Saturday, February 24, 2018

Kamtibmas Tanggung Jawab Bersama


Siapa yang tidak resah membaca atau mendengar berita terkait gangguan Kamtibmas? Kamtibmas itu adalah akronim dari keamanan dan ketertiban masyarakat. Keamanan berarti kondisi yang bebas dari segala macam bentuk gangguan dan hambatan, sedangkan ketertiban bisa berarti kondisi ketika berbagai kegiatan berlangsung sesuai ketentuan. Rasanya semua orang ingin bisa beraktivitas tanpa harus khawatir dengan tindak kejahatan, dan ingin segala sesuatu berjalan sesuai aturan.

Apa sih gangguan Kamtibmas yang terjadi di sekeliling kita? Gangguan Kamtibmas bisa berupa pencopetan, penjambretan, tawuran, sampai yang belakangan (sayangnya) marak diberitakan adalah begal motor. Jika di zaman dahulu ada copet dan jambret yang tujuannya mengambil barang berharga milik korban, begal motor adalah aksi yang lebih sadis lagi. Tak jarang aksi nekad itu mengakibatkan korban jiwa. Karena itu pada satu kesempatan, Kapolrestabes Semarang, Kombes (Pol) Abiyoso Seno Aji sempat membuat pernyataan tegas terkait begal motor ini yang kemudian menjadi salah tafsir. Biasanya salah tafsir terjadi karena salfok (salah fokus), dan tanpa mau tahu latar belakang masalahnya.

Silaturahmi Supaya Mengerti

Pada hari Rabu, 21 Februari 2018, dalam suasana akrab dan santai, digelar acara Silaturahmi Kapolrestabes dengan media, blogger, dan komunitas di kota Semarang. Sambil lesehan, ngemil gorengan dan jajan pasar, kami bertemu dan bertukar cerita dengan Bapak Kapolrestabes beserta jajarannya. Kalau sebelum-sebelumnya datang ke kantor polisi cuma buat mengurus SIM atau bikin surat laporan kehilangan, kali ini bisa duduk-duduk lesehan sambil selfie dengan polisi. Hehe. Memang benar kalau silaturahmi itu membuat yang jauh menjadi dekat, yang belum kenal menjadi tahu, dengan demikian bisa muncul pengertian satu sama lain.
Sebagai pembuka kami disambut oleh Bapak AKBP Iga DP, yang menyampaikan agar masyarakat dapat lebih bijak dalam penggunaan teknologi informasi. Karena dampak teknologi informasi ini sangat luas. Dalam era begitu terbuka, penggunaan sosial media yang menyentuh segala lapisan masyarakat, statemen yang diniatkan positif bisa menjadi negatif. Masyarakat sama-sama memiliki kekuatan di jemari tangannya, satu “klik” saja untuk menjadi positif atau negatif, adalah pilihan kita. Hati-hati menyebarkan berita yang belum kita yakini kebenarannya. Jika berita yang kita sebarkan membuat resah, jangan-jangan kita jadi pelaku gangguan kamtibmas. Hiii. 

Bapak Kapolrestabes duduk santai diantara peserta silaturahmi
Selanjutnya Bapak Kapolrestabes bergabung bersama kami. Terkait dengan aksi begal motor dan pernyataan beliau yang sempat menuai kontroversi, Bapak Abi mengungkapkan tiga hal. Yang pertama, statemen yang terdengar begitu keras itu sebenarnya bukanlah emosi, melainkan wujud empati terhadap korban dan keluarga korban kejahatan begal motor.

Yang kedua, tidak ada niatan untuk mendorong masyarakat melakukan tindak main hakim sendiri. Statemen itu diharapkan bisa menumbuhkan daya tangkal dan daya cegah dari masyarakat. Pada dasarnya masyarakat didorong untuk lebih sigap dengan keberadaan begal atau perkumpulan yang condong pada kejahatan. Masyarakat tidak perlu ragu-ragu untuk memberikan informasi awal jika melihat potensi sumber aksi kriminalitas dan potensi penganggu keamanan. Polrestabes Semarang telah menyediakan call center di nomor 1500092.

Ketiga, pernyataan itu bermaksud untuk menekan niat pelaku kejahatan agar urung melakukan kejahatan. Bahwa tindakan tegas yang diambil aparat kepolisian terhadap setiap aksi begal motor sudah selayaknya dilakukan jika memang telah membahayakan sesuai aturan dan tanpa melanggar HAM.

Tanggung Jawab Bersama
Add caption
Menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat sudah merupakan kewajiban dan tanggung jawab yang semestinya diwujudkan oleh Kepolisian. Semua dilakukan semata dalam menjalankan tugas dalam rangka mewujudkan dan menciptakan ketertiban, rasa aman, dan nyaman. Diharapkan masyarakat juga memiliki kepedulian dan rasa yang sama untuk menekan tindak kejahatan terkait kamtibmas. Pak Abi mengajak masyarakat untuk menumbuh kembangkan rasa keberanian, kepekaan, dan kepedulian yang sama atas kamtibmas di kota Semarang.


Thursday, February 22, 2018

Lunpia Cik Me Me, Inovasi Kuliner Khas Semarang



Inovasi bisa diartikan sebagai proses pengembangan untuk menciptakan produk atau sistem yang baru. Orang yang inovatif selalu ingin menghadirkan sesuatu yang lebih baik dari pada yang sudah ada sebelumnya. Ketika berkesempatan untuk bertemu dengan Meliani Sugiarto, kesan yang saya dapatkan adalah pemilik Lunpia Cik Me Me ini memiliki semangat dan passion yang menyala untuk melakukan inovasi pada lunpia Semarang.

Inovasi yang Mengedepankan Rasa

Lidah bisa berdusta tapi cita rasa sudah pasti tidak akan pernah berdusta. Itulah yang diyakini oleh Cik Me Me, begitu Meliani Sugiarto biasa dipanggil, waktu membuka lunpia Delight empat tahun silam. Sebagai keturunan asli dari founder lunpia Semarang sekaligus generasi ketiga Lunpia Mataram, Cik Me Me merasa sangat penting baginya untuk melestarikan kuliner asli Semarang ini. Lunpia adalah produk yang sudah mendarah daging pada dirinya. Dengan berbekal pengalaman dan pengetahuan langsungnya berkecimpung di dunia lunpia sejak kecil, didukung langsung oleh sang ayah, maestro chef Tan Yok Tjay, Cik Me Me menciptakan Lunpia yang diberi nama Lunpia Delight.
Lunpia adalah tradisi yang terus dilestarikan dan dikembangkan oleh Cik Me Me
Tak hanya berhenti menciptakan satu rasa lunpia klasik, Cik Me Me terus menciptakan berbagai inovasi, terutama dalam menciptakan aneka varian rasa lunpia. Ada enam produk dari lunpia Cik Me Me yaitu original, plain (vegetarian), crab (kepiting), fish kakap, Kajamu (kambing jantan muda) dan Raja Nusantara (rasa jamur nusantara dengan kacang mete). Semua inovasi rasa lunpia ini sudah diramu sedemikian rupa, melalui puluhan kali percobaan, hingga didapatkan formula alias resep yang tepat.
Logo Lunpia Cik Me Me
Ada kisah mengapa Lunpia Delight yang sudah dikenal luas oleh masyarakat bertransformasi menjadi Lunpia Cik Me Me. Ketika Lunpia Delight berulang tahun yang pertama pada tanggal 20 Februari 2015, Bapak Setda Kota Semarang, Drs Adi Trihananto, Msi menyarankan Cik Me Me untuk menggunakan nama yang lebih selaras dengan identitas budaya Nusantara. Saran itu dianggap sangat bijak dan disambut baik oleh manajemen Lunpia Delight. Sejak saat itu secara bertahap nama Lunpia Delight yang bermakna “Lunpia yang Menyenangkan” berubah menjadi “Lunpia Menyenangkan milik Cik Me Me”. Dengan identitas yang baru yaitu “Lunpia Cik Me Me” menjadi ciri kedaerahan berdasarkan citra budaya sebagai tampilan ikon kuliner kota Semarang.

Gerai Lunpia Ternyaman
Gerai Lunpia Cik Me Me
Lunpia Cik Me Me menempati lokasi yang sama seperti sebelumnya, yaitu di jalan Gajahmada No. 107 Semarang. Lokasinya sangat strategis dengan tempat parkir yang lapang. Yang menarik buat saya waktu tiba adalah tulisan “Mushola Istiqomah” terpampang di kaca lantai dua. Sampai saya kira saya salah alamat. Toko lunpia kok ada tulisan musola?

Begitu menginjakkan kaki ke dalam, kesan kios lunpia yang sempit dan panas langsung menghilang. Suasana begitu lapang dan sejuk. Meja dan kursi makan cukup banyak tersedia, membuat konsumen yang hendak menunggu ataupun hendak makan di tempat bisa mendapatkan tempat yang nyaman. Rupanya ini adalah inovasi lain dari Cik Me Me yang ingin mengubah kesan panas dan sempit dari gerai-gerai lunpia yang telah ada sebelumnya.
Gerai Lunpia Cik Me Me dengan fasilitas lengkap dan bersih
Selain menyediakan enam rasa varian lunpia, gerai Lunpia Cik Me Me juga dilengkapi dengan aneka oleh-oleh yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Keistimewaan lainnya, baru satu-satunya di kota Semarang nih, gerai lunpia yang menyediakan ruang bermain yang menarik bagi anak-anak dan juga musola yang luas dan bersih. Cik Me Me sangat mengerti bahwa para konsumen lunpia yang sebagiannya adalah pejalan dari luar kota, sering membutuhkan fasilitas musola ini. Juga bagi para pengunjung yang membawa anak-anak, bisa memakai fasilitas playground di lantai dua, yang menurut saya lebih bagus dan lengkap daripada sebagian besar tempat bermain anak yang pernah saya datangi. Anak-anak akan gembira menunggu sementara lunpia disiapkan. Jangan-jangan malah nggak mau pulang. Hehe.
Ruangan di lantai dua yang luas dan sejuk
Di lantai dua juga tersedia beberapa set meja dan kursi, dan juga ruang meeting yang dapat disewa dengan membayar sejumlah tertentu. Info dari Cik Me Me, untuk bisa menggunakan ruang meeting harganya mulai dari Rp 50.000/ orang untuk minimal 15 orang. Dengan harga terjangkau, ruang meeting yang nyaman dapat dipergunakan hingga tiga jam lamanya plus dapat hidangan lunpia yang lezat!

Menikmati Lunpia Halal

Bukti lain bahwa Cik Me Me ingin terus membuat lunpia lebih baik, dan bukti bahwa konsumen adalah nomor satu, adalah tekadnya untuk menjadikan Lunpia Cik Me Me sebagai pelopor lunpia bersertifikasi halal MUI. Extra effort ini dilakukan Cik Me Me mengingat bahwa di Indonesia sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam. Dengan sertifikat halal MUI yang kini semakin ketat dengan laporan dan pengawasan rutin ini, masyarakat tak perlu was-was ketika menikmati Lunpia Cik Me Me.
Lunpia Cik Me Me disiapkan fresh setiap hari
Untuk rasa tentunya dikawal ketat oleh manajemen Lunpia Cik Me Me. Lunpia Cik Me Me disiapkan setiap hari di dapur khusus yang langsung diawasi oleh cik Me Me sendiri dan ayahnya, maestro chef Tan Yok Tjay. Rebung yang berkualitas dipilih khusus, harus benar-benar disesuaikan tekstur dan jenisnya dengan aneka varian rasa lunpia. Rebung kemudian dimasak berjam-jam lamanya, agar kaldu meresap, dan menjadi lebih kering. Dengan demikian rasa rebungnya tidak “pesing” seperti lunpia yang kurang tanak dimasak. Dengan dimasak sampai tiga jam untuk rebungnya saja, maka akan keluar aroma masakan dan bumbu-bumbu lezat. Ini juga rupanya salah satu rahasia mengapa Lunpia Cik Me Me tidak mudah basi, meski dikemas tanpa menggunakan kemasan kedap udara.
Varian Rasa Lunpia
Lunpia Cik Me Me harganya bervariasi dari Rp 10.000 untuk lunpia plain alias vegetarian, Rp 15.000 untuk lunpia original dan Rp 22.000 untuk lunpia Fish Kakap, Crab, Kajamu, dan Raja Nusantara. Worthed banget soalnya rasanya lezat dan mengenyangkan. Belum lagi kalau makannya ditambah daun bawang, saus lunpia plus acar dan cabai. Coba saja bayangkan rasa lunpia yang gurih berpadu dengan manis saus lunpia, ditambah pedasnya cabai dan krenyes-krenyes segarnya acar. Nyam! Pantas saja kalau Lunpia Cik Me Me dengan aneka rasa lunpia yang lezat cepat mendapatkan tempat di hati masyarakat, baik itu dari luar kota maupun dalam kota Semarang.

Mau yang basah atau goreng, sama lezatnya. Lunpia goreng dimasak dengan metode deep frying, dalam 25 liter minyak. Karena itu lunpia tidak akan bergelimang minyak. Lunpia Cik Me Me goreng tahan selama 24 jam di luar kulkas, sementara yang basah tahan 8 jam. Jika sudah dimasukkan ke kulkas bisa tahan hingga tiga hari. Akan tahan lebih lama jika masuk ke dalam freezer.
Lunpia Raja Nusantara (Rasa Jamur Nusantara dengan kacang mede)
Cik Me Me membagikan tips untuk menghangatkan lunpia. Untuk menghangatkan lunpia goreng, cukup menggunakan teflon dan sedikit minyak, atau dimasukkan ke dalam oven selama lima menit. Dengan demikian lunpia akan kembali hangat. Untuk lunpia basah, cara menghangatkannya adalah dengan dimasukkan ke dalam magic jar/ penanak nasi.

Jam buka gerai Lunpia Cik Me Me sejak pukul lima pagi hingga last order pukul 10 malam, menjamin setiap pelancong yang hendak membawa lunpia sebagai oleh-oleh bisa mendapatkan Lunpia Cik Me Me yang “fresh” setiap saat.

Kalau tidak sempat ke toko bagaimana? Konsumen tidak perlu risau bin galau karena Lunpia Cik Me Me bisa dipesan antar juga. Untuk setiap pembelian minimal 10 lunpia rasa apa saja, Lunpia Cik Me Me menyediakan layanan free delivery untuk wilayah Semarang. Aneka lunpia ini juga bisa dipaketkan keluar kota. Untuk aneka keperluan, lunpia Cik Me Me bisa customized juga, lho. Misalnya mau bikin lunpia dengan ukuran lebih kecil untuk arisan, bisa banget, tinggal pesan beberapa hari sebelumnya.
Cik Me Me dan kisahnya melestarikan kuliner khas Semarang (foto:Mas Jo)
Lunpia Cik Me Me memang berkomitmen untuk terus berinovasi menghadirkan lunpia yang lezat dan berkualitas, dan meningkatkan aneka layanan yang membuat penggemar lunpia semakin mudah untuk mendapatkan oleh-oleh khas Semarang ini. Praktis, enak, halal!

Lunpia Cik Me Me
Alamat: Jalan Gajahmada 107 Semarang
Telp: 024-3511007/ 085-100-000-727
Jam Buka: 05.00 – 22.00


Friday, February 2, 2018

Bersamamu Indonesia Maju


Saat ini bangsa Indonesia sedang berlayar menuju Indonesia maju dengan melakukan pembangunan di seluruh pelosok Tanah Air. Dalam lima tahun masa pemerintahan Presiden Jokowi sejak tahun 2014, tahun pertama telah dilalui untuk Membangun Pondasi, tahun kedua untuk Percepatan Infrastruktur, dan tahun ketiga adalah untuk Pemerataan yang Berkeadilan.

Peserta Flash Blogging beserta Tim Komunikasi Presiden, Kominfo, dan Dinas Kominfo Jawa Tengah.
Foto: Archa Bella

Hal ini disampaikan oleh bapak Andoko Darta, dari Tim Komunikasi Presiden dalam acara Flash Blogging di Semarang, 2 Februari 2018. Bertempat di Hotel Santika, Flash Blogging yang merupakan kegiatan dari Kominfo dan Dinas Kominfo Provinsi Jawa Tengah, menyampaikan tema tentang “Menuju Indonesia Maju”.

Teguh Membangun Bangsa

Pembangunan infrastruktur sedang gencar dilakukan oleh pemerintah. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan berupa ribuan kilometer jalan baru, pembangunan transportasi terintegrasi dengan mengembangkan kualitas dan kapasitas bandara, pelabuhan, jalan tol, pembangunan bendungan, dan lain-lain.

Gencarnya pembangunan infrastruktur oleh pemerintah dilakukan untuk kemajuan bangsa, bukan untuk memenuhi kepentingan golongan tertentu, atau golongan kaya semata. Salah satunya, bahwa dengan infrastruktur yang baik, maka saluran logistik lancar sehingga harga-harga barang keperluan masyarakat dapat turun. Dengan membangun infrastruktur, akan membuka lapangan pekerjaan untuk puluhan ribu pekerja melalui proyek-proyek pembangunan yang berjalan. Membangun infrastruktur, akan meningkatkan daya saing bangsa Indonesia. Dengan meningkatnya daya saing Indonesia, bangsa kita akan cepat maju. Bangsa Indonesia yang maju akan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Kebijakan Pembangunan Pemerintah: Pemerataan yang Berkeadilan

Pembangunan yang dilakukan juga dilakukan secara merata. Seperti semangat perjalanan pembangunan di tahun ketiga, yaitu Pemerataan yang Berkeadilan.

Dengan semangat pemerataan, pembangunan di kawasan-kawasan 3T (tertinggal, terdepan dan terluar), gencar dilakukan oleh pemerintah. Daerah tertinggal, terdepan dan terluar adalah wajah Indonesia yang harus diperbaiki dan didorong kemajuannya. Kawasan perbatasan adalah beranda terdepan dari bangsa Indonesia. Membangun kawasan 3T ini perlu dilakukan supaya warga di sana turut merasa bangga menjadi bangsa Indonesia. Kawasan ini adalah identitas bangsa.

Pemerataan pembangunan yang dilakukan bukan berarti kesamaan perlakuan. Pemerataan berarti keadilan. Sebagai contoh, selama puluhan tahun merdeka, masyarakat Papua harus membayar berpuluh kali lipat lebih mahal untuk mendapatkan BBM. Kini dengan kebijakan BBM 1 harga, masyarakat di Papua dapat menikmati harga sama dengan di daerah Indonesia lainnya.

Membangun Manusia Indonesia

Sebagai satu kesatuan, pembangunan harus dilakukan secara holistik. Selain membangun fisik, pembangunan harus menyentuh pembangunan non fisik. Setelah membangun infrastruktur, yang juga sangat penting adalah membangun manusia Indonesia.

Presiden Jokowi menyadari bahwa kunci untuk memenangkan persaingan adalah perlunya kontribusi dari sumber daya manusia yang handal. Manusia Indonesia perlu dilatih untuk menjadi sumber daya yang unggul, tangguh, dan bermartabat. Karena itu masyarakat Indonesia perlu untuk terus ditingkatkan kompetensinya dalam setiap profesi dan keahlian yang mereka tekuni.

Membangun manusia Indonesia melalui pendidikan
Manusia Indonesia yang unggul, perlu memiliki semangat persatuan. Indonesia adalah kita. Kita perlu meningkatkan ke"kita"an dibandingkan ke"aku"an atau ke”kami”an. Paham “keakuan” dan “kekamian” cenderung membuat kita hanya mementingkan diri atau kelompoknya sendiri. Akibatnya, kita jadi bekerja sendiri-sendiri atau bekerja hanya dengan kelompoknya sendiri. Indonesia maju bisa dicapai jika seluruh masyarakat mau bekerja bersama-sama. Jika ingin maju, kita harus berjuang bahu-membahu.

Kreatif Menuju Indonesia Maju

“Ask not what your country can do for you, but what you can do for your country.” Sebuah quotes yang sangat terkenal dari presiden Amerika, John F. Kennedy.

Pertanyaan itu juga yang sebaiknya kita tanyakan untuk diri kita sendiri. Apa yang dapat kita lakukan untuk bangsa? Seperti disampaikan oleh Bapak Anto Prabowo, seorang jurnalis senior harian Suara Merdeka, peran yang dimiliki oleh penulis dan blogger di masa kini sangat besar.

Di era keterbukaan informasi, segala kejadian dan informasi yang terjadi sangat mudah mencapai masyarakat. Di era ini pula, berita mencapai masyarakat tanpa ada gate keeper, tanpa ada yang menyaring. Jika dulu berita disampaikan melalui media yang telah melalui dewan redaksi sebagai penyeleksinya, kini yang menyeleksi adalah langsung para pemegang gadget.

Semua orang berlomba merebut perhatian khalayak dengan tulisan-tulisan yang menarik. Karena itu pula, fenomena berita palsu dan hoax telah menjadi permasalahan masyarakat sehari-hari. Sudah menjadi tugas dari blogger untuk menulis berita yang bermanfaat, dan tidak terkontaminasi dengan berita-berita hoax. Kita bisa berperan untuk melawan berita palsu dengan bacaan bermutu. Meningkatkan literasi akan membuat masyarakat lebih pintar, lebih cerdas, memperluas wawasan serta berperan dalam kemajuan bangsa.

Untuk itu kreativitas dalam menulis sangat diperlukan. Karena sesuatu yang kreatif akan lebih disukai oleh orang banyak.

“Creativity is Intelligence Having Fun,” quotes dari Albert Einstein.

Presiden Joko Widodo juga telah menerapkan cara-cara kreatif dan fun ini untuk memberikan informasi dan program-program pemerintah melalui akun-akun sosial media. Penampilan Presiden di beberapa vlog yang sedang memberi makan rusa menjadi perbincangan hangat masyarakat. Tak jarang baju sampai payung yang dipakai Presidenpun menjadi perbincangan.

Berikut adalah akun sosial media Presiden.

Website: Presidenri.go.id
Facebook: Presiden Joko Widodo
Twitter: @Jokowi
Youtube: youtube.com/jokowi
Instagram: @jokowi

Kita harus mulai menggunakan dan mengembangkan cara-cara kreatif untuk meningkatkan rasa kebangsaan. Amerika Serikat, meski mengalami kekalahan di perang Vietnam, membangkitkan semangat bangsanya dengan membuat film yang mengangkat kepahlawanan melalui tokoh-tokoh di film Rambo, dan film perang lainnya.

Penulis-blogger, dapat berperan serta dengan terus menghadirkan tulisan, bacaan, melalui posting-posting yang bermutu di sosial media, yang dibuat dengan cara menarik. Dengan cara yang asyik, kita bisa berperan menyampaikan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi kemajuan Indonesia.

Untuk kemajuan Indonesia, penulis-blogger bisa berkarya dengan tulisan untuk menyemai kebangsaan.

Mencintai Indonesia

Bagaimana bisa membangun kalau kita tidak mencintai bangsa ini? Kita perlu menumbuhkan rasa cinta dan bangga supaya tumbuh perasaan turut memiliki, dan turut ingin memajukan Indonesia. Pepatah Jawa bilang: “Rumangsa melu handarbeni, rumangsa wajib hangrungkebi,” sebuah ajaran kebaikan untuk ikut memiliki dan membela keberadaan negara. Nasihat itu perlu diterapkan dan ditumbuh kembangkan lagi di hati masyarakat Indonesia.

Ketidakpuasan akan keadaan, harus diimbangi dengan perasaan ingin turut memajukan bangsa. Tidak ada gunanya terus “nyinyir” pada keadaan bangsa tapi tidak melakukan apa-apa. Yang diperlukan bangsa ini adalah saran dan kritik yang membangun. Apapun keadaan saat ini, kemajuan Indonesia sangat bergantung dari kita semua. Kita harus terus mengisi ruang-ruang publik dengan hal-hal positif, agar tetap optimis. Kita harus percaya, bahwa bangsa Indonesia sama baiknya dengan bangsa-bangsa yang lain.

Seperti pesan dari bapak Sukardi Rinakit, staf Khusus Presiden: “Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia”.
Bersama Kita Semua Indonesia Maju
Kita semua punya peluang untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia. Sumbangan kita sangat diperlukan. Jangan pernah lelah bekerja. Bersamamu, Indonesia Maju.



Wednesday, January 31, 2018

ASUS X555QA, Laptop Pilihan Keluarga


Kami Memakai ASUS



Tahun 2017 sepertinya memecahkan rekor banyaknya waktu yang saya habiskan untuk bekerja di luar kota. Dalam tahun 2017 saya bolak-balik Semarang-Jakarta lebih dari 10 kali, ke luar Jawa dua kali, belum lagi ke area Jawa Tengah seperti Jogja, Solo, sampai Purbalingga. Memang tidak ada apa-apanya dibandingkan pekerja-pekerja lainnya, yang bisa mondar-mandir keliling Indonesia beberapa kali dalam seminggu. Bahkan kerabat saya yang saking seringnya keluar kota, sampai suka bingung waktu bangun pagi, “Ini saya lagi di mana, ya?” Hehe.

Di semua perjalanan saya ada perangkat selain ponsel yang tidak pernah ketinggalan: LAPTOP. Semua keperluan hidup, utamanya data-data kerjaan, sampai hiburan, tumplek blek di perangkat canggih nan baik hati itu. Sehingga kapanpun dibutuhkan, saya selalu siap. Selama ini saya dan suami yang bekerja sebagai wirausaha sangat terbantu dengan perangkat ASUS andalan: Notebook ASUS EEPad Series, yang sudah menemani kami sejak 2013. Laptop berwarna putih ini sudah membantu kami untuk aneka pekerjaan. Selama ini mulai dari menyusun aneka dokumen, mendesain rumah, mengolah data, sampai dibawa presentasi, laptop ASUS yang tahan banting itu sangat kami andalkan.
ASUS Teman Setiaku

Dengan berjalannya waktu, pemakaian laptop di rumah tidak hanya jadi kebutuhan saya dan ayahnya untuk bekerja, tapi juga untuk anak-anak. Mereka mulai punya aneka kebutuhan, baik untuk sekolah, atau sekedar informasi dan hiburan.

“Bu, aku mau minjem laptop buat lihat tutorial sulap di Youtube,” pinta si Sulung. Dia memang sedang getol belajar sulap.

“Bu, kata bu Guru aku disuruh lihat internet buat nyari bahan PR ku ini.” Ealah, si Bungsu yang masih kelas dua SD pun ikutan punya tugas.

“Bu, boleh lihat video yang kemarin di upload pak Guru? Ada akunya lho ikutan main di sana,” ucap si Sulung (lagi) berseri-seri. Ditambahkannya juga, “Habis itu aku mau cari gambar-gambar paper craft di internet trus mau aku jualin ke temen-temen.” Wah kalau ini Ibu dukung soalnya bisa sambil belajar cari uang saku sendiri. Hehe.

“Bu, tolong nyalain Youtube yang ada suara burung kenarinya dong.” Hah? (Ini sih suara ayahnya hihi)

Tapi tunggu duluuu, kerjaan ibu bikin presentasi juga belum kelar, nih!

Lalu laptop satu-satunya itu dikerubungin empat kepala.

Semua butuh laptop!

Kalau sudah begitu, saya biasanya langsung menimbang urgensi kepentingan anak-anak yang mau ‘pinjam pakai’ laptop. Kalau nggak ada deadline pekerjaan, biasanya saya serahkan laptop, sekalian saya bisa selonjoran sebentar.

Dampingi Anak Memakai Laptop
Selalu dampingi anak ketika pakai laptop (Foto diambil di toko furniture dengan laptop mainan hehe)
Eh, tapi bijaksana nggak sih, kalau anak-anak sudah pakai laptop, apalagi buat internetan? Apalagi di dunia yang semakin terbuka semacam ini, konten-konten negatif mulai dari pornografi (ini yang paling bikin ibu-ibu syok), predator anak yang berkeliaran bebas, sampai berita hoax menghantui keluarga-keluarga di Indonesia.

Terus terang saya tidak terlalu ketat membatasi penggunaan teknologi khususnya yang berhubungan dengan internet dan tentunya perangkat yang dipakai baik itu ponsel, PC, atau laptop. Saya tidak punya peraturan hanya boleh mengakses di hari atau jam tertentu. Selama mereka memang membutuhkan, biasanya saya perbolehkan. Buat saya yang penting anak-anak tetap diawasi selama memakai laptop, mengakses internet, dan menurut dengan batasan waktu yang saya berikan.

Dari sebuah acara yang memaparkan tentang dampak internet untuk keluarga, saya mencatat beberapa hal penting ketika mengawal anak-anak ketika memakai laptop khususnya ketika terhubung dengan internet:

1. Menjadi teladan bagi anak-anak

Sebelum memberi wejangan, apalagi larangan bagi anak-anak, sebagai orang tua juga harus memberikan teladan dengan memakai laptop dan berinternet dengan sehat. Survey membuktikan banyak anak-anak justru terpapar konten negatif pertama kali dari perangkat milik orang tuanya sendiri.

2. Memberikan pengertian kepada anak-anak akan bahaya konten negatif

Tentunya pengertian bisa disesuaikan dengan usia dari anak-anak. Jelaskan bahwa kecanduan akan konten negatif akan merusak otaknya dengan bahasa yang sesuai. Ajari juga anak-anak untuk mampu menolak pengaruh dari luar, misalnya dari teman-temannya jika mereka diajak untuk mengakses konten negatif.

3. Pasang aneka filter di laptop
Inilah gunanya orang tua melek teknologi. Aneka perangkat dan fitur tambahan sebagai pelindung pertama bagi anak-anak dari konten negatif sudah tersedia.


4. Mengawasi Jenis Permainan/ tontonan yang diakses anak
Meskipun sudah memberikan “pagar” terhadap konten negatif, orang tua tidak bisa lalai terhadap apa yang sesungguhnya anak-anak mainkan atau tonton melalui laptop. Seringkali permainan meski terlihat “tidak berbahaya” tetapi mengandung konten yang tidak patut untuk anak-anak. Tontonan di situs pemutar video juga tidak melulu aman, meskipun kita sudah memasang mode: Restricted.
Sistem rating yang harus dipahami orang tua

5. Peka terhadap perubahan sikap anak

Perubahan-perubahan yang mengarah pada pemakaian perangkat yang patut diwaspadai antara lain: buru-buru menutup layar monitor ketika kita datang, anak hanya menyalakan laptop di malam hari, atau menarik diri dari pergaulan, atau menemukan file mencurigakan di laptop.

6. Menjalin komunikasi yang baik dengan anak
Tanpa ada komunikasi yang baik antara anak dan orang tua, rasanya mustahil semua hal di atas bisa dilakukan.

Mengawal perkembangan anak masa kini memang akan selalu bersinggungan dengan yang namanya teknologi. Sebagai orang tua harus selalu mengupgrade diri seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat. Saya juga sangat terbantu dengan adanya internet, karena segala informasi dan keperluan bisa diakses dengan lebih cepat, apalagi kalau didukung dengan perangkat yang mumpuni.

Setelah lima tahun didukung perangkat ASUS, saya pikir saatnya juga mengupgrade laptop kami, dan tentunya ASUS tetap menjadi Top Of Mind. Pangsa pasar laptop consumer ASUS di Indonesia memang sangat kuat, hingga September 2017 sebesar 41,9% dan terus tumbuh. Belum lagi ASUS berhasil meraih TOP Brand Award untuk kategori bisnis laptop di 2017.

Karena terus berinovasi, ASUS juga memberikan banyak pilihan bagi konsumennya. Terutama dengan hadirnya berbagai varian notebook untuk consumer mainstream. Hmm jadi punya banyak pilihan dari ASUS nih. Menjelang akhir tahun 2017, ASUS meluncurkan notebook X-series dengan harga terjangkau yang cocok untuk bekerja dan juga untuk hiburan atau bermain. Hm.. dari rententan laptop ASUS X-Series ini, kayaknya seri ASUS X555QA yang paling pas buat ibunya, bapaknya, juga anak-anak. Cocok buat empat kepala!

Kenapa ASUS X555QA
ASUS X555QA yang mumpuni. (Sumber gambar:ASUS.com)
Harga terjangkau

Sebagai keluarga dengan aneka kebutuhan, soal harga ini menjadi pertimbangan utama: Bagaimana dengan harga yang paling terjangkau kami bisa mendapatkan manfaat maksimal. Laptop X555QA dengan harga mulai dari enam jutaan sangat pas bagi kami. Belum lagi seperti notebook-notebook lain yang dihadirkan setelah November 2017, ASUS juga sudah melengkapi X555QA dengan sistem operasi Windows 10 di dalamnya. Ini penting karena praktis, kami tinggal pakai dan tidak perlu repot menginstal sistem operasi sebelumnya.

Kapasitas Penyimpanan Besar

Sebagai pengepul dokumen baik itu foto maupun video, saya membutuhkan kapasitas simpan yang besar. Demi kelancaran pekerjaan, data-data kantor dari bertahun-tahun yang lalu juga harus bisa tertampung. Belum lagi video-video tutorial yang sering diunduh anak-anak juga butuh tempatnya sendiri. ASUS X555QA punya kapasitas penyimpanan yang cukup luas, mencapai 1TB alias 1.000GB SATA HDD.

Laptop Responsif dan Handal

Kalau sedang bekerja lalu laptop sering lemot akan membuat mood turun dan akibatnya produktivitas kerja tidak maksimal. Didukung dengan prosesor AMD 10-9620p yang punya empat inti prosesor (quad core) dan grafis berbasis Radeon R5. AMD A10-9620P ini merupakan APU kelas menengah berbasis Bristol Ridge (prosesor APU generasi ke-7) dengan empat core (dua modul Excavator) bekerja di kecepatan 2,5GHz sampai 3,4GHz.

Dalam pengertian simpel saya, nggak bakalan sering “hang”, atau nggak akan lemot, meski saya membuka banyak aplikasi sekaligus. Soalnya saya sering bekerja buka aplikasi pengolah kata, pengolah gambar, sambil “menonton” film meski hanya mendengarkan dialog/ suaranya saja. Hehe.

Anak-anak juga pasti akan puas menonton aneka video dengan tampilan gambar yang bagus berkat grafis Radeon R5 uang terdiri dari 384 shader core dan 6 compute core serta kontroler memori dual channel DDR4-18600. Prosesor ini performanya lebih tinggi dibandingkan dengan FX-8800P yang merupakan versi flagship terdahulu. Belum lagi audio bersertifikasi ASUS SonicMaster sehingga kualitas suara yang dihasilkan makin memuaskan.

ASUS X555QA juga merupakan laptop yang responsif karena dengan fitur resume 2 detik, dari kondisi sleep mode saya bisa langsung memakai laptop ini kapan saja dengan cepat.

Baterai awet

Sejak zaman dahulu, alasan memiliki laptop salah satunya tentunya karena kemampuannya untuk “mobile” alias berpindah-pindah. Membawa laptop berarti tidak perlu “hinggap” di dekat colokan terus menerus. Jadi buat kami punya laptop dengan baterai yang awet is a must. ASUS menggunakan baterai Li-Polymer sehingga keawetannya sampai 2,5 kali lebih baik dibandingkan dibandingkan dengan baterai silinder Li-Ion biasa.

Baterainya juga akan tetap awet meski telah mengalami ratusan siklus pengisian ulang. Ini berkat teknologi ekslusif yang digunakan, sehingga baterai masih tetap mampu menyimpan setidaknya hingga 80% dari kapasitas aslinya sejak baru dibeli. Nah!

Layanan Service dan Purna Jual Mumpuni

Dengan garansi penuh dari ASUS termasuk service dan sparepart selama dua tahun, dan berlaku global, kami tidak akan ragu memilih ASUS X555QA. Tak heran ASUS menguasai pangsa pasar laptop di Indonesia ya, pelayanannya mudah diakses dari mana-mana!

Warna-warni ASUS X555QA Sumber gambar: www.bocahrenyah.com

Wah mantap ya ASUS X555QA ini. Rasa-rasanya semua anggota keluarga setuju kalau laptop ini yang jadi pilihan. Buktinya ada empat kepala manggut-manggut ketika menatap desain ASUS X555QA yang stylish dengan banyak pilihan warna cantik.

“Yang merah!”
“Aku yang kuning, cerah!”
“Bagus hitam, lah.”
“Ah, favorit ibu tetap yang putih.”

Artikel ini diikutsertakan pada Blog Competition ASUS AMD - Laptop For Everyone yang diselenggarakan oleh bocahrenyah.com

Thursday, January 11, 2018

Throwback 2017: KIJP Batch 6 Karimun Jawa


It's just another people backyard
Sudah lebih dari sepuluh tahun sejak terakhir kalinya saya melangkahkan kaki (literally) keluar dari tanah pulau Jawa. Mungkin itu sebabnya perasaan saya ketika waktu semakin dekat untuk berangkat ke acara Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) bulan Oktober yang lalu, semakin resah. Bahkan sampai 24 jam sebelum jadwal Kapal berangkat, saya masih separuh hati. Padahal saya termasuk penganut paham: kalau ragu-ragu, nggak jadi aja!

Untuk lebih memantapkan hati, di luar kebiasaan, banyak orang saya pamiti. Saya sampai “bilang-bilang” ke teman-teman di grup-grup Whatssap kalau saya mau ke Karimun Jawa, berharap satu dari sekian banyak yang saya beritahu itu ada yang punya firasat apa gitu lalu bilang: Jangan berangkat!

Sampai akhirnya pada detik pertama saya menjejakkan kaki di perahu yang bergoyang lembut, saya bersyukur karena tidak jadi mangkir.

KIJP itu Apa?

Pengetahuan saya tentang KIJP adalah zero, sampai ada provokator menunjukkan pada saya akun instagram KIJP dan mendorong (baca: menyuruh) saya untuk ikutan daftar. Sekilas saja saya ceritakan kegiatan KIJP adalah sebuah komunitas yang beranggotakan relawan yang berbagi inspirasi tentang profesi dan pekerjaannya dengan anak-anak Sekolah Dasar. Mengapa disebut jelajah pulau, karena KIJP ini menargetkan lokasi-lokasi di luar pulau Jawa.

Para relawan akan tinggal bersama di salah satu rumah penduduk setempat selama berkegiatan. Selama tiga hari dua malam, mereka diharapkan mampu memberikan kontribusi tidak hanya untuk anak-anak sekolah, tapi juga masyarakat di sekitarnya. Selanjutnya silakan kepo akun-akun medsos KIJP.

“Mak Win harus daftar!” gitu suruh si Provokator setelah saya lapori kalau saya sudah baca-baca medsos KIJP.

Oke, memang saya tertarik dengan kegiatan KIJP, tapi agak ragu, karena pertama, profesi saya rada nggak jelas dua tahun belakangan, dan yang kedua, harus naik kapal cepat ke Karimun Jawa menjelang musim penghujan, agak menyurutkan langkah. Belum lagi sering beredar berita turis terjebak berhari-hari di Karimun Jawa karena cuaca buruk. Bacalah di kacamata saya, ibu-ibu dengan dua anak masih SD (agak lebay) yang meskipun bisa berenang, pernah merasakan mabuk laut yang bikin kapok waktu menyeberang Selat Sunda.

“Ini kan di Karimun Jawa, nggak seperti yang di Kepulauan Seribu. Di sana 9 jam di kapal!” si Provokator menyemangati (atau menakut-nakuti).

Tapi akhirnya saya mendaftar karena awalnya semata untuk memenuhi janji pada si Provokator. Dan menjadi rezeki saya untuk ikut merasakan pengalaman yang paling berkesan di tahun 2017. Seperti ide tulisan untuk Arisan Blog Gandjel Rel dari duo blogger perempuan yang keren, Mbak Tanty dan Nuzha sebagai penutup tahun 2017 dan menyambut tahun 2018.

Keberangkatan
Kapal Ekspress Bahari
Selepas 18 jam sebelum berangkat yang tenang, sekitar jam 10 pagi di hari Jumat Kapal Cepat Ekspress Bahari dari Pelabuhan Kendal bersama 40-an relawan. Kami nanti akan terbagi dalam empat kelompok di desa Kemujan Karimun Jawa. Kemujan ini adalah bagian dari kepulauan Karimun Jawa bagian Utara. Menurut panitia, dari Pelabuhan Karimun Jawa perjalanan ke Kemujan memerlukan waktu 45 menit jalan darat naik pickup.

Karimun Jawa adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Jepara. Waktu tempuh kapal cepat sejenis dari Pelabuhan Jepara hanya sekitar dua jam. Jika dari Pelabuhan Kendal membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Buat kami waktu itu berangkat dari Pelabuhan Kendal adalah keputusan yang tepat karena jarak tempuh ke Jepara dari kota Semarang masih sangat tidak manusiawi dikarenakan perbaikan jembatan. Mengingat para relawan ini berasal dari seluruh penjuru dunia (nggak ngarang ini nyata), Semarang lebih mudah dijangkau.

Kapal melaju dengan lancar, tidak ada insiden, karena saya membekali diri dengan obat anti mabuk laut. Kapal Ekspress Bahari terbagi menjadi tiga tingkat, mulai tempat duduk ekonomi di bagian paling atas dengan fasilitas kursi papan, goyangan ombak dan angin laut yang dahsyat, sampai kelas VIP di bagian bawah kapal dengan kursi empuk, AC, snack seadanya, dan televisi yang menyajikan tontonan dangdut yang akhirnya seperti jadi original soundtrack of KIJP Batch 6 Karjaw.

Nice, mbak VV!

Perjalanan di laut selama tiga jam nyaris tidak terasa karena separuhnya diisi kegiatan tidur. Thanks to obat anti mabuk. Ketika mengintip ke jendela, air laut mulai biru, dan di kejauhan dermaga Karimun Jawa mulai kelihatan. Airnya biru tosca!

KIJP rasa KKN

Tentunya tidak semua relawan KIJP baru pertama kali kenal satu sama lain. Banyak diantara mereka yang sudah pernah bertemu di kegiatan serupa, di kota XYZ. Rombongan relawan KIJP ini di mata saya terdiri dari para veteran, dan juga penganut garis keras kegiatan relawan pendidikan. Ada yang kerjanya sepanjang tahun menghabiskan cuti untuk kegiatan serupa di seluruh penjuru nusantara, ada yang masih jet lag karena baru mendarat dari London dan langsung berlayar.

Setelah hampir sejam berpanas-panas di bak belakang pickup, di rumah Bu Matrai, (bener ga ya nulis namanya begini), sebagian dari para relawan itu berkumpul. Termasuk saya, ibu-ibu yang nyempil diantara anak-anak muda yang keren dan berbakat. Setelah sempat ketemuan di acara briefing, diskusi dan persiapan cuma bisa berlangsung di grup Whatssap. Tapi seperti saudara ketemu gede, di tengah panas dan lembabnya udara Kemujan, kami bersebelas saling bersimbiosis. Semua demi kesuksesan acara hari inspirasi di SD Negeri 3 Kemujan.
Sedulur baru


Saya jadi terbayang masa-masa KKN di Pegandon, Kendal, yang membuat semua penghuni nyaris nggak pernah pulang. Masa-masa yang memberi saya salah satu sahabat baik sampai sekarang. Di sana sebagian besar dari kami yang merupakan anak kos mendapatkan perbaikan gizi dari rempeyek kacang dan ayam goreng.

Di rumah yang terletak berhadapan dengan runway bandara Karimun Jawa, saya makan ikan tiga kali sehari.

Hari Inspirasi
Anak-anak di Kemujan ini, energinya seperti berlipat ganda. Salah satunya bisa jadi karena ikan yang jadi lauk utama mereka sepanjang waktu, mereka tumbuh jadi anak-anak yang cerdas dan sehat.

Anak-anak yang tinggal di Kemujan, pada umumnya sudah naik kendaraan bermotor ke sekolahnya sejak kelas tiga atau empat. Mereka biasanya berboncengan, tanpa helm, di jalanan Kemujan yang (untungnya) masih sepi. Hal ini terpaksa dilakukan, mengingat jarak dari rumah ke sekolah yang jauh, sementara orang tua mereka sibuk bekerja.
Anak-anak Kemujan

Selain itu mereka di luar sekolah adalah mengaji di musala atau masjid terdekat. Di desa dekat kami mengajar kebetulan ada satu tempat yang menjadi sanggar kesenian bagi anak-anak. Selain ke sekolah mereka juga naik motor untuk acara sore seperti latihan sepak bola.

Nah, meskipun pernah ikut acara serupa di Semarang, baru kali ini saya kehabisan napas. Pas banget dapat kelas (usia) kecil, yang penuh tangisan dan teriakan. Amunisi yang sudah dipersiapkan jauh hari seperti peralatan mengajar, aneka stiker, jadi kehilangan dayanya. Saya dari Semarang membawa MMT berukuran 6 meter persegi yang niatnya untuk simulasi denah rumah, yang akhirnya hanya jadi alas duduk ketika saya berusaha bercerita sambil menenangkan satu anak yang selalu menangis ketika digoda teman-temannya.

Inilah anak-anak pulau yang sehat, suka membaca, dan cinta buku.

Anak-anak di sana juga sudah terbiasa menerima pendatang. Selain KIJP, ada beberapa komunitas dan juga mahasiswa yang pernah menghabiskan waktu bersama mereka. Bahkan kadang sampai berhari-hari. Oleh karena itu rata-rata mereka mudah dekat dengan kami. Meski baru ketemu sekali.

Seandainya segala situasi memungkinkan, ingin rasanya main bareng lebih lama lagi. Semoga KIJP diberikan rezeki untuk datang lagi ke Kemujan, atau ke pulau-pulau lain yang lebih jauh di Karimun Jawa di tahun 2018. Seperti tantangan dari pejabat daerah di Karimun Jawa waktu kami melakukan refleksi.

Hari inspirasi memang hanya beberapa jam saja. Kami ini cuma sekedar keceh di pinggir pantai, dibandingkan para guru yang setiap hari mengarungi lautan, demi mengantar anak-anak pulau ini menuju cita-cita mereka. Semoga para guru selalu sehat dan istiqomah setiap waktu.

Indahnya Karimun Jawa

Saya tidak menampik kalau tadinya salah satu yang membuat KIJP menarik adalah tempatnya yang berada di pulau yang tersohor karena keindahan wisatanya. Bagaimana tidak jika halaman belakang seseorang adalah pantai berair tenang dan jernih. Bisa lihat sunrise setiap hari sepanjang tahun kalau mau. Hanya 10 menit jalan kaki dari rumah, sampai di Pantai Bunga Jabe, yang punya pasir putih dan pondok-pondok untuk menginap. Sangat menggoda untuk bikin barbeque night sambil main gitar semalaman.
Seafood di Alun-alun Karimun Jawa
Akhirnya memang rombongan kami sempat piknik. Malam-malam selepas tugas mencarter pickup untuk ditumpangi 20 orang buat makan ikan bakar di alun-alun Karimun Jawa. Tempat harga sepiring lobster 25 ribu rupiah. Sebelum pulang naik kapal kami juga sempat mampir di pantai dengan bebatuan indah, sempat menyusuri hutan Mangrove dan foto-foto cantik. Semua cerita yang niatnya mau saya tulis di lain waktu.

Tapi akhirnya piknik sejati yang saya alami adalah “memiknikan hati”. Keraguan saya waktu berangkat yang tergantikan oleh kenangan tak tergantikan. Saya bahagia bahwa pengalaman pertama saya dengan Karimun Jawa adalah untuk kegiatan KIJP. Tentu saja saya mau kembali lagi ke Karimun Jawa. (Dan juga niat di hati teman-teman relawan lainnya. I’m positive about this, buktinya kelompok saya membabi-buta berencana balik ke Kemujan lagi padahal kapal belum angkat sauh.)

Saya berdoa ingin kembali ke sana. Mungkin di lain waktu bukan untuk KIJP. Mungkin dengan mengajak keluarga. Lain kali saya mesti berenang, karena kemarin nggak mau ambil risiko bawa-bawa baju basah di tas yang sudah penuh sesak.

Tapi ketika kembali ke sana saya ingin lagi ke Kemujan, atau pulau-pulau lain di sekelilingnya (kalau nyali udah bertambah), pengen keliling pulau naik motor. Pengen ketemu lagi dengan bu Matrai, dengan putrinya, mungkin lihat peternakan mutiara yang dibilang salah satu guru, sekalian nginap di rumah penduduk, main-main sama anak-anak, dan bukannya sama hiu.





Monday, December 4, 2017

Sowan Guru


Pesan Bu Guru BP kami.
Kesempatan bertemu dengan teman-teman sekolah entah itu SD, SMP, SMA, atau kuliah adalah hal yang sangat berharga. Pertemuan yang terkadang tidak ada juntrungannya atau tidak ada tujuan apa-apa selain bertemu itu sendiri. Makanya mungkin ada yang enggan karena reuni hanyalah ajang makan-makan sambil ngobrol yang “tidak berfaedah”.

Tapi bukankah pertemuan itu mendekatkan nurani? Bertemu kawan lama bisa juga menjadi “obat seger” dari rutinitas yang membuat kita kehilangan spontanitas. Apalagi teman-teman sekolah adalah teman-teman di masa kita masih muda, bergairah, dan menganggap masalah hidup terberat adalah ketika di atas rapor ada nilai 5, atau baru ditolak gebetan.

Itulah mengapa acara reuni masih menjadi agenda yang ditunggu-tunggu.

Di setiap reuni, selain bertemu dengan teman-teman, kadang ingin juga hadir sosok yang tak bisa dipisahkan dari sejarah kita bersekolah, yaitu Bapak dan Ibu guru. Guru memang sosok yang selalu mengesankan, bahkan meskipun jika waktu itu kenangan yang tercipta bukan kenangan yang melulu indah.

Begitu, ya, Mbak Relita dan Mbak Yuli, dua orang blogger dengan tutur halus yang membuat saya memikirkan kembali tentang sosok guru-guru saya. Begitu banyak yang bisa diceritakan, tapi saya memilih tentang hal yang satu ini.

Bapak mertua saya adalah seorang guru. Dan setiap kali saya pulang mudik lebaran, undangan untuk menghadiri reuni bertumpuk di atas meja. Beliau selalu bersemangat untuk hadir, meskipun dalam kondisi yang kurang sehat, atau meskipun di rumah masih banyak saudara dan tamu. Bertemu dengan murid-murid, ternyata adalah hal yang juga menyenangkan bagi beliau. Meskipun seringkali pertemuan murid dan guru ini hanya terbatas pada reuni. Kesempatan yang hanya bisa terulang sekian tahun kemudian.

Entah pada pertemuan yang mana, beberapa teman saya semasa SMA mencetuskan ide yang, sesungguhnya tidak baru, tapi keren. Sebuah program untuk memberikan sumbangsih kepada guru.

Jika selama ini guru-guru mentok diingat pada saat reuni, bagaimana kalau kita memberikan perhatian khusus kepada para guru ini, tidak hanya setahun sekali, atau bahkan sepuluh tahun sekali. Tergantung seberapa sering angkatan kita reuni.

Berkat keberanian dan kenekadan teman-teman yang didukung oleh teman-teman (hampir) satu angkatan di SMA, maka lahirlah: Celengan. Ada beberapa orang yang menjadi “pengurus” celengan, dengan dukungan teman-teman seangkatan yang berada di dua grup Whatsapp. Seperti namanya, celengan ini serupa dana sosial, isinya bersumber dari teman-teman satu angkatan di SMA Negeri 3 Solo. (Duh, sebutin angkatannya nggak yaaa…)

Salah satu program utama Celengan adalah: Sowan Guru. Alias datang ke rumah-rumah guru-guru kami, terutama adalah guru yang mengajar selama periode kami bersekolah.

Program sowan guru ini tidak sekedar menjalin hubungan yang telah lewat belasan tahun, tapi juga berusaha mendata tentang kondisi terkini pamong kami semasa remaja itu, dan apakah diantara guru-guru kami ini, ada yang memerlukan sesuatu yang bisa kami haturkan.

Mencari data guru, ternyata tidak mudah juga. Dengan bantuan beberapa guru yang masih aktif mengajar, kami dapat juga kontak berupa nomor telepon dan alamat rumah. Guru-guru kami ini juga memiliki semacam paguyuban guru, rutin bertemu secara berkala. Apakah waktu berkumpul itu para guru membicarakan kami juga para muridnya, entahlah. Hehe.

Ujung tombak sowan guru tentunya teman-teman yang masih berdomisili di Solo. Tentu saja karena sebagian besar guru-guru kami juga masih tinggal di sana. Beberapa kali sowan guru juga dijadwalkan jika ada teman yang sedang mudik. Intinya kami mendatangi rumah guru-guru kami (ada juga beberapa yang ditemui di tempat mengajar), untuk bersilaturahim. Syukurlah, setelah lebih dari dua puluhan guru kami temui, semuanya memberikan kesan positif.
Sowan Pak Koes, ngobrol diantara rumus-rumus fisika

Saya, baru berkesempatan ikut satu kali. Bersama dua orang sahabat mendatangi seorang guru Fisika yang tentu saja waktu saya SMA, bukan guru favorit saya karena pelajarannya waktu itu bikin pusing. Beliau saat ini sudah pensiun, tapi masih aktif mengajar ilmu Fisika, membuka les, dan mempersiapkan anak-anak sekolah yang akan mengikuti olimpiade.

Bapak Koesmanto, guru fisika saya itu, masih sama seperti terakhir kali saya mengingat beliau.

Ketika bertemu. langsung terbayang ketika menuliskan rumus-rumus fisika dengan begitu cepatnya di papan tulis. Ketika saya cuma menatap dengan nanar karena tidak bisa mengikuti penjelasannya yang kalau diingat-ingat lagi, sebetulnya sangat runut. Saya ingat Bapak Koesmanto lengkap dengan kacamata yang agak melorot, dengan sorot mata yang mengingatkan saya pada Einstein. Hanya kali ini rambutnya lebih banyak yang memutih.

Tentu saja Pak Koes, begitu beliau dipanggil, tidak mengingat saya. Saya bukan murid yang menonjol di bidang fisika, selain pernah jadi penulis kelas yang menuliskan lembar-lembar catatan fisikanya di papan tulis. Tapi pak Koes menyebutkan nama beberapa teman seangkatan saya, yang salah satunya sekarang jadi dosen di ITB.

Pembicaraan dengan pak Koes, yang tidak terbayang bisa saya lakukan belasan tahun yang lalu, ternyata menyenangkan. Saya lupa waktu itu nge-teh atau tidak, tapi dalam gerimis hujan, saya tahu, bahwa seorang guru yang benar-benar mencintai profesinya, sampai puluhan tahun kemudian tidak akan pernah kehilangan semangat. Beliau hidup, meski tidak lewat dirinya, tapi juga hidup lewat harapan-harapan yang beliau titipkan pada murid-muridnya.

Salah satu harapan pak Koes yang jadi nyata, tentu saja ketika mengenang teman saya, yang kini menjadi dosen di universitas ternama itu. Dalam hati kecil saya berharap, pak Koes juga bisa merasa bangga untuk saya, yang tidak pernah dapat nilai 10 dalam pelajaran fisika, dan kini tidak ingat lagi tentang teori Newton atau gelombang elektromagnetik. Barangkali iya, tapi tak bisa terungkap lewat bahasa Fisika.

Pada waktu reuni SMA yang kami adakan tahun 2016 pada musim mudik lebaran, kami juga mengundang guru-guru kami sebanyak yang kami bisa. Lokasinya di sekolah, yang sudah berubah 80% dari sejak kami meninggalkannya. Ada beberapa guru yang urung datang karena meskipun sudah akan dijemput, menolak karena enggan merepotkan. Ah, sampai kapanpun guru-guru adalah sosok yang tak ingin membuat repot siapapun.

Di acara reuni itu kami bercerita tentang program sowan guru dan menyampaikan permohonan maaf jika ada guru-guru yang belum sempat kami sowani. Ketika acara selesai, seorang guru kami, yang jujur saja tadinya saya tidak ingat mengajar apa, mendekati saya. Beliau berkata sambil tersenyum: “Mbak, saya ini belum pernah didatangi, lho.”

Beliau adalah Bapak Sri Santoso, guru olahraga kami. Dalam waktu singkat kami berupaya supaya teman-teman yang masih ada di Solo untuk liburan lebaran itu bisa mengatur waktu kunjungan ke rumah Bapak Sri Santoso. Seperti biasa, setelah kunjungan, teman-teman memberikan “laporan” yang secara umum berisi kondisi kesehatan, kondisi keluarga, dan sejauh apa kami bisa menyampaikan titipan untuk beliau.

Tentunya kami bahagia dan lega jika para guru dalam kondisi sehat dan tak kurang suatu apa. Tapi guru-guru kami ini, dalam berbagai kondisi, secara garis besar tidak menyampaikan keluhan apapun .

Takdir Allah, tak lama setelahnya, kami mendengar kabar bahwa Bapak guru kami itu meninggal dunia.

Seorang guru matematika kami yang sangat disegani, juga kami dengar kabar sedonya, tak lama setelah “Celengan” sempat sowan ke ndalem beliau. Beliau dalam kondisi sehat, dan sedang berolahraga ketika Allah memanggil. Kami selalu mengenang beliau karena tak banyak dari kami yang berhasil lolos dalam ulangan mingguan matematikanya. Saya pribadi sepertinya cuma lolos satu kali. Bahkan untuk mendapatkan nilai tujuh saja, sulitnya bukan main.

Ketika menyadari begitu banyak guru-guru kami dipanggil Allah, kami bersyukur bahwa kami sempat sowan. Bapak dan ibu guru kami ini, tentunya telah berpuluh tahun mengabdi menjadi pendidik. Tidak hanya mengajar, tidak hanya menjejalkan rumus-rumus ke kepala kami yang penuh dengan rencana dolan dan colut. Bapak dan ibu guru kami juga semakin tua. Seperti juga kami, yang meskipun selalu berasa masih pakai seragam putih dan abu-abu, kini juga telah menderita encok, dan tak kuat begadang.

Dalam waktu sowan yang demikian singkat, kami ingin menyelipkan sedikit kenangan kepada bapak dan ibu guru tentang kami. Bahwa murid-muridnya yang tak seberapa pandai, dan selalu merepotkan ini, meski barangkali cuma sekali ini sempat bertemu, kami ingat.
Pesan Pak Hartadi

Tak banyak yang kami bawa. Barangkali hanyalah sekotak roti, selembar kain, atau sekeranjang buah. Tapi sungguh banyak yang kami dapatkan. Di akhir pertemuan selalu kami minta bapak dan ibu guru ini menuliskan pesannya untuk kami. Dan diantara pesan-pesan itu selalu terselip doa untuk kesuksesan kami semua.

Semua guru, tetap memandang kami sebagai murid-muridnya sekian belas tahun yang lalu. Semuanya selalu menitipkan pesan dan doa, supaya kami semua menjadi orang yang berguna. Tak ada yang mengingat kemarahan, tak ada yang tidak membuat kami menjadi semakin tidak bersyukur.
Pesan Pak Darsono, guru Sosiologi

Teman-teman yang sempat sowan, sesudahnya selalu menyampaikan kisah yang indah. Selalu ada hal baru yang kami dapatkan. Sampai kapanpun kami adalah murid yang selalu belajar.

Sowan guru juga mendekatkan kami, anak-anak lulusan sebuah SMA yang jumlahnya ratusan, yang dulu nge-geng dan tak begitu kenal satu sama lain. Ada banyak kondisi yang membuat mengurusi Celengan dan tetek bengeknya membuat kami seperti benar-benar kapok, musuhan, pundung, mutung, dan marah. Tapi kami seperti segerombolan landak yang ingin tetap hangat karena dekat, meski kadang kecubles duri.

Saya pribadi jadi lebih mengenal teman-teman SMA saya, yang dulu bahkan tidak tahu kelas apa, rumahnya di mana, kuliah di mana. Seorang pemilik perusahaan di Solo mau blusukan ke pasar untuk belanja kelengkapan warung di rumah guru yang dibuka lewat program Celengan ini. Atau teman yang lain yang mau manjat-manjat demi memasang rak dan spanduk untuk warung pak guru.

Saya juga cuma bisa menyemangati lewat grup WA, teman-teman yang menempuh hujan badai, literally, untuk sampai ke rumah guru-guru kami. Saya juga jadi tahu, cerita-cerita teman-teman tentang guru-guru kami ini yang tak se-cetek kisah saya. Saya cuma bisa terharu bahwa pada masa sekian belas tahun yang lalu, ada teman-teman yang benar-benar menjadikan kehadiran para guru ini sebagai orang tua. Dan kedekatan antar mereka tak sekedar dihubungkan pada lembar-lembar kertas ulangan.

Begitu banyak yang kami dapatkan, hingga sadar sepenuhnya bahwa Celengan dan “Sowan Guru”nya, bukanlah persembahan dari kami, tapi adalah sesuatu yang kami dapatkan.