Thursday, March 2, 2017

Jepret Kuliner Nusantara: Yuk bilang: Tempeee!

http://www.gandjelrel.com/2017/02/blogging-competition-jepret-kuliner-nusantara-dengan-smartphone.html 



Sama seperti budaya nusantara lainnya seperti tari-tarian dan barang kerajinan, ragam kuliner nusantara nyaris tak terhitung banyaknya. Mulai dari rendang Padang yang sudah terkenal di dunia internasional dan dapat penghargaan dari majalah Time sebagai makanan terlezat, sampai kuliner yang semakin langka seperti sayur babanci dari Betawi. Setiap jengkal tanah nusantara dari Sabang sampai Merauke telah menghasilkan bumbu-bumbu dan bahan-bahan khas, terwujud dalam setiap masakan Indonesia yang tidak mudah dicari padanannya di negara lain.



Untunglah di era kebangkitan sosial media sekarang ini, keberadaan netizen turut membantu  mengenalkan aneka ragam kuliner nusantara. Ribuan foto makanan yang diunggah netizen setiap harinya di sosmed patut diacungi jempol, karena dengan demikian aneka kuliner nusantara akan makin dikenal oleh bangsanya sendiri, juga bangsa lain. Apalagi kalau foto-foto kuliner itu disertai penjelasan lebih lanjut tentang apa dan bagaimana kuliner itu dibuat. Karena menurut pakar kuliner William Wongso, kuliner bukan sekedar jalan-jalan dan makan-makan, tetapi juga tentang menggali keunikan rasa dari makanan tersebut. Jadi lain kali kalau jepret kuliner nusantara, mesti sekalian tanya bahan-bahan dan resep sama kokinya, tuh. 

Apa sih susahnya jepret makanan aja?



Netizen yang suka mendokumentasikan makanan, pasti sudah pernah merasakan repotnya jungkir balik memotret makanan dengan aneka pose heboh bin absurd. Seringkali fotografernya berbekal kamera DSLR harus berdiri di kursi, kadang yang ekstrem di atas meja, sampai nunduk-nunduk dan senggol menyenggol dengan pengunjung di sebelahnya. Bayangkan kalau dilakukan di restoran yang ramai atau warung sempit. Hehe. Selain itu rasanya agak repot kalau  harus terus menenteng kamera kemana-mana. Kadang kan kuliner lezat muncul tak diduga. Jadi rasanya perlu ya, ada perangkat secanggih kamera DSLR tapi bisa dikantongin, jadi lebih praktis.



Di sini lah pentingnya kita berbekal smartphone canggih, macam ASUS ZenFone yang punya teknologi PixelMaster Camera. Seperti saya nih, misalnya, yang masih suka malu-malu kalau mau jepret kuliner di restoran, jadi bawaannya buru-buru. Boro-boro motret pakai kamera DSLR, pakai ponsel aja suka grogi. Akibatnya? Keringat dingin menetes, tangan goyang, gambarnya jadi nggak fokus dan blur. Dengan teknologi image stabilizer dalam smartphone ASUS ZenFone, goyangan yang terjadi bisa diminimalkan. Hasilnya, foto jadi lebih tajam.



Salah satu fitur lain yang bermanfaat banget adalah mode low light yang memungkinkan smartphone ASUS ZenFone menghasilkan gambar yang lebih jernih dalam kondisi minim cahaya. Misalnya lagi di kafe yang agak remang gitu, masa iya kita ngotot mau bawa-bawa lampu sendiri? Cukup bawa ASUS ZenFone, hasil gambarnya bisa lebih jelas meski kondisi ruangan gelap.

Tempe, Kuliner Nusantara Pilihanku


ASUS ZenFone 3, Tempe, dan Kopi biar nggak ngantuk.
Kok cuma tempe? Sederhana banget sih?  Itu sih di warung sebelah juga ada. Tiap hari juga emak di rumah juga nyuguhin tempe.  


Berbekal petikan kata-kata mutiara:I find happiness in the simplest of things”, saya juga menemukan tempe adalah makanan sederhana yang sukses membuat saya bahagia. Bahagia di lidah, bahagia di dompet. Dan tempe itu termasuk warisan kuliner nusantara lho. Siapa hayo yang rela kalau tempe diakui bangsa lain? Sejarawan Ong Hok Ham pernah membuat sebuah tulisan yang berjudul “Tempe Sumbangan Jawa untuk Dunia”. Tuh, kan, jangan sepelekan sumbangsih tempe untuk kekayaan kuliner nusantara, bahkan dunia.



Tempe memang seakan pernah jadi simbol keterbelakangan bangsa Indonesia. Bahkan pada tahun 60-an Bung Karno berpidato agar bangsa Indonesia “Jangan menjadi bangsa tempe” yang berarti jangan mau jadi bangsa yang murahan, rendah diri, dan terbelakang. Gara-garanya tentu karena tempe dianggap makanan rakyat jelata. Konon tempe terbentuk secara “tidak sengaja” dari buangan limbah tahu yang ditumbuhi kapang. 


Tempe, dalam layar smartphone ASUS Zenfone3, Berkat teknologi PixelMaster Camera gambarnya jadi terang meski dalam keremangan dapur. Kelihatan kan, cantik kedelainya?

Meskipun terbentuk tidak sengaja dari limbah, tempe masa kini justru disebut sebagai superfood. Salah satunya karena kandungan protein tempe yang mudah untuk dicerna tubuh, dan masih banyak manfaat tempe lainnya. Tempe juga mudah diolah, dan ditemui dalam aneka kuliner nusantara. Salah satu kuliner tempe kegemaran presiden namanya “Sate Kere”.  Bisa ditemukan di Solo dan sekitarnya.  Kenapa disebut kere? Karena alih-alih dibuat dari daging seperti sate kebanyakan, sate kere dibuat dari tempe gembus. 

Tempe goreng kering pelengkap aneka kuliner, salah satunya untuk dimakan bersama soto ayam.



Si Lezat Mendoan


Orang banyak kenal mendoan berasal dari daerah Banyumas. Di sana orang bilang mendo yang maksudnya lembek. Memang kalau dilihat penampakannya, tempe bersalut tepung ini seperti makanan setengah matang. Tempe dicelup tepung berbumbu, ditambahi irisan daun bawang, digoreng sebentar saja dalam minyak panas. Mendoan paling sedap dimakan selagi hangat, pakai sambal kecap atau cabai rawit hijau.


Di daerah Sawangan, Purwokerto, Jawa Tengah berjejer toko-toko oleh-oleh yang jualan mendoan. Di sana kita bisa makan mendoan hangat yang baru saja digoreng di depan kita. Enaknya lagi, buat yang ingin membawakan mendoan sebagai oleh-oleh, bisa membeli paket mendoan untuk digoreng sendiri di rumah.


Isi paketnya berupa tempe yang belum matang alias masih di dibungkus daun, tepung mendoan, dan kecap sambal. Tempenya juga bisa dipilih yang sesuai dengan kapan akan digoreng. Misal kita beli hari Jumat untuk tempe yang baru “jadi” hari Minggu. Jadi nanti di hari Minggu si tempe masih segar ketika dimasak. Dengan uang sekitar 30 ribu rupiah, kita sudah bisa dapat sepaket “Selfmade” mendoan.





Mendoan, dimakan dengan ketupat atau lontong, plus teh panas. Uh, heaven!
Kalau sedang di Purbalingga, menu sarapan mendoan plus lontong atau ketupat adalah yang paling saya tunggu-tunggu. Tetangga mertua di sana adalah pembuat mendoan dengan rasa paling enak menurut saya. Akhirnya pada suatu sore yang mendung, hehe, saya mengulik rahasianya bikin mendoan. Katanya, tepungnya adalah tepung beras (yang digiling sendiri kalau pas sempat kalau enggak pun pakai kemasan tak apa-apa) dan bumbunya cuma bawang putih, garam, plus ketumbar yang diulek sampai halus. Nah, rahasianya adalah, ketumbarnya harus disangrai dulu supaya aromanya keluar dan wangi. Adonan tepungnya juga harus pas kekentalannya.



Menurut saya, yang membuat mendoan unik adalah jenis tempenya. Tempe mendoan Banyumas itu tipis dan lebar. Tempe dibungkus daun pisang, atau daun jati, dan sebungkus berisi 2 sampai 3 lembar tempe. Ketebalannya sekitar 2-3 milimeter saja, lho.  Sayangnya di Semarang cari tempe seperti itu agak sulit. Kalaupun ada, rasanya masih kurang tipis beberapa milimeter dibanding tempe mendoan dari Banyumas. (Niat banget diukur!) Kalau sudah kepepet ngidam makan mendoan, ya jadilah tempe seadanya yang dipotong setipis mungkin.



Mendoan ala-ala begini ya. Biarpun bentuk nggak karuan, sepiring juga ludes dimakan.

Oseng Tempe Kecap Di Mana-Mana



Siap-siap ditoyor pemuja kuliner sophisticated di seluruh nusantara. Tapi kembali ke prinsip awal, saya menemukan bahagia dari hal sederhana. Di minggu pertama menikah dulu, menu ini adalah masakan pertama saya yang dipuji suami. Hehe. Dan lagi menurut pengamatan saya, oseng tempe kecap turut ambil bagian dalam banyak hidangan kuliner nusantara. Coba lihat nasi kuning, pasti ada oseng tempenya. Nasi dus selametan, nasi rames, nasi kucing, bahkan kadang di dalam lontong opor, you name it.



Oseng tempe kecap sangat mudah dibuat. Tempe dipotong kecil sesuai selera, dioseng bersama bumbu-bumbu, bawang merah, bawang putih, cabai merah, garam dan tentu saja kecap. Sedap!


Aneka “pose” di oseng tempe kecap. Hihi.



Nah, tidak harus selalu pergi jauh kan, untuk mendapatkan kuliner nusantara buat diabadikan. Tapi  meskipun kuliner nusantara ini dibikin di rumah, tetap saja butuh usaha untuk menjepretnya. Jepret kuliner itu mau nggak mau akan nyerempet-nyerempet sama pengetahuan food photography. Obyek fotonya harus diperlakukan seperti model yang akan difoto dengan aneka properti.  Posisinya harus diubah-ubah. Perlu berkali-kali jepret juga untuk bisa menemukan hasil foto yang paling pas.  

Pose Termanis Si Kuliner Tempe
Kalau untuk urusan jepret kuliner nusantara ini, tak ada lain, saya masih harus sering berlatih. Karena Practice makes perfect


Dan boleh ya, berdoa punya smartphone canggih yang keren macam ASUS ZenFone yang akan bikin acara jepret-jepret kuliner ini jadi seru dan keren!



Siap difoto yaa…. Bilang: “Tempee!”



*Jepret!*



Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel
 


Sunday, September 27, 2015

Orang Paling Jahat yang Pernah Ku Kenal





Ada orang yang begitu bertemu langsung berbuat jahat. Maling, rampok, copet, tanpa permisi mengambil hak milik dengan paksa. Tak jarang ditambah membikin luka. Dia memang penjahat.

Ada orang yang lama aku kenal sebagai orang baik, tiba-tiba tega berbuat nekad. Entah menipu, atau berkhianat. Dia menggunting dalam lipatan, seringkali baru disadari setelah terlambat. Dia memang penjahat.

Ada orang yang kukira sahabat ternyata bukan. Selalu bermuka manis, tapi munafik. Tidak mengatakan kebenaran sama saja dengan kebohongan. Dia membikin sakit lebih dari lainnya karena menodai kepercayaan. Dia memang penjahat. 

Tapi ada orang paling jahat yang pernah aku kenal, dan dia bukanlah semua itu. 

Dia tak kenal waktu jika datang mengganggu. Dia sering meremehkanku, membuatku ragu pada keyakinan dan langkahku. Menghasutku supaya berhenti berbuat baik, supaya bermalas-malasan, melupakan cita-cita dan tujuan demi kesenangan. Dia tanpa kusadari menjadi pencuri teliti dari semua yang aku kumpulkan: harta, harapan, keyakinan. 

Dia itu diriku sendiri.

Dia memang penjahat. Bahkan terjahat dari yang pernah kukenal.