Wednesday, August 27, 2014

(1) Tulis Nusantara 2014: ‘Pulang Kampung’ ke Jakarta



Bismillah, saya niat berbagi cerita seperti pesan teman-teman sebelum berangkat.Disclaimer On.

Tiba di Bandara Soeta, 14.30. Saya sangat bersemangat. Saya berhari-hari sempat mikir bagaimana nanti caranya mingle dengan para penulis dan sastrawan keren bin paten yang ngumpul di TN 2014.


Tapi begitu ketemu Guntur Alam dari Palembang, dan Faidi Rizal dari Madura di pintu keluar, kekhawatiran itu kabur.  Sambil menemani saya dan Faidi Rizal makan, Guntur sangat komunikatif, menyampaikan info yang sudah dia dapat tentang acara ini, cerita ini itu, meniupkan gosip-gosip (hehe), bikin saya langsung relax. Di parkiran ternyata juga sudah menunggu Faisal Oddang, Bang Gegge dan Bang Didin, sama-sama dari Makassar. Kami masih menunggu Yuli pemenang novel dari Aceh.


Dua jam kemudian Sang Pemenang Novel tiba juga. Ternyata dia sempat disangka perempuan karena nama yang tercantum di tiketnya dilabeli ‘Ms’ alis Miss. Pantesan Guntur dan Faisal semangat banget nunggu di depan pintu kedatangan. Hehe. Demi nasib Yuli a.k.a Rijal yang belum makan kami semua menunggu lagi dia menikmati makan sorenya.


Karena penasaran dengan kisahnya menulis novel yang menang, saya langsung sok wawancara dengan Rijal yang sedang menikmati KFC untuk pertama kalinya. 

Saya
:
Nulis novel apa?
Rijal
:
Nulis cerita anak-anak SMA.
Saya
:
Ceritanya apa?
(Dalam hati: Cerita anak SMA macam apa yang disambut juri Tulis Nusantara jadi pemenang pertama?)
Rijal
:
Cerita saya sendiri waktu SMA, di sekolah berasrama. Di sana isinya anak-anak dari Padang, Medan,… Campur-campur, begitu.
Saya
:
Ooh.
(Dalam hati: rupanya ini adalah pengalaman Rijal sendiri yang dijadikan novelnya. Pantesan, soulfull gitu pasti isinya)
Rijal
:
Mau ini? (nyodorin softdrinknya)
Saya
:
(Menggeleng)
Di Aceh aktif di komunitas (menulis) apa?
Rijal
:
Hmm…. Ndak sih.
Saya
:
Trus, sudah sering menulis?
Rijal
:
Tidak. Ini pertama kalinya.
Saya
:
(Alis terangkat)
Rijal
:
(Mesem-mesem sambil ngunyah ayam)
Saya
:
Berapa lama menyelesaikan novelnya?
Rijal
:
Satu bulan
Saya
:
(Dalam hati gubrak, tapi manggut-manggut aja)
 

Jadi nggak sabar nunggu novel Rijal diterbitkan dan baca. Selesai Rijal makan, dengan dua mobil kami menuju TMII anjungan Jawa Tengah. Tempat para pemenang TN 2014 dikumpulkan.


Tiba di Wisma Anjungan Jawa Tengah, di kamar sudah menunggu Neng Lilis, Maba UGM Jurusan Sastra Indonesia, pemenang kedua puisi TN 2014. Si Eneng yang umurnya baru 18 tahun ini datang (sendiri) naik taxi disambung jalan kaki setelah lepas dari kereta yang membawanya.


Neng Lilis kelihatan pendiam dan kalem. Meski sempat ‘terlantar’, nggak ada tanda-tanda kekesalan di wajahnya. Saya mancing-mancing soal puisi yang ditulisnya. Si Neng lalu cerita kalau dia menuliskan puisi dengan tema rumah (Ziarah Kepada Rumah). Isinya mengandung pesan bahwa segala sesuatu yang baik dan buruk itu pasti berawal dari rumah. Neng Lilis ini sudah pernah menjuarai kompetisi menulis puisi Kemendiknas sewaktu SMA, dan masuk UGM dari jalur prestasi!   
Then again, waktu saya nanya, “Sudah lama suka puisi?” 
Si Eneng menjawab, “Baru sejak kelas dua SMA.” 
Gubrak once more.

Bersambung... (2) Tulis Nusantara 2014: Nusantara di 'Tanah Jawa'

4 comments:

  1. Jadi...gubrak brp kali nih mak Wind? Pengalaman yg seru pastinya ya, bertemu dengan anak muda kreatif dari seluruh nusantara. Congraaàt :)

    ReplyDelete
  2. waduuh keren2 ya, baru menekuni aja udah juara

    ReplyDelete
  3. gubrak gubrak melulu, gak sakit apa? :p

    ReplyDelete