Tuesday, August 13, 2019

Menikmati Kuliner di Batam


Pemandangan Indah Jembatan Barelang dari Barelang Seafood
Orang banyak mengenal Batam sebagai surga belanja barang-barang impor dengan harga murah. Benda elektronik, makanan kecil macam coklat, hingga parfum dan tas, menjadi barang buruan wisatawan yang melancong ke kota ini. Bahkan di berbagai marketplace ada istilah “tas Batam” untuk menamai aneka jenis tas (biasanya replika dari merk-merk ternama gitu). 

Saya pertama kali ke Batam tahun 2005. Nah, waktu pertama kali ini saya beneran beli tas dan parfum. Padahal kalau diingat-ingat nggak murah-murah amat juga. Waktu itu parfum yang saya beli harganya 350an ribu rupiah. Parfumnya J-Lo yang dikasih nama “Still”. Sekarang kalo saya lihat yang versi orinya di marketplace harganya di kisaran 500-600 ribu. Tas juga harganya 400 ribuan rupiah untuk jenis travelling bag merk Elle. Kenapa ingat harga padahal udah empat belas tahun? Karena bayarnya pake duit sendiri. Hihi. 

Baru tahun 2019 ini, saya dikasih rezeki menginjakkan kaki lagi di bandara Hang Nadim. Kalau pertama kali dulu saya ke Batam untuk piknik yang dikemas dalam acara study tour. Jadi saya bareng rombongan setelah menyambangi kawasan industri di Batam, esoknya kemudian naik feri ke Singapura, jalan-jalan dua hari di sana, lalu kembali pulang lewat Batam lagi. 

Yang kedua ini ke Batam buat kerja, tapi pengen disisipi piknik juga ke Singapura. Sampai-sampai saya udah siap-siap dan memperbarui paspor yang udah expired bertahun-tahun. Tapi karena dua hari sebelumnya tenaga diforsir untuk bekerja, rencana ke Singapura di hari terakhir saya batalkan. Rasanya untuk mengangkat badan saja berat, kaki sudah pegal nggak karuan. Saya tak sanggup membayangkan menyusuri jalan-jalan di Singapura dengan kondisi seperti itu. Belum lagi tentengan koper dan ransel berisi laptop dan berkas-berkas pekerjaan. Di hari terakhir kerja, saya malah kebayang enaknya kasur di rumah. Kayaknya kalau ada kesempatan lagi, mendingan saya piknik dulu deh, baru kerja. Hehe. 

Kuliner Batam yang Mengganggu Diet 
Buah-buahan di kios. Mangganya lucu gitu warnanya, kuning

Selama tiga malam saya menginap di Hotel Nagoya Hill Batam. Hotelnya sangat strategis karena jadi satu lokasi dengan Mal Nagoya. Di mal ini isinya pertokoan yang jual aneka barang “khas Batam” yang sudah saya sebutkan di atas tadi. Karena jadwal kerja yang padat saya cuma punya waktu satu jam buat menjelajah mal ini. Lumayanlah, bisa dapat oleh-oleh buat keluarga di rumah. 

Satu hal yang bikin saya cinta Batam adalah aneka kuliner yang sedap nan lezat, terutama seafoodnya. Hari pertama saya diajak makan malam di “pinggir jalan” yang dengan meja-meja dan kursi plastik sederhana yang “dijereng” begitu saja tanpa atap. Namanya ACIA Ikan Bakar.

Suasana ACIA Ikan Bakar
Makanannya super lezat. Sajiannya macam-macam nggak cuma ikan. Ada gonggong sejenis siput laut, ada juga masakan semacam telur dadar dengan isian kerang, trus kayak daging yang disajikan di kulit lumpia goreng seperti mangkuk kecil, sampai sate ayam juga ada. 

Aneka Makanan di ACIA Ikan Bakar
Makanan datang terus ke meja sampai piring bertumpuk. Saya juga mencicip otak-otak ikan yang di Batam ini warnanya kemerahan. Saya baru tahu kalau Otak-otak ikan di sini beda dengan otak-otak yang biasa saya makan di Jawa. Kalau di sini semua bumbu rempahnya sudah jadi satu di dalam adonan. Jadi nggak dimakan bareng cocolan sambal kacang seperti lazimnya saya makan.
Ikan Sabah Bakar

Yang paling saya suka dari menu makan malam pertama ini adalah ikan Sabah bakar yang disajikan dengan semacam bumbu berwarna hijau. Waktu lihat pertama kali kurang berselera gitu. Sampai bermenit-menit nggak saya senggol tuh ikan bakar di depan saya. Apalagi bentuknya mirip ikan tongkol. Karena nggak enak sama panitia yang terus menyodorkan piring itu aja akhirnya saya nyicip. Tapi ajaib rasanya gurih dan lezaaaat bener. Nggak anyep seperti bayangan saya. Acara makan malam ini ditambah dengan serunya icip-icip durian khas Batam. Yang meski bentuknya kecil, rasanya legit. 

Seafood (Lagi) ala Resto 

Hari kedua makan malam kami datang ke satu restoran yang besar, di tepian salah satu pelabuhan yang biasa dipakai untuk menyeberang ke Singapura. Karena malam hari, pemandangan yang kelihatan hanya kerlip lampu saja. Di hari biasa aja (bukan weekend atau hari libur nasional) hampir semua meja terisi lho! Dan di sini meja-meja bukan hanya berisi empat orang seperti lazimnya resto gitu, tapi meja-meja untuk setidaknya sepuluh orang. 

Suasana makan malam di Batam selalu festive, ramai, seru. Semua orang sepertinya datang berombongan lebih dari tiga orang. Dan mereka makan sambil mengobrol dengan ramainya. Di sini seperti kemarin, saya disuguhi gonggong lagi yang rupanya jadi masakan wajib di Batam. Tapi saya enggan makannnya. Karena rada geli aja gitu makan keong. Hehe. Saya makan ikan Sabah bakar (lagi) dan ayam goreng bawang yang sebetulnya agak keras ya dagingnya karena digoreng kering gitu. Tapi enak deh “kremesan bawangnya”. Dua makanan yang nggak saya icip adalah ikan bawal yang disajikan di kuah kecap kayak semur, dan oseng pete (kayaknya sih namanya bukan ini tapi petenya terlihat mendominasi). 

Setelah dua malam berpesta seafood, saya jadi menebak-nebak, malam terakhir mau diajak makan ke mana lagi. Ternyata saya dan rombongan diajak makan ke semacam food court gitu. Semi terbuka juga tempatnya. Pokoknya selama di Batam ini nggak ada acara makan-makan di dalam ruangan gitu (kecuali pas di hotel). Tempatnya ruameee juga. Katanya sih ini karena orang Batam tuh suka banget makan di luar. Di rumah jarang masak. Maklum sih, menu makanan di Batam menggoyang lidah gitu, dan aneka kuliner lezat ini tersebar mulai dari pinggir jalan sampai ke resto-restonya. 

Aneka makanan di food court sungguh menggoda, tapi saya mesti ekstra hati-hati. Karena katanya di tempat itu sekitar 75% makanan yang disajikan adalah non halal. Saya akhirnya memilih sejenis kwetiaw yang ditumis bareng tauge. Karena mupeng lihat makanan sebelah, saya juga ikut pesen nasi ayam hainan. Rasanya enaaak bener deh.
Kedai Kopi Sudi Mampir Batam. 

Pagi hari terakhir di Batam, saya makan di restoran Pagi semacam kedai kopi. Hanya lima menit berkendara dari hotel Nagoya Hill. Atau sepuluh menit jalan kaki. Di sana ada juga semacam food court versi mini gitu, ada kedai yang menyediakan kopi, dan booth makanan-makanan lain dengan masakan yang berbeda-beda.
Kwetiaw dan Minuman Barley

Dan saya memilih makan kwetiaw goreng lagi. Hihi. Selain pilihan terbatas karena booth makanan yang halal belum buka, saya juga masih kebayang lezatnya kwetiaw yang saya makan di foodcourt semalam. Di sini saya juga nemu satu-satunya minuman di Batam yang saya ingat karena enak, yaitu Barley Tea. Saya pikir sejenis teh yang coklat gitu, tapi ternyata semacam ada biji kacang hijau kupas. Minuman ini katanya bisa mengobati penyakit panas dalam. 

Di hari terakhir ini juga, selepas saya nebeng piknik ke Pulau Galang, saya makan di resto Barelang Seafood. Nggak usah ditanya ya makannya apa. Yang jadi highlight tempat ini tentu saja lokasinya yang menurut saya premium, dengan pemandangan jembatan Barelang nan beken. 

Air lautnya juga biru tosca, angin bertiup sepoi-sepoi. Padahal dulu waktu saya ke sini air di jembatan Barelang kayak buthek coklat gitu.
Menu Segar Barelang Seafood
Ikan-ikan di resto ini masih segar sebelum dimasak. Ada semacam karamba yang isinya makhluk laut yang nanti bisa dipilih di dalam buku menu.
Sajian Seafood Barelang Seafood

Siang hari sudah lapar, plus mau mengejar jadwal pesawat ke Jakarta di sore hari. Agak deg-degan juga takut masaknya lama. Untungnya di resto ini masakan keluar dalam waktu tidak terlalu lama. Sekitar 15 menitan semua makanan sudah terhidang di meja. Menunya kepiting saus padang, cumi goreng tepung, dan sup ikan plus tumis sayuran. Lidah rasanya menari karena gurihnya cumi dan asyiknya menyesap si kepiting. 

Nah, pengalaman saya ke Batam kali ini memang berkutat di dunia makanan. Karena memang saya nggak sempat kemana-mana, kecuali ke pulau Galang sebelum pulang. Tapi jangan minta saya info harga makanan-makanan di atas ya, karena saya nggak pernah bayar, bahkan lihat notanya pun nggak sempat, karena selalu keburu disambar sama panitia.
Jajanan Seafood di Sekitar Jembatan Barelang

O iya, masih ada hubungannya sama makanan, di Jembatan Barelang saya sempat memotret ibu-ibu yang jualan Kepiting. Uniknya kepitingnya guedeee. Warnanya merah kayak Mister Crab. Harganya 80 ribu rupiah per ekor dan nanti akan diangetin dengan cara dibakar lagi gitu kalau kita mau beli.
Gede ya Kepitingnya
Waktu mau take off pesawat saya sempat beli makanan buat oleh-oleh di Bandara Hang Nadim. Namanya Luti Gendang. Semacam roti bulat-bulat seukuran donat kampung yang berisi abon ikan gitu. Harganya kalo yang ini saya tahu karena beli sendiri hehe. Satu kotak isi 15 atau 20 roti harganya 65 ribu rupiah. Nanti sampai di rumah, bisa dipanaskan dengan cara digoreng lagi. 

Kalau makanan selama di hotel, nggak menarik kayaknya direview, karena kalau siang nggak sempat benar-benar menikmati makanan ala buffe, dan kalau pagi, yah paling saya makan bubur sama roti. 

Bersyukur sekali masih dikaruniai kesehatan dan kesempatan untuk mencicip aneka masakan lezat, dari ciptaan Allah yang bertebaran di bumi ini. Nggak sempat jalan-jalan buat belanja di Batam juga kerasa fine aja buat saya, karena oleh-oleh yang berharga justru kenangan akan kulinernya yang lezat, plus tambahan berat badan yang dibawa pulang ke Jawa. 



No comments:

Post a Comment