Sama seperti budaya
nusantara lainnya seperti tari-tarian dan barang kerajinan, ragam kuliner nusantara nyaris tak terhitung banyaknya. Mulai dari rendang Padang yang sudah terkenal di dunia internasional dan dapat penghargaan dari majalah Time sebagai makanan terlezat, sampai
kuliner yang semakin langka seperti sayur babanci dari
Betawi. Setiap jengkal tanah nusantara dari Sabang sampai Merauke telah menghasilkan bumbu-bumbu dan bahan-bahan khas, terwujud dalam setiap masakan Indonesia yang
tidak mudah dicari padanannya di negara lain.
Untunglah di era
kebangkitan sosial media sekarang ini, keberadaan netizen turut
membantu mengenalkan aneka ragam kuliner
nusantara. Ribuan foto makanan yang diunggah netizen setiap harinya di sosmed patut diacungi
jempol, karena dengan demikian aneka kuliner nusantara akan makin dikenal oleh
bangsanya sendiri, juga bangsa lain. Apalagi kalau foto-foto kuliner itu
disertai penjelasan lebih lanjut tentang apa dan bagaimana kuliner itu dibuat. Karena menurut pakar kuliner
William Wongso, kuliner bukan sekedar jalan-jalan dan makan-makan, tetapi juga tentang menggali keunikan rasa dari makanan
tersebut. Jadi lain kali kalau jepret kuliner nusantara, mesti sekalian tanya bahan-bahan
dan resep sama kokinya, tuh.
Apa sih susahnya jepret makanan aja?
Netizen yang suka
mendokumentasikan makanan, pasti sudah pernah merasakan repotnya jungkir balik memotret
makanan dengan aneka pose heboh bin absurd. Seringkali fotografernya berbekal kamera DSLR harus berdiri di kursi, kadang yang ekstrem di atas meja, sampai nunduk-nunduk dan senggol menyenggol dengan
pengunjung di sebelahnya. Bayangkan kalau
dilakukan di restoran yang ramai atau warung sempit. Hehe. Selain itu rasanya agak repot kalau harus terus menenteng kamera kemana-mana. Kadang kan kuliner lezat muncul
tak diduga. Jadi rasanya perlu ya, ada perangkat secanggih kamera DSLR tapi
bisa dikantongin, jadi lebih praktis.
Di sini
lah pentingnya kita berbekal smartphone
canggih, macam ASUS ZenFone yang
punya teknologi PixelMaster Camera. Seperti
saya nih, misalnya, yang masih suka malu-malu kalau mau jepret kuliner di
restoran, jadi bawaannya buru-buru. Boro-boro motret pakai kamera DSLR, pakai
ponsel aja suka grogi. Akibatnya? Keringat dingin menetes, tangan goyang, gambarnya
jadi nggak fokus dan blur. Dengan
teknologi image stabilizer dalam smartphone
ASUS ZenFone, goyangan yang terjadi bisa diminimalkan. Hasilnya, foto jadi lebih tajam.
Salah
satu fitur lain yang bermanfaat banget adalah mode low light yang memungkinkan smartphone ASUS ZenFone menghasilkan
gambar yang lebih jernih dalam kondisi minim cahaya. Misalnya lagi di kafe
yang agak remang gitu, masa iya kita ngotot mau bawa-bawa lampu sendiri? Cukup bawa ASUS ZenFone, hasil gambarnya bisa lebih jelas meski kondisi
ruangan gelap.
Tempe, Kuliner Nusantara Pilihanku
![]() |
ASUS ZenFone 3,
Tempe, dan Kopi biar nggak ngantuk.
|
Kok cuma tempe?
Sederhana banget sih? Itu sih di warung
sebelah juga ada. Tiap hari juga emak di rumah juga nyuguhin tempe.
Berbekal petikan
kata-kata mutiara: “I find happiness in the simplest of things”, saya juga menemukan tempe adalah makanan
sederhana yang sukses membuat saya bahagia. Bahagia di lidah, bahagia di
dompet. Dan tempe itu termasuk warisan kuliner nusantara lho. Siapa hayo yang rela kalau tempe diakui
bangsa lain? Sejarawan Ong Hok Ham pernah
membuat sebuah tulisan yang berjudul “Tempe Sumbangan Jawa untuk Dunia”. Tuh, kan, jangan
sepelekan sumbangsih tempe untuk kekayaan kuliner nusantara, bahkan dunia.
Tempe memang seakan pernah jadi simbol keterbelakangan bangsa Indonesia. Bahkan pada tahun 60-an
Bung Karno berpidato agar bangsa Indonesia “Jangan menjadi bangsa tempe” yang
berarti jangan mau jadi bangsa yang murahan, rendah diri, dan terbelakang. Gara-garanya tentu karena tempe dianggap makanan rakyat
jelata. Konon tempe terbentuk secara “tidak sengaja” dari buangan
limbah tahu yang ditumbuhi kapang.
![]() |
Tempe, dalam layar smartphone ASUS Zenfone3, Berkat teknologi PixelMaster Camera gambarnya jadi terang meski dalam keremangan dapur. Kelihatan
kan, cantik kedelainya?
|
Meskipun terbentuk tidak sengaja dari limbah, tempe masa kini justru
disebut sebagai superfood. Salah satunya
karena kandungan protein tempe yang mudah untuk dicerna tubuh, dan masih banyak
manfaat tempe lainnya. Tempe juga mudah diolah, dan ditemui dalam aneka kuliner
nusantara. Salah satu kuliner tempe kegemaran presiden namanya “Sate
Kere”. Bisa ditemukan di Solo dan
sekitarnya. Kenapa disebut
kere? Karena alih-alih dibuat dari daging seperti sate kebanyakan, sate kere
dibuat dari tempe gembus.
![]() |
Tempe goreng kering pelengkap aneka kuliner, salah satunya untuk dimakan bersama soto ayam. |
Si Lezat Mendoan
Orang banyak kenal mendoan berasal dari daerah Banyumas. Di sana orang
bilang mendo yang maksudnya lembek. Memang kalau dilihat penampakannya, tempe bersalut tepung ini seperti makanan setengah matang. Tempe dicelup
tepung berbumbu, ditambahi irisan daun bawang, digoreng sebentar saja dalam minyak panas. Mendoan paling sedap dimakan selagi hangat, pakai sambal
kecap atau cabai rawit hijau.
Di daerah Sawangan, Purwokerto, Jawa Tengah berjejer toko-toko oleh-oleh
yang jualan mendoan. Di sana kita bisa makan mendoan hangat yang baru saja
digoreng di depan kita. Enaknya lagi, buat yang ingin
membawakan mendoan sebagai oleh-oleh, bisa membeli paket mendoan untuk digoreng
sendiri di rumah.
Isi paketnya berupa tempe yang belum matang alias masih di dibungkus daun, tepung mendoan, dan kecap sambal. Tempenya juga bisa dipilih yang sesuai dengan kapan akan digoreng. Misal kita beli hari Jumat
untuk tempe yang baru “jadi” hari Minggu. Jadi nanti di hari Minggu si tempe masih segar ketika dimasak. Dengan uang sekitar 30 ribu rupiah, kita sudah bisa dapat sepaket
“Selfmade” mendoan.
![]() |
Mendoan, dimakan dengan ketupat atau lontong, plus teh panas. Uh, heaven!
|
Kalau sedang di Purbalingga, menu sarapan mendoan plus lontong atau ketupat adalah yang paling saya
tunggu-tunggu. Tetangga mertua di sana
adalah pembuat mendoan dengan rasa paling enak menurut saya. Akhirnya pada
suatu sore yang mendung, hehe, saya mengulik rahasianya
bikin mendoan. Katanya, tepungnya adalah tepung beras (yang digiling sendiri
kalau pas sempat kalau enggak pun pakai kemasan tak apa-apa) dan bumbunya cuma bawang putih, garam, plus ketumbar yang diulek sampai halus. Nah, rahasianya adalah,
ketumbarnya harus disangrai dulu supaya aromanya keluar dan wangi. Adonan tepungnya juga harus pas kekentalannya.
Menurut saya, yang
membuat mendoan unik adalah jenis tempenya. Tempe mendoan Banyumas itu tipis
dan lebar. Tempe dibungkus daun pisang, atau daun jati, dan sebungkus berisi 2 sampai 3
lembar tempe. Ketebalannya sekitar 2-3 milimeter saja, lho. Sayangnya di Semarang
cari tempe seperti itu agak sulit. Kalaupun ada,
rasanya masih kurang tipis beberapa milimeter dibanding tempe mendoan dari Banyumas. (Niat banget diukur!) Kalau sudah kepepet ngidam
makan mendoan, ya jadilah tempe seadanya yang dipotong setipis mungkin.
![]() |
Mendoan ala-ala
begini ya. Biarpun bentuk nggak karuan, sepiring juga ludes dimakan.
|
Oseng Tempe Kecap Di Mana-Mana
Siap-siap ditoyor pemuja kuliner sophisticated di
seluruh nusantara. Tapi kembali ke prinsip awal, saya menemukan
bahagia dari hal sederhana. Di minggu pertama menikah dulu, menu ini adalah masakan
pertama saya yang dipuji suami. Hehe. Dan lagi menurut
pengamatan saya, oseng tempe kecap turut ambil bagian
dalam banyak hidangan kuliner nusantara. Coba lihat nasi kuning, pasti ada oseng tempenya. Nasi dus selametan,
nasi rames, nasi kucing, bahkan kadang di dalam lontong opor, you name it.
Oseng tempe kecap
sangat mudah dibuat. Tempe dipotong kecil sesuai selera, dioseng bersama
bumbu-bumbu, bawang merah, bawang putih, cabai merah, garam dan tentu saja
kecap. Sedap!
![]() |
Aneka “pose” di oseng tempe kecap. Hihi. |
Nah, tidak harus selalu pergi jauh kan, untuk mendapatkan kuliner nusantara buat diabadikan. Tapi meskipun kuliner nusantara ini dibikin di rumah,
tetap saja butuh usaha untuk menjepretnya. Jepret kuliner itu mau nggak mau akan nyerempet-nyerempet sama pengetahuan food photography. Obyek fotonya harus
diperlakukan seperti model yang akan difoto dengan aneka properti. Posisinya harus diubah-ubah. Perlu berkali-kali
jepret juga untuk bisa menemukan hasil foto yang paling pas.
Kalau untuk urusan jepret kuliner nusantara ini, tak ada
lain, saya masih harus sering berlatih. Karena Practice
makes perfect.
Dan boleh ya, berdoa
punya smartphone canggih yang keren
macam ASUS ZenFone yang akan bikin
acara jepret-jepret kuliner ini jadi seru dan keren!
Siap difoto yaa…. Bilang: “Tempee!”
*Jepret!*
Artikel ini
diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan
Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel.