Saturday, September 30, 2017

Jaladara, Bagian Masa Depan Kereta Api Indonesia

Sepur Kluthuk Jaladara
Pukul 07.30


Pagi hari yang cerah di kota Solo. Stasiun Purwosari tampak lengang. Kereta Prambanan Ekspres dengan jurusan akhir Stasiun Tugu Yogyakarta baru saja berlalu. Stasiun tertua di kota Solo itu menjadi hening sesaat. Deretan kursi besi bercat hijau tua yang biasa dijejali oleh calon penumpang tampak lowong, setia menanti kedatangan penumpang selanjutnya. 
Masinis Kereta Api Jaladara
Namun dalam sekilas pandangan mata, ada rangkaian kereta yang tak biasa terparkir di ujung Barat, di belakang dua lokomotif tua yang telah terparkir bertahun lamanya. Petugas tampak sedang mempersiapkan kereta untuk menempuh perjalanan hari itu. Tumpukan kayu jati memenuhi ruangan di lokomotif, siap menjadi bahan bakar rangkaian si Kereta Uap. Lokomotif bernomor C1218 buatan pabrik lokomotif Hartmann Chemnitz itu hitam legam. Asap keabuan mengepul dari cerobongnya.

Itu adalah rangkaian kereta api Jaladara. Di Solo dia punya nama baru: Sepur Kluthuk Jaladara

Bahan bakar kereta api, kayu jati afkiran.
Serombongan orang dengan syal batik tersampir di leher memasuki stasiun. Mereka adalah calon penumpang Jaladara pagi hari itu. Senyuman terkembang di wajah, dan ponsel pintar mereka tak henti mengambil gambar. Naik kereta barangkali bukan sesuatu yang baru. Tapi naik kereta Jaladara, adalah pengalaman yang jarang bisa diulang.  


Jaladara akan melaju di sepanjang rel di jalan Slamet Riyadi, urat nadi kota Solo,  mulai dari Stasiun Purwosari hingga stasiun Solo Kota di Sangkrah. Di sepanjang perjalanan sejauh 5,6 kilometer ini, Jaladara bisa berhenti di beberapa titik. Biasanya lokasi yang dipilih adalah tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah dan tradisi seperti Loji Gandrung (rumah dinas walikota Solo), Museum Radya Pustaka, dan Kampung Batik Kauman. 

Jaladara menjadi satu-satunya kereta uap di dunia yang melaju di tengah kota.
Suasana gerbong CR44. Ini adalah gerbong dengan model kursi saling berhadapan dengan kapasitas 36 kursi saling berhadap-hadapan.
Dua buah gerbong Jaladara terbuat dari kayu jati asli, buatan Belanda pada tahun 1906. Dua gerbong itu adalah gerbong CR16 dengan kapasitas 40 kursi, dan gerbong CR44 dengan kapasitas 36 kursi. Bahan bakar kereta Jaladara adalah 5 meter kubik kayu jati dan 4 meter kubik air. Kayu dan air akan menghasilkan uap yang menggerakan lokomotif di sepanjang perjalanan. Nanti di Stasiun Solo Kota, kereta akan langsir, dan mengisi "bahan bakar" yaitu air. Proses ini memakan waktu kurang lebih 15 menit.

Proses pengisian "bahan bakar" berupa air di lokomotif Jaladara 

Nama Jaladara diambil dari kisah Prabu Kresna yang mengendarai kereta Kyai Jaladara, kereta milik Bethara Wisnu yang ditarik empat ekor kuda putih dalam perang Bharatayudha. Setelah sekian tahun tidak digunakan, pada tahun 2009 akhirnya lokomotif seberat 45 ton beserta dua gerbongnya dipindahkan dari stasiun Ambarawa dengan truk trailer ke kota Solo, rumahnya yang baru. Pemerintah kota Solo, yang waktu itu dipimpin oleh bapak Joko Widodo, bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) untuk “menghidupkan kembali” Jaladara.

Seorang masinis Sepur Kluthuk Jaladara yang telah bekerja di KAI sejak tahun 1974 bercerita dulu pernah menjadi masinis kereta ini,  melayani tujuan Semarang – Solo – Yogyakarta. Namun kemudian jalur tersebut ditutup. Kini beliau ditugaskan untuk menangani Jaladara saat beroperasi sebagai kereta wisata.


Memang tak banyak orang yang mampu mengoperasikan kereta Jaladara. Seperti dalam hal perbaikan bagian-bagian mesin dan roda, yang sangat mungkin harus dilakukan selama perjalanan singkat selama kurang lebih 2,5 jam. Karena itu, saat sedang dioperasikan, Jaladara dikawal oleh beberapa petugas senior selain oleh petugas yang lebih muda. Dengan demikian transfer pengetahuan tentang Jaladara dapat terus berjalan. 

Kereta api, sebelum ada bis dan dibukannya jalan-jalan baru adalah alat transportasi rakyat yang sangat penting. Jalur-jalur kereta api Indonesia tidak hanya di pulau Jawa, tetapi juga di Sumatera telah ditempuh oleh puluhan rangkaian kereta untuk mengantarkan masyarakat ke berbagai tujuan. Sejak jaman Belanda hingga kini, kereta api memiliki peran besar dalam transportasi massal di Indonesia.

Tapi bukan cerita baru jika sesuatu yang telah tua akan terkalahkan dengan dengan yang lebih baru dan muda. Sesuatu yang muda biasanya hadir dengan fitur yang lebih canggih, lebih cepat, dan tampak lebih keren. Sementara yang tua akan menjadi begitu lambat, mahal perawatannya, dan tak lagi bisa mengikuti zaman. Zaman menghendaki sesuatu yang lebih canggih dan cepat.

Begitupun dengan kereta api. 
Lokomotif kereta api Jaladara, dirawat oleh generasi tua dan muda
Di Balai Yasa, yang berfungsi sebagai bengkel kereta api, terparkir lokomotif dan gerbong-gerbong tua. Bahkan akhirnya Balai Yasa juga menjadi pemberhentian akhir gerbong dan lokomotif yang tak lagi bisa diperbaiki. Tak jarang bagian-bagiannya “dikanibalisme” untuk memperbaiki kereta lain yang masih beroperasi. Begitulah sepertinya nasib kereta tua.

Lokomotif C1218, dibuat di Belanda
Tetapi beroperasinya kereta Jaladara di kota Solo membantah semua cap nasib kereta tua yang terpinggirkan. Semua orang terpesona dengan kehadiran kereta yang berumur lebih dari seabad itu. Orang-orang melirik, melambaikan tangan, dan berebut untuk berfoto dengan Jaladara.

Di negara-negara Eropa, lokomotif dan kereta tua justru sangat dihargai.  Perawatan lokomotif, juga rel-rel yang dilalui dilakukan secara serius. Pemeliharaan kereta tua memang tak mudah, dan seringkali jauh lebih mahal.

Tetapi segala upaya akan mendapatkan imbalan dari manfaat yang didapatkan. PT KAI dapat memberikan sumbangsih nyata untuk kelestarian sejarah dan kemajuan pariwisata, melalui kereta-kereta tua.

Diantara gencarnya kemunculan kereta api yang canggih dan berlomba-lomba menjadi yang tercepat, masih banyak pihak-pihak yang mau berjalan perlahan sambil menikmati hembusan angin dari jendela kereta yang terbuka. Di masa kini naik kereta api tidak sekedar mengantarkan, tetapi memberikan pengalaman.
Gerbong CR16 dengan kapasitas 40 kursi di sisi kanan dan kiri yang menghadap ke depan

Pepatah mengatakan: Old ways wont open new doors.

Tapi jika kita tahu kemana tujuan kita, yang lama akan membuka pintu-pintu masa depan baru yang tidak diduga. Adalah tugas PT KAI dan juga masyarakat untuk berupaya menjadikan aset bangsa bahkan benda cagar budaya seperti lokomotif-lokomotif tua untuk berperan dalam pembangunan di masa depan. Bukan hanya sekedar upaya pelestarian, tetapi juga menjadikannya penggerak masa depan yang mendampingi kebaruan. Kereta tua bisa menjadi penyeimbang kecepatan laju perkembangan zaman, dan menjadi tambatan kerinduan.

Sejak dulu kereta api adalah pembuka jalan. Dengan kreativitas dan cinta, cara lama justru akan menjadi cara baru yang menarik minat banyak orang. Bukan berarti yang tua menjadi tidak layak menjadi bagian dari masa depan. Memang untuk mengoperasikan kembali kereta-kereta tua membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan kereta baru yang canggih. Diperlukan usaha yang tak kenal lelah, dan dukungan dari perbagai pihak. 

Kereta tua tidak mungkin melaju lebih cepat, tapi bisa melajut dengan khidmat. Kereta tua tidak bisa berjalan jauh, tapi memberikan nuansa perjalanan yang teduh. PT KAI memiliki banyak punggawa sakti yang kini tertambat di museum kereta dan Balai Yasa. Sudah saatnya “membangunkan” yang tua untuk turut ambil bagian dalam masa depan Kereta Api Indonesia.


Yang tua, tidak hanya bagian dari sejarah, tetapi mampu turut andil menciptakan masa depan.  Seperti Jaladara, kereta tua yang siap menjadi bagian masa depan kereta api Indonesia. 

Stasiun Solo Kota, tempat Jaladara mengisi bahan bakar, dan langsir sebelum kembali ke stasiun Purwosari


26 comments:

  1. Aku cuma lihat aja kalo pas lewat dan kebetulan bertemu dengan kereta ini. Tapi jalannya alon alon asal kelakon, hihii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ndak alon nggak jadi lakon soalnya, Mbak. ^^ Semoga kapan-kapan bisa naik bareng-bareng yaa

      Delete
  2. Wah mama ku seneng nih kalo diajakin naik jaladara kebayang masa kecilnya di solo dlu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah mamanya Mbak Muna pernah naik Jaladara ya? Ayo, Mbak. Naik lagi barengan.

      Delete
  3. Replies
    1. Terima kasih sudah mampir dan baca, Mbak Lia

      Delete
  4. Replies
    1. Lho, komen dari mbak Lia kelewatan... duh punten.. Terima kasih sudah membaca, jadi malu sama penulis yang lebih keren iniii..:*

      Delete
  5. Di masa kini naik kereta api tidak sekedar mengantarkan, tetapi memberikan pengalaman.

    Aku sebagai anak kereta sangat setuju dengan kalimat itu mbaaa hihi

    ReplyDelete
  6. Aku suka banget naik kereta api. Jaladara ini beberapa kali lihat pas melintas tapi belum pernah naiknya. Pengen ih kapan-kapan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya rame-rame naik Jaladara pasti seru

      Delete
  7. Sepur tua yang punya legenda sepanjang masa.Akh kapan2 pengin dolan n naik Jakarta deh

    ReplyDelete
  8. Ahh sama antiknya dengan yang di Ambarawa ya..hanya harus rombongan yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekali waktu ada tiket yang bisa dibeli, biasanya di event khusus macam libur Idul fitri.

      Delete
  9. Jadi pengen naik kereta api jaladara, selama ini baru naik kereta api harina dan argo wilis saja heuheu, jadi tau nih sejarahnya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayuk atuh, rame-rame sekeluarganya. :)

      Delete
  10. Dari dulu saya paling suka naik kereta. Kereta memang ngangenin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Myra. Sesuatu banget naik kereta api itu.

      Delete
  11. Ini salah satu wish list ku kalau ke Solo mbak. Pertama kali lihat langsung jatuh hati. Pengen pake banget naik Jaladara. Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wish listnya semoga segera terkabul, Mbak Flo.

      Delete
  12. Pengen deh naik kereta api jaman dulu yang item itu. Itu kereta api tua banget umurnya. Terakhir kali naik kreta api pas ke bandung. hahahahha :D udah lama banget :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sempat ya naik kereta yang lokomotifnya item. Hehe. Semoga semakin banyak kereta tua yang bisa "jalan" lagi macam Jaladara, Mbak.

      Delete
  13. Wish list kalo ke solo.huhuhu jadi pingin naik jaladara mbaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuuk, yang punya wish list nabung buat naik Jaladara barengan. :)

      Delete