Wednesday, October 18, 2017

Hobi yang Mendatangkan Rezeki



Hobi menurut KBBI adalah kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama. Melakukan hobi adalah sarana rekreasi bagi orang yang menggemarinya. Tak jarang, seseorang rela mengeluarkan sejumlah biaya dan waktu yang tidak sedikit demi menekuni hobi. Tak sedikit juga yang rela menempuh resiko dan bahaya, demi melakoni hobi.

Hobi yang Bikin Miris
Kisah lucu atau miris datang dari kakak ipar saya. Seorang kawannya yang hobi motor trail, sampai harus melihat motor trail kesayangannya “dibumihanguskan” oleh sang istri. Masalahna bukan karena uang puluhan juta yang “diinvestasikan” dalam wujud motor, helm, outfit, sepatu, yang semuanya khusus dan mahal, tapi karena sang istri tak tahan lagi dengan sang suami yang “bertaruh nyawa” demi hobinya ini.

Sang suami sudah pernah menjalani aneka operasi untuk menyambung tulang-tulang rusuk dan kaki yang patah. Belum lagi paru-parunya yang nyaris bocor karena kecelakaan ketika turun gunung. Alih-alih kapok, setelah melewati masa pemulihan, sang suami kembali menjejak gunung di atas si motor. Jadilah motor kesayangan dan uborampenya (yang mahal itu) “dilenyapkan” dari muka bumi oleh sang istri. Tapi sang suami tak hilang akal, kini motor trail (barunya) aman di garasi orang lain.

Kalau para istri suka geleng-geleng kepala dengan hobi suami yang ekstrem, in another level, suami bisa jadi geleng kepala karena hobi istrinya. Seperti sudah sewajarnya, kalau perempuan lebih senang berbelanja dibandingkan laki-laki. Sehari-hari saja kaum perempuan harus belanja untuk kebutuhan rumah tangga. Sudah biasa melihat lebih banyak perempuan di mal dibandingkan laki-laki (yang jika ada pun lebih banyak berperan sebagai juru bayar dan juru angkut serta sopir).

Banyak literatur mencatat bahwa hobi belanja ini benar-benar bisa melenyapkan stres. Apalagi kalau dilakukan dengan dukungan uang yang cukup. Karena menilik kisah di buku The Confession of a Shopaholic, karangan Sophie Kinsella, memenuhi hobi belanja gila-gilaan tanpa peduli utang sudah segunung bisa jadi penyebab stres sesungguhnya.

Saya baru-baru ini membaca buku Hermes Tempation: kisah Fitria Yusuf dan Alexandra Dewi yang hobi belanja tas Hermes. Buat mengulang info saja nih, tas Hermes itu sebijinya bisa buat beli sepeda motor, (ini yang paling murah) sampai bisa beli apartemen di Jakarta. Tapi untungnya buat mereka, hobi mahal tadi bisa mendatangkan rezeki juga. Fitria Yusuf dan rekannya akhirnya menjadikan hobi belanja tas super mahal itu jadi lahan bisnis jual beli tas dengan keuntungan yang “tak seberapa” buat mereka, meski nominalnya setara gaji direktur BUMN di Ibu kota.

Mari kesampingkan bisnis tas yang omsetnya ratusan juta perbulan. Tak sedikit diantara orang-orang yang saya kenal bisa menjadikan hobi mereka tak sekedar sarana rekreasi atau kesenangan di waktu senggang, tapi juga sarana menjemput rezeki. Banyak teman hobi merajut, kini punya bisnis rajutan, ada teman hobi memasak, kini punya bisnis catering. Adik saya punya hobi mengutak-atik mainan, sempat punya usaha jual beli dan reparasi mainan. Saudara yang satu lagi punya hobi berdandan, kini mulai berlatih jadi MUA (Make Up Artist) buat teman-temannya. Lumayan, bayarannya bisa untuk jajan.

Jadi, Mbak Ika Puspita http://www.bundafinaufara.com dan Mbak Arina http://www.arinamabruroh.com, (keduanya blogger perempuan yang bikin saya kagum dengan tulisan dan komitmennya di dunia “perbloggingan”), tema hobi untuk arisan blog Gandjel Rel kali ini membuat saya ingin bilang, kalau hobi bisa jadi bukan kesenangan belaka, tapi juga bisa jadi sarana menjemput rezeki.

Hobi Saya Apa?
Hobi sejak kecil: membaca
Sejak belasan tahun terakhir, kalau ditanya hobi saya apa, saya bilang: membaca dan menulis.

Hobi membaca seperti chip yang ditanamkan di kepala oleh Bapak saya. Ingatan masa kecil saya tak pernah lepas dari belanja buku di toko Sekawan Pusat, salah satu toko buku paling besar di Solo pada masanya, sebelum raja retail buku buka cabang di mana-mana. Buku-buku anak-anak seperti Trio Detektif, Lima Sekawan, Noddy, Donald Bebek, Nina, jadi suplemen buat saya. Setiap pulang dari Sekawan Pusat, saya selalu menenteng setidaknya empat judul buku baru. Belanja buku ini jadi ritual belanja yang lebih menyenangkan buat saya dibandingkan belanja baju atau mainan. Eh, malahan saya nggak ingat kapan ya, belanja mainan sama Bapak waktu kecil.

Membaca adalah hobi yang sangat rekreatif buat saya. Tapi sayangnya, sekarang waktu untuk benar-benar membaca buku jadi berkurang. Kebanyakan baca status sosmed, sih.

Sekarang cerita tentang hobi saya yang satunya, yaitu menulis. Sepanjang saya ingat, di kala teman-teman berkeluh kesah plus bersusah payah menulis karangan di lembar-lembar ulangan, saya menulis dengan senang hati. Benar-benar menulis, karena waktu itu dikerjakan dengan tulisan tangan. Sejak kelas tiga SD saya juga sudah punya buku harian. Hobi menulis ini selain untuk kesenangan, ternyata bisa untuk menyalurkan kegelisahan. Setelah saya baca lagi buku-buku harian saya, ternyata bagus juga kalau punya tempat curhat yang pandai menyimpan rahasia.

Siapapun pasti senang kalau hobinya bisa dinikmati dan diapresiasi orang lain, seperti perasaan saya ketika tulisan yang saya buat dapat wadah untuk dibaca tidak hanya oleh saya dan guru yang memberi nilai. Tulisan pertama saya yang dimuat di majalah adalah liputan tentang perjalanan singkat saya bareng teman-teman sekelas ke Museum Radya Pustaka waktu kelas tiga SD. Majalahnya adalah majalah sekolah saya, namanya Kuntum. Selepas itu masih ada beberapa tulisan lain berupa fiksi dan puisi. Kini meskipun masih punya ratusan file tulisan fiksi, sebagian selesai sebagian besarnya belum, sebagian berupa ketikan dari mesin ketik manual, “karir” menulis (fiksi) saya seperti mentok di majalah-majalah sekolah. Kadang-kadang saja muncul di forum-forum beneran.

Saya juga hobi menulis surat. Kegiatan tulis-menulis surat ini mencapai puncaknya sebelum masa pesan elektronik datang. Menulis juga menjadi hobi yang membantu saya menyelesaikan aneka pekerjaan, dari yang remeh membuat surat tagihan, proposal kegiatan, sampai menyelesaikan satu standar kompetensi untuk organisasi yang saya ikuti.

Selepas selesai kuliah, hobi menulis ini membuka kesempatan untuk jadi koresponden di tabloid arsitektur, dan punya buku tentang arsitektur. But then that was it. Sampai akhirnya hobi tercinta ini mempertemukan saya dengan salah satu rejeki terbesar sepanjang hidup, yaitu bertemu dengan teman-teman di komunitas menulis, sampai sekarang tumbuh menjadi komunitas blogger. Teman-teman yang menjadi mentor, pesaing, pengritik, atau pembaca, yang budiman.

Hobi Jalan-jalan
Jalan-jalan santai bareng Sehati Project
Oiya, di masa kini, jalan-jalan sepertinya sudah menjadi hobi wajib nasional. Aneka majalah, blog, menuliskan kisah-kisah tentang perjalanan. Banyak teman blogger yang dapat rejeki dari hobinya ini juga. Memang jalan-jalan adalah hobi yang sangat menyenangkan. Untuk itu kita harus punya badan sehat, waktu, dan biaya. Bersyukurlah jika ketiganya ada. 
Outbound bareng Sehati Project
Buat saya  hobi jalan-jalan dikombinasikan dengan kemampuan menulis surat penawaran, dan membaca informasi tempat-tempat wisata, membuka rezeki juga untuk saya. Saya bisa piknik gratis dan dapat uang saku, dengan cara mengatur perjalanan rombongan  ke berbagai lokasi. 
Jangan ragu-ragu ya, yang mau piknik ngajak-ngajak saya.

20 comments:

  1. Enak banget ya kalo nemu hobi yang sekaligus bisa menghasilkan. Aku juga lagi mikir2 nih...kira2 bisa menghasilkan juga nggak dari hobiku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Ika jelasss menghasilkaaan.. Semoga makin bertambah. :)

      Delete
  2. dari hobi jadi profesi, ya Mbak WIn :)

    itu hobi temennya bener2 bikin miris, tapi namanya hobi tuh memang sulit diilangin, kadung cinta *eaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. memang ekstrim yang demi hobi bertaruh nyawa

      Delete
  3. Weleh itu yg dibumihanguskan suaminya nangis2 ga mba? Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. malah menemukan "trik" lain gitu, dianya Mbak

      Delete
  4. Eman eman banget dibakar mah, mending dijual uangnya disedekahkan lebih manfaat dan berkah jadi tabungan akhirat, mungkin terlalu emosi jiwa ya, Alhamdulillah dari hobi bisa menghasilkan walaupun baru newbie di dunia perbloggan dan pembuzzeran udah cukup mayan menghasilkan ya mbak win 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe. Betul, tapi sepertinya cara lain sebelumnya tidak mempan, Mbak. Aamiin semoga hobi nulisnya terus nambah rezeki.

      Delete
  5. Mau dong diajakin outbond ama sehati project :p

    ReplyDelete
  6. Mau duung jalan-jalan bareng Windaa..hobinya bisa menghasilkan pundi2 yess..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tukang jalan ngajak jalan, hayuukk. Aku masih berguru kepadamu, Mak

      Delete
  7. waaah aku juga ska baca dan menulis! cuma harus lebih rajin lagi supaya bisa lebih menghasilkan dari hobi xoxoxoxo

    ReplyDelete
  8. Seharusnya suami juga mendengarkan alasan istri kenapa melarang melakukan hobbynya ya, tapi kalau sudah mendarah daging emang susah banget untuk dihentikan. Hobbyku belanja kalau pas bosan di rumah. Kadang belanja yang bener-bener enggak butuh, duh mubasir sekali kan. Makanya kalau aku lagi bosan, aku harus menyibukan diri dengan melakukan hal lainnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mbak. Hobi juga harus bisa jadi solusi bukan cuma pelarian, ya. :) Salaam

      Delete
  9. Replies
    1. Nulis terus yang rajin macam Maknya Arkaan

      Delete
  10. Yasalam..jadi inget tetangga depan rumah..hobi ngetril juga bapak sama anak..bahkan si anak kalo sekolah ya naiknya motor tril :D dan soal jalan-jalan memang paling asik kalo jalan-jalan gratis dan dikasih uang saku pulak! Itu namanya pandai membaca situasi mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang mamang memang hehe. Semoga jalan-jalan, hobi, dan rezeki terus mengalir. :)

      Delete