Sunday, March 25, 2018

Backpackeran ke Bali dengan 100 Ribu

Ada disclaimer dalam tulisan ini. Hehe.

Kemana kamu akan pergi kalau kamu mendapatkan kesempatan untuk pergi kemana saja di Indonesia? Mungkin itu pertanyaan yang bisa mewakili tema Arisan Blogger tentang Destinasi Impian di Indonesia dari Mara dan Erina, duo gadis yang ngehits di sosmed dan dunia perbloggeran kota Semarang.

Kalau pertanyaan itu ditanyakan ke saya, jawabannya: saya pengen pergi ke Bali. Yaah pembaca kecewa.. hihihi. Kok bukan ke Raja Ampat, Labuan Bajo atau Aceh gitu?
Destinasi Impianku: Bali
Kenapa Bali?

Di benak saya, ada beberapa tempat yang membangkitkan nostalgia. Kalau yang dekat, tuh: Yogya, tanah kelahiran saya. Tempat lainnya adalah Bukittinggi, tempat saya KKL bareng teman-teman kuliah. Tempat-tempat dengan kenangan istimewa seperti itu selalu bikin excited, karena ada nuansa dan suasana yang bikin kangen. Gitu. Jadi meskipun saya juga belum pernah ke tempat-tempat indah lainnya, karena kangen, saya tetep pengen ke Bali.

Pengalaman ke Bali waktu masih balita cuma bisa diingat lewat media foto-foto. Zaman itu sih perginya bareng keluarga besar. Selepas itu ke Bali waktu zaman SD, road trip sama ortu dari Solo. Masih terbayang suasana jalan sunyi menuju suatu kawasan Pura yang baru saya tahu sekarang itu Pura Gunung Kawi. Di ingatan saya juga masih lekat gambaran sebuah lukisan di salah satu museum yang kami datangi tentang neraka. Hiii. Saya nggak ngalamin ke Bali bareng teman-teman sekolah, karena waktu itu izin dari sekolahan buat Study Tour cuma mentok sampai ke Bandung.

Tapi selain itu semua, kenangan tentang Bali selanjutnya ini yang paling bikin saya kangen Bali: Perjalanan ke Bali 20 tahun yang lalu.

Road To Bali

Pada suatu masa, kala belum musim ada traveller dan nggak ada sosmed, saya sama tiga teman sekolah pernah backpackeran ke Bali dari Solo. Bermodal uang sekitar 100 ribuan rupiah di saku masing-masing, kami bisa sampai ke Bali dan menginap di sana dua malam. Saya cerita ini sekaligus sebagai catatan buat saya (dan tiga teman saya lainnya) barangkali kalau mau napak tilas.

Pantai Watu Ulo Jember dan fashion anak muda pada masanya. Sarung!
Kami berangkat dari Solo ke Jember naik mobil bapaknya salah satu teman saya yang memang sedang ada proyek di sana. Keesokan pagi sebelum jam enam pagi, tibalah kami di Jember. Hari pertama, kami diantar ke pantai Watu Ulo. Kenapa disebut pantai Watu Ulo, karena ada batu memanjang seperti ular yang menjorok ke laut. Setelah itu kami pindah ke sisi pantai yang lain, yang lebih banyak perahu-perahu dan bisa lihat pemandangan lebih bagus.

Malamnya, kami berembuk, kasak-kusuk tentang rencana perjalanan ke Bali yang sudah kami pikirkan sejak di Solo. Setelah memantapkan niat, waktu malam hari kami jalan-jalan, kami sempetin tuh beli peta Bali. Akhirnya dengan proposal yang tidak rumit, kami diizinkan ke Bali sama bapaknya sahabat saya itu. Tapi besok, jangan hari ini, kurang lebih begitu katanya. (Kalau Ibu saya sih udah tahu kalau saya mau lanjut ke Bali dari Jember.)

Hari kedua di Jember, kami diantar lagi ke Pantai, kali ini Pantai Pasir Putih di Utara. Di sana ada wisata naik perahu, dan pasirnya ternyata coklat. Demi pengiritan kami nggak ngapa-ngapain di sana selain makan bekal.

Menjelang tengah malam, kami diantarkan ke terminal bus. Dan bersyukur dapat bus terakhir malam itu yang menuju Bali. Jangan dibayangkan busnya nyaman, dengan reclining seat dan berAC. Bus kami itu penuh sesak, dengan extra kursi plastik di tengah-tengah deretan kursi. Beruntung kami berempat bisa keangkut naik bus itu semua. Bawaan saya, satu buah travel bag. Bawaan teman-teman saya, ransel masing-masing, gitar, dan radio tape. Jangan ditanya kenapa kok bawa-bawa radio tape segala, saya juga nggak gitu mikirin karena seingat saya sih tiap kami pergi entah itu dekat-dekat ke Tawangmangu aja, radio itu dibawa-bawa terus.

Menurut catatan saya, ongkos bus adalah 7000 rupiah.

Waktu itu tidak ada ponsel. Saya dibekali satu kartu ATM sama ibu saya, dan uang sekitar 100ribu rupiah. Sebelum berangkat (waktu di Solo), kami sepakat “setor” masing-masing uang saku sebesar 80 ribu rupiah. Maksudnya begini, kalau ada pengeluaran bersama seperti makan, bayar tiket masuk, kami nggak ribet lagi ngeluarin dompet masing-masing. Langsung dibayar sama satu orang aja. Kalau pengeluaran pribadi seperti beli oleh-oleh ya tetap urusan masing-masing. Karena satu-satunya perempuan, saya yang jadi bendahara rombongan.

Di dalam bus yang super penuh itu, kami berempat duduknya terpencar. Saya kebagian duduk di sebelah turis Jepang, yang mirip sama James Iha, gitarisnya Smashing Pumpkins. Mungkin karena karakter muka yang mirip, saya merasa aman di sebelah turis tinggi besar itu. Berasa satu rombongan, dan dijagain. Untung dia keren, jadi nggak bete berjam-jam di sebelahnya. Hihi.

Tiba di Bali

Menjelang pagi kami sudah diatas kapal Ferry menuju Gilimanuk dari Ketapang. Kira-kira jam sembilan, kami sampai di Terminal Ubung. Baru turun dari bus, langsung disambut sama supir angkot, yang menawari untuk mengantar kami ke Kuta. Kami bener-bener buta arah, nggak tahu Bali, dan cuma berbekal peta Bali yang kami beli di Jember. Nggak tahu juga mau nginep di mana. Ya udah, ikut dia aja.
Catatan selama di Bali.
Nggak ada catatan berapa ongkos angkutan itu. Berasa nyarter aja karena begitu kami berempat naik, pak supir langsung tancap gas dan kami tiba di hotel Yulia Kuta. Kami menyewa satu kamar dengan satu tempat tidur tanpa kamar mandi untuk saya, seharga 12 ribu (Kamar AB 301). Untuk tiga teman saya, satu kamar dengan kamar mandi seharga 30 ribuan (Kamar B-507). Jadi saya bisa numpang mandi aja di sana, kan. Setiba di kamar, saya langsung tidur, sementara tiga teman saya jalan-jalan.

Hotel Yulia ini masih ada lho, sekarang, coba aja cari Yulia Beach Inn. Lokasinya strategis banget di belakang Kuta Square dan cuma lima menit jalan kaki ke Pantai Kuta. Di sekitarnya banyak banget aneka toko kerajinan dan toko-toko unik lainnya. Katanya jalanan di situ sekarang macetnya bukan main. Tapi tetep kalau ke Bali, saya mau nginep di Hotel Yulia.

Keliling Bali tahun 90-an

Hari pertama di Bali, kami cuma jalan-jalan di seputar hotel. Temen-temen saya sempat masuk Hard Rock Café waktu saya tidur itu, dan cerita kalau di sana cuma berani pesen air mineral. Hihi. Sore harinya kami jalan ke Pantai Kuta. Dan ajaib, di antara jutaan kemungkinan, kami bisa-bisanya ketemu Ibu Susini, guru Bahasa Indonesia kami.

Malamnya kami jalan agak jauh dengan niat cari outletnya kaos Joger. Setelah muter-muter sekitar satu jam, kami tanya sama orang lewat, dan diberitahu kalau Joger sudah tutup. Rupanya jam bukanya cuma sampai sore hari. Kalau sekarang sih, Joger Bali buka dari jam sepuluh pagi sampai jam delapan malam.
Murah ya, 6000an buat makan empat orang. Hihi.

Soal makan di Bali, kami mesti hati-hati, karena konon banyak menu yang tidak boleh kami makan. Jadi demi kehati-hatian, dan pengiritan, malam itu kami makan nasi goreng, bubur ayam dan minumnya teh botol. 6500 rupiah saja untuk berempat. Dari catatan saya, ongkos makan kami memang rata-rata segituan sekali makan untuk berempat! Malam itu kami sempatkan menelepon ke rumah masing-masing, dengan telepon koin, dan modal 100 rupiah untuk percakapan 3 menit!

Hari kedua di Bali, kami memutuskan untuk sewa mobil. Sewanya minta bantuan hotel. Ongkos sewa mobil waktu itu 40 ribu rupiah untuk seharian. (Lepas kunci) Kami isi BBM 15 ribu rupiah. Mobilnya Jimny. Kalau sekarang, rental mobil lepas kunci di Bali ada yang cuma 150 ribuan per-harinya. Tergantung mobilnya apa.

Diantara kami berempat, cuma satu orang yang sudah lancar nyetir. Jadi dia bertugas jadi sopir sepanjang hari itu. Tugas saya duduk di depan sambil njereng peta. Tujuan pertama kami adalah pasar Sukowati. Pasarnya seperti pasar Klewer gitu. Meski begitu ternyata muter-muter di pasar kerajinan bikin waktu tak terasa berlalu. Tiba-tiba sudah jam 12 siang, padahal kami belum sarapan. Bendahara pelit! Hehe. Di Pasar Sukawati ini saya beli bedcover warna pink. Yes bedcover, dan gimana saya bisa masukin bedcover ke dalam travel bag saya sampai ke Solo sungguh misteri.

Tujuan kedua adalah ke Tanah Lot. Dan di sana, -dunia memang selebar daun kelor-, kami ketemu lagi sama bu Susini! Dari catatan saya tiket masuk ke Pura Tanah Lot 1100 rupiah/ orang. Parkir mobil 500 rupiah. Waktu itu ada acara nonton ular di dalam gua dan kami “nyemplungin” uang 1000 rupiah. Saat ini harga tiket masuk Tanah Lot adalah 20 ribu rupiah/ orang dewasa.
Di tebing Tanah Lot. Ini bukan di Studio Foto, lho.
Habis dari tanah Lot kami buru-buru ke Joger. Di sana saya cuma beli selembar kaos. Dengan waktu yang tersisa sebelum petang, kami memburu sunset ke Pura Ulu Watu. Kawasan Ulu Watu waktu itu sungguh sunyi. Suasananya syahdu banget deh. Untuk masuk ke sana, kami membayar tiket masuk sebesar 1000 rupiah/ orang. Sebelum masuk kami harus memakai kain yang diikat ke pinggang. Menontoni sunset di tepian tebing cuma dengan segelintir orang menjadi kenangan indah yang menutup hari itu. Harga tiket Pura Ulu Watu sekarang adalah 20 ribu rupiah/ orang dewasa.


Tiap malam waktu saya sudah tidur, tiga teman saya selalu jalan-jalan keliling. Ada cerita serem ketika mereka sempat dicegat di jalan dan ditawari barang aneh-aneh. Hii.

Pulang

Hari terakhir di Bali adalah hari Jumat. Saya ingat betul karena kami menyusuri jalanan mencari masjid untuk dua teman saya. Pagi harinya masih kami sempatkan main ke Pantai Kuta. Kami sebelumnya berencana naik bus ke Surabaya lalu lanjut dengan kereta api ke Solo. Tapi teman saya usul agar kami cari tiket yang bisa langsung ke Solo saja, biar lebih cepat sampai. Betul juga karena kalau dihitung sejak ke Jember, sudah lima hari kami meninggalkan rumah. Kali-kali aja orang rumah pada kangen.

Sungguh beruntung kami dapat tiket bus, jurusan Bali-Yogyakarta, yang lewat Solo untuk sore hari itu juga. Harganya, nggak tercantum di catatan saya. Sekitar 20 ribuan kayaknya. Kalau sekarang tarif Bus jurusan Bali-Solo mulai 300 ribuan/ orang.

Kami kembali ke hotel untuk berkemas-kemas dan cari oleh-oleh. Fyi, semua perjalanan ini selain waktu sewa mobil, kami lakukan dengan berjalan kaki. Jadi kalau mau backpackeran di Bali, penting untuk tinggal di kawasan yang strategis alias dekat dari mana-mana. Saya dalam hati berterima kasih sama supir angkot yang mengantarkan kami ke Hotel Yulia waktu itu.

Oiya di akhir perjalanan, setelah beli tiket bus pulang, uang kas kami masih nyisa, lho. Ada gunannya kan ngirit makan dan jalan kaki kemana-mana, hoho.

Jam setengah tiga kami sudah siap di kantor agen travel, diantar mobil ke Terminal Ubung. Di sana bus kami sudah menunggu, dan langsung cabut begitu kami naik. Nyaris ditinggal! Kali ini kami duduk bersebelahan, dan busnya ber-AC. Jam setengah delapan malam kami sudah di atas ferry menuju Ketapang. (Lama soalnya antri dua jam di pelabuhan).

Jam setengah sembilan malam, kami sudah melaju di tanah Jawa. Keesokan paginya, kami sudah hampir masuk kota Solo. Sudah nggak sabar ingin segera sampai, kok ya bus ini berhenti dulu di Palur untuk sarapan. Waduh tinggal dikit lagi padahal. Selanjutnya kami diturunkan di depan pintu terminal Tirtonadi, dan bus langsung tancap gas ke Yogya. Cuma kami berempat yang turun di Solo.

Karena pegelnya badan mulai terasa, saya langsung pulang ke rumah naik taxi. Sampai di rumah, sekitar jam delapan pagi dan langsung laporan kedatangan sama ibu saya yang lagi main tenis di lapangan depan rumah.

Ibu saya menyambut, “Lho, kok udah pulang?”

Foto Pura Bratan dari: 

<a href="https://www.freepik.com/free-photos-vectors/background">Background image created by Nikitabuida - Freepik.com</a>



Tuesday, March 20, 2018

Bertualang Bareng Hotel D'Emmerick Salatiga

 

Kalau ambil paket “Camping In The Valley” di d’Emmerick Hotel Salatiga, dengan 700 ribuan per-enam orang, bisa dapat fasilitas menginap satu malam di tenda, traditional dinner, barbeque party dan acara api unggun, sarapan, plus fasilitas menyaksikan sunrise dan acara jogging track. Selain itu kolam renang yang sejuk dan adem juga bisa dinikmati tanpa dipungut biaya lagi.

Kalau blogger, fotografer dan videografer minggu lalu, mendapat undangan untuk merasakan sensasi berkemah plus bertualang di d’Emmerick Hotel dalam acara Blogger Camp. Peserta nggak cuma berasal dari Semarang dan Salatiga tapi juga dari Wonosobo, Pekalongan, sampai Jakarta. Jadi selama dua hari satu malam, kami merasakan fasilitas menginap di tenda, high rope game, panahan, archery battle, barbeque night, plus jeep adventure. Komplit!

The Seru Blogger Camp

Mengapa mau susah-susah camping kalau bisa nginep di hotel. Well, memang sih hotel menyediakan kamar-kamar dengan fasilitas yang lengkap dengan kasur empuk. Tapi siapa juga yang bilang kalau camping di d’Emmerick itu nggak nyaman? Lha wong tinggal datang aja lho. Nggak usah lagi ribet mendirikan tenda, nggak usah cari semak-semak karena kamar mandi dan WC juga tersedia, bersih, dengan air adem yang mengalir.

Sebelum seluruh rangkaian acara, kami dijamu dengan makan siang di Cleverly Eatery, tempat makan yang nyaman di pool sidenya d’Emmerick Hotel. Kami disambut Mbak Dona dan Mas Sigit dari hotel, dan sajian sedap. Chef Cleverly Eatery menyajikan menu-menu andalannya antara lain Gecok Cabut Gunung, Makdulah Nikmat, Saged Sayur Asem, dan Poffertjes. Hehe namanya unik-unik, kan. Kalau penasaran sama rasanya langsung aja ke d’Emmerick hotel, dan datang ke Cleverly Eatery. Semua menu tadi mulai dari 15 ribu rupiah saja!

Gecok Cabut Gunung, di belakangnya ada Poffertjes ngintip
Setelah kenyang dengan jamuan makan siang, kami menuju tempat kami akan bermalam. Untungnya kawasan hotel banyak tanaman yang rindang, jadi menuruni setapak berbatu sambil nggembol ransel nggak terasa terlalu pegel. Tempat tenda-tenda berdiri memang berada di “lembahnya” hotel. Di bawah sana nampak tenda-tenda terpal dengan kapasitas sampai dengan enam orang dewasa. Ngos-ngosan sambil keringatan kami menuju ke lembah hotel.

Cuaca Salatiga di siang hari itu cukup panas, meski kalau ada angin jadi sejuk. Kebayang kalau dulu kawasan d'Emmerick ini pasti dingin banget, karena kurang lebih satu kilometer jaraknya (ke arah kota Salatiga) ada rumah sakit paru. Dulu biasa disebut sanatorium. Biasanya fasilitas kesehatan ini terletak di dataran tinggi yang masih sejuk dan dingin dengan udara bersih. Meskipun sekarang kawasan di sekitar hotel makin ramai, lokasi hotel yang berada di jalan raya menuju kawasan Kopeng ini memang masih termasuk kawasan berhawa sejuk. 

Selain tenda-tenda terpal dengan alas matras empuk, di kawasan perkemahan ada dua bangunan kamar mandi, masing-masing untuk putra dan putri. Bangunan dengan ukuran kurang lebih 8 meter kali 8 meter itu terdiri dari bilik-bilik WC dan bilik shower yang terpisah. Fasilitas ini nyaman banget untuk kelas camping. Di dalamnya ada wastafel-wastafel dengan cermin besar plus sabun cuci tangan dan tissue.

Outbound Game

High Rope diawali wall climbing. (In frame: Leon)
D’Emmerick hotel memiliki fasilitas permainan outdoor yang beragam. Sore itu kami mencoba permainan high rope, archery, dan archery battle. Selain itu ada juga ATV. Permainan high ropenya berupa rangkaian instalasi dari wall climbing, elvis bridge, sepeda, sampai jaring laba-laba. Dengan alasan kesorean, saya nggak main high rope. Hehe. Padahal karena tangan sudah pegel main panahan. Siapa sangka memanah target yang diam aja bisa bikin sedemikian pegel dan memar (kena entakan tali panah). Gimana kalau mau memanah target yang bisa kabur, like someone heart gitu...

Calm, Focus, Brave, Win! Wait, Me Win?
Aneka permainan outdoor nan seru bisa dinikmati siapa saja meskipun tidak menginap di hotel, ya. Tapi ingat ada batas usia untuk tiap-tiap permainan, dan selalu ikuti instruksi dari petugasnya. Safety first!
Aneka Permainan Oudoor yang bisa dipilih.
Selepas permainan yang seru, malam hari kami dijamu lagi sama salah satu menu favorit saya: jagung bakar. Hmmm masih kebayang legit dan gurihnya jagung bakar di Cleverly Eatery, plus anget-anget wedang jahe. Malam yang akrab diisi dengan sharingnya mas Dhave nan cool, the talented mas Ervix, dan Om Sarbu fotografer handal dari Pekalongan plus MC lokal ceria: jeng Isul.
Sharing Session (In Frame: Isul dan Mas Ervix)

Rise Before The Sun
Yang bikin acara Blogger Camp kemarin tambah spesial adalah kesempatan untuk merasakan pengalaman menikmati pemandangan sunrise dari puncak Gunung Telomoyo. Karena itu semua harus bangun pagi-pagi buta alias jam tiga pagi! Banyak diantara kami yang nggak sempat tidur, atau cuma tidur-tidur ayam. Tapi nyawa yang baru setengah ngumpul langsung bangun serentak begitu badan tergoncang-goncang di dalam jeep. Perjalanan Jeep Adventure ini bareng dengan komunitas S4X4tigaAdventureRoad.

Saya tuh, bukan termasuk yang enjoy berkendara di ketinggian. Zaman masih piyik aja, tiap kali diajak piknik ke Tawangmangu sama keluarga, rasanya pengen turun dari mobil saking enggannya naik-naik ke puncak gunung. Urat takut ketinggian sempat putus sekitar usia remaja, karena waktu itu mau turun jurang naik jurang tanpa tali aja santai. Sayangnya abis itu nyambung lagi urat penakutnya.

Jadi, waktu gelap-gelapan di jalan dalam jeep demi sunrise di puncak gunung, berkali-kali saya nanya sama Pak Sony, “kusir” jeep warna jingga yang saya naiki bareng Archa Bella dan Mimi Peri: “Are we there yet?” (To hide the fact that saya nahan pipis)

Selepas menyusuri lereng gunung dengan jalan yang ngepas selebar jeep selama 30 menit, rombongan kami tiba di (hampir) puncak, tepat ketika semburat jingga mulai muncul. Yang disebut “puncak” ini adalah pinggiran jalan yang agak melebar, tempat jeep bisa parkir rada melipir. Dari tempat kami berhenti bisa terlihat kalau di puncak Telomoyo banyak tower-tower telekomunikasi dari berbagai instansi. Dan, ini penting: nggak ada WC. Katanya di dalam pemancar sih ada, tapi harus jalan lagi 10 menit ke atas. Belum tentu dibukain pintu lagi, kalau ada penjaganya hehe. Jadi, harap dikondisikan yaa.

Buru-buru kami solat subuh sebelum matahari meninggi. Tempat solatnya di pinggiran jalan yang nggak terlalu dingin tapi berangin. Wudunya pakai air dari jerigen.
Sunrise, difoto pake kamera ponsel
Suasana ramai beranjak syahdu (biar dramatis) waktu gelap mulai tersingkap. Awan yang menyelimuti kaki gunung memang sedikit menunda matahari tampak di hadapan. Tapi perlahan matahari muncul malu-malu. Tak pantaslah kami protes hanya gara-gara awan karena cuaca cerah sepanjang perjalanan, sehingga ketika mulai terang kami disuguhi pemandangan alam yang menawan.

The sunrise, off course, doesn’t care if we watch it or not. It will keep on being beautiful, even if no one bothers to look at it. 
(Gene Amole)

Cakep!

Deg-degan saya 30 menit tadi (plus mikir 30 menit perjalanan turun nantinya) terbayar lunas. Pakai kembalian lagi. Saya sadar, di mana-mana, jalan menuju puncak memang nggak gampang. The rockiest roads lead to the highest peak. Quotes unknown yang berlaku juga buat perjalanan naik jeep ke Telomoyo.

Oiya, tempat jeep-jeep kami berhenti juga adalah tempat start olah raga paralayang. Tinggi gunung Telomoyo ini lebih dari 1800 mdpl, pantas kalau jadi salah satu landasan olah raga extrim ini. Dan tempat start paralayang ini jadi spot favorit rombongan Blogger Camp buat berfoto. Spot favorit lainnya adalah berpose aneka gaya di atas atap jeep. Duh, saya mah yang jauh-jauh dari jurang dan napak-napak tanah aja.

Yang perlu diperhatikan kalau mau naik ke puncak Telomoyo, di sepanjang jalan saya melihat beberapa titik longsor. Memang longsorannya tidak sampai menutup badan jalan, tapi berarti ketika hujan deras, atau kondisi cuaca ekstrem lainnya, pengunjung perlu waspada. Eh di jalan ternyata ada "air kricikan" di bebatuan yang mirip air terjun, lho.

Nah, kalau ingin naik gunung ini dengan berjalan kaki, di “gerbang” Gunung Telomoyo ada loket yang jual tiket masuk ke kawasan Telomoyo. Nggak mahal kok, lima ribu rupiah saja per-orang. Tempat parkirnya luas, dilengkapi dengan WC yang bersih. Untuk parkir mobil lima ribu rupiah juga. Parkir motor, nggak nanya tapi mestinya lebih murah dari mobil. Waktu perjalanan turun sempat berpapasan dengan beberapa pengendara motor. Motor matic tidak disarankan naik, sih.

Jalanan rusak, di mata saya skala rusaknya (untuk ukuran mobil-mobil kota) adalah 8,5/10. Meski jalanan memungkinkan untuk kendaraan selain jeep, pastikan kondisi kendaraan benar-benar baik dan BBM-nya cukup. Kalau bis sih enggak bisa naik ya. Truk sama pickup kata Pak Sony bisa sampai ke atas. Terutama dinaiki para pengelola dan pemelihara tower-tower telekomunikasi di puncak. Kalau buat ukuran pak Sony dan teman-teman dari S4X4tigaAdventureRoad, sih, jalan di Telomoyo bagaikan melenggang di jalan tol.
Gunung Telomoyo difoto dari kawasan loket.
Menurut saya Gunung Telomoyo ini cocok untuk wisata pemandangan. Oke untuk latihan nafas buat yang mau naik gunung beneran dengan bonus pemandangan keren. Dengan berjalan kaki, rata-rata butuh dua jam, untuk sampai puncak. Tapi di atas sana nggak ada Ind*maret. Bawa bekal minum dan jajan sendiri secukupnya.

Kalau kami sih, selain tinggal duduk geronjalan, karena ikutan paket Jeep Adventure dari d’Emmerick hotel, ada chef yang menyiapkan sarapan. Ha! Ada chef di puncak gunung. Suguhannya mie kuah anget-anget, plus kopi dan teh. (Saya nggak makan tapi, soalnya isi perut belum sempat di unloading.)

Meski begitu untuk naik jeep - menurut saya- kalau sedang hamil, bawa bayi, atau punya masalah kesehatan yang selevel dengan kondisi-kondisi itu, ditunda dulu aja yah.

Klimaks!

Selepas 30 menit menuruni gunung Telomoyo plus 30 menit di jalan aspal menuju Hotel d’Emmerick, saya sudah separuh tidur, membayangkan mandi, lalu gegoleran sebentar sebelum pulang. Ternyata, petualangan ini belum klimaks. Hotel d’Emmercik masih punya paket yang namanya Jeep Trip. Bisa didapatkan mulai dari 250 ribu rupiah untuk 3 orang bisa menikmati satu kali trip dengan jeep di kawasan perkebunan sekeliling hotel.
Jeep Trip di perkebunan seputar hotel.
Di jalan pulang pak Sony memang sempat bilang kalau nanti di halaman hotel tracknya seru dan dijamin bikin teriak teriak karena lahannya miring.

“Gini lho nanjaknya,” kata Pak Sony sambil tangannya dimiringkan sekitar 60 derajat.

Aaah mana ada, pikir saya. Tapi ternyata beneran! Track jeep trip di kawasan perkebunan sekitar hotel ini seru bangeet. Nyenggol-nyenggol dikit deh sama acara offroad di tipi-tipi. Pake acara jeep nyangkut dan keciprat lumpur juga. Mimi Peri dan Archa Bella sampai berlomba teriak paling merdu di kursi belakang. Pak Sony senyum-senyum puas gitu. Rupanya semakin penumpang jejeritan, berarti semakin memuaskanlah acara jeep adventure itu.
Lobby Hotel D'Emmerick, tempat kami disambut datang dan dilepas pulang
Selepas tengah hari acara Blogger Camp usai juga. Kami harus meninggalkan kenangan seru di d’Emmerick Hotel. Diiringi rintik hujan yang seperti ikutan sedih, kami bersiap pulang. Berpisah sementara sama teman-teman keren di Blogger Camp. Ber-tujuh barengan Erina, Mbak Siti, Mas Salman, Leon, Mbak Ika, dan Mbak Wati, dikapteni Pak Babe nya mba Wati, saya beranjak dari sejuknya Salatiga menuju Semarang.

Lain kesempatan pengen banget datang ke d’Emmerick lagi bareng keluarga. Kalau berempat pasti nyaman banget tinggal di salah satu Family Roomnya. Anak-anak (dan bapaknya anak-anak) bisa berenang sekaligus merasakan pengalaman macam-macam outbound gamenya. Saya sih puas dengan gegoleran menikmati udara sejuk sambil nggak masak tapi tetap makan enak. Hehe.

Thank you, d’Emmerick Hotel Salatiga, & Titik Tengah Partnership (yang sudah mencolek saya at the last minute)!

d'Emmerick Hotel Salatiga
Jl. Hasanudin (Jl. Raya Salatiga-Kopeng) KM 4 Salatiga Jawa Tengah.
Telp: 0298-325 498
www.d-emmerickhotel.com