Friday, August 16, 2019

The Secret of Happy Parenting



Smile Pretty, Grow Happy

Hehe, judul ini terinspirasi dari kalimat yang diucapkan Lorelai Gilmore pada Luke waktu mereka sedang naik kereta salju keliling kota. Waktu itu Luke bilang bahwa demi kebaikan Jess, keponakannya, dia melakukan “white lies”, agar Jess tidak kecewa karena ibunya si Jess ini tidak peduli sama anaknya. Luke bilang bahwa “white lies” adalah “The Secret of Parenting”. Omongan Luke ini tentu saja dijadikan bahan bercandaan sama Lorelai. 

Ibu Jess digambarkan tipe ibu yang kurang bertanggungjawab, sehingga Jess tumbuh jadi remaja laki-laki yang “rebelious”. Mukanya nyureng, dan sering cari gara-gara sama orang lain. Beda dengan Rory, putri semata wayang Lorelai, si ibu muda yang fun dan energetic. Rory, meskipun lebih kalem dari ibunya, tumbuh jadi anak yang ramah dan cerdas. Bisa dibilang, Rory jadi remaja yang berprestasi karena dibesarkan dalam suasana yang penuh kebahagiaan (padahal Lorelai ini single parent juga sama seperti ibunya Jess). 

Terinspirasi dari serial drama favoritku itu, kuselipkan kata-kata “happy” di tengahnya buat tulisan yang bertema “Grow Happy Parenting”, oleh-oleh dari acara bersama Nestlé LACTOGROW dan para pakar dari dokter spesialis anak dan psikolog di Valle Resto tanggal 14 Agustus 2019. 

RESEP BAHAGIA 

Kalau kita tanya pada sepuluh orang yang berbeda, apa yang bisa membuat dia bahagia, jawabannya mungkin tidak sama. Ada yang bilang, olah raga sebagai resep bahagianya, ada yang bilang dia happy karena sering travelling. Seorang teman bilang dia bahagia kalau sedang masak, atau baca buku. 

Tapi rata-rata nih, bagi yang sudah punya anak, salah satu sumber utama kebahagiaan adalah jika si anak bahagia. Tapi bikin anak bahagia ini juga bukan perkara mudah, ya kan. 

“A happy child has higher chance of a healthy development and success later in life.” 

“A happy childhood is a foundation for future happiness.”

Mbak Dita
Pramudita Sarastri, (Mbak Dita), Brand Executive Nestlé LACTOGROW, menyampaikan bahwa kebahagiaan punya peran penting dalam tumbuh kembang. Jadi, anak yang bahagia, punya kecenderungan lebih besar untuk oprimal tumbuh kembangnya.

Bagaimana cara mewujudkannya? Tentu saja keterlibatan orang tua sangatlah penting, karena lazimnya, orang tua adalah lingkungan terdekat anak. Selain itu diperlukan juga stimulasi yang tepat, dan juga pemberian nutrisi yang baik untuk anak. 

“Grow Happy bisa dimulai dari pilihan yang tepat utuk nutrisi anak.” 

RAHASIANYA ADA DI PERUT 

Pada suatu perjalanan darat dari Semarang ke Yogya, waktu itu anak saya yang sulung masih berusia kurang dari dua tahun, diam saja di sepanjang satu jam pertama perjalanan. Padahal kita sama-sama tahu kalau anak-anak di dalam mobil, kebanyakan akan menjadikan mobil “wahana permainan” macam dunia fantasi. Ternyata penyebabnya dia lapar. Terbukti sehabis mampir makan, dia tak henti mengoceh dan bernyanyi di sepanjang perjalanan. 

Pada suatu hari dia sepanjang malam tidak juga mau tidur. Istilahnya “nyil-nyilan”. Kalau diingat-ingat, sore harinya dia banyak mengonsumsi camilan manis. 

Makanan punya pengaruh besar buat tubuh ternyata. Kita aja nih, yang orang dewasa kalau terlambat makan rasanya kepala pusing, trus rasanya moody. Saya sekarang juga mulai merasakan efek negatif dari mengonsumsi beberapa jenis makanan. Kalau berlebihan mengonsumsi beberapa makanan tertentu, badan merasakan lelah sepanjang hari. Boro-boro happy, buat beraktivitas aja malas. 

Ternyata benar ya istilah kalau kebahagiaan itu datang dari perut?
Dokter Ariani

Dokter spesialis anak Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp. A(K) (Dokter Ariani) menyampaikan bahwa pencernaan yang sehat itu menjadi salah satu kunci untuk anak bahagia. Kita sebagai orang tua punya kewajiban untuk menjaga pencernaan anak agar tetap sehat, salah satunya melalui asupan makanan yang kita berikan. Bahkan asupan makanan ini harus diperhatikan sejak 1000 hari pertama kehidupan. 1000 hari pertama kehidupan ini dimulai konsepsi, lalu terbentuk embrio, hingga anak berusia dua tahun. 

Pada masa-masa “emas” ini, pertumbuhan seorang anak sedang pesat-pesatnya, sehingga asupan makanan bergizi pada masa ini sangat penting bagi kecerdasan anak. 

“Semua Penyakit dimulai di dalam usus” –Hippocrates- 

Anak-anak tentunya, belum bisa mengonsumsi makanan yang sama dengan orang dewasa karena sistem kekebalan tubuh anak belum berkembang optimal. Salah satunya karena lapisan mukosa di ususnya lebih tipis, usus anak bisa dikatakan belum matang, sehingga saluran cernanya juga belum matang. Anak rentan mengalami infeksi karena kekebalan tubuhnya belum sempurna. Maka itu penting bagi orang tua untuk memperhatikan kualitas dan kuantitas makanan yang sesuai bagi anak, sehingga asupan nutrisinya terjamin.
Sistem Kekebalan Tubuh Bayi Belum Optimal
Dokter Ariani mengingatkan pentingnya asupan probiotik, yaitu mikroorganisme hidup yang jika diatur dalam jumlah yang memadai bisa memberikan manfaat kesehatan pada tempat hidupnya. Probiotik ini bisa didapatkan dari yogurt, tempe, kimchi, dan susu.

Peran bakteri baik bagi tubuh adalah: 
1. Menjaga kekebalan tubuh 
2. Mencerna serta dan menghasilkan nutrisi yang mendukung kesehatan saluran cerna 
3. Melindungi dari penyakit 
4. Mendukung kesehatan saluran cerna 
5. Melindungi usus dari miroba atau zat berbahaya lainnya 

Makanan yang dikonsumsi sehari-hari adalah perantara. 

1. Membantu bakteri melewati saluran cerna 
2. Mengandung prebiotik (alami atau buatan) 
3. Menyediakan zat nutrisi lain bagi tubuh 

Berikut adalah jenis-jenis probiotik yang terbukti bermanfaat bagi tubuh atau terbukti memiliki sifat yang menguntungkan: 
Jenis Probiotik yang Terbukti Bermanfaat
Dokter Ariani mengenalkan salah satu bakteri baik yaitu Lactobacillus Reuteri yang berdasarkan penelitian bermanfaat untuk diare akut, konstipasi, kolik bayi, juga turut mempengaruhi suasana hati, dan juga kecerdasan. Lactobacillus Reuteri berdasarkan penelitian mampu menghasilkan Vitamin B12 yang berpengaruh pada perkembangan otak. 

Terungkap sudah kalau salah satu rahasia untuk Grow Happy adalah dari perut yang sehat. Jadi mulai sekarang sebagai orang tua kita harus memperhatikan asupan makanan anak kita. Tidak sekedar makanan yang mengenyangkan, tapi juga yang bermanfaat untuk tumbuh kembangnya. 

“Berikan modal saluran cerna yang sehat untuk anak. Saluran cerna yang sehat adalah investasi penting yang perlu dilakukan sejak kecil.” 

WE CAN NOT BE HAPPY FOREVER

Kita harus sadar kalau memang tidak mudah bagi kita untuk terus-terusan bahagia. Salah satunya karena kita tinggal bersama orang lain dalam lingkungan tertentu. Mau tidak mau kondisi lingkungan mempengaruhi kondisi kita. Sebagai lingkungan terdekat yang paling berpengaruh bagi anak-anak, kita harus menciptakan atmosfer yang mendukung tumbuhnya kebahagiaan.
 
Mbak Lizzie
Psikolog Elizabeth Santosa, M.Psi, Psi, SFP, ACC (Mbak Lizzie) mengingatkan bahwa tubuh dan kondisi psikologis sangat berhubungan. Anak-anak yang tumbuh tidak bahagia, atau bahkan mengalami trauma, biasanya rentan mengalami masalah kesehatan. Anak-anak yang happy biasanya akan menjadi magnet tindakan positif dari lingkungan. Sayangnya, begitu juga sebaliknya, Mbak Lizzie menyampaikan biasanya anak-anak dengan trauma cenderung menjadi obyek perundungan. 

Terus bagaimana kalau kita sebagai orang tua juga punya trauma masa kecil? Diingatkan Mbak Lizzie kalau memutus trauma masa lalu adalah PR bagi orang tua supaya anak-anak bisa “grow happy”. 

Kalau di Gilmore Girls, Lorelai juga tumbuh di tengah keluarga yang over protective dan ambisius. Ketika membesarkan Rory, dia berusaha menyembuhkan trauma dengan menjauh dari orang tuanya sendiri demi menciptakan lingkungan yang menyenangkan bagi Rory. 

ADA KABAR BAIK APA? 

Kematangan emosi dan kebahagiaan anak dapat dibantu dengan praktek perilaku positif. Salah satu cara untuk mengajarkan perilaku positif adalah dengan sering bersyukur. Caranya? 

Mbak Lizzie membiasakan diri untuk menjalin komunikasi di rumah dengan pertanyaan “Ada kabar baik apa?”, ketimbang sekadar: “Apa Kabar?” 

Ketika kita ditanya tentang kabar baik, otak jadi terbiasa mencari yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Ketika otak kita terlatih untuk mencari hal baik, berpikir positif, maka perlahan-lahan hal-hal negatif yang biasanya jadi hal pertama yang kita lihat, akan tergeser. 

Nah, mulai sekarang, bisa dibiasakan untuk bertanya tentang kabar baik kepada orang-orang di sekitar kita. 

Mbak Lizzie di akhir acara berpesan agar jangan jadi orang tua pemalas. Orang tua juga penting untuk membangun antusiasme, dengan keterlibatan yang utuh. Sepatutnya orang tualah yang paling tahu si anak luar dalam. 

Bagaimana Membesarkan Anak Agar Tumbuh Bahagia
Di Indonesia kesehatan dan nutrisi seringkali disepelekan. Sebagai orang tua selain mesti berupaya menumbuhkan sifat positif, jangan sampai melupakan asupan makanan anak. Berikan anak-anak makanan yang bermanfaat untuk tubuh. Ajari anak menghargai dirinya melalui makanan-makanan baik yang dia konsumsi. 

This Clay Food Look Delice!

Terima kasih ya Nestlé LACTOGROW, sudah bikin banyak ibu-ibu happy. 


Happiness is not a given. 
To grow happy is a choice we make every day. 

No comments:

Post a Comment