Thursday, November 29, 2018

Ini Dia Rute Perjalanan Darat Semarang ke Malang


Tidak banyak alternatif angkutan umum untuk menuju Malang dari Semarang. Tidak ada pesawat terbang yang direct, dan kereta api hanya ada Jayabaya (7 jam perjalanan) yang waktu tibanya jam tiga pagi dan Matramaja (hampir 10 jam perjalanan) yang tiba di Malang jam delapan pagi. Ada travel jurusan Semarang-Malang yang biasanya membutuhkan waktu sepuluh hingga 12 jam, dengan harga mulai dari 150ribu rupiah, dengan pilihan jam berangkat yang terbatas.

Keterbatasan pilihan itu mungkin menjadi sebab banyak yang memilih transit di Surabaya sebelum menuju Malang. Jarak Surabaya Malang hanya 90an KM dengan waktu tempuh dua sampai tiga jam. Tol Surabaya-Pandaan dan nanti rencananya tol akan sampai ke Lawang bisa mengurai kemacetan jalur Surabaya Malang.

Ada lebih banyak pilihan angkutan umum untuk menuju Surabaya dari Semarang mulai dari kereta api Harina, Bangunkarta, Gumarang, sampai Argo Anggrek, dengan waktu tempuh sekitar 4 jam saja. Pilihan pesawat terbang juga cukup banyak dengan waktu kedatangan bervariasi dari pagi hingga malam hari. Karena itu juga jasa travel dari bandara Juanda Surabaya menuju Malang sangat ramai, dengan tarif sekitar 90 ribu rupiah.

Karena saya berniat untuk jalan-jalan di Malang dan ada lima orang peserta, naik mobil pribadi tentu lebih praktis dan ekonomis.

Pergi dari Semarang ke Malang

Perjalanan darat dari Semarang ke Malang naik mobil memerlukan waktu setidaknya delapan jam. Sudah termasuk berhenti tiga kali untuk istirahat. Kami berangkat dari Semarang sekitar jam delapan malam, tiba di Kota Batu, jam empat pagi.

Pada bulan Oktober 2018, rute perjalanan kami lewat jalur Solo – Ngawi – Kertosono – Pare – Batu. Dimulai lewat tol Ungaran – Salatiga, lanjut jalur biasa sampai Kartosuro disambung lewat tol Kartosuro – Sragen. Keluar Sragen lewat jalur biasa sampai melewati Ngawi, masuk ke tol Ngawi – Wilangan. Jalan dari Sragen – Ngawi sebelum masuk tol ramai, penuh dengan bus-bus AKAP, juga truk-truk besar. Bus-bus jurusan Jatim ini terkenal ngebut jadi kita harus lebih waspada. Kondisi jalan tidak banyak lubang, tapi tidak mulus juga karena banyak bekas tambalan.

Untuk Tarif tolnya yang kami lewati sebagai berikut:

Tarif Tol Ungaran – Salatiga 25.000 
Tarif Tol Kartosuro – Sragen 35.000 
Tarif Tol Ngawi – Wilangan 52.000 


Dari semua jalur tol yang kami lewati, tol Ngawi – Wilangan itu termasuk yang paling memangkas jam-jam bertarung bareng bus dan truk di jalur biasa. Perbedaan waktunya bisa sampai satu jam, mengingat padatnya jalur Ngawi-Wilangan meskipun di malam hari.

Beda dengan jalan-jalan tol di Semarang – Salatiga, tol di Jawa Timur ini panjang dan lurus dengan jarak sekitar 100 KM dengan waktu tempuh hampir satu jam. Meskipun jalanan lurus, saya perhatikan setiap melewati sambungan jembatan, mobil terasa “melompat”. Saya pikir karena sambungannya kurang mulus. Jadi harap hati-hati karena di tol biasanya mobil-mobil ngebut.

Di tol Ngawi-Wilangan seingat saya ada dua rest area, di awal masuk dan di ujung tol. Kami berhenti di rest area ujung tol sekitar jam setengah satu pagi. Rest areanya belum ramai dengan toko, hanya ada satu warung makan yang jualan makanan instan dan minuman panas. Toilet dan Musola ada di sini.

Selepas tol Wilangan, kembali kami harus berjibaku dengan bus dan truk di jalur biasa, sampai selepas Nganjuk kami ketemu dengan jembatan Kertosono. Jembatannya gede, dengan pos polisi di pojok kanan (kalau dari arah Nganjuk). Persimpangan ini sangat ramai, karena merupakan pertemuan dari arah Surabaya, dari Kediri, dan dari arah Jawa Tengah. Bisa dibilang jembatan ini adalah penghubung wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jembatan Kertosono yang biasa dilalui kendaraan sekarang adalah jembatan yang baru, yang diresmikan sekitar tahun 1989.

Sementara sekarang kondisi Jembatan Kertosono lama yang terletak di sebelah Utara jembatan baru sudah tidak layak lagi untuk dilewati. Bahkan kini sepeda dan orang pun sudah dilarang lewat di sana. Jembatan yang sempat menjadi saksi perjuangan masyarakat Kertosono ketika memukul mundur tentara Belanda yang akan masuk wilayah Nganjuk ini, semakin tergerus oleh derasnya aliran sungai Brantas di bawahnya.

Selepas Kertosono, perjalanan lewat jalur tengah menuju Kediri/ Pare terasa lebih lengang. Jalanan juga tidak melulu lurus. Kami sempat harus putar balik karena saran mbah Gugel mempertemukan kami dengan jembatan kecil yang ditutup. Pare ini adalah daerah yang dikenal sebagai kota Kampung Inggris karena banyaknya tempat belajar bahasa Inggris dan percakapan dengan bahasa Inggris menjadi salah satu kebiasaan sehari-hari warga di sana. Ketika mulai meninggalkan Pare dan masuk wilayah Kandangan jalanan mulai menanjak dan berliku, karena kami mulai menyusuri daerah pegunungan untuk menuju kota Batu yang terletak di antara Gunung Panderman, Arjuna dan Welirang.

Saya sudah memesan salah satu homestay di wilayah Batu untuk sekedar mandi dan tidur sebentar, karena sudah memperkirakan waktu tiba di Batu yang dini hari. Saya memilih Shakila Homestay di daerah Songgokerto yang sangat dekat dengan wilayah Songgoriti. Songgoriti terkenal dengan pemandian air panasnya yang mengandung belerang. Setelah melalui jalan yang menukik turun dengan tajam, berbarengan dengan azan Subuh, alhamdulillah kami tiba dengan selamat di homestay. Malamnya, setelah berwisata di Museum Angkut, kami menuju Malang dengan lama perjalanan 45 menit lewat jalur biasa. Agak tersendat perjalanannya di wilayah kampus Universitas Brawijaya Malang.

Perjalanan Semarang-Batu Malang kali ini rasanya lebih cepat dibandingkan perjalanan kami di tahun 2013. Waktu itu kami berangkat dari Semarang sekitar jam 7 malam, dan tiba di Alun-alun Kota Batu jam enam pagi. Tanpa lewat jalan tol satupun. Perjalanan memakan waktu 12 jam, sementara tahun ini kami memerlukan sekitar delapan jam saja.

Untuk perjalanan Semarang-Malang ini kami memakai mobil Avanza 2015, diisi oleh 5 orang, menghabiskan Pertalite sekitar 300 ribu rupiah.

Pulang dari Surabaya ke Semarang

Untuk perjalanan pulang ke Semarang, kami berangkat dari Kota Surabaya karena sebelumnya kami mampir ke Taman Safari Prigen di Pasuruan. Rutenya dari Malang - Lawang - Pasuruan - masuk tol Pandaan - Surabaya. Kami nginap semalam di Surabaya. Esoknya pulang ke Semarang sengaja tidak lewat jalur Utara meskipun Semarang juga ada di Utara. 

Perbandingan jarak Semarang-Surabaya lewat utara (Tuban-Pati-Rembang) atau jalur Cepu-Purwodadi sekitar 300 KM, sementara rute Semarang-Surabaya lewat Sragen-Solo adalah 362KM. Meskipun demikian, perhitungan waktu tempuh jalur tengah jauh lebih cepat, berkat adanya jalan tol. 

Macet yang kami rasakan justru ketika hendak masuk tol Waru di dalam kota Surabaya. Antri di sepanjang jalan Ahmad Yani sampai Bundaran Waru memakan waktu hingga satu jam. Dari jalan tol Waru Surabaya - Mojokerto – Kertosono memerlukan waktu tempuh sekitar satu jam lima belas menit. Kami mulai masuk tol Surabaya sekitar jam setengah lima sore, sampai tiba untuk solat Magrib di dekat Jembatan Kertosono jam 6 sore. Setelah melewati kota Nganjuk lewat jalur biasa, kami kembali lewat tol Wilangan – Ngawi.

Tarif tol Waru Surabaya-Mojokerto 36.000 
Tarif tol Mojokerto-Kertosono 46.000 
Tarif Tol Wilangan – Ngawi 52.000 
Tarif Tol Salatiga- Banyumanik 32.000


Setelah keluar dari tol Wilangan – Ngawi, kami menempuh perjalanan Ngawi – Sragen hingga jam delapan malam. Perjalanan Sragen – masuk tol dan keluar di Solo buat mampir di Susu She Jack. Sampai kota Solo sekitar jam sembilan malam. Setelah rehat sambil menikmati susu segar legendaris kota Solo di belakang benteng Vastenburg, kami menempuh jalur Solo-Salatiga. Biasa ada kemacetan di jalur Boyolali-sampai Tengaran. Jam 11an lebih masuk ke tol Tingkir Salatiga dan exit tol Banyumanik. Karena saya yang gantian nyetir, di tol jalannya pelan-pelan aja. Sekitar tengah malam lebih 30 menit, kami sudah sampai rumah di Semarang.

Perjalanan Surabaya-Semarang ini juga jauh lebih cepat dibandingkan perjalanan pulang kami dari Surabaya tahun 2013 lewat jalur Utara. Waktu itu kami mampir ke Wisata Bahari Lamongan, dan terjebak macet di Tuban. Berangkat sebelum Asar dari Lamongan, kami tiba di Semarang sekitar jam tujuh pagi. Tentu saja beberapa kali berhenti. Jalur Utara relatif lebih sempit dan belum ada tol, sehingga kadang antrian kendaraan tidak terkirakan. Apalagi kalau ada kecelakaan, dijamin perjalanan terhambat cukup lama.

Di tahun 2019 nanti mestinya perjalanan Semarang – Malang akan lebih singkat lagi, karena tol akan tersambung dari Semarang – Kartosuro – Solo – Sragen – Ngawi – Wilangan – Kertosono – lanjut tol Pandaan. Whuss! Kalau jalanan semakin lancar, kayaknya rencana untuk menyambangi candi-candi di Jawa Timur bisa segera terlaksana, nih. Ayo Mbak Ade dan Mbak Tanti, kita road trip ke Jawa Timur.

Gambar diedit dari: <a href="https://www.freepik.com/free-vector/flat-trip-banners-with-roads-and-cars_879300.htm">Designed by Freepik</a>

22 comments:

  1. Lumayan jauh ya Mbak. Pernah ke Kediri. Belum sampai Malang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak. Kalau jalan malam nggak begitu terasa kok. Apalagi kalau nggak nyetir hihihi.

      Delete
  2. Daku pernah makwin ke malang jalur darat, trus sekitaran daerah Pare apa ya.. nyasar sampai jalan liku liku kecil, hihihi. Alhamdulillah sampai hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak enak lewat Pare, nanti tembusnya Batu.. pemandangannya juga bagus

      Delete
  3. Wah makasih catatannya, besok kami mau goes to Malang, Winda. Semoga perjalanan lancar, bisa tiba di Malang dengan selamat dan eksplor wisata nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga lancar jaya di perjalanan, ditunggu cerita-cerita Malangnya ya, Mbak

      Delete
  4. Asik ya ada tol begini.
    Kalo beneran selesai akhir desember,, bisa nih piknik akhir tahun nge-reyen jalan tol. Xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ngereyen tol ga bisa bawa vespa.. Hihi. Yuk piknik!

      Delete
  5. Lumayan banyak habisnya di tol ya mbak. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Demi kesehatan jiwa dan pegelnya capek antri hihihi

      Delete
  6. Mantep banget perjalanannya mba Wind, jadi ingat pas mudik ke Bali masku ngebut banget. BErangkat sore jam 3, sampe sana keesokan harinya jam 2 siang. Pegel tapi menyenangkan perjalanan darat itu ya. Aku tapi sekrang lebih suka make kereta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perjalanan darat memang sesuatuh banget. Naik kereta juga enak, tinggal selonjor dan bebas macet hehe

      Delete
  7. Haduh aku mbayangin perjalanannya panjang banget sudah berasa pegel duluan makwin..aku pernah sampe Pare aja sudah gempor wkkwkw btw makasih info soal tol dsbnya snagat membantu jika suatu saat berkesempatan berkunjung ke Malang via jalur darat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Dani kan anak-anaknya masih kecil, pasti ribet banget bawaannya di mobil hehe. Yes, sama-sama terima kasih, yaaa

      Delete
  8. Kalau darat aku hanya pernah Surabaya-Semarang..

    ReplyDelete
  9. Iya kalau nggak nyetir ngga terlalu berasa pegelnya hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup! Lain kalo mbonceng motor, kita yang pegel hehehe

      Delete
  10. Semarang Malang naik bis makan maktu nggak jauh beda sama Dps-Semarang yang 14an jam. Lumayan juga ya, lbh baik bawa kendaraan pribadi spt Mba Winda.


    Makasih banget Mba.. Barangkali suatu saat mau touring, soalnya pak suami hobi banget nyetir wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Denpasar-Semarang 18 Jaaamm.. hihi. Yup, semoga lancar nanti touring nya

      Delete