Tuesday, March 20, 2018

Bertualang Bareng Hotel D'Emmerick Salatiga

 

Kalau ambil paket “Camping In The Valley” di d’Emmerick Hotel Salatiga, dengan 700 ribuan per-enam orang, bisa dapat fasilitas menginap satu malam di tenda, traditional dinner, barbeque party dan acara api unggun, sarapan, plus fasilitas menyaksikan sunrise dan acara jogging track. Selain itu kolam renang yang sejuk dan adem juga bisa dinikmati tanpa dipungut biaya lagi.

Kalau blogger, fotografer dan videografer minggu lalu, mendapat undangan untuk merasakan sensasi berkemah plus bertualang di d’Emmerick Hotel dalam acara Blogger Camp. Peserta nggak cuma berasal dari Semarang dan Salatiga tapi juga dari Wonosobo, Pekalongan, sampai Jakarta. Jadi selama dua hari satu malam, kami merasakan fasilitas menginap di tenda, high rope game, panahan, archery battle, barbeque night, plus jeep adventure. Komplit!

The Seru Blogger Camp

Mengapa mau susah-susah camping kalau bisa nginep di hotel. Well, memang sih hotel menyediakan kamar-kamar dengan fasilitas yang lengkap dengan kasur empuk. Tapi siapa juga yang bilang kalau camping di d’Emmerick itu nggak nyaman? Lha wong tinggal datang aja lho. Nggak usah lagi ribet mendirikan tenda, nggak usah cari semak-semak karena kamar mandi dan WC juga tersedia, bersih, dengan air adem yang mengalir.

Sebelum seluruh rangkaian acara, kami dijamu dengan makan siang di Cleverly Eatery, tempat makan yang nyaman di pool sidenya d’Emmerick Hotel. Kami disambut Mbak Dona dan Mas Sigit dari hotel, dan sajian sedap. Chef Cleverly Eatery menyajikan menu-menu andalannya antara lain Gecok Cabut Gunung, Makdulah Nikmat, Saged Sayur Asem, dan Poffertjes. Hehe namanya unik-unik, kan. Kalau penasaran sama rasanya langsung aja ke d’Emmerick hotel, dan datang ke Cleverly Eatery. Semua menu tadi mulai dari 15 ribu rupiah saja!

Gecok Cabut Gunung, di belakangnya ada Poffertjes ngintip
Setelah kenyang dengan jamuan makan siang, kami menuju tempat kami akan bermalam. Untungnya kawasan hotel banyak tanaman yang rindang, jadi menuruni setapak berbatu sambil nggembol ransel nggak terasa terlalu pegel. Tempat tenda-tenda berdiri memang berada di “lembahnya” hotel. Di bawah sana nampak tenda-tenda terpal dengan kapasitas sampai dengan enam orang dewasa. Ngos-ngosan sambil keringatan kami menuju ke lembah hotel.

Cuaca Salatiga di siang hari itu cukup panas, meski kalau ada angin jadi sejuk. Kebayang kalau dulu kawasan d'Emmerick ini pasti dingin banget, karena kurang lebih satu kilometer jaraknya (ke arah kota Salatiga) ada rumah sakit paru. Dulu biasa disebut sanatorium. Biasanya fasilitas kesehatan ini terletak di dataran tinggi yang masih sejuk dan dingin dengan udara bersih. Meskipun sekarang kawasan di sekitar hotel makin ramai, lokasi hotel yang berada di jalan raya menuju kawasan Kopeng ini memang masih termasuk kawasan berhawa sejuk. 

Selain tenda-tenda terpal dengan alas matras empuk, di kawasan perkemahan ada dua bangunan kamar mandi, masing-masing untuk putra dan putri. Bangunan dengan ukuran kurang lebih 8 meter kali 8 meter itu terdiri dari bilik-bilik WC dan bilik shower yang terpisah. Fasilitas ini nyaman banget untuk kelas camping. Di dalamnya ada wastafel-wastafel dengan cermin besar plus sabun cuci tangan dan tissue.

Outbound Game

High Rope diawali wall climbing. (In frame: Leon)
D’Emmerick hotel memiliki fasilitas permainan outdoor yang beragam. Sore itu kami mencoba permainan high rope, archery, dan archery battle. Selain itu ada juga ATV. Permainan high ropenya berupa rangkaian instalasi dari wall climbing, elvis bridge, sepeda, sampai jaring laba-laba. Dengan alasan kesorean, saya nggak main high rope. Hehe. Padahal karena tangan sudah pegel main panahan. Siapa sangka memanah target yang diam aja bisa bikin sedemikian pegel dan memar (kena entakan tali panah). Gimana kalau mau memanah target yang bisa kabur, like someone heart gitu...

Calm, Focus, Brave, Win! Wait, Me Win?
Aneka permainan outdoor nan seru bisa dinikmati siapa saja meskipun tidak menginap di hotel, ya. Tapi ingat ada batas usia untuk tiap-tiap permainan, dan selalu ikuti instruksi dari petugasnya. Safety first!
Aneka Permainan Oudoor yang bisa dipilih.
Selepas permainan yang seru, malam hari kami dijamu lagi sama salah satu menu favorit saya: jagung bakar. Hmmm masih kebayang legit dan gurihnya jagung bakar di Cleverly Eatery, plus anget-anget wedang jahe. Malam yang akrab diisi dengan sharingnya mas Dhave nan cool, the talented mas Ervix, dan Om Sarbu fotografer handal dari Pekalongan plus MC lokal ceria: jeng Isul.
Sharing Session (In Frame: Isul dan Mas Ervix)

Rise Before The Sun
Yang bikin acara Blogger Camp kemarin tambah spesial adalah kesempatan untuk merasakan pengalaman menikmati pemandangan sunrise dari puncak Gunung Telomoyo. Karena itu semua harus bangun pagi-pagi buta alias jam tiga pagi! Banyak diantara kami yang nggak sempat tidur, atau cuma tidur-tidur ayam. Tapi nyawa yang baru setengah ngumpul langsung bangun serentak begitu badan tergoncang-goncang di dalam jeep. Perjalanan Jeep Adventure ini bareng dengan komunitas S4X4tigaAdventureRoad.

Saya tuh, bukan termasuk yang enjoy berkendara di ketinggian. Zaman masih piyik aja, tiap kali diajak piknik ke Tawangmangu sama keluarga, rasanya pengen turun dari mobil saking enggannya naik-naik ke puncak gunung. Urat takut ketinggian sempat putus sekitar usia remaja, karena waktu itu mau turun jurang naik jurang tanpa tali aja santai. Sayangnya abis itu nyambung lagi urat penakutnya.

Jadi, waktu gelap-gelapan di jalan dalam jeep demi sunrise di puncak gunung, berkali-kali saya nanya sama Pak Sony, “kusir” jeep warna jingga yang saya naiki bareng Archa Bella dan Mimi Peri: “Are we there yet?” (To hide the fact that saya nahan pipis)

Selepas menyusuri lereng gunung dengan jalan yang ngepas selebar jeep selama 30 menit, rombongan kami tiba di (hampir) puncak, tepat ketika semburat jingga mulai muncul. Yang disebut “puncak” ini adalah pinggiran jalan yang agak melebar, tempat jeep bisa parkir rada melipir. Dari tempat kami berhenti bisa terlihat kalau di puncak Telomoyo banyak tower-tower telekomunikasi dari berbagai instansi. Dan, ini penting: nggak ada WC. Katanya di dalam pemancar sih ada, tapi harus jalan lagi 10 menit ke atas. Belum tentu dibukain pintu lagi, kalau ada penjaganya hehe. Jadi, harap dikondisikan yaa.

Buru-buru kami solat subuh sebelum matahari meninggi. Tempat solatnya di pinggiran jalan yang nggak terlalu dingin tapi berangin. Wudunya pakai air dari jerigen.
Sunrise, difoto pake kamera ponsel
Suasana ramai beranjak syahdu (biar dramatis) waktu gelap mulai tersingkap. Awan yang menyelimuti kaki gunung memang sedikit menunda matahari tampak di hadapan. Tapi perlahan matahari muncul malu-malu. Tak pantaslah kami protes hanya gara-gara awan karena cuaca cerah sepanjang perjalanan, sehingga ketika mulai terang kami disuguhi pemandangan alam yang menawan.

The sunrise, off course, doesn’t care if we watch it or not. It will keep on being beautiful, even if no one bothers to look at it. 
(Gene Amole)

Cakep!

Deg-degan saya 30 menit tadi (plus mikir 30 menit perjalanan turun nantinya) terbayar lunas. Pakai kembalian lagi. Saya sadar, di mana-mana, jalan menuju puncak memang nggak gampang. The rockiest roads lead to the highest peak. Quotes unknown yang berlaku juga buat perjalanan naik jeep ke Telomoyo.

Oiya, tempat jeep-jeep kami berhenti juga adalah tempat start olah raga paralayang. Tinggi gunung Telomoyo ini lebih dari 1800 mdpl, pantas kalau jadi salah satu landasan olah raga extrim ini. Dan tempat start paralayang ini jadi spot favorit rombongan Blogger Camp buat berfoto. Spot favorit lainnya adalah berpose aneka gaya di atas atap jeep. Duh, saya mah yang jauh-jauh dari jurang dan napak-napak tanah aja.

Yang perlu diperhatikan kalau mau naik ke puncak Telomoyo, di sepanjang jalan saya melihat beberapa titik longsor. Memang longsorannya tidak sampai menutup badan jalan, tapi berarti ketika hujan deras, atau kondisi cuaca ekstrem lainnya, pengunjung perlu waspada. Eh di jalan ternyata ada "air kricikan" di bebatuan yang mirip air terjun, lho.

Nah, kalau ingin naik gunung ini dengan berjalan kaki, di “gerbang” Gunung Telomoyo ada loket yang jual tiket masuk ke kawasan Telomoyo. Nggak mahal kok, lima ribu rupiah saja per-orang. Tempat parkirnya luas, dilengkapi dengan WC yang bersih. Untuk parkir mobil lima ribu rupiah juga. Parkir motor, nggak nanya tapi mestinya lebih murah dari mobil. Waktu perjalanan turun sempat berpapasan dengan beberapa pengendara motor. Motor matic tidak disarankan naik, sih.

Jalanan rusak, di mata saya skala rusaknya (untuk ukuran mobil-mobil kota) adalah 8,5/10. Meski jalanan memungkinkan untuk kendaraan selain jeep, pastikan kondisi kendaraan benar-benar baik dan BBM-nya cukup. Kalau bis sih enggak bisa naik ya. Truk sama pickup kata Pak Sony bisa sampai ke atas. Terutama dinaiki para pengelola dan pemelihara tower-tower telekomunikasi di puncak. Kalau buat ukuran pak Sony dan teman-teman dari S4X4tigaAdventureRoad, sih, jalan di Telomoyo bagaikan melenggang di jalan tol.
Gunung Telomoyo difoto dari kawasan loket.
Menurut saya Gunung Telomoyo ini cocok untuk wisata pemandangan. Oke untuk latihan nafas buat yang mau naik gunung beneran dengan bonus pemandangan keren. Dengan berjalan kaki, rata-rata butuh dua jam, untuk sampai puncak. Tapi di atas sana nggak ada Ind*maret. Bawa bekal minum dan jajan sendiri secukupnya.

Kalau kami sih, selain tinggal duduk geronjalan, karena ikutan paket Jeep Adventure dari d’Emmerick hotel, ada chef yang menyiapkan sarapan. Ha! Ada chef di puncak gunung. Suguhannya mie kuah anget-anget, plus kopi dan teh. (Saya nggak makan tapi, soalnya isi perut belum sempat di unloading.)

Meski begitu untuk naik jeep - menurut saya- kalau sedang hamil, bawa bayi, atau punya masalah kesehatan yang selevel dengan kondisi-kondisi itu, ditunda dulu aja yah.

Klimaks!

Selepas 30 menit menuruni gunung Telomoyo plus 30 menit di jalan aspal menuju Hotel d’Emmerick, saya sudah separuh tidur, membayangkan mandi, lalu gegoleran sebentar sebelum pulang. Ternyata, petualangan ini belum klimaks. Hotel d’Emmercik masih punya paket yang namanya Jeep Trip. Bisa didapatkan mulai dari 250 ribu rupiah untuk 3 orang bisa menikmati satu kali trip dengan jeep di kawasan perkebunan sekeliling hotel.
Jeep Trip di perkebunan seputar hotel.
Di jalan pulang pak Sony memang sempat bilang kalau nanti di halaman hotel tracknya seru dan dijamin bikin teriak teriak karena lahannya miring.

“Gini lho nanjaknya,” kata Pak Sony sambil tangannya dimiringkan sekitar 60 derajat.

Aaah mana ada, pikir saya. Tapi ternyata beneran! Track jeep trip di kawasan perkebunan sekitar hotel ini seru bangeet. Nyenggol-nyenggol dikit deh sama acara offroad di tipi-tipi. Pake acara jeep nyangkut dan keciprat lumpur juga. Mimi Peri dan Archa Bella sampai berlomba teriak paling merdu di kursi belakang. Pak Sony senyum-senyum puas gitu. Rupanya semakin penumpang jejeritan, berarti semakin memuaskanlah acara jeep adventure itu.
Lobby Hotel D'Emmerick, tempat kami disambut datang dan dilepas pulang
Selepas tengah hari acara Blogger Camp usai juga. Kami harus meninggalkan kenangan seru di d’Emmerick Hotel. Diiringi rintik hujan yang seperti ikutan sedih, kami bersiap pulang. Berpisah sementara sama teman-teman keren di Blogger Camp. Ber-tujuh barengan Erina, Mbak Siti, Mas Salman, Leon, Mbak Ika, dan Mbak Wati, dikapteni Pak Babe nya mba Wati, saya beranjak dari sejuknya Salatiga menuju Semarang.

Lain kesempatan pengen banget datang ke d’Emmerick lagi bareng keluarga. Kalau berempat pasti nyaman banget tinggal di salah satu Family Roomnya. Anak-anak (dan bapaknya anak-anak) bisa berenang sekaligus merasakan pengalaman macam-macam outbound gamenya. Saya sih puas dengan gegoleran menikmati udara sejuk sambil nggak masak tapi tetap makan enak. Hehe.

Thank you, d’Emmerick Hotel Salatiga, & Titik Tengah Partnership (yang sudah mencolek saya at the last minute)!

d'Emmerick Hotel Salatiga
Jl. Hasanudin (Jl. Raya Salatiga-Kopeng) KM 4 Salatiga Jawa Tengah.
Telp: 0298-325 498
www.d-emmerickhotel.com

26 comments:

  1. George juice kak (baca: jos josss)

    ReplyDelete
  2. Kirain habis dari gunung telomoyo, acara sudah kelar. Eeh, tanyata malah diajak offroad keliling kebun kopi dan itu sangat seru 😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas, aku udah rencana tidur-tiduran segala.. 😅

      Delete
  3. Kalo di jeep ku, ada suara musik ala mba Ika yang gak lelah berbunyi, ekwkwkkk. Tapi seru sih off road nya, hahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hightlight of the event ya Mbak. Mau lagi aku.. hihi

      Delete
  4. Aku serak kebanyakan tereak di jeep..tapi puassss

    ReplyDelete
  5. Asyik acaranya, wah sun risenya MasyaAllah bagusnya, dan jadi pengen naik gunung telomoyo off road heuheu

    ReplyDelete
  6. Body dan vantatkuh broken kakaaaak....haha.
    Ngeri kali lah itu offroad nya

    ReplyDelete
  7. acaranya seru banget ya mbak. nonton sunrise nya itu loohhh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Ola. Barengan temen-temen aja kesanaa

      Delete
  8. Semoga bisa ngecamp bareng-bareng lagi ya mba...

    ReplyDelete
  9. aku... gak bisa bayangin rasanya😣😥

    ReplyDelete
  10. Wkwkwk,,, aku baca cerita mak Win ini,, semacam Mimi Peri adalah highlightnya.
    ...dan aku pengen lagi jerit2an off road pake jeep itu. Hahaha

    ReplyDelete
  11. Waaa.. Seru bgt ya.. Jadi pingin ke sana jg��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayuk atuh Mbak. Deket aja dari Semarang..

      Delete
  12. Duuh ngiri banget deh bisa muncak Telomoyo dan liat sunrise sekece ituh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ke rumah Kopeng kan bisa mampir dulu Mbak Muna 😍

      Delete
  13. Kereeen....pengen ke sini dgn kelg deh..pasti asyik..

    ReplyDelete
  14. Keren banget mbak pemandangan sunrisenya, namanya unik ya mbak Gunung Telomoyo. Nice sharing mbak Winda.

    ReplyDelete