Showing posts with label Gandjel Rel. Show all posts
Showing posts with label Gandjel Rel. Show all posts

Monday, October 30, 2017

Rumah Idaman

Tiga dari lima kenalan yang datang ke rumah saya untuk pertama kalinya selalu bertanya, “Rumahnya didesain sendiri, ya?” Alasan mereka tentu saja karena tahu kalau saya kuliah di jurusan arsitektur. Sepertinya lazim bertanya seperti bertanya pada desainer kondang: bajunya bikinan sendiri, ya?

Sayangnya sementara ini jawaban saya: tidak. (Belum)

Dari hari pertama usai menikah saya langsung tinggal di rumah kontrakan. Awalnya selama dua tahun, lalu pindah di rumah kontrakan lain juga selama dua tahun juga. Di tahun ke lima, kami pindah ke rumah yang dibeli dengan mencicil. Karena kebutuhan akan rumah berjalan linier dengan kebutuhan lain dan pendapatan, jadinya kami nggak sempat benar-benar menabung untuk membangun rumah “from scratch”. 

Idealnya membangun rumah yang benar-benar idaman membutuhkan waktu setidaknya satu tahun. Kalau selama setahun itu kami juga masih harus bayar kontrakan, sungguh tidak ekonomis. Belum lagi proses mencari tanah, mendesain, dan lain-lain. Kalau saja selama empat tahun pertama kami bisa numpang tinggal (misal di rumah keluarga) nggak usah bayar kontrakan, mungkin –mungkin lho ya- uang yang terkumpul bisa buat nyicil beli tanahnya sekaligus nambah-nambahin uang beli pasir dan batu.
Tempat nongkrong idaman. Sumber gambar: Pinterest

Jadi, di rumah sekarang, desain saya sendiri paling top adalah ketika membuat dapur tambahan. Itupun setelah lima tahun rumah ini saya tinggali. Sebelumnya “dapur” saya nangkring di atas meja komputer yang sudah saya pakai sejak zaman kuliah. 

Daripada panjang-panjang cerita soal sejarah rumah, saya mulai saja kisah “rumah impian” seperti diminta oleh mbak Archa Bella, seleb blogger dari Semarang yang cuantik bin ajaib, dan mbak Dian Nafi, seleb penulis dari Demak yang sudah melanglang buana. Keduanya adalah lulusan jurusan arsitektur. 

Apakah saya punya desain rumah idaman?

Saya sudah pernah menggambar rumah idaman saya pakai aplikasi AutoCAD. Sayangnya nggak bisa saya tampilkan di sini karena PC yang ada AutoCAD nya sedang eror. Tiga kali saya menggambarnya. Yang pertama rumah idaman dari rumah sederhana (sekali) yang sempat kami beli waktu masih ngontrak dulu, lalu desain pengembangan dari rumah yang sekarang saya tinggali, dan yang ketiga rumah dari lahan di ladang mimpi yang luasnya 500 meter persegi. Seperti apa kira-kira?

Teras yang luas. 
Teras idaman, tidak pakai gebyok. Sumber gambar: Houzz

Meski model rumah masa kini justru meminimalkan bahkan meniadakan teras, buat saya teras itu penting sebagai ruang peralihan, dan utamanya privasi penghuni rumah. Teras juga baik untuk sirkulasi udara di dalam rumah. Karenannya, di rumah yang saya idamkan, teras harus luas dan teduh. Saya termasuk penyuka bentuk atap teras dengan tritisan lebar dan panjang. Teras idaman saya biasanya memasukkan satu set kursi andong, berlapis tegel merk kunci ala zaman dulu, dengan pot-pot tanaman di sekelilingnya. Di sana setiap tamu bisa duduk dengan nyaman, tapi privasi penghuni rumah tetap terjaga. 

Dapur yang bersih dan terang. 

Di beberapa rumah, dapur sering diletakkan di bagian paling belakang dan kurang diperhatikan. Ada yang menyatukan dapur dengan tempat cuci pakaian, (yang pakai sumur) dan berhadapan dengan pintu kamar mandi, atau letaknya jauh di belakang. Akibatnya acara memasak di dapur sangat tidak nyaman. 

Padahal, dari mana energi satu keluarga itu berasal kalau bukan dari dapur? Mengapa kegiatan dapur dianggap kegiatan kotor yang hanya pantas diletakkan di tempat seadanya? 

Di rumah impian saya, dapur harus cukup luasmya. Lantainya bersih, terang, dan bersirkulasi udara baik. Dapur mesti punya jendela besar yang terbuka ke arah taman, supaya orang yang bekerja di dapur merasa nyaman. 

Di Indonesia, acara memasak memang sepertinya membutuhkan dapur yang mudah dibersihkan. Kalau hanya mengikuti desain pantry ala orang Barat saya kira kurang pas, karena aneka jenis masakan ala Indonesia yang dimasak memakai minyak, santan, rempah, dan lain-lain. Jadi dapur dengan material yang mudah dibersihkan is a must! Percuma kalau di dapur kita jadi kudu ekstra tenaga karena takut dapur ternoda minyak, kecap, takut tepung menyembur, takut bau terasi menguar, dan lain-lain. Memasak harus dilakukan dengan tenang, karena selepas itu toh dapur bisa dibersihkan. 

Halaman Belakang yang Lapang

Rumah idaman saya menyertakan halaman belakang yang luas. Luasnya tak terbatas alias seluas-luasnya kalau bisa menampung semua aktivitas yang tidak bisa dilakukan dengan bebas di luar. Barangkali karena dulu waktu kecil sering main di kebun belakang orang. 

Halaman belakang ini juga sarana yang bagus buat seluruh aktivitas penghuni rumah di ruang terbuka, tapi tetap terjaga privasinya. Kecuali sih, kalau ada yang iseng nerbangin drone dan memata-matai dari atas.
Kolam idaman anak-anak. Sumber gambar: Pinterest
Halaman belakang yang ideal banget ada kolam renangnya. Supaya anak-anak dan temannya, atau kerabat, bisa bermain dengan senang. Supaya emaknya bisa berenang dengan bebas tanpa ribet ke kolam renang umum. 

Selain itu di halaman belakang harus ada bagian berumput dan pohon-pohon peneduh. Bisa buat kemping. Bisa buat menanam pisang. 

Beberapa halaman belakang orang ada pasir pantai dan dermaganya. Jelas ini tidak mungkin kecuali kalau rumah idaman saya ada di pinggir pantai Kemujan Karimun Jawa. 

Musala

Idealnya musala idaman berbentuk gazebo rumah kayu, berada di dekat kolam dan air yang bergemericik. Ukurannya sekitar 5x5 meter persegi. Lantainya dari kayu, jendela kayu. Tempatnya di bagian depan rumah, supaya bisa dijangkau banyak orang, terutama teman-temannya anak-anak. Musala ini tidak perlu ada banyak barang. Cukup lemari untuk meletakkan peralatan ibadah. 

Perpustakaan

Di Indonesia, tanpa bantuan sistem pengatur udara rasanya sulit mewujudkan ruangan yang bebas debu. Meski beberapa desain rak buku yang tak berpintu terlihat menawan, saya lebih memilih ruangan untuk perpustakaan menggunakan lemari buku dengan pintu kaca. Alasannya? Tentu saja supaya buku-buku di dalamnya lebih terlindung dari debu.
Betah berlama-lama di sini. Sumber gambar: Pinterest
Perpustakaan idaman tidak harus luas banget, tapi cukup untuk menampung koleksi buku dan ada jendela dengan sofa dan bantal-bantal empuk. Saya suka banget dengan model “window seat”. Rasanya sangat nyaman duduk sambil membaca di sana. 

SOHO (Small Office Home Office)
Ruang kerja idaman. Sumber gambar: Pinterest
Karena saya sekarang lebih suka kerja di rumah supaya bisa sambil mengurus dan mengawasi anak-anak, keberadaan SOHO ini jadi penting. Sepertinya beberapa belas tahun kedepan, dengan semakin padatnya lalu lintas, dan semakin canggihnya cara manusia berkomunikasi, orang-orang akan semakin banyak yang bekerja dari rumah. SOHO merupakan bagian dari rumah, tapi cukup “terpisah” sehingga aktivitas pekerjaan dan rumah tangga bisa saling terjaga privasinya. 

Rumah yang Melindungi

Hm, sedari tadi rumah idaman selalu menyebutkan kata privasi. Rumah, pada dasarnya memang pelindung bagi penghuninya. Rumah bisa melindungi secara lahiriah, dari cuaca, dari orang lain, dari gangguan binatang, dan lain-lain. Untuk itu rumah haruslah berada di lokasi yang nyaman dan aman. Sejatinya rumah tak perlu luas atau mewah. Secara fisik, rumah cukuplah memenuhi syarat-syarat kesehatan dan kebersihan. 

Yang terpenting, rumah adalah pelindung batin seluruh penghuninya. Rumah idaman, adalah tempat yang selalu dirindukan untuk pulang. Seluruh kenyamanan dan kemewahan fisik tak akan ada artinya jika nyawa dari rumah yaitu para penghuninya tidak kerasan. 

Actually, as long as I’m with my beloved ones, any house would be a home for me.



Wednesday, October 18, 2017

Hobi yang Mendatangkan Rezeki



Hobi menurut KBBI adalah kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama. Melakukan hobi adalah sarana rekreasi bagi orang yang menggemarinya. Tak jarang, seseorang rela mengeluarkan sejumlah biaya dan waktu yang tidak sedikit demi menekuni hobi. Tak sedikit juga yang rela menempuh resiko dan bahaya, demi melakoni hobi.

Hobi yang Bikin Miris
Kisah lucu atau miris datang dari kakak ipar saya. Seorang kawannya yang hobi motor trail, sampai harus melihat motor trail kesayangannya “dibumihanguskan” oleh sang istri. Masalahna bukan karena uang puluhan juta yang “diinvestasikan” dalam wujud motor, helm, outfit, sepatu, yang semuanya khusus dan mahal, tapi karena sang istri tak tahan lagi dengan sang suami yang “bertaruh nyawa” demi hobinya ini.

Sang suami sudah pernah menjalani aneka operasi untuk menyambung tulang-tulang rusuk dan kaki yang patah. Belum lagi paru-parunya yang nyaris bocor karena kecelakaan ketika turun gunung. Alih-alih kapok, setelah melewati masa pemulihan, sang suami kembali menjejak gunung di atas si motor. Jadilah motor kesayangan dan uborampenya (yang mahal itu) “dilenyapkan” dari muka bumi oleh sang istri. Tapi sang suami tak hilang akal, kini motor trail (barunya) aman di garasi orang lain.

Kalau para istri suka geleng-geleng kepala dengan hobi suami yang ekstrem, in another level, suami bisa jadi geleng kepala karena hobi istrinya. Seperti sudah sewajarnya, kalau perempuan lebih senang berbelanja dibandingkan laki-laki. Sehari-hari saja kaum perempuan harus belanja untuk kebutuhan rumah tangga. Sudah biasa melihat lebih banyak perempuan di mal dibandingkan laki-laki (yang jika ada pun lebih banyak berperan sebagai juru bayar dan juru angkut serta sopir).

Banyak literatur mencatat bahwa hobi belanja ini benar-benar bisa melenyapkan stres. Apalagi kalau dilakukan dengan dukungan uang yang cukup. Karena menilik kisah di buku The Confession of a Shopaholic, karangan Sophie Kinsella, memenuhi hobi belanja gila-gilaan tanpa peduli utang sudah segunung bisa jadi penyebab stres sesungguhnya.

Saya baru-baru ini membaca buku Hermes Tempation: kisah Fitria Yusuf dan Alexandra Dewi yang hobi belanja tas Hermes. Buat mengulang info saja nih, tas Hermes itu sebijinya bisa buat beli sepeda motor, (ini yang paling murah) sampai bisa beli apartemen di Jakarta. Tapi untungnya buat mereka, hobi mahal tadi bisa mendatangkan rezeki juga. Fitria Yusuf dan rekannya akhirnya menjadikan hobi belanja tas super mahal itu jadi lahan bisnis jual beli tas dengan keuntungan yang “tak seberapa” buat mereka, meski nominalnya setara gaji direktur BUMN di Ibu kota.

Mari kesampingkan bisnis tas yang omsetnya ratusan juta perbulan. Tak sedikit diantara orang-orang yang saya kenal bisa menjadikan hobi mereka tak sekedar sarana rekreasi atau kesenangan di waktu senggang, tapi juga sarana menjemput rezeki. Banyak teman hobi merajut, kini punya bisnis rajutan, ada teman hobi memasak, kini punya bisnis catering. Adik saya punya hobi mengutak-atik mainan, sempat punya usaha jual beli dan reparasi mainan. Saudara yang satu lagi punya hobi berdandan, kini mulai berlatih jadi MUA (Make Up Artist) buat teman-temannya. Lumayan, bayarannya bisa untuk jajan.

Jadi, Mbak Ika Puspita http://www.bundafinaufara.com dan Mbak Arina http://www.arinamabruroh.com, (keduanya blogger perempuan yang bikin saya kagum dengan tulisan dan komitmennya di dunia “perbloggingan”), tema hobi untuk arisan blog Gandjel Rel kali ini membuat saya ingin bilang, kalau hobi bisa jadi bukan kesenangan belaka, tapi juga bisa jadi sarana menjemput rezeki.

Hobi Saya Apa?
Hobi sejak kecil: membaca
Sejak belasan tahun terakhir, kalau ditanya hobi saya apa, saya bilang: membaca dan menulis.

Hobi membaca seperti chip yang ditanamkan di kepala oleh Bapak saya. Ingatan masa kecil saya tak pernah lepas dari belanja buku di toko Sekawan Pusat, salah satu toko buku paling besar di Solo pada masanya, sebelum raja retail buku buka cabang di mana-mana. Buku-buku anak-anak seperti Trio Detektif, Lima Sekawan, Noddy, Donald Bebek, Nina, jadi suplemen buat saya. Setiap pulang dari Sekawan Pusat, saya selalu menenteng setidaknya empat judul buku baru. Belanja buku ini jadi ritual belanja yang lebih menyenangkan buat saya dibandingkan belanja baju atau mainan. Eh, malahan saya nggak ingat kapan ya, belanja mainan sama Bapak waktu kecil.

Membaca adalah hobi yang sangat rekreatif buat saya. Tapi sayangnya, sekarang waktu untuk benar-benar membaca buku jadi berkurang. Kebanyakan baca status sosmed, sih.

Sekarang cerita tentang hobi saya yang satunya, yaitu menulis. Sepanjang saya ingat, di kala teman-teman berkeluh kesah plus bersusah payah menulis karangan di lembar-lembar ulangan, saya menulis dengan senang hati. Benar-benar menulis, karena waktu itu dikerjakan dengan tulisan tangan. Sejak kelas tiga SD saya juga sudah punya buku harian. Hobi menulis ini selain untuk kesenangan, ternyata bisa untuk menyalurkan kegelisahan. Setelah saya baca lagi buku-buku harian saya, ternyata bagus juga kalau punya tempat curhat yang pandai menyimpan rahasia.

Siapapun pasti senang kalau hobinya bisa dinikmati dan diapresiasi orang lain, seperti perasaan saya ketika tulisan yang saya buat dapat wadah untuk dibaca tidak hanya oleh saya dan guru yang memberi nilai. Tulisan pertama saya yang dimuat di majalah adalah liputan tentang perjalanan singkat saya bareng teman-teman sekelas ke Museum Radya Pustaka waktu kelas tiga SD. Majalahnya adalah majalah sekolah saya, namanya Kuntum. Selepas itu masih ada beberapa tulisan lain berupa fiksi dan puisi. Kini meskipun masih punya ratusan file tulisan fiksi, sebagian selesai sebagian besarnya belum, sebagian berupa ketikan dari mesin ketik manual, “karir” menulis (fiksi) saya seperti mentok di majalah-majalah sekolah. Kadang-kadang saja muncul di forum-forum beneran.

Saya juga hobi menulis surat. Kegiatan tulis-menulis surat ini mencapai puncaknya sebelum masa pesan elektronik datang. Menulis juga menjadi hobi yang membantu saya menyelesaikan aneka pekerjaan, dari yang remeh membuat surat tagihan, proposal kegiatan, sampai menyelesaikan satu standar kompetensi untuk organisasi yang saya ikuti.

Selepas selesai kuliah, hobi menulis ini membuka kesempatan untuk jadi koresponden di tabloid arsitektur, dan punya buku tentang arsitektur. But then that was it. Sampai akhirnya hobi tercinta ini mempertemukan saya dengan salah satu rejeki terbesar sepanjang hidup, yaitu bertemu dengan teman-teman di komunitas menulis, sampai sekarang tumbuh menjadi komunitas blogger. Teman-teman yang menjadi mentor, pesaing, pengritik, atau pembaca, yang budiman.

Hobi Jalan-jalan
Jalan-jalan santai bareng Sehati Project
Oiya, di masa kini, jalan-jalan sepertinya sudah menjadi hobi wajib nasional. Aneka majalah, blog, menuliskan kisah-kisah tentang perjalanan. Banyak teman blogger yang dapat rejeki dari hobinya ini juga. Memang jalan-jalan adalah hobi yang sangat menyenangkan. Untuk itu kita harus punya badan sehat, waktu, dan biaya. Bersyukurlah jika ketiganya ada. 
Outbound bareng Sehati Project
Buat saya  hobi jalan-jalan dikombinasikan dengan kemampuan menulis surat penawaran, dan membaca informasi tempat-tempat wisata, membuka rezeki juga untuk saya. Saya bisa piknik gratis dan dapat uang saku, dengan cara mengatur perjalanan rombongan  ke berbagai lokasi. 
Jangan ragu-ragu ya, yang mau piknik ngajak-ngajak saya.

Thursday, August 10, 2017

Kuis Film: Cari Tahu Film yang Cocok Buatmu

Sumber: pinterest

Sejatinya menonton film adalah sarana untuk mendapatkan hiburan. Hiburan itu kan artinya sesuatu yang dapat menghibur hati. Kalau habis nonton film tapi trus malah depresi atau ketakutan tuh enggak banget bagi saya. Udah bela-belain waktu buat nonton, kadang keluar biaya buat beli tiket, kudu bikin bahagia dong sesudahnya.

Nah kalau ditanya film favorit saya apa, jawabannya: banyak. Seperti tema Arisan Blog Gandjel Rel yang diusung oleh dua mbak blogger aktif Sri Untari : http://www.duniaqtoy.com/ dan Ira Sulistiana: http://www.irasulistiana.com/ Film favorit, artinya film yang saya tonton tidak hanya dua-tiga kali. Namanya favorit ya ditonton berulang-ulang. Bisa nonton berulang-ulang biasanya karena saya punya dvdnya, atau kalau dulu punya kaset videonya yang segede batu bata itu.

Kalau mau nonton yang mana, tergantung mood. Kebanyakan sih memang film favorit saya itu ada hubungannya sama film yang saya tonton waktu kecil. Jaman di mana acara tivi baru mulai sore hari, dan kartun cuma ada di hari Minggu, jadilah nonton film di video hiburan yang paling menyenangkan.

Kemarin nih, baru aja saya nonton lagi salah satu film favorit saya masa kecil di Cinemax: The Goonies. Film ini kisahnya tentang sekelompok anak penggemar petualangan yang menamakan diri Goonies. Mereka harus berlomba dengan sekelompok penjahat untuk mencari harta karun yang tersembunyi di bawah tanah. Seneng banget dulu nonton film ini.

Film favorit lain semasa kecil berhubungan sama film buatan Jepang seperti Google V, Gaban dan Sharivan. Ditambah lagi kartun-kartun dari Disney seperti Lady and The Tramp, Donald, Mickey dan Goofy. Apa mau dikata nggak banyak kan film anak-anak buatan Indonesia di masa itu. Lucunya waktu saya lagi hamil anak pertama, ngidamnya adalah nonton film kartun Disney. Saya sampai ngumpulin dvd film-film yang lama, beli yang baru, lalu nonton Chip and Dale dan Cinderella sepanjang waktu luang.

Kalau serial televisi favorit dihitung film, berarti serial si Doel Anak Sekolahan dan Girlmore Girls termasuk film yang favoriiiit banget. Sayangnya saya nggak punya DVD Si Doel, jadi nggak bisa nonton kapanpun saya mau. Keduanya menyajikan kisah keluarga dalam alur yang mengalir dan wajar. Pokoknya film yang bagus itu buat saya yang kisahnya less drama. Benar-benar bikin hati enteng dan gembira waktu nontonnya.

Kalau kamu habis nonton film malah bad mood, barangkali film yang kamu tonton sebetulnya tidak cocok buatmu. Emangnya nonton film mesti pakai cocok-cocokan segala? Tentuu… (ketawa ngikik). Nah bagaimana caranya tahu film apa yang cocok? Coba jawab pertanyaan-pertanyaan bikinan saya yang sudah melalui aneka ‘persemedian’ super serius berikut ini, untuk tahu, film macam apa sih yang cocok buatmu.

1. Kalau kamu sedang marah, hal apa yang paling ingin kamu lakukan untuk meredakan emosi?

a. Belanja ke Mal
b. Makan es krim di gerai favorit
c. Olah raga
d. Menyepi di hutan

2. Apa hari favoritmu sepanjang minggu?

a. Senin
b. Sabtu
c. Minggu
d. Kamis

3. Siapa aktor di bawah ini yang paling kamu sukai?

a. Abimana Aryasatya
b. Tora Sudiro
c. Iko Uwais
d. Arifin C Putra

4. Apa warna favoritmu?

a. Biru
b. Oranye
c. Merah
d. Hitam

5. Kalau ada kesempatan, kamu lebih suka menghabiskan akhir pekan dengan melakukan kegiatan:

a. Ke toko buku
b. Bermain ke wahana taman hiburan terbaru
c. Menonton off road
d. Hunting foto di kota lama

6. Kamu membayangkan dirimu paling pas tinggal di tempat ini:

a. New York
b. Indonesia
c. Jepang
d. Alaska

7. Makanan yang paling ingin dimakan saat ini:

a. Sepotong kue coklat
b. Es Krim
c. Steak daging sapi
d. Sate ayam


Nah, sudah dicatat ya, jawabannya. Sekarang tinggal dihitung, jawaban mana yang palling banyak kamu pilih. Jika jawabanmu paling banyak:

A. Film Drama

Kamu adalah orang yang aktif dan dinamis dan menyukai suasana perkotaan yang sibuk. Film yang cocok buatmu adalah film drama seperti “The Devil Wears Prada”. Kenapa saya sebut film itu, karena semenjak punya DVDnya, nggak bosan-bosannya, saya nonton film ini. Yang paling saya suka sebetulnya settingnya. Belum lagi akting Meryl Streep yang meski main di film “biasa” tetap menuai pujian di sana-sini.

B. Film Komedi

Kamu orang yang santai dan humoris. Maka film yang cocok untukmu adalah film komedi. Coba nonton film “Warkop DKI Reborn” atau kalau mau mencari film jadul ada film favorit saya nih, buatan tahun 80an judulnya: “Apanya Dong” karya sutradara Nya Abbas Akup. Salah satu bintangnya adalah TItiek Puspa, Kang Ibing, Aom Kusman, Mama Hengky dan Surayana Fatah. Filmnya absurd dan lucu banget. Meski begitu ada pesan-pesan sosial di dalamnya.

C. Film Action

Kamu adalah orang yang suka tantangan dan aktivitas di luar ruangan. Kamu akan menikmati film-film action, kungfu, dan peperangan. Salah satu film action made in Indonesia yang sudah dikenal dunia adalah: “The Raid”. Atau kalau film kungfu yang sering saya tonton masa kecil adalah Kungfu Master dari angka seri satu sampai tak terhingga hehehe. Mulai dari bintang utamanya masih Jet Lee sampai ganti jadi siapaa gitu.

D. Film Horor

Kamu memang misterius dan tercermin dalam penampilan dan pembawaanmu yang tidak biasa. Kamu menikmati banget ketegangan dalam film horor macam “The Doll” atau film-film horor lainnya. Dan saya nggak bisa kasih rekomendasi lebih karena nggak suka nonton film horor karena takut akan terbayang-bayang selama berhari-hari. Dulu waktu kecil ada film mandarin yang menampilkan hantu yang lompat-lompat lalu baru bisa berhenti kalau ditempel kertas. Ya, itu kenangan film horor yang aslinya nggak saya nikmati sama sekali.


Nah, gimana, cocok kan?


Friday, June 9, 2017

Identifikasi Kangenmu



Definisi kangen menurut Kbbi adalah rindu atau ingin sekali bertemu.

Kalau dalam arisan Blogger Gandjel Rel kali ini temanya sesuatu yang paling kamu kangenin, berarti ya sesuatu yang paling ingin kau temui. Duo bersaudara Rizka Alyna yang bisa dicek tulisan-tulisannya di http://www.rizkaalyna.com/ dan Alley  di https://hanalle.com yang memberikan tema ini. 

Selama tiga putaran arisan blog, baru yang ini sampai di hari terakhir belum dapat bahan tulisan apa-apa. Bukan karena nggak ada yang dikangenin, tapi karena terlalu banyak “daftar kangen”-nya. Apalagi saya termasuk orang yang gampang kangen. Baru ninggal anak di rumah beberapa jam aja, saya sudah kangen. Baru pulang dari pantai, kangen main air. Baru nggak makan brownies beberapa menit, kangen pengen makan lagi. Hehe. 

Kangen itu ada yang bikin nyesek di hati, ada yang bikin hari-hari jadi optimis. Yang pertama susah terobati, yang kedua ada kemungkinan terobati. 

Coba diidentifikasi kangenmu tipe yang mana?

Kangen yang pertama, biasanya karena you have to accept the fact that that certain things will never go back to how they use to be. Udah nggak mungkin bisa balik lagi seperti dulu, tapi kangen. Baper kan endingnya? Misalnya kangen sama seseorang yang sudah dipanggilNya duluan, kangen sama masa kecil, kangen berat badan kembali seperti dulu.. (eh).  Kangen-kangen macam ini tuh bikin hati kita mellow. 

Misalnya, kalau saya kangen tipe pertama ini kangen sama Kempo. Kempo itu salah satu cabang olahraga beladiri yang asalnya dari Jepang. Di bawa ke Indonesia oleh mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang. Salah satu tokohnya adalah Ginandjar Kartasasmita. Hehe.. Masih adalah yang nyantol di ingatan tanpa perlu tanya Mbah Gugel. Sejarah Kempo ini termasuk bahan ujian kenaikan tingkat lho. 
 
Bersama pasangan Embu: Nenny. Sekarang kamu di mana ya? Btw jangan lihat tahun-nya terus bilang: Hah? Itu kan tahun aku lahir.

Saya stop latihan Kempo bisa dibilang tiba-tiba. Karena ada sesuatu hal yang bikin saya nggak (sampai hati) latihan lagi. Padahal selama tiga tahun sebelumnya, Subuh nongkrong di stadion demi Kempo juga dijalanin. Sekujur tubuh memar, kaki melepuh kepanasan kena aspal, plus lutut cedera juga nggak bikin kapok. Dan sampai bertahun-tahun kemudian, saya masih suka kangen. 

Apa yang bikin kangen? Suasananya, pertemanannya, bahkan sampai capek dan sakit-sakitnya aja bikin kangen. Kenapa nggak balik aja latihan lagi? Nah, ini, I can’t, though. Kangennya masih suka muncul sekarang ini. Terus caranya gimana supaya terobati? 

Dulu kalau kangen kadang mampir ke dojo, lihat teman-teman latihan. Di mana-mana jadi aware banget sama yang berbau Shorinji Kempo, dan rajin lihat foto-foto lama bareng teman-teman. Terobati dikit. Tapi tetap nggak akan sama lagi. 

Lalu kangen yang kedua, kangen yang bikin hari-hari optimis. Biasanya ini terjadi karena ada harapan untuk bertemu atau kembali lagi. Masih ada obatnya, gitu. 

Di Multazam, saya pernah berdoa, agar Allah mengijinkan saya kembali lagi ke Baitullah bersama Ibu dan laki-laki yang diridhoiNya untuk jadi suami saya. (Jadi ceritanya waktu itu saya belum nikah). Seperti diketahui, Multazam itu adalah bagian tembok atau dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah. Tempat ini dinyatakan Rasulullah sebagai tempat yang paling mustajab untuk berdoa. 

Kenapa sih kangen ke Baitullah lagi? Bukannya di sana itu panas? Bukannya capek ya mesti bolak-balik ke masjid saban dengar adzan? Bukannya jadi kurang tidur? Memang. Tapi ah tapi.. waktu memandang Ka’bah untuk pertama kalinya, merasakan hembusan semilir ketika thawaf, segarnya zam-zam membasahi kerongkongan,… Klise.. klise.. tapi itu sungguhan bikin kangen. 

Harus puas dengan foto-foto di luar Masjidil Harom. Jaman itu, kamera dan ponsel nggak boleh di bawa masuk. Di depan pintu akan diperiksa.

Semua orang juga tahu untuk bisa pergi ke Makkah dan Madinah, perlu upaya yang tidak mudah. Kadang niat sudah kenceng, sarana belum ada. Kadang sarana ada, niat belum datang. Seorang sahabat  rajin berdoa sambil melafalkan Surat Al Baqoroh ayat 128  dan berharap agar dapat “undangan” itu lagi. Undangan untuk umroh yang pertama didapat dari hadiah lomba menulis. Sungguh beragam memang cara Allah mengundang kita ke sana. 

Kini meski waktu berlalu, dan kangen saya untuk kembali ke sana belum terpenuhi, saya harus tetap optimis. Di bulan Ramadan ini, semoga terkabulkan bersama dengan doa-doa sahabat-sahabat saya yang lain yang selalu ingin kembali ke Baitullah. Biar kangen kita terobati, ya kan? 

Sometimes the best things happen, when you least expect it.

Eh, kalau sama itu,.. kangen nggak ya?




Wednesday, May 17, 2017

Sepeda



Kring kring kring ada speda
Spedaku roda tiga
Kudapat dari ayah
Karena rajin bekerja.

Petikan lagu anak-anak gubahan Bu Kasur membawa saya pada kenangan masa kecil, yang sangat dekat dengan sepeda. Tidak ingat betul sih, kapan persisnya mulai bisa naik sepeda roda dua. Tetapi waktu usia saya sekitar enam tahun, terjadi insiden pertama dalam sejarah saya bersepeda. Saya dan sepeda kecebur got di dekat rumah. Sepedanya kecil, barangkali jenis roda tiga yang kemudian dilepas roda tambahannya. Gotnya sempit, tapi berlapis semen kasar. Akibatnya darah mengucur deras dari bagian lengan. Entah persisnya di mana, karena sekarang tidak saya temukan bekas lukanya.

Pakai sepeda kecil itu juga -bersama adik laki-laki- saya menciptakan aneka gaya bersepeda. Ada gaya “F*nta”, “Spr*te”, dan “C*ca-cola”. Kenapa namanya itu? Ya soalnya kalau waktu itu kami diijinkan minum salah satu dari ketiga minuman bersoda itu, rasanya keren. Gaya “F*nta” berarti saya duduk di sadel dan kaki mengayuh pedal, sementara adik saya duduk di stang dan mengendalikan kemudi. Gaya yang lain, adalah kombinasi antara keinginan keren,  iseng, dan nekad lainnya. Akibat aneka gaya absurd itu berkali-kali kami nyusruk di jalanan. Walaupun hanya di jalanan depan rumah. Wilayah yang dianggap aman buat sepedaan. Oiya, meski  begitu kami berdua sempat dikejar anjing. 

Selepas melewati masa diantar jemput sekolah pakai becak, jangkauan wilayah bersepeda saya lebih luas lagi, dari rumah ke sekolah. Untunglah karena tinggal di Solo, jalanan rata, dan jaraknya relatif dekat kemana-mana. Tidak seperti di Semarang yang jalanannya mendaki bukit melewati lembah…

Masa bersepeda ke sekolah dimulai sekitar kelas empat SD. Sepeda saya sudah di-upgrade jadi sepeda ukuran dewasa. Masih ada lho sepedanya sekarang. Sepeda itu model cowok, yang gagangnya lurus, bukan model cewek, yang miring ke bawah. Pernah seorang guru berkomentar soal itu. Tapi toh saya tidak merasa kerepotan. 
 
gambar diambil dari: bowgank.wordpress.com
Masa-masa ini adalah masa keemasan saya dan sepeda. Selain ke sekolah, ke warung, main ke rumah teman, les, pramuka, semua naik sepeda. Teman-teman bersepeda saya ya teman-teman SD yang rumahnya cukup dekat, masih dalam radius 5 km. Kadang di hari Minggu kami ampir-ampiran (saling menjemput) lalu bersepeda keliling kota. 

Karena jam terbang bersepeda lumayan banyak, insiden juga mulai terjadi. Kalau sekedar lutut dan sikut baret sih sudah biasa. Pernah suatu kali paha saya sobek tergores stang. Lumayan yang ini bekas lukanya masih ada. Alhamdulillah tidak ada pengalaman yang lebih mengerikan dibandingkan itu. 

O iya, jaman itu ada istilah "pajak" sepeda. Semacam stiker yang kudu ditempel di sepeda dan kita kudu beli tiap tahun. Kadang suka ada "cegatan" petugas yang memeriksa apakah sepeda yang lewat sudah ditempel stiker ini atau belum. Pernah saya dan rombongan teman kabur dari "cegatan" macam ini juga. Hihi.

Di antara kisah menyenangkan dengan sepeda itu, ada beberapa yang sangat membekas buat saya. Salah satunya waktu saya, dan dua orang sahabat, H dan B, bersepeda ke rumah sakit untuk menjenguk Yanda. Yanda ini adalah pembina Pramuka di SD kami, yang sepanjang ingatan saya, sudah sepuh. Kami berangkat naik dua sepeda. Saya lupa siapa membonceng siapa, tapi yang jelas, waktu pulang hujan turun deras sekali. Sepertinya H sedang tak enak badan, dan B ini kan pakai kacamata minus. Jadi meskipun mereka berdua laki-laki, waktu pulang saya memboncengkan H, sambil menggiring B biar tetap jalan di jalur yang aman. (Ingat nggak ya mereka hehehe)

Bersama ibu dan adik, saya juga kadang bersepeda keliling kota. Dan end-up dengan jajan tongseng kambing terenak sepanjang ingatan saya. 

Pengalaman deg-degan dengan sepeda adalah waktu harus ngebut balik ke rumah dari sekolah mengambil kartu Ebta yang tertinggal. Lumayan jaraknya 3 km, bolak-balik jadi 6 km. Bikin saya keringetan parah waktu tesnya dimulai. 

Masa bersepeda berlanjut sampai SMP.  Daerah jajahan juga berkembang. Bersama geng SMP yang rumahnya satu komplek, kami kompak sepedaan kemana-mana. Waktu itu kami ke bioskop saja naik sepeda, lho.
Waktu SMP ini, selain pp ke sekolah, saya rutin seminggu tiga kali bolak-balik bersepeda 8 km jauhnya untuk latihan Kempo. Siang-siang panas jam dua berangkat, bawa ransel dan kadang jerigen berisi jatah air minum, dan baru pulang selepas Magrib. Kalau musim hujan? Ya terima nasib, laah. 

Ehm.. dengan bersepeda juga, seseorang.. ah, nggak jadi. Hahaha.

Ah, banyaknya kenangan masa kecil saya bersama sepeda. Semua mengingatkan saya pada masa kecil yang seakan tidak mengenal takut, rasa was-was, apalagi lelah. Sepeda memberikan perasaan dekat pada banyak sahabat saya, yang pernah sekayuh berdua -litteraly-, yang berombongan ke tiap sudut kota, yang saling membonceng, tanpa ada rasa lain selain pertemanan itu.  Hingga yang sekarang terkenang membuat saya tak lepas senyum ketika menuliskan ini. Terima kasih untuk Mbak NiaNurdiansyah, dan Mbak Anjar Sundari yang telah memilih tema ini untuk #ArisanBlogGandjelRel. 

Namun akhirnya, “setelah negara api menyerang” jaman bersepeda menemui akhirnya. Hehe. Tibalah masanya sebuah sepeda bermesin, bernama sepeda motor nangkring di teras rumah. Perubahan dari sepeda ke sepeda motor ini juga seperti menandai akhir masa kecil saya, menjadi awal menuju masa remaja. Masa di mana rasanya ingin bergerak lebih cepat, dan berjalan lebih jauh lagi. 

Meski begitu saya tidak pernah lupa pada tawa yang menyertai tiap kayuhan kaki. Ketika setiap keringat yang menetes memberikan kenangan yang kini tak pernah lepas indahnya. 

Kulit wajah kini tak lagi terbakar matahari, tapi masih terasa sejuknya angin yang berhembus di sela rambut dan jaket yang rapat membalut. 

Ketika menatap segores luka di kaki saya, yang mengingatkan bahwa pernah ada sebuah masa. Ketika waktu dan makna sama-sama berjalan lambat, hingga sempat membangun sebuah ruang yang selalu berbunga di hati saya. 

I have you in my mind, sahabat-sahabat bersepeda saya. *jadi mellow
Amigos para siempre.

Thursday, March 2, 2017

Jepret Kuliner Nusantara: Yuk bilang: Tempeee!

http://www.gandjelrel.com/2017/02/blogging-competition-jepret-kuliner-nusantara-dengan-smartphone.html 



Sama seperti budaya nusantara lainnya seperti tari-tarian dan barang kerajinan, ragam kuliner nusantara nyaris tak terhitung banyaknya. Mulai dari rendang Padang yang sudah terkenal di dunia internasional dan dapat penghargaan dari majalah Time sebagai makanan terlezat, sampai kuliner yang semakin langka seperti sayur babanci dari Betawi. Setiap jengkal tanah nusantara dari Sabang sampai Merauke telah menghasilkan bumbu-bumbu dan bahan-bahan khas, terwujud dalam setiap masakan Indonesia yang tidak mudah dicari padanannya di negara lain.



Untunglah di era kebangkitan sosial media sekarang ini, keberadaan netizen turut membantu  mengenalkan aneka ragam kuliner nusantara. Ribuan foto makanan yang diunggah netizen setiap harinya di sosmed patut diacungi jempol, karena dengan demikian aneka kuliner nusantara akan makin dikenal oleh bangsanya sendiri, juga bangsa lain. Apalagi kalau foto-foto kuliner itu disertai penjelasan lebih lanjut tentang apa dan bagaimana kuliner itu dibuat. Karena menurut pakar kuliner William Wongso, kuliner bukan sekedar jalan-jalan dan makan-makan, tetapi juga tentang menggali keunikan rasa dari makanan tersebut. Jadi lain kali kalau jepret kuliner nusantara, mesti sekalian tanya bahan-bahan dan resep sama kokinya, tuh. 

Apa sih susahnya jepret makanan aja?



Netizen yang suka mendokumentasikan makanan, pasti sudah pernah merasakan repotnya jungkir balik memotret makanan dengan aneka pose heboh bin absurd. Seringkali fotografernya berbekal kamera DSLR harus berdiri di kursi, kadang yang ekstrem di atas meja, sampai nunduk-nunduk dan senggol menyenggol dengan pengunjung di sebelahnya. Bayangkan kalau dilakukan di restoran yang ramai atau warung sempit. Hehe. Selain itu rasanya agak repot kalau  harus terus menenteng kamera kemana-mana. Kadang kan kuliner lezat muncul tak diduga. Jadi rasanya perlu ya, ada perangkat secanggih kamera DSLR tapi bisa dikantongin, jadi lebih praktis.



Di sini lah pentingnya kita berbekal smartphone canggih, macam ASUS ZenFone yang punya teknologi PixelMaster Camera. Seperti saya nih, misalnya, yang masih suka malu-malu kalau mau jepret kuliner di restoran, jadi bawaannya buru-buru. Boro-boro motret pakai kamera DSLR, pakai ponsel aja suka grogi. Akibatnya? Keringat dingin menetes, tangan goyang, gambarnya jadi nggak fokus dan blur. Dengan teknologi image stabilizer dalam smartphone ASUS ZenFone, goyangan yang terjadi bisa diminimalkan. Hasilnya, foto jadi lebih tajam.



Salah satu fitur lain yang bermanfaat banget adalah mode low light yang memungkinkan smartphone ASUS ZenFone menghasilkan gambar yang lebih jernih dalam kondisi minim cahaya. Misalnya lagi di kafe yang agak remang gitu, masa iya kita ngotot mau bawa-bawa lampu sendiri? Cukup bawa ASUS ZenFone, hasil gambarnya bisa lebih jelas meski kondisi ruangan gelap.

Tempe, Kuliner Nusantara Pilihanku


ASUS ZenFone 3, Tempe, dan Kopi biar nggak ngantuk.
Kok cuma tempe? Sederhana banget sih?  Itu sih di warung sebelah juga ada. Tiap hari juga emak di rumah juga nyuguhin tempe.  


Berbekal petikan kata-kata mutiara: “I find happiness in the simplest of things”, saya juga menemukan tempe adalah makanan sederhana yang sukses membuat saya bahagia. Bahagia di lidah, bahagia di dompet. Dan tempe itu termasuk warisan kuliner nusantara lho. Siapa hayo yang rela kalau tempe diakui bangsa lain? Sejarawan Ong Hok Ham pernah membuat sebuah tulisan yang berjudul “Tempe Sumbangan Jawa untuk Dunia”. Tuh, kan, jangan sepelekan sumbangsih tempe untuk kekayaan kuliner nusantara, bahkan dunia.



Tempe memang seakan pernah jadi simbol keterbelakangan bangsa Indonesia. Bahkan pada tahun 60-an Bung Karno berpidato agar bangsa Indonesia “Jangan menjadi bangsa tempe” yang berarti jangan mau jadi bangsa yang murahan, rendah diri, dan terbelakang. Gara-garanya tentu karena tempe dianggap makanan rakyat jelata. Konon tempe terbentuk secara “tidak sengaja” dari buangan limbah tahu yang ditumbuhi kapang. 


Tempe, dalam layar smartphone ASUS Zenfone3, Berkat teknologi PixelMaster Camera gambarnya jadi terang meski dalam keremangan dapur. Kelihatan kan, cantik kedelainya?

Meskipun terbentuk tidak sengaja dari limbah, tempe masa kini justru disebut sebagai superfood. Salah satunya karena kandungan protein tempe yang mudah untuk dicerna tubuh, dan masih banyak manfaat tempe lainnya. Tempe juga mudah diolah, dan ditemui dalam aneka kuliner nusantara. Salah satu kuliner tempe kegemaran presiden namanya “Sate Kere”.  Bisa ditemukan di Solo dan sekitarnya.  Kenapa disebut kere? Karena alih-alih dibuat dari daging seperti sate kebanyakan, sate kere dibuat dari tempe gembus. 

Tempe goreng kering pelengkap aneka kuliner, salah satunya untuk dimakan bersama soto ayam.



Si Lezat Mendoan


Orang banyak kenal mendoan berasal dari daerah Banyumas. Di sana orang bilang mendo yang maksudnya lembek. Memang kalau dilihat penampakannya, tempe bersalut tepung ini seperti makanan setengah matang. Tempe dicelup tepung berbumbu, ditambahi irisan daun bawang, digoreng sebentar saja dalam minyak panas. Mendoan paling sedap dimakan selagi hangat, pakai sambal kecap atau cabai rawit hijau.


Di daerah Sawangan, Purwokerto, Jawa Tengah berjejer toko-toko oleh-oleh yang jualan mendoan. Di sana kita bisa makan mendoan hangat yang baru saja digoreng di depan kita. Enaknya lagi, buat yang ingin membawakan mendoan sebagai oleh-oleh, bisa membeli paket mendoan untuk digoreng sendiri di rumah.


Isi paketnya berupa tempe yang belum matang alias masih di dibungkus daun, tepung mendoan, dan kecap sambal. Tempenya juga bisa dipilih yang sesuai dengan kapan akan digoreng. Misal kita beli hari Jumat untuk tempe yang baru “jadi” hari Minggu. Jadi nanti di hari Minggu si tempe masih segar ketika dimasak. Dengan uang sekitar 30 ribu rupiah, kita sudah bisa dapat sepaket “Selfmade” mendoan.





Mendoan, dimakan dengan ketupat atau lontong, plus teh panas. Uh, heaven!
Kalau sedang di Purbalingga, menu sarapan mendoan plus lontong atau ketupat adalah yang paling saya tunggu-tunggu. Tetangga mertua di sana adalah pembuat mendoan dengan rasa paling enak menurut saya. Akhirnya pada suatu sore yang mendung, hehe, saya mengulik rahasianya bikin mendoan. Katanya, tepungnya adalah tepung beras (yang digiling sendiri kalau pas sempat kalau enggak pun pakai kemasan tak apa-apa) dan bumbunya cuma bawang putih, garam, plus ketumbar yang diulek sampai halus. Nah, rahasianya adalah, ketumbarnya harus disangrai dulu supaya aromanya keluar dan wangi. Adonan tepungnya juga harus pas kekentalannya.



Menurut saya, yang membuat mendoan unik adalah jenis tempenya. Tempe mendoan Banyumas itu tipis dan lebar. Tempe dibungkus daun pisang, atau daun jati, dan sebungkus berisi 2 sampai 3 lembar tempe. Ketebalannya sekitar 2-3 milimeter saja, lho.  Sayangnya di Semarang cari tempe seperti itu agak sulit. Kalaupun ada, rasanya masih kurang tipis beberapa milimeter dibanding tempe mendoan dari Banyumas. (Niat banget diukur!) Kalau sudah kepepet ngidam makan mendoan, ya jadilah tempe seadanya yang dipotong setipis mungkin.



Mendoan ala-ala begini ya. Biarpun bentuk nggak karuan, sepiring juga ludes dimakan.

Oseng Tempe Kecap Di Mana-Mana



Siap-siap ditoyor pemuja kuliner sophisticated di seluruh nusantara. Tapi kembali ke prinsip awal, saya menemukan bahagia dari hal sederhana. Di minggu pertama menikah dulu, menu ini adalah masakan pertama saya yang dipuji suami. Hehe. Dan lagi menurut pengamatan saya, oseng tempe kecap turut ambil bagian dalam banyak hidangan kuliner nusantara. Coba lihat nasi kuning, pasti ada oseng tempenya. Nasi dus selametan, nasi rames, nasi kucing, bahkan kadang di dalam lontong opor, you name it.



Oseng tempe kecap sangat mudah dibuat. Tempe dipotong kecil sesuai selera, dioseng bersama bumbu-bumbu, bawang merah, bawang putih, cabai merah, garam dan tentu saja kecap. Sedap!


Aneka “pose” di oseng tempe kecap. Hihi.



Nah, tidak harus selalu pergi jauh kan, untuk mendapatkan kuliner nusantara buat diabadikan. Tapi  meskipun kuliner nusantara ini dibikin di rumah, tetap saja butuh usaha untuk menjepretnya. Jepret kuliner itu mau nggak mau akan nyerempet-nyerempet sama pengetahuan food photography. Obyek fotonya harus diperlakukan seperti model yang akan difoto dengan aneka properti.  Posisinya harus diubah-ubah. Perlu berkali-kali jepret juga untuk bisa menemukan hasil foto yang paling pas.  

Pose Termanis Si Kuliner Tempe
Kalau untuk urusan jepret kuliner nusantara ini, tak ada lain, saya masih harus sering berlatih. Karena Practice makes perfect. 


Dan boleh ya, berdoa punya smartphone canggih yang keren macam ASUS ZenFone yang akan bikin acara jepret-jepret kuliner ini jadi seru dan keren!



Siap difoto yaa…. Bilang: “Tempee!”



*Jepret!*



Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel.