahan sampai besoknya. Hehe. 

Keramahan Warga desa
Seluruh warga dengan senang hati menghidangkan aneka masakan kepada siapa saja yang berkunjung ke rumahnya. Bahkan konon semakin banyak yang berkunjung, warga akan semakin senang. Semuanya merupakan wujud tanda syukur kepada Allah, dan berharap diberikan keselamatan dan panjang umur, serta murah rezeki. 

Ken Nyusu


Ada yang kurang dalam arak-arakan hasil bumi dalam acara Saparan kemarin, yaitu arak-arakan sapi, hehe. Warga desa rata-rata memiliki lima ekor sapi perah di rumahnya. Susu yang dihasilkan menjadi salah satu sumber mata pencaharian warga. 

Truk Tangki Susu di Koperasi
Susu yang dihasilkan di wilayah melimpah ini bisa mencapai 80.000 liter setiap harinya. Susu sapi yang dihasilkan, selain disalurkan ke pabrik-pabrik susu besar, oleh warga sebagiannya disulap menjadi berbagai bentuk olahan seperti sabun, pie susu, kerupuk susu, yoghurt, kefir dan es krim. Sayang hari itu kami tidak sempat mampir untuk belanja produk-produk ini. Warga juga sedang repot mengurusi acara Saparan, jadi tidak sempat membuat stok yang cukup. 

Tempat Penyimpanan Biogas
Setelah perut kenyang dengan hidangan warga Sumogawe tadi, kami diajak ke salah satu Koperasi tempat pengolahan susu sapi, sekaligus tempat peternakan sapi perah di dusun Bumiharjo masih di wilayah Getasan. Tapi lagi-lagi kami tidak tiba di waktu yang tepat, alias belum bisa melihat proses pemerahan susu sapi. Sapi-sapi itu biasa diperah hanya di waktu-waktu tertentu, pagi dan sore. Kandang sapi milik Koperasi ini juga memanfaatkan kotoran sapi sebagai biogas, untuk bahan bakar. 
Tata Cara Pemerahan Susu Sapi
Yang menarik juga dari perjalanan hari itu adalah demo pembuatan keju mozzarela di rumah warga di dusun Magersari. Menarik buat ibu-ibu kayak saya, mungkin hehehe. Ternyata keju mozzarela yang sering kita jumpai jadi topping pizza dan meleleh itu bisa juga dibuat di rumah. Malahan kalau keju produksi sendiri, kita bisa memastikan bahan bakunya lebih banyak susu asli, ketimbang bahan tambahan lainnya. 
Demo Pembuatan Keju Mozzarela
Wisata di Kampung Susu memang menyuguhkan pengetahuan kepada pengunjungnya mulai dari cara beternak hingga cara mengolah hasil ternak, alias susu. Salah satunya dengan belajar membuat keju sendiri. 

One Day Tour

Untuk siapa saja yang ingin berwisata di wilayah Kabupaten Semarang, Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang bisa memfasilitasi One Day Tour dengan biaya 150ribu rupiah per-orang. Paket ini bisa dipesan untuk minimal 15 peserta. 

Dengan biaya tersebut, rombongan mendapatkan fasilitas 1 kali makan, 1 kali snack, dan transportasi AC, dengan area penjemputan dan pengantaran bebas selama berada di wilayah Kabupaten Semarang atau kota Semarang. Jika penjemputan di luar wilayah bisa diatur dengan biaya tambahan. 

Rombongan bisa memilih tiga obyek wisata di wilayah Kabupaten Semarang, dengan syarat salah satunya adalah milik Pemda Kabupaten. Obyek wisata milik Kabupaten Semarang diantaranya adalah Candi Gedongsongo, Bukit Cinta Rawa Pening, Palagan Ambarawa, Pemandian Muncul dan Muncul Waterpark. 

Kalau tertarik mengikuti One Day Tour ini bisa cari-cari info di Instagram @pesona_kabsemarang